
Saat mendapati Ardi di kampung, Rey mencoba untuk berpikir keras maksud dan tujuan Ardi di kampung yang ia datangi.
'Apa ya, dia datang kesini karena ada Evana, istriku. Terus, lelaki bersamanya ini siapa? apa tujuannya Ardi datang kesini? mungkin kah dia juga bagian penanam saham.' Batin Reyzan penasaran atas sosok Ardi yang sudah berada di kampung.
"Maaf, Pak. Kan sudah bertemu nih, apa mau langsung ke tempat tujuan, atau mau ke warung makan terlebih dahulu." Ucap Radit yang akhirnya membuka suara tanpa basa-basi.
"Bagaimana, Tuan?"
"Kita pergi ke warung makan dulu, karena sepertinya sudah sore. Setelah itu, baru ke tempat tujuan." Jawab Reyzan.
"Oh, baik kalau gitu. Tapi ..."
"Tapi kenapa?" tanya Reyzan.
"Motor saya bocor, Pak. Tadi waktu mau jemput Bapak, gak tahunya dapet apes. Kalau boleh sih, kita berdua mau nebeng di mobil Bapak."
"Kalau gak boleh juga gak apa-apa, aku bisa jalan sendiri." Ucap Ardi yang langsung menyambar ucapan dari Radit.
"Boleh kok, kenapa mesti nggak. Kalian berdua kan, petunjuk arah. Kalau aku melarangnya, gimana kami berdua mau sampai ke tempat tujuan. Ya udah, ayo kita naik ke mobil. Cuaca sepertinya mau hujan, ayo."
"Makasih." Ucap Ardi terdengar ketus.
"Ya, sama-sama. Ayo, kita berangkat. Sekalian, antarkan aku ke rumah Evana." Kata Rey, lalu berbisik di dekat telinganya Ardi.
Saat itu juga, Ardi langsung menoleh pada Reyzan.
"Ogah, cari saja sendiri."
"Baiklah, aku akan mencarinya sendiri." Kata Reyzan dengan santai.
Sedangkan Ardi merasa geram dan juga dongkol, saat harus menghadapi dua lelaki yang sama-sama mencintai mantan istrinya.
'Si_al, kenapa juga mesti ketemu sama ini orang. Benar-benar menyebalkan, aku harus membuatnya pelajaran.' Batin Ardi penuh emosi.
Rey sendiri dengan santai masuk ke dalam mobilnya.
'Gak perlu aku meminta bantuan kamu, Ardi. Karena aku yang akan mencarinya sendiri.' Batin Reyzan sambil membenarkan posisi duduknya.
Setelah Radit dan Ardi sudah berada didalam mobil, Pak supir segera melajukan mobilnya.
__ADS_1
'Pak Ardi ini kenapa lah, kelihatannya gak suka gitu melihat orang ini. Apa jangan-jangan ada sangkut pautnya dengan Evana apa ya? tapi gak mungkin deh. Oh, jangan-jangan saingan bisnisnya. Kan, Pak Ardi datang ke kampung sini untuk membuka lapangan pekerjaan. Ya ya ya, aku tahu sekarang.' Batin Radit di sela-sela memikirkan sikap dari Ardi kepada orang yang di jemputnya.
"Maaf, rumah makannya dimana ini?" tanya Pak supir sambil fokus menyetir.
"Lurus aja, Pak. Nanti kelihatan kok, warung makannya." Jawab Radit.
"Oh, kamu orang sini ya? maksudnya kepulauan sini saja."
"Ya, Pak. Saya memang warga asli kepulauan sini."
Rey yang mendengar jawaban dari Radit, langsung menoleh ke belakang.
"Serius kamu? jadi, kamu bukan bagian dari pembuka lapangan pekerjaan?"
"Bukan kok Pak, tapi Pak Ardi ini yang ikut membuka lapangan pekerjaan dengan rekan-rekan kerjanya." Jawab Radit dengan jujur.
"Oh, kirain. Jadi kamu warga kepulauan sini, makasih sudah memberitahuku." Kata Reyzan merasa senang, lantaran dirinya tidak susah payah untuk mencari keberadaan istrinya, pikir Reyzan.
'Akhirnya aku mendapatkan peluang emas lewat dia. Sepertinya dianya ini jujur, juga baik.' Batin Reyzan.
'Si_al! ini bocah pasti bakal dimanfaatkan sama Reyzan. Lihat saja ekspresinya, seperti ingin memanfaatkan si Radit. Aku harus kalikong sama si Radit, agar tidak mau menuruti permintaan dari si brengs_ek ini.' Batin Ardi sambil mencari cara untuk bisa menggagalkan pertemuan antara Rey dengan mantan istrinya.
