Istri Yang Kau Jandakan

Istri Yang Kau Jandakan
Menjemput seseorang


__ADS_3

Karena perut sudah merasa keroncongan, Evana segera membereskan meja kerjanya. Kemudian setelah itu, ia segera pergi ke kantin.


Sebelumnya, Evana berpamitan terlebih dahulu dengan Bosnya.


"Permisi, Bos."


Reyzan langsung mendongak.


"Ya, kenapa?" tanya Rey sambil membereskan meja kerjanya.


"Mau izin pergi ke kantin ya, Bos." Jawab Evana sambil menggigit bibir bawahnya, takut jika Bosnya tidak mengizinkan.


Rey yang sudah membereskan meja kerjanya, langsung bangkit dari posisinya.


"Ayo, kalau mau ke kantin."


"Bos mau ikut?"


"Gak, mau mata-matai kamu. Jangan ke-ge-eran, sudah, ayo kita keluar." Jawab Rey yang langsung menarik tangan Evana.


'Si Bos kenapa la, ini tangan udah kek sama pacarnya saja. Belum juga menikah, bikin jantungku mau copot aja.' Batin Evana bercampur rasa gugup dan juga malu di khalayak umum dalam kantor.


Tentu saja, Evana kembali menjadi pusat perhatian para karyawan yang lainnya, termasuk Veria yang tidak pernah merasa jera meski sering mendapatkan penolakan dari Bosnya sendiri.


Veria yang terbakar api cemburu, ingin rasanya menyingkirkan sekretaris Bosnya, pikirnya yang sudah tidak sabar untuk menjadi istri pemilik Perusahaan.


'Lihat saja, kau bakal menyesal menikah dengan Bos Rey, Evana.' Batinnya saat mendapati Bos dan sekretaris tengah berjalan beriringan.


Ditambah lagi sambil berpegangan tangan, tentu saja dapat membuat orang cemburu yang melihatnya.


Saat sudah berada di kantin, ruang untuk duduk, kini memilih ke tempat duduk bersama karyawan lainnya, dan tdak lagi menggunakan ruang privasi.


Tak perlu harus memesan, salah seorang pelayan di kantin, langsung menghampiri pemilik Perusahaan.


Kemudian, pelayan tersebut menawarkan menu makanan serta minuman. Meski tidak ada makanan yang di restoran, makanan di kantin tidak diragukan lagi dari segi rasa maupun kebersihannya juga.


Setelah memesan makanan, Evana kembali duduk dan melihat para karyawan lainnya yang tengah memesan makanan secara bergantian.


Tidak hanya memesan makanan saja, ada juga yang tengah memperhatikan Bosnya yang jarang sekali terlihat, kini rupanya berada di kantin para karyawan beristirahat.


"Evana sukses ya, sudah membuat Bos kita makan di kantin bareng karyawan, dan tidak menggunakan ruangan privasinya." Bisik seorang karyawan saat pandangannya tengah menangkap sesuatu yang jarang di lihat.

__ADS_1


"Ya ya, sepertinya mereka berdua pacaran. Gimana gak tertarik, body sama kecantikannya gak tertandingi di kantor ini. Veria aja yang dulu paling cantik, sekarang kalah."


"Namanya juga Bos, ada barang baru, pasti di embat. Belum tahu aja entar kalau ada karyawan baru yang lebih cantik dari Evana, ujungnya juga di tinggalin, Bos mah, gak ada larangan mau ngapain aja, secara uangnya banyak." Timpal yang satunya ikut bicara, tanpa di sadari olehnya, jika di dekatnya ada Neti yang baru saja duduk untuk menikmati makanannya.


"Eh, ada Neti, bukan maksud kita kita ini untuk menyudutkan teman kamu. Tapi, memang benar, 'kan? namanya Bos itu, suka suka maunya apa. Jadi, aku rasa ucapan aku tadi biasa aja." Ucapnya seraya kepergok oleh Neti.


"Ya, aku ngerti. Di makan tuh ayam bakarnya, entar keburu telat loh, kalau ngomongin orang terus." Kata Neti sedikit kesal, saat temannya menjadi bahan gosip, pikirnya.


Sedangkan Evana sendiri celingukan, seperti mencari sesuatu.


"Kamu cari siapa?" tanya Bosnya.


"Gak, Bos. Gak cari siapa-siapa."


"Ya udah, buruan di makan, makanan kamu itu. Setelah ini, kita kembali kerja lagi. Makan yang banyak, biar kamu gak sering kelaparan."


Evana yang mendengarnya, pun nyengir kuda. Lantaran akhir-akhir ini dirinya sering didapati dengan suara perut keroncongan.


Karena tidak ingin pekerjaannya terbengkalai, Evana segera makan. Cukup lama menikmati makanan di kantin bersama Bosnya, Evana maupun si Bos, ternyata sudah selesai makannya.


