Istri Yang Kau Jandakan

Istri Yang Kau Jandakan
Keputusan yang diambil


__ADS_3

Setelah cukup lama menemani ibu mertua di rumah sakit, rupanya sudah hampir gelap.


"Mama akan menerima keputusan darimu, tidak menjadi masalah jika kamu menginginkan untuk berpisah. Mama mengerti akan posisi kamu. Jika memang sudah tidak bisa untuk bertahan, jangan kamu teruskan. Percayalah sama Mama, jika jodoh tidak akan kemana. Meski pada akhirnya kalian berpisah, tetaplah mengenal baik, jangan menjadi musuh." Ucap Ibu mertua, Evana mengangguk.


"Ya, Ma. Evana doakan Mama agar selalu diberi kesehatan dan panjang umur, agar Evana diberi kesempatan untuk memberi perhatian kepada Mama." Jawab Evana tersenyum, lalu mencium pipinya.


"Kamu gak pernah berubah, tetap Evana yang Mama kenal. Meski kamu tidak lagi menjadi istrinya Ardi, kamu jangan lupakan Mama, seringlah main ke rumah." Ucap Ibu mertua, Evana kembali tersenyum.


"Ya, Ma. Kalau gitu, Evana pamit pulang ya, Ma. Evana sayang Mama." Jawab Evana sekaligus berpamitan dan menc_ium punggung tangannya.


Setelah itu, Evana berpamitan dengan kakak ipar dan istrinya.


"Kakak Sanum, aku pulang ya. Maafkan aku, jika aku tidak bisa menemani Kakak untuk jaga Mama." Ucap Evana kepada kakak ipar perempuan.


"Ya, Va, gak apa apa. Kakak ngerti kok, jaga diri kamu baik-baik. Kalau kamu ada butuh apa-apa, hubungi Kakak saja. Ingat, jaga kesehatan kamu."


"Ya, Kak Sanum. Ya sudah ya, aku pulang duluan." Kata Evana saat berpamitan.


Kemudian, Evana segera pergi meninggal rumah sakit bersama Ardi, suaminya yang entah akan dijadikan mantan atau akan kembali rujuk.


Saat berada di dalam mobil, Ardi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Kamu serius, bahwa kamu mau berpisah denganku?" tanya Ardi membuka suara, terasa berat untuk kehilangan perempuan yang ada di sebelahnya.


Evana masih diam tanpa menoleh sedikitpun. Hatinya begitu sakit ketika dirinya harus memberi pilihan untuk dirinya dan lelaki yang ada disebelahnya.


Karena takut tidak konsentrasi saat mengendarai mobilnya, Ardi memilih untuk menepikan mobilnya.


"Va, aku mohon, jangan egois. Aku tahu, kamu masih mencintai aku, 'kan? sama, aku pun masih mencintai kamu dan menginginkan kita kembali lagi." Ucap Ardi penuh harap, jika pernikahannya masih dapat di selamatkan.

__ADS_1


Saat itu juga, Evana langsung menoleh ke arah Ardi. Dengan tekadnya yang sudah bulat, akhirnya berbicara dan siap untuk memberi keputusan.


"Maafkan aku, Mas Ardi. Bahwa aku tidak bisa untuk kembali lagi dengan pernikahan kita, aku tetap meminta untuk bercerai. Keputusan aku sudah bulat, dan aku ingin menyembuhkan lukaku ini. Aku mohon, lepaskan aku." Ucap Evana yang pada akhirnya berterus terang.


Ardi yang mendengarnya, pun bagai sambaran petir tengah melukai dirinya. Sesuatu yang diharapkan untuk bisa kembali lagi, justru pergi untuk meninggalkannya.


Sakit, benar-benar sangat menyakitkan dengan luka yang dibuat sendiri. Sedih, itu sudah menjadi pilihannya atas keputusan dari awal yang diminta.


"Kamu sudah yakin, Va? apa tidak sebaiknya kamu pikirkan lagi dengan keputusan yang berikan kepadaku."


"Keputusan dariku sudah tidak bisa di rubah, rasa sakit hatiku ini terlalu sakit untuk aku rasakan. Aku tahu, memaafkan adalah hal yang sangat baik, tapi aku ini hanya manusia biasa yang banyak kelemahan dan juga kesalahan. Jadi, biarkan aku lepas dari jeratan pernikahan yang sudah kamu lukai." Jawab Evana yang sudah bulat dengan keputusan yang diambilnya.


