Istri Yang Kau Jandakan

Istri Yang Kau Jandakan
Lulus interview


__ADS_3

"Yah, palah ngelamun." Kata Neti membuyarkan lamunan.


"Ah ya, lupa. Ya udah, nanti aku akan interview teman kamu, Evana. Setelah itu, aku pertimbangkan kembali dengan pimpinan kantor ini. Kamu boleh kembali ke ruang kerja kamu, sedangkan Evana biarkan di sini. Aku mau memberi banyak pertanyaan untuk dirinya." Ucap Gevando.


Evana hanya nurut saja, karena dirinya sangat membutuhkan pekerjaan.


Neti menoleh pada Evana.


"Gimana, Va. Tidak apa-apa kan, aku tinggal ke ruang kerjaku. Ini kesempatan emas untukmu, langsung menggantikan posisinya Gevando menjadi sekretaris. Kalau aku tentu saja tidak akan diizinkan, secara Bosnya laki-laki. Sedangkan aku, pacarku saja pencemburu."


"Semoga saja aku di terima, kalaupun tidak, jadi OB juga tidak apa-apa." Kata Evana pasrah.


"Karena sudah waktunya jam kerja, aku mau kembali ke ruang kerjaku. Aku tinggal dulu ya, Va." Ucap Neti berpamitan, Evana mengangguk.


"Ingat loh, pulangnya bareng." Kata Evana yang belum terbiasa pulang sendirian.


"Ya, tenang aja sih. Lagi pula ada Gevando, pasti dengan senang hati dia mau mengantarkan kamu pulang. Ya gak, Van?" jawab Neti dan bicara ke Gevando.


"Ya, tenang saja. Sudah sana kamu kembali ke tempat kerjamu, nanti ketahuan pimpinan kamu, baru tahu rasa." Kata Gevando, Neri nyengir kuda.


"Awas loh, jangan diapa-apain teman aku ini. Aku titip Evana, ya. Kalau kakak kamu galak, gantian digalakin. Aku tidak mau jika teman aku yang cantik satu ini kena marah sama si Bos sapa namanya."


"Reyzan." Sambung Gevando yang langsung menyambar.


"Ah ya, Reyzan. Ya udah, aku mau kembali ke ruang kerjaku. Ingat loh ya, aku titip Evana sama kamu." Kata Neti yang terus mengulang kalimatnya.


"Ya, ya, kamu tenang aja. Sudah sana kembali ke kerjaan kamu." Ucap Gevando.


Merasa tidak ada yang dikhawatirkan, Neti segera kembali ke ruang kerjanya. Sedangkan Evana, masih berada di ruang kerja sekretaris.

__ADS_1


Gugup, sudah pasti. Secara, sudah sekian lama dirinya tidak pernah berhadapan dengan yang namanya interview.


'Andai saja aku dulu tidak resign, mungkin aku sedang menikmati hasilnya. Tapi, kenyataannya aku harus mengulanginya lagi dari karyawan bawahan. Semoga saja, nanti aku bisa di terima menjadi sekretaris. Eh, tadi Neti bilang, kakaknya Gevando? yang benar saja. Kalau sudah beristri, bagaimana? tidak, kalau sampai sudah beristri, lebih baik aku mundur. Aku tidak ingin menjadi prasangka perusak rumah tangga orang.' Batin Evana panjang lebar, takut akan menjadi bumerang untuk diri sendiri.


"Hei, kenapa kamu melamun? jangan takut, yang akan menjadi bos kamu nanti, orangnya baik kok. Namanya Reyzan, yang barusan aku sebutkan namanya tadi." Ucap Gevando membuyarkan lamunannya.


"Ya, aku percaya kok, sama kamu." Jawab Evana.


"Ya sudah kalau gitu, persiapkan diri kamu untuk aku interview. Pertanyaan dariku tidak sulit, sebatas tanya jawab saja. Aku sudah mendengar tentangmu dari Neti, kalau kamu pernah bekerja dan juga gagal jadi sekretaris karena sebuah permintaan dari suami kamu." Ucap Gevando.


Evana yang mendengarnya, pun bengong.


"Gak usah kaget, biasa aja. Sekarang juga, persiapkan diri kamu dengan sebaik mungkin. Sebentar lagi Bos kamu akan datang, jadi siap-siap saja untuk berhadapan dengan Bos kamu nanti." Kata Gevando.