Kemudian, keduanya kembali ke ruang kerjanya. Begitu juga dengan karyawan lainnya, segera masuk ke ruang kerjanya masing-masing.


Sedangkan Reyzan, kini sedang mengamati akta perceraian milik sekretarisnya.


'Tinggal menunggu beberapa hari lagi, semua akan berjalan dengan lancar sesuai yang sudah aku rencanakan.' Batin Reyzan setelah melihat Evana tengah sibuk dengan pekerjaannya.


Lumayan lama melewati harinya di kantor, tak terasa sudah waktunya untuk pulang.


Evana yang belum menyelesaikan pekerjaannya, ia tidak begitu cemas, lantaran masih ada hari esok untuk diselesaikan.


'Bentar lagi seratus hari kepergian Mama mertua, mungkinkah aku akan diizinkan datang ke rumahnya? semoga saja, aku ingin mengajak kakak ipar perempuan untuk menemani aku ke makamnya Mama. Entah kenapa, aku sangat merindukannya. Tidak, tidak, ini tidak ada kaitannya dengan Mas Ardi. Lagi pula, seratus hari masih lama.' Batin Evana menepuk-nepuk kedua pipinya.


"Kamu sedang tidak bermimpi, sudah waktunya untuk pulang." Ucap Rey yang sudah berdiri di dekat sekretarisnya dengan membawa tas kerjanya.


Evana yang sadar dari lamunannya, ia mendongak.


Nyengir kuda.


"Ya, Bos. Ternyata aku sedang tidak bermimpi, aku kira ini mimpi. Soalnya badan aku capek banget, berasa mimpi kalau waktunya sudah pulang, tapi pekerjaan masih numpuk." Jawab Evana beralasan, padahal dirinya tengah memikirkan sesuatu yang lain.


"Hem. Hari ini aku tidak bisa mengantarkan kamu pulang, dan kamu bisa pulang bersama temanmu. Satu lagi, persiapkan diri kamu untuk menjadi istriku. Waktu kita tidak lama, setelah lewat dengan batas yang ditentukan, kita akan menikah." Ucap Rey tak lupa mengingatkan.

__ADS_1


"Ya, Bos, mengerti." Jawab Evana disertai anggukan. Kemudian, ia segera bergegas untuk pulang.


Rey yang sudah ada janji dengan seseorang, ia segera pergi ke tempat tujuan. Sedangkan Evana, justru merasa bebas saat dirinya tidak melulu harus pulang bersama Bosnya. Tentu saja, bisa menikmati suasana yang jarang ditemui olehnya.


"Tumben nunggu aku pulang, kemana si Bos?" tanya Neti saat sedang bersiap-siap untuk pulang.


"Aku Gak tahu, orang gak bilang apa-apa sama aku. Mungkin ada kesibukan yang lain, soalnya cuma ngomong kalau dirinya hari ini gak bisa mengantarkan aku pulang, dah gitu doang." Jawab Evana.


"Oh, mungkin aja. Ya udah yuk, kita pulang." Ucap Neti mengajak untuk pulang.


Sedangkan diperjalanan, Reyzan tengah mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya sampai juga di tempat tujuannya.


Dengan cepat-cepat, segera mencari keberadaan seseorang.


"Kakak ...!" teriak seorang gadis cantik sambil berlarian dan langsung memeluk Reyzan tanpa malu.


"Aiwa kangen sama Kakak." Sambungnya lagi.


Rey yang merasa risih, segera melepaskan pelukan dari gadis yang bernama Evana.


"Aiwa, lepaskan, jangan seperti anak kecil kamunya." Kata Rey yang merasa risih.


Pasalnya, perempuan yang ada di hadapannya itu sudah bukan lagi gadis kecil seperti dulu. Tentunya, harus menjaga jarak agar tidak bersikap yang berlebihan, pikir Reyzan.


Aiwa pun segera melepaskan pelukannya, dan mendongakkan pandangannya.


"Kak Rey tambah ganteng aja deh, katanya Kakak mau menikah, benar kah?"


"Ya, makanya jaga jarakmu sama Kakak. Nanti kalau istri Kakak cemburu, bagaimana?"


"Hem, gak bisa kek dulu lagi dong, gak ada yang mau gendong aku."


"Hem, masih ada Gevando yang bisa gendong kamu."


"Males ah, kak Gevando galak kalau sama aku."


"Kamunya aja yang gak bisa merayunya, dia masih jomblo, deketin aja."


Bukannya menjawab, justru Aiwa memasang muka cemberutnya.


"Jelek ah manyun kek gitu, yuk kita pulang. Sini, biar Kakak yang bawakan barang bawaan kamu." Ucap Reyzan sambil membantu Aiwa membawa barang bawaannya.

__ADS_1


__ADS_2