
Perasaan sedihnya harus terganggu dengan datangnya perempuan yang sudah menjadi perusak rumah tangganya.
Hancur perasaannya, itu sudah pasti. Tapi, Evana tidak begitu menuruti kesedihannya hanya karena lelaki yang sudah berkhianat kepadanya.
Meski masih terasa sakit, sebisa mungkin untuk tidak larut dalam kesedihannya. Evana berubah untuk bangkit dari keterpurukan, dan menata kehidupannya menjadi lebih baik lagi.
Karena takut akan menambah masalah, Evana memutuskan untuk pulang lebih awal. Semua orang yang melihat dan menyaksikan kejadian barusan, tak ada satupun nyang menyalahkan Evana yang pulang lebih awal.
Justru, semua berbisik dan menyetujui jika Evana pulang. Rey yang belum mengucapkan bela sungkawa, mendekati Ardi yang tengah berdiri didekat jenazah ibunya.
"Aku turut berduka cita atas meninggalnya Ibu kamu, maafkan sekretarisku yang sudah membuatmu malu." Ucapnya seakan penuh sindiran pada kalimat terakhirnya.
Ardi yang ingin rasanya melayangkan sebuah tinjuan kepada Rey, niatnya pun diurungkan.
Evana sendiri tak bersuara apapun di depan Ardi, lelaki yang pernah mengisi hatinya entah sudah berapa tahun lamanya.
Seketika, Ardi langsung menarik tangan Evana. Hampir saja terjatuh karena kakinya terkilir saat dirinya dengan reflek memutar balikkan badannya kebelakang.
Saat itu juga, Rey langsung menangkap tubuh Evana layaknya tengah berdansa.
Rey langsung membenarkan posisi sekretarisnya, tetapi Evana tiba-tiba merasakan sesuatu pada salah satu kakinya.
"Aw!" pekik Evana meringis sambil menahan sakit pada kakinya.
"Eva," panggil Ardi saat melihat Evana memekik kesakitan saat kakinya terkilir karena ulahnya.
Rey yang takut terjadi sesuatu pada Evana, langsung menggendongnya sampai didalam mobil, dan diikuti oleh Neti dari belakang dengan kepanikan.
Evana yang merasa takut jatuh, langsung melingkarkan kedua tangannya di bagian tengkuk lehernya.
"Va, kamu tidak apa-apa, 'kan?" tanya Neti setengah berlari untuk mengejar langkah kakinya Rey yang begitu gesit.
Evana yang tengah menahan sakit, tak mampu dirinya untuk menjawab pertanyaan dari Neti.
Sedangkan Ardi, dirinya tak bisa mengejar Evana, dikarenakan akan segera berangkat ke pemakaman.
.
.
__ADS_1
.
Didalam mobil, Evana sambil memegangi bagian lingkar kakinya yang terasa begitu sakit. Kemudian, Rey melajukan mobilnya agar tidak berada di depan rumah duga.
Setelah cukup jauh dari rumah duka, Rey menepikan mobilnya di dekat taman. Evana sendiri masih memegangi kakinya yang terasa begitu sakit akibat terkilir.
"Entar dulu, aku ambilkan sesuatu untuk mengurut kakimu itu. Sepertinya sangat serius pada kaki kamu yang terkilir." Ucap Rey sambil mencari sesuatu yang selalu dijadikan alat bantu untuk memijat.
"Kok bisa gini sih, Va? kamu kurang hati-hati. Apa kamu sedang memikirkan Ardi? lupakan saja dia. Ardi bukan lelaki baik, sampai-sampai Lely hamil karena Ardi."
Neti yang merasa geram, dengan berani untuk berkomentar mengenai suami Evana.
Evana yang mendengarnya, pun hanya menatap Neti dengan mengkode.
Karena tak ingin suasana jadi rame, akhirnya Neti memilih untuk diam. Sedangkan Rey, kini mulai mengurut kakinya Evana dengan perlahan.
"Aw! sakit, Aw! cukup, cukup, kakiku sakit banget." Teriak Evana saat merasakan pada bagian pergelangan kakinya merasakan sakit yang begitu hebat.
"Va, tahan. Jangan banyak gerak, nanti semakin sakit." Kata Neti mengingatkan saat Evana menjerit kesakitan.
Evana sama sekali tidak menanggapinya, dirinya tengah menahan sakit. Rey sendiri terus mengurutnya dengan sangat hati-hati.
