Istri Yang Kau Jandakan

Istri Yang Kau Jandakan
Berkata jujur agar tidak salah paham


__ADS_3

Ardi yang mendapat nomor ponsel milik perangkat desa, senyum senyum tidak jelas.


"Senyum-senyum kek menang lotre aja kamu ini, Di."


"Ya nih, kek orang kasmaran juga." Timpal rekan kerjanya sambil berjalan menuju mobil yang siap mengantarkan pulang ke tempat persinggahan yang sudah di siapkan oleh aparat desa.


"Aku bertemu dengan mantan istriku tadi."


"Bertemu mantan istri?" ketiga temannya pun mendadak berhenti.


"Ya, mantan istriku berada di kampung ini." Jawab Ardi bersemangat.


Ketiga rekan kerjanya menelan ludahnya dengan susah payah.


"Apa tadi yang bernama E-Evana?" tanya Deden yang sempat melihat Ardi tengah mengejarnya, dan mendengar saat memanggil namanya.


"Ya, dan aku sudah mendapatkan alamat rumahnya lewat Pak RT." Kata Ardi dengan senyum yang mengembang.


"Tambah betah aja keknya tinggal di kampung ini, secara ada mantan istri kamu." Ucap salah satunya lagi ikut menimpali.


"Sudahlah, aku ingin secepatnya kembali ke tempat singgah, dan aku mau pergi ke rumah mantan istriku." Kata Ardi yang sudah tidak sabar ingin bertemu, tak peduli dengan statusnya dan juga status mantan istrinya yang sekarang, yakni sudah bersuami.


"Hem, percaya." Ucap Deden meledek.


"Yuk ah, ayo kita pulang." Ajak Ardi yang lebih dulu masuk ke dalam mobil.


"Gini nih, puber setelah bercerai. Jatuh cintanya melebihi orang kasmaran pada umumnya, bahkan bisa menjadi-jadi keknya. Ditambah lagi pernah bercinta, tentunya akan mendapat godaan besar dan seakan baru mengenalinya, tapi sebenarnya ingin mengulangi masa-masa yang sudah lewat." Ucap Deden menilai temannya.


"Ya juga ya, mungkin aja si Ardi lagi puber kedua."


"Puber kedua kata kamu, Ardi tuh pernah selingkuh, itu namanya puber ketiga." Celetuk teman yang satunya.


Karena tidak mau pusing memikirkannya, justru tertawa ketiga temannya Ardi.


"Sudah, ayo kita pulang." Ajak Deden yang tak ingin terus menerus membahasnya, pikirnya yang hanya akan membuang-buang waktu saja.


Berbeda lagi dengan Evana, baru saja pulang di antar oleh Radit.


"Makasih ya, Dit, sudah mau mengantarkan aku pulang." Ucap Evana sambil meluruskan kakinya dengan posisi duduk di sofa.

__ADS_1


"Sama-sama, Va. Oh ya, kalau ada perlu apa-apa, kamu hubungi aku aja. Boleh kan, aku minta momor ponsel kamu?"


"Boleh. Sebentar ya, aku mau ambil ponselku dulu."


"Gak usah, biar Nenek aja yang ambil. Kamu duduk aja, jangan kemana-mana dulu." Kata si Nenek menimpali dan bergegas masuk ke kamar Evana untuk mengambilkan ponselnya.


"Kan, aku jadi ngerepotin banyak orang, termasuk kamu dan juga Nenek." Ucap Evana merasa gak enak hati, sampai lupa jika dirinya juga merasa bersalah besar karena sudah membohongi Nenek Muna dan Radit yang berpura-pura pingsan di khalayak umum.


"Ini ponselnya, Nak." Ucap Nenek Muna sambil menyodorkan ponsel milik Evana kepada pemiliknya.


"Makasih banyak ya, Nek. Maafkan Evana yang sudah merepotkan Nenek, juga kamu Dit. Sebelumnya Evana mau minta maaf sama Nenek, juga sama kamu Dit. Tapi ..."


Nenek Muna yang penasaran, segera duduk di dekat Evana.


"Tapi kenapa, Va?" tanya Radit penasaran.


"Aku tidak bohong, sebenarnya tadi aku pura-pura pingsan agar bisa terhindar dari laki-laki tadi, maaf." Jawab Evana dengan menunduk karena merasa bersalah.


Nenek Muna yang awalnya sudah mencurigai Evana, hanya menghela napasnya panjang.


"Apa kamu bilang, pura-pura pingsan?" tanya Radit memastikan.