Tidak begitu jauh dari jarak Pelabuhan dengan warung makan, Radit langsung memberi arahan kepada pak supir.
"Adem juga ya cuaca disini, gak gerah." Ucap Rey saat sudah turun dari mobil sambil merasakan cuaca yang tidak membuat badannya gerah.
"Gerah lagi nanti, kalau kamu sudah bertemu istrimu." Sahut Ardi dengan suara yang samar.
Tetap aja, Rey dapat menangkapnya.
"Ya lah, aku kan suaminya." Ucap Reyzan gak mau kalah.
"Suami macam apa kamu, membiarkan istrinya hidup di kampung. Sudahlah, ceraikan saja istrimu. Gak ada gunanya kamu jadi suaminya Evana, peduli aja gak." Jawab Ardi mengambil kesempatan emas untuk membuatnya kesal.
"Kau!"
Sambil menahan tangannya yang hendak memukul Ardi, sebisa mungkin untuk tidak mengumbar emosinya.
Radit yang dapat melihat Rey dan Ardi yang seperti tengah beradu mulut, tak menghiraukannya selagi masih dalam batas tidak saling tonjok menonjok, pikirnya.
__ADS_1
Karena tidak ingin berdebat dan hanya menambah emosi, Rey langsung masuk ke dalam dan diikuti oleh supirnya, juga Radit.
"Radit, sini sebentar." Panggil Ardi mencegah Radit.
"Ya, Pak, ada apa?"
"Hati-hati dengan laki-laki itu, namanya Reyzan. Pokoknya kalau minta bantuan sama kamu, tolak saja dia. Aku hanya mengingatkan kamu saja, mau didengar atau tidaknya, terserah kamu." Jawab Ardi.
"Memangnya laki-laki tadi itu, siapa?"
"Pokoknya dia itu buka orang baik-baik. Jadi, kamu harus berhati-hati. Kelihatannya memang baik, tapi sebent tidak." Kata Ardi sengaja berbohong.
"Tapi keknya orang baik, kok dibilang jahat."
"Karena kamu belum kenal dengannya." Kata Ardi dan bergegas masuk kedalam, dan diikuti oleh Radit sambil mencerna ucapan dari Ardi.
Saat masuk ke warung makan, Radit tidak mendapati kursi duduk di sekeliling Reyzan. Alhasil, Radit memilih untuk duduk di bangku yang lain, yang dianggapnya tidak ada yang duduki.
Rey yang melihatnya, merasa ada kesempatan untuk bisa makan bareng, serta dapat berbicara dengan leluasa. Entahlah, mungkin saja memang sudah di rencanakan oleh Rey saat Ardi belum juga masuk ke warung makan.
Ardi yang melihat Rey bangkit dari posisi duduknya, langsung mendongak.
"Kamu mau kemana?" tanya Ardi menyelidik.
"Aku mau duduk dengannya, kamu makan saja. Jugaan, kasihan dia sendirian." Jawab Rey dengan enteng.
Ardi langsung menoleh pada Radit yang tengah duduk sendirian, juga memeriksa kursi disekitarnya.
Benar saja, rupanya hanya ada tiga kursi.
'Si_al! kenapa harus ada tiga kursi segala, coba. Aku yakin, Rey sudah mengaturnya, agar dia bisa duduk bareng Radit, dan tentu saja untuk menanyakan keberadaan Evana tinggal. Semoga saja, Radit tidak memberitahu alamat Evana. Juga, aku rasa dia gak akan memberitahu alamatnya, karena dia pasti gak mau bertambah saingannya.' Batin Ardi penuh percaya diri akan pesan untuk Radit.
"Hei, sendirian. Boleh kan, jika aku temani kamu. Kenalkan, namaku Reyzan. Aku datang ke kampung itu ada dua tujuan, pekerjaan juga hal pribadi. Kalau boleh tahu, nama kamu siapa."
"Saya Radit, Pak. Salam kenal dari saya, maaf jika saya sudah merepotkan."
"Gak, aku merasa gak direpotkan. Justru aku berterima kasih banyak denganmu, karena sudah mau menjemputku. Oh ya, boleh gak, kalau aku bertanya sesuatu sama kamu."
"Tanya sesuatu, memangnya mengenai apa ya, Pak?"
__ADS_1
"Nanti lagi, sekarang kita makan dulu. Pesanan kamu belum datang ya, mungkin lagi ngantri, aku tanya dulu sama pelayannya."
"Gak usah Pak, disini memang harus sabar. Mungkin memang lagi ngantri. Oh ya, itu dia pelayannya sudah datang." Kata Radit sambil menunjuk pada si pelayan yang tengah membawa pesanannya.