Ardi yang tidak punya pilihan lain dan juga tidak mungkin untuk memaksakan agar menuruti kehendaknya, Ardi menerima dengan pasrah. Meski sebenarnya terasa berat untuk ia terima. Tapi, mau bagaimana lagi. Ardi tidak bisa memaksa, dan hanya bisa menerima keputusan yang diambil.


"Baiklah, jika memang itu sudah menjadi keputusan kamu, aku tidak akan memaksa kamu untuk kembali dengan pernikahan kita. Aku mau minta maaf, jika aku sudah banyak kesalahan sama kamu." Ucap Ardi yang akhirnya menerima keputusan yang diambil oleh Evana.


"Terima kasih ya, Mas. Sekarang aku sudah lega untuk berpisah denganmu, semoga kita bisa ambil pelajaran ini untuk menjadi lebih baik lagi." Kata Evana.


"Selagi aku dan kamu masih sendiri, boleh saja jika kamu ingin bertemu denganku. Tapi, jika diantara kita sudah ada yang mempunyai pasangan, aku tidak bisa." Jawab Evana.


"Aku akan menunggumu sampai kamu mau menerima aku lagi, Va." Kata Ardi, sedangkan Evana hanya tersenyum mendengarnya.


"Kita jalani hidup kita masing-masing, kamu tidak perlu terlalu berharap padaku, jalani saja seperti air mengalir."


"Va,"


"Ya, ada apa?"


"Aku boleh meminta sesuatu sama kamu, tidak?"

__ADS_1


"Sesuatu, sesuatu apa yang kamu maksud, Mas?"


"Sebelum kita benar-benar berpisah, boleh gak, jika aku memeluk kamu."


"Maaf, aku tidak bisa." Jawab Evana menolak.


Karena tidak mendapatkan izin dari Evana, sedikitpun Ardi tidak berani untuk memaksa. Dirinya menyadari akan kesalahan yang sudah ia perbuat, dan memang sangat menyakitkan untuk diterima. Mendapatkan kata maaf saja sudah bersyukur, pikir Ardi.


"Baiklah, aku tidak akan memaksa kamu. Aku tahu, permintaanku ini sangat memalukan dan tidak pantas untuk kamu turuti." Kata Ardi menyadari akan perbuatannya itu.


"Sudahlah, lupakan saja. Tidak perlu kamu bahas terus-menerus, anggap saja kita mulai pertemanan." Ucap Evana yang tidak ingin larut terbawa suasana, antara sedih atau harus marah-marah.


"Ya, Va. Oh ya, kamu belum makan malam, 'kan? bagaimana kalau aku ajak kamu makan dulu. Jugaan ini sudah malam, badan kamu pasti capek juga. Jadi, kita mampir dulu ke restoran."


"Gak usah, aku bisa pesan lewat online kok. Lagi pula, kamu harus segera kembali ke rumah sakit. Jadi, kamu gak usah repot-repot ngajak aku untuk makan malam." Jawab Evana beralasan, padahal memang kenyataannya sudah lapar.


"Aku tidak merasa direpotkan sama kamu, justru aku bersalah besar jika sampai kamu jatuh sakit hanya karena aku yang tidak peduli sama kamu." Kata Ardi dan langsung melajukan kendaraannya.


Tidak lama kemudian, Evana dan Ardi telah sampai di Restoran.


"Kita sudah sampai, ayo kita turun." Ajak Ardi sambil melepaskan sabuk pengamannya.


"Aku disini saja ya, Mas. Makanannya di bungkus aja, takutnya Neti belum beli makanan karena menunggu aku. Soalnya tadi aku udah janji mau makan malam bareng, pesankan aja ya."


"Untuk Neti, kita pesankan. Kalau untuk kamu, makan disini bareng aku. Jangan menolak, anggap saja ini awal pertemanan kita." Ucap Ardi.


Evana yang tidak mempunyai pilihan lain, akhirnya menurutinya.


"Baiklah, aku akan ikuti ajakan darimu." Kata Evana dengan pasrah.

__ADS_1


Sebelum masuk ke restoran, Evana mengirimkan pesan kepada Neti untuk menyampaikan agar tidak membeli makanan.


__ADS_2