"Jadi, tadi itu kamu bersandiwara? astaga! kenapa kamu baru bilang sekarang, Va? kenapa juga tidak sedari tadi, pakai kode atau apa kek, gitu."


Evana mendongak dan nyengir kuda.


"Maaf, lupa."


"Hem. Kamu ini ya, dari dulu gak pernah berubah. Selalu aja bikin drama, Evana Evana." Kata Nenek Muna yang sudah tidak heran lagi dengan kepribadiannya Evana sejak kecil yang selalu mempunyai sejuta alasan untuk membohongi yang lain.


Radit membuang napasnya dengan kasar.


"Ya udah, mana nomor ponsel kamu, berikan padaku." Pinta Radit yang sudah tidak sabar untuk segera pulang ke rumah.


"Bentar, aku cari dulu nomor kontak ponselku." Jawab Evana sambil mencari kontak nama ponselnya sendiri, setelah itu memberikannya kepada Radit.


"Mana?" tanya Radit yang sudah tidak sabar.


"Ini," jawab Evana sambil memperlihatkan nomor ponselnya.

__ADS_1


Sambil mengetik nomor ponsel miliknya Evana, Radit tak lepas memperhatikannya begitu fokus.


"Sudah belum, Dit?" tanya Evana mengagetkan, sedangkan Nenek Muna dapat menangkap ekspresi Radit yang sedang memperhatikan Evana begitu seriusnya.


Terlihat jelas, jika Radit masih sama dengan perasaannya yang dulu.


"Ah ya, udah. Nama kontaknya mau di kasih nama siapa, Va?"


"Terserah kamu, orang kamu yang punya ponselnya juga." Kata Evana.


Radit tertawa kecil mendengarnya.


"Ya juga, ya. Ya udah ya, kalau gitu aku pamit pulang. Soalnya aku harus ada setoran hari ini. Besok atau nanti malam, boleh kan, aku datang ke rumah kamu ini?"


Evana menoleh pada Nenek Muna, mau bagaimanapun, statusnya bukan wanita single, melainkan sudah bersuami, meski entah bagaimana akhir dari sebuah hubungan pernikahannya.


"Em ... lain kali aja ya, Dit, soalnya aku gak mau warga kampung sini jadi heboh. Gimana ya jelasinnya, sebenarnya aku ... em-- aku sudah menikah, Dit."


Bagai tersambar petir saat mendengar pengakuan Evana di hadapannya. Napasnya yang awalnya teratur, kini terasa sesak, detak jantungnya seakan sulit untuk dinormalkan.


"Ya Nak Adit, Evana sebenarnya memang sudah menikah. Meski pernikahannya entah seperti apa nantinya, tetap saja tidak sembarangan untuk menerima tamu karena statusnya yang sudah menikah." Ucap Nenek Muna yang akhirnya memberi penjelasan kepada Radit.


Kecewa, ada rasa sakit di hatinya, namun Radit bisa apa. Dirinya hanya bisa diam, dan mencoba berlapang dada menerima kebenarannya, meski sangat pahit bak obat sekalipun.


Perempuan yang pernah ia sukai, dan juga diharapkan kembali pulang, ternyata hanya angan semata. Sadar diri itu sudah pasti, karena memang sudah menjadi pilihan Evana untuk tinggal di kota bersama orang tua angkatnya.


Radit membuang napasnya dengan kasar bercampur dengan perasaan yang cukup kecewa akan pengakuan dari Evana.


"Dit, Radit, kamu kenapa bengong?" tanya Evana membuyarkan lamunannya.


"Gak apa-apa, ya udah ya, aku pamit pulang. Nek, Radit pulang." Jawab Radit dan berpamitan langsung, Evana mengangguk.


Setelah keluar dari rumah Evana, perasaan Radit masih terasa sakit ketika teringat dengan pengakuan Evana mengenai statusnya.


"Ternyata aku sudah terlambat, bodohnya aku dulu. Andai saja aku ikut dengan Evana, pasti aku akan tetap bersamanya. Tapi, karena Papa dan Mama memintaku untuk lanjut kuliah, tentu saja aku gak bisa bersama." Gumamnya penuh dengan penyesalan saat harus memilih keputusan di masa lalu.


Sedangkan di tempat lain, yakni di rumah sakit, Reyzan akhirnya dapat dibujuk untuk mengisi perutnya yang kosong. Namun, tetap saja pikirannya terus tertuju pada istrinya yang entah dimana keberadaannya.


Kedua orang tuanya yang melihat putranya terus-terusan melamun, merasa sangat bersalah besar. Terlihat jelas jika Reyzan seperti tidak mempunyai penyemangat hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2