Dengan reflek, Evana mendorong kakinya cukup kuat ke sesuatu milik Bosnya, karena rasa sakit pada kakinya. Rey yang merasakan miliknya terasa sakit, mencoba untuk tidak memberi bentakan atau sesuatu yang bisa membuat suasana gaduh. Lebih lagi ada Neti yang berada di belakangnya.
Neti yang melihatnya, pun menahan tawanya. Takut, si Bos akan marah besar terhadap dirinya.
Evana yang merasa bersalah, cukup dengan nyengir saja kepada Bosnya. Rey menatap tajam pada Evana, namun tidak ditakuti sama sekali. Justru, Evana juga menahan tawanya.
'Si_al! awas kau, Evana.' Batin Rey sambil mengurut.
"Bagaimana, masih sakit? coba kamu gerak gerakkan pada pergelangan kakimu dengan pelan, masih terasa sakit atau gak."
Sesuai yang diminta Bosnya, Evana menggerakkan pergelangan kakinya perlahan. Kemudian, ia mencoba merasakannya.
Cukup beberapa kali gerakan, Evana tersenyum girang pada bagian kakinya tidak merasakan sakit seperti semula.
"Kaki aku sembuh, Bos. Ini seriusan, wah, si Bos jago pijit juga ya. Net, kakiku sembuh." Ucap Evana dengan senyum girang saat kakinya sudah tidak merasa sakit lagi.
"Ya, syukurlah kalau sembuh. Takutnya besok kamu absen gak berangkat ke kantor, kan aku sendirian berangkatnya." Sahut Neti.
__ADS_1
"Ya udah, kita pulang nih?"
"Ya, Bos." Jawab Evana dan Neti barengan.
Karena tidak ingin berlama-lama bersama si Bos, Evana memilih untuk langsung pulang.
Tapi, eh tapi, tiba-tiba Evana merasakan sesuatu pada perutnya yang seperti ada undangan makanan di warung makan atau yang lainnya.
Saat itu juga, suara di dalam perutnya tengah berbunyi dan dapat di dengarkan oleh Rey maupun Neti.
Evana langsung memegangi perutnya, sama sekali tidak berani menoleh pada Bosnya maupun Neti.
"Ada yang lapar nih keknya, ya udah, kita ke restoran dulu." Ucap Rey sambil menyetir.
"Gak usah Bos, gak usah, aku mau makan di rumah saja. Lagi pula sebentar lagi sampai rumah kosan kok, serius." Jawab Neti berusaha menolak.
"Ya, Bos, gak usah. Kita makan di rumah saja, biasa lah Bos, belum gajian." Timpal Neti ikut bicara.
"Kalian gak perlu bayar, biar aku yang akan mentraktir kalian berdua." Kata Bosnya.
Evana justru merasa tidak enak hati. Lain lagi dengan Neti, justru merasa mendapatkan diskon besar karena di traktir oleh Bosnya. Tentu saja, tidak mungkin ke restoran kecil, pikirnya.
"Jadi ngerepotin ini, Bos." Sahut Neti beralasan, padahal ingin sekali ditraktir oleh Bosnya.
Tidak memakan waktu lama untuk menuju restoran, kini sudah sampai. Rey langsung menghentikan mobilnya.
"Ayo kita turun, kita sudah sampai." Ucap Rey dan mengajaknya untuk turun.
Evana yang dulunya sering pergi ke restoran, lagi-lagi dirinya teringat akan kenangan masa lalunya.
'Sekarang semuanya tinggal kenangan, dan tak akan pernah bisa bersatu. Luka tetap lah luka, sulit untukku melupakannya.' Batin Evana sambil melamun serta ingat kenangan indahnya, juga pahitnya.
"Mau turun atau gak?" tanya Rey selesai melepaskan sabuk pengamanannya.
"Eh ya, udah sampai ya, Bos. Maaf, tadi aku sedikit melamun. Maksud aku, menahan perut yang keroncongan." Jawab Evana beralasan.
'Pasti kamu teringat dengan ucapan Lely tadi kan, Va?' batin Neti yang tiba-tiba geram saat dirinya teringat temannya harus menerima kenyataan pahit berulang-ulang, pikir Neti.
Setelah itu, Evana dan Neti maupun Bosnya, segera turun dari mobil.
__ADS_1