Sudah menjadi keputusan Evana untuk mandiri dan tidak ketergantungan dengan ibu mertua, Evana dengan yakin untuk memulai kariernya dari nol.


Cukup lama berada di dalam ruangan sekretaris Gevando, Evana sudah melakukan tanya jawab dengan sebaik mungkin dan semaksimal mungkin.


Begitu juga dengan Gevando, merasa puas saat mendapat jawaban yang benar-benar sempurna dari Evana, ternyata itu semua di luar dugaannya.


Perempuan yang hampir saja menyandang statusnya menjadi seorang janda, tak kalah menariknya dengan perempuan yang masih single, cantik dan pintar.


'Beruntung sekali yang menjadi suaminya, selain cantik, Evana juga seorang wanita yang cerdas dan juga pintar, serta pekerja keras. Tidak, tidak, sadar Gevando, dia masih bersuami. Hentikan rasa kagumnya, jangan kamu kotori otakmu itu dengan pandangan yang bukan hakmu.' Batin Gevando segera menepis pikirannya yang mulai entah kemana.


Sedangkan di ruang kerja para karyawan lainnya, kini tengah dihebohkan dengan sosok Bos Reyzan yang tengah berjalan menuju ruangannya.


"Kenapa, kenapa, ada apa?"


"Itu si Bos Reyzan, tambah ganteng aja. Lihat tuh, si duda tapi mengalahkan yang masih bujangan saja." Jawab salah satu karyawan perempuan saat melihat Bosnya lewat di depan ruang kerjanya.

__ADS_1


"Namanya juga Duda, pasti menggoda lah. Mau dibilang sugar daddy juga gak punya anak, pantasnya tuh duren, si duda keren." Timpal karyawan yang satunya.


Neti yang mendengar dan melihat beberapa karyawan lainnya, hanya menggelengkan kepalanya karena heran.


"Eh, Net. Lu kan kenal sama si Bos, ngapain gak kamu deketin saja. Lumayan loh, ganteng plus tajir." Ucap seseorang karyawan yang sudah mengetahui jika Neti mengenal Bosnya di luar jam kerja.


"Hem, gak lah. Lagian juga aku sudah punya calon sendiri, yang juga kerja di perusahaan cabang.Jadi, untuk apa mengejar si Bos. Toh, selera si Bos itu bukan perempuan macam aku. Si Bos sudah pernah beristri, tentu saja akan sangat hati-hati untuk mencari pendamping hidupnya. Eh, ngapain kalian bahas si Bos. Cepat selesaikan kerjaan kalian, nanti aku adukan sama si Bos loh." Kata Neti yang sering nakut-nakutin teman kerjanya.


"Ya, Net, ya." Jawab beberapa karyawan yang mendapat teguran dari Neti.


Sedangkan Evana, sudah keluar dari ruang sekretaris. Kemudian, Gevando mengajaknya untuk menemui Reyzan yang menjadi Bosnya di kantor.


"Evana, kamu tunggu disini sebentar, ya. Nanti aku panggil kamu, ok." Ucap Gevando.


Evana mengangguk.


"Ya, aku akan tunggu di luar." Jawab Evana.


Setelah mendapat persetujuan dari Evana, segera masuk ke dalam untuk menemui kakaknya yang menjadi Bos di kantor.


Tanpa basa-basi untuk menekan bel pintu, Gevando tidak mempunyai larangan untuk masuk keluar dari ruang kerja kakaknya.


"Kata kamu akan ada sekretaris baru, mana orangnya?" tanya sang kakak yang tidak menyukai basa-basi.


"Masih di luar, dia seorang perempuan. Apakah kak Reyzan akan menerimanya sebagai sekretaris Kakak?"


"Kalau dia pintar, cerdas, tidak malu-maluin, aku terima. Tapi, kalau pemalas, bikin malu, pintar juga kaga, aku tolak." Jawabnya.


"Tenang aja, orangnya cantik, pintar, cerdas, dan juga pernah bekerja di perusahaan. Jadi, tidak ada yang perlu di ragukan lagi. Oh ya, untuk ruang kerjanya, mau di ruangan ini atau ..."

__ADS_1


"Ruangan ini saja, hemat waktu." Jawabnya dengan singkat.


"Baiklah, kalau gitu akan aku panggilkan orangnya." Kata Gevando yang langsung membalikkan badannya untuk memanggil Evana yang posisinya sedang menunggu di depan pintu.


__ADS_2