
Dua bulan kemudian setelah begitu lama tinggal di kampung halaman, Evana masih bertahan untuk tinggal bersama Nenek Muna yang usianya semakin menua.
Sama halnya dengan Ardi, masih tetap bertahan berada di kampung yang sama dengan mantan istrinya. Hanya saja, si Ardi diberi batasan untuk bertemu Evana, takut akan menimbulkan fitnah.
Begitu juga dengan Radit, yang mengetahui jika Evana sudah bersuami, juga mendapat protes untuk tidak sering menemui Evana, takutnya akan menimbulkan fitnah juga.
Lain lagi dengan Reyzan, suami sah Evana yang sudah sembuh dari sakitnya juga sudah menjalani aktivitasnya di kantor.
BRAK!
Seorang sekretaris pengganti istrinya mendadak seperti mendapat serangan jantung akibat Bosnya yang marah.
"Kerjakan lagi dengan benar, aku tidak mau tahu, hari ini juga harus selesai, kau mengerti!"
"I-i-ya, Bos." Jawab sekretarisnya terbata-bata.
"Sudah sana keluar, cepat kau kerjakan dan segera selesaikan pekerjaan kamu itu." Usir Reyzan dengan penuh emosi.
Sejak mulai masuk ke kantor, Reyzan lebih mudah emosi dan juga seenaknya ketika menghukum sekretarisnya maupun karyawannya. Yang terpenting bagi Reyzan, dirinya dapat melampiaskan kekesalannya.
Sedangkan di ruang kerja, para karyawan tengah dibuat heboh setelah sekretarisnya keluar dari ruangan Bosnya. Tentu saja, bertanya-tanya mengenai sikap Bosnya yang seperti tengah kambuh temperamennya.
"Lu kenapa Al?" tanya Neti saat melihat ekspresi kesal pada sekretaris Bosnya.
"Tanya lagi, kenapa? tanya sendiri tuh sama Bos kamu. Kamu juga, kenapa gak kasih saja alamatnya teman kamu itu, beres urusannya." Jawabnya sedikit kesal lantaran harus mendapat omelan dari Bosnya.
"Sudah sana kamu lanjutin kerja, tugasku juga banyak. Bisa berabe kalau ketahuan sama si Bos, gawat. Sudah sana sana sana, buruan masuk ke ruang kerjamu."
"Ekhem!"
Neti maupun Aldo, kini keduanya seperti tertangkap basah saat tengah membicarakan Bosnya.
"Kalian masih mau bertahan di kantor ini atau tidak?" tanya Reyzan dengan ancaman.
"Dan kau Neti, ikut aku ke ruang kerjaku, sekarang juga."
Neti mendelik, takut, itu sudah pasti.
"Ayo! cepetan ikut denganku." Bentak Reyzan yang sudah mulai memuncak emosinya.
__ADS_1
"Tunggu-tunggu, ada apa ini, Bos?" tanya Neti lumayan takut saat Bosnya mulai meninggikan suaranya.
Sedangkan Aldo yang juga tidak ingin mendapat sial di kantor, bergegas kembali ke ruang kerjanya secepatnya.
Veria yang melihat Neti tengah mendapat bentakan dari Reyzan, tersenyum dengan puas.
"Lihatlah, aku bakal merebut Reyzan dari Evana. Siapapun tidak akan berani berhadapan denganku, termasuk Neti." Gumamnya dengan rasa percaya diri.
Reyzan yang sudah masuk ke ruang kerjanya dan diikuti oleh Neti, keduanya menyimpan perasaan kesal masing-masing. Satu kesal karena takut, satunya kesal merasa bertambah kesal, lantaran tidak mendapatkan titik terang.
Reyzan menatap tajam pada Bosnya, tatapan penuh dengan kekesalannya.
"Hari ini juga, kau ku paksa resign kalau masih tidak mau juga mengatakannya padaku. Aku beri kesempatan saat ini juga, cepat kau beritahu aku, dimana istriku?"
Tatapan yang penuh keseriusan, membuat Neti kalang kabut dengan perasaan takut.
"Bos, percayalah padaku, Evana dalam keadaan baik-baik saja. Juga, Bos Reyzan tidak perlu khawatir padanya. Akan ada saatnya si Bos Reyzan akan bertemu dengannya, tapi bukan waktu yang sesingkat ini."
Reyzan yang mendengar ucapan Neti, langsung mendekatinya. Kemudian menatapnya lebih tajam lagi, bahkan tangannya mulai berani mencengkram kerah bajunya.
Neti yang susah payah menyingkirkan tangan Bosnya, dirinya seperti tercekik saat napasnya mulai terasa tersendat.
