
Rey yang baru saja selesai mengisi perutnya beberapa suapan, sudah merasa kenyang.
"Rey, bagaimana dengan lukamu? kedua tangan kamu baik-baik saja kan, Nak?"
Rey mengangguk, sama sekali dirinya tidak bersuara. Pandangannya masih lurus ke arah pintu, sedangkan pikirannya entah kemana.
Tidak lama kemudian, terdengar suara tombol pintu tengah mengagetkan Rey juga ibunya.
"Bentar, Mama mau membuka pintunya dulu." Ucap ibunya dan bergegas untuk membuka pintu.
"Hai, Tante, apa kabarnya?"
"Baik, silakan masuk." Jawab ibunya Reyzan mempersilakannya untuk masuk.
Seseorang yang baru saja masuk, langsung mendekati Reyzan yang tengah duduk bersandar.
"Hai, Bro, gimana kabarmu? maaf, aku baru bisa menjenguk."
"Gak apa-apa, kabarku seperti yang kamu lihat. Di bilang baik, masih di rawat. Mau dibilang belum baik, keadaan aku sudah membaik. Kamu sendiri bagaimana kabarnya? sudah lama kamu tidak pernah datang ke rumah." Jawab Reyzan. s
Sedangkan ibunya memilih untuk keluar, yakni untuk memberi ruang dan waktu kepada putranya agar bisa mengobrol dengan leluasa. Lebih lagi yang datang adalah teman baiknya, tentu saja tidak berani untuk mengganggunya.
"Kabarku baik juga, maafkan aku yang sok sibuk, sampai jarang main ke rumah kamu." Jawabnya.
Reyzan yang ditemani teman akrabnya, menghela napasnya.
"Kamu tahu darimana kalau aku ada di rumah sakit ini, Don?" tanya Reyzan.
"Tadi malam aku mencoba menghubungi nomor kamu, tetapi tidak ada respon sama sekali. Terus, akhirnya aku hubungi adik kamu, dan katanya kamu di rawat di rumah sakit. Ya udah, karena aku sedang tidak ada kesibukan, aku langsung datang kemari." Jawab Doni menjelaskan.
"Oh, dari Vando."
"Ya, Vando bilang, kalau kamu sudah menikah, dimana istri kamu?"
"Kenapa gak tanya sekalian saja sama Vando, dimana istriku?"
"Kamu gak sedang ngelawak, 'kan?"
Reyzan menggelengkan kepalanya, dan dilanjutkan untuk menceritakan semuanya tentang awal mulanya, juga cerita tentangnya.
__ADS_1
Doni sangat terkejut mendengar penjelasan dari Reyzan, sungguh di luar dugaan.
"Jadi, istrimu di usir?"
Reyzan mengangguk pelan sambil menatap Doni.
"Terus, apa kamu tidak melakukan tindakan untuk mencari keberadaan istrimu?"
Lagi-lagi Rey hanya menggelengkan kepalanya.
"Saat itu aku kecelakaan dan gak tahu kemana perginya. Sekarang ini aku baru sadar dari koma, keadaanku juga masih lemah. Jadi, aku belum bisa melakukan apapun untuk melakukan penyelidikan atau mencari keberadaan istriku. Entahlah, kemana perginya aku juga tidak tahu." Jawab Reyzan penuh khawatir jika istrinya berada dalam bahaya.
Ditambah lagi mengetahui jika istrinya tidak mempunyai tempat tinggal, semakin khawatir akan keselamatan istrinya.
"Sayangnya, aku harus pergi ke kampung untuk melakukan survei. Jadi, aku belum bisa membantu kamu dalam kurun waktu ini."
"Ada acara apa kamu di kampung, kenapa ada acara survei segala."
"Sebenarnya aku harus datang bersama rekan kerja yang lainnya. Tapi karena sesuatu hal yang jauh lebih penting dan tidak bisa di tinggalkan, tentu saja harus dihandle. Kami berlima ada misi yang ingin di kembangkan di kampung, yakni untuk memberi lapangan pekerjaan untuk masyarakat." Jawab Doni menjelaskan.
"Lapangan pekerjaan? memangnya jumlah masyarakat di kampung yang kamu tuju itu banyak? kalau hanya beberapa persen, apa bisa berhasil?"
"Tentu saja bisa, karena padat penduduk. Jadi, aku mau ambil kesempatan emas ini untuk aku bangunkan sebuah lapangan pekerjaan."