"Bos, lepaskan tangannya. Aku mohon, lepaskan." Ucap Neti memohon.
'Maafkan aku, Evana, jika aku harus menuruti kemauan suamimu. Tidak ada cara lain untuk melakukan pembohongan pada suami kamu. Semakin hari, suami kami semakin brutal.' Batin Neti sambil menahan Bosnya yang mulai terus mencengkram dengan kuat.
Bahkan, kedua tangannya Neti tidak lagi sanggup menahan cengkraman dari Bosnya yang terbilang cukup kuat tenaganya.
"Bab-bab-baik, Bos." Ucap Neti, sedangkan Reyzan sedikit mengendurkan cengkramannya. Tentu saja, agar Neti dengan leluasa untuk mengatakannya langsung pada dirinya dengan mudah.
"Ayo, cepat kau katakan dimana istriku. Aku tahu, kau memang sengaja untuk tidak mengatakannya padaku. Tapi ingat, sekarang kau tidak akan bisa lepas dari genggamanku." Kata Reyzan dengan penuh penekanan, yakni ancaman untuk Neti.
Tidak ada pilihan lain, akhirnya Neti mengangguk pelan, yakni tanda mengerti.
"Evana tinggal di kampung halamannya, Bos. Maaf, hanya itu yang aku tahu. Untuk soal alamatnya aku tidak mengatahui."
Reyzan yang awalnya merasa senang karena mendapat jawaban dari Neti, tapi kembali kesal saat dirinya tidak mendapatkan alamat istrinya tinggal.
Reyzan kini menatap Neti dengan tajam, cengkeramannya kembali kuat. Susah payah dirinya mengancam, masih juga belum mendapatkan keberadaan istrinya dengan pasti.
__ADS_1
"Jangan memancing emosiku, Neti! sekarang juga, cepetan kau hubungi Evana dan tanyakan langsung alamatnya."
"Tapi, Bos, kalau Evana tidak mau mengatakannya, bagaimana?"
"Berikan nomor ponselnya padaku, dan kamu tidak perlu mengatakan keberadaannya."
Neti yang sudah tidak bisa berkata apa-apa sesuai permintaan Evana, akhirnya memberikan nomor ponselnya Evana kepada Bosnya.
"Bab-bab-baik, Bos." Jawab Neti dengan rasa takut, jika dirinya akan kembali mendapat amukan dari suami temannya, yakni Bosnya sendiri.
"Cepat! kau ambil ponselmu." Bentak Reyzan sambil mendorong tubuh Neti.
Takut suasana semakin mencekam, Neti buru-buru pergi ke ruang kerjanya untuk mengambil ponselnya.
Semua teman kerjanya dibuat penasaran, yakni melihat Neti yang terlihat seperti orang yang ketakutan.
Lagi-lagi Veria tersenyum puas saat melihatnya, yakni seperti penuh dengan kemenangan.
"Net, kamu baik-baik saja, 'kan?" tanya salah satu teman kerjanya.
Neti hanya mengangguk sambil merogoh ponselnya yang ada didalam tasnya. Tidak bersuara sama sekali, Neti bergegas menemui Bosnya.
Dengan napasnya yang ngos-ngosan, Neti sudah berada di hadapan Bosnya.
"Mana?" tanya si Bos dengan tangan kanannya yang menengadah.
Neti langsung menunjukkan nomor ponsel milik istri Bosnya. Saat itu juga, si Reyzan langsung menyambar ponselnya. Kemudian, dengan gerak jempol tangannya langsung mengetikkan nomor milik istrinya dan di simpan.
"Bos," panggil Neti dengan suaranya yang lirih.
Reyzan mendongak dan menatap datar pada Neti.
"Kenapa?" tanya Reyzan sambil menyerahkan ponselnya.
"Jangan hubungi Evana ya, Bos. Soalnya, Evana pernah mengancamku, yaitu akan meninggalkan kampung halamannya jika sampai mengetahui jika aku yang sudah memberikan nomor ponselnya." Jawab Neti dengan perasaan takut akan kehilangan jejak teman baiknya.
Reyzan yang mengerti maksud dari Neti, mengangguk pelan.
"Kamu tenang saja, aku yang akan langsung menuju kampung halamannya. Dan kamu, tidak perlu risau." Kata Reyzan yang kini suaranya mulai mereda, dan tidak kedengaran tengah emosi.
__ADS_1
"Makasih banyak, Bos. Soalnya aku tidak ingin kehilangan jejaknya, karena Evana sudah aku anggap bagian keluargaku." Ucap Neti.
"Ya udah, sekarang kamu boleh kembali ke tempat kerjamu." Kata Reyzan, Neti mengangguk dan bergegas kembali ke tempat kerjanya.