"Kamu juga bisa ikut, karena masih ada kesempatan untuk satu orang lagi." Ucap Doni memberi peluang untuk temannya.
Rey tersenyum mendengarnya.
"Gak deh, keadaan aku saja masih seperti ini. Mana bisa ikut kamu ke kampung bersama kamu, sangat sulit untuk aku lakukan."
"Gampang, yang penting tanda tangan dan modalnya dulu. Soal hadir, bisa kapan saja."
"Kamu serius? tapi, aku sendiri harus mencari keberadaan istriku. Gak ah, gak ada waktu untukku ikut kerja sama dengan kamu."
"Payah kamu, Rey. Jugaan gak langsung berjalan, semua butuh proses." Ucap Doni mencoba terus merayu.
"Entar deh, aku akan pikirkan lagi. Yang terpenting jangan kamu alihkan ke orang lain, nanti kalau aku sudah sembuh total, aku akan kabari kamu. Soal tanda tangan, aku siap, juga memberikan modal." Jawab Rey yang akhirnya ikut kerja sama.
"Baiklah, besok aku akan menemui kamu. Soalnya aku gak bawa surat perjanjian, juga lembaran kertas tentang kerja sama."
__ADS_1
"Santai aja, masih banyak waktu." Kata Rey dengan santai.
Selama banyak mengobrol, tidak terasa sudah waktunya Doni untuk pulang.
"Rey, sepertinya aku harus segera pulang. Soalnya hari ini aku harus bersiap-siap untuk berangkat ke kampung, karena ada rekan kerja yang akan kembali ke kota. Pokoknya besok aku mampir sebelum berangkat ke kampung."
"Terserah kamu saja, aku nurut denganmu." Kata Rey yang gak mau pusing.
"Ya udah ya, aku pamit pulang. Aku doakan semoga kamu segera sembuh." Ucap Doni berpamitan.
"Ya, hati-hati." Jawab Rey dengan anggukan.
Setelah berpamitan, Doni segera keluar dan pulang.
Di tempat lainnya, Ardi yang tidak sabar, ingin segera menemui mantan istrinya.
"Tumben rapi, biasanya juga masih rebahan, diajak jalan-jalan di kampung ini aja males. Lah ini kenapa berubah menjadi semangat kamunya, Bro."
"Reseh bener lah, sini kontak motornya, mau aku pakai untuk main ke rumah mantan istriku."
"Nih, jangan lupa kalau pulang bawain makanan untuk kita kita, ok."
"Cih, beli aja sendiri." Kata Ardi sambil menyambar kontak motor yang ada di tangan teman yang satunya.
"Hem, yang lagi puber, temannya suruh jaga rumah." Ucap Deden lirih, namun masih dapat di dengar oleh yang lain.
"Ya tuh dia, keknya Ardi lagi puber entah yang ke berapa." Timpal temannya.
"Sudahlah, aku pergi dulu." Kata Ardi sambil mengeluarkan motor.
"Awas, Bro. Entar Lu salah masuk rumah orang, berabe Lu." Sahut Deden menakuti.
"Gak akan, tenang aja, aku pasti berhasil." Kata Ardi bersemangat dan penuh percaya diri.
"Ya udah, semangat bertemu dengan jandamu." Sahut Deden, yang dua tertawa melihat aksi Ardi yang nekad buat nemui mantan istrinya.
Berbeda dengan Radit, justru dia tak punya semangat seperti Ardi. Meski tahu jika Evana masih punya suami, tapi tekadnya bulat untuk merebut kembali mantan istrinya. Bahkan, tak peduli apapun yang akan dia terima, yang terpenting berusaha untuk mendapatkan cintanya kembali.
Evana yang tidak mempunyai kegiatan, dan juga jenuh bila berada didalam rumah tanpa menyalurkan energinya, dirinya ikutan membantu Nenek Muna menyiangi rumput di halaman rumahnya.
__ADS_1
Ardi yang bersemangat, tidak ada rasa malu sedikitpun untuk bertanya.
"Nenek Muna, Evana. Kata Pak RT, ini memang benar namanya. Dia bilang dari rumah singgah di suruh lurus, dan nemu perempatan belok kiri, lanjut lurus sedikit ada pertigaan di suruh belok kiri lagi, terus ketemu perempatan di minta belok kanan, nah situ rumah yang ditempati, pekarangan rumahnya banyak di tanami sayuran." Ucapnya sambil membaca tulisannya sendiri dalam menulis denah lokasi mantan istrinya yang begitu rumit serumit perjalanan hidupnya.