Istri Yang Kau Jandakan

Istri Yang Kau Jandakan
Bersiap-siap


__ADS_3

Waktu sudah dilewati bersama hari-harinya dengan aktivitas di setiap waktunya. Evana yang tidak pernah menyangka sebelumnya, seakan seperti mimpi.


Mimpi indah atau justru mimpi buruk, Evana tak bisa untuk membandingkannya. Haruskah bahagia, atau justru harus bersedih.


Pernikahan yang diharapkan memang nyata adanya, namun kenyataannya hanya sebuah drama semata.


"Kau yakin akan menikah dengan Bos Rey?" tanya Neti saat Evana tengah bersiap-siap untuk berangkat.


"Aku gak punya pilihan, Net. Kalaupun akhirnya aku akan mendapatkan murka dari ibunya Bos Rey sekalipun, aku akan terima, karena ini sudah menjadi perjanjianku dengan si Bos." Jawab Evana sedikit lesu.


"Ya sih, kalau tahu gini, kamu bisa lepas diri dari sejauh hari. Tapi kenyataannya, ternyata calon ibu mertua kamu, orang yang sudah kamu kenal dengan baik setelah hari pernikahan sudah dekat. Aku hanya bisa mendoakan kamu, semoga semuanya baik-baik saja dan tidak akan terjadi masalah apapun pada dirimu bersama Bos Rey." Ucap Neti, dan memeluk sahabat karibnya.


"Makasih ya, Net, kamu teman aku satu-satunya yang aku punya." Jawab Evana, dan melepaskan pelukannya.


"Ingat ya, kamu harus hati-hati di setiap yang akan kamu lakukan. Tetap saja, kamu harus waspada. Mau bagaimanapun, kamu adalah orang baru yang perlu beradaptasi dan juga jaga diri dengan baik. Kita gak tahu hati mereka seperti apa, dan kita juga gak tahu sebaik apa mereka pada kita. Anaknya saja bisa berpura-pura untuk bermain drama pernikahan, begitu juga dengan orang tuanya. Setidaknya aku mengingatkan kamu untuk selalu berhati-hati." Ucap Neti panjang lebar untuk mengingatkan Evana, teman akrabnya.


Evana mengangguk, dan menghela napasnya.


"Ya, Net. Aku akan ingat terus nasehat dari kamu. Tapi gak apa-apa kan, jika aku tinggal kamu sendirian di rumah kosan ini. Janji, aku akan meminta sama Bos Rey untuk bisa bertemu."


"Ya, Va. Memangnya kamu gak lagi kerja di kantor? sampai-sampai meminta izin untuk bertemu denganku."


"Aku gak tahu, yang aku dengar sih, pacar kamu yang akan menggantikan aku. Itu masih dalam rencana, selebihnya aku kurang tahu keputusannya."


Neti membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna.


"Raka, maksud kamu?"


Evana mengangguk.


"Ya, Raka pacar kamu. Soalnya Gevando akan dipindahkan ke luar negri, alasannya apa, aku gak tahu."

__ADS_1


"Yah, males banget jadinya." Kata Neti yang tiba-tiba berubah menjadi lesu.


"Semangat dong, kan satu kantor sama Raka."


"Bukannya gak semangat, aku males aja banyak gosip ini itu."


"Takut di lirik sama karyawan lainnya, ya. Justru itu, kalau kamu jauhan, mana kamu tahu, seperti apa pacarmu itu. Sudah lah, ayo cepetan kamunya bersiap-siap. Memangnya kamu gak mau ikut-ikutan menghadiri drama pernikahan aku, jahat kamu kalau gak mau ikut."


"Hem. Baiklah, aku gunakan saran darimu. Tunggu sebentar, aku mau ambil tas aku dulu." Ucap Neti yang langsung bergegas untuk mengambil tasnya.


Saat keduanya sudah bersiap untuk berangkat, terdengar jelas suara mobil berhenti di depan rumah kosannya.


Evana dan Neti, keduanya segera keluar untuk memastikannya. Dan benar saja, ternyata mobil jemputan sudah datang.


"Permisi, Nona. Mari, kita berangkat." Ucap seorang supir mengajak calon istri majikannya untuk berangkat.


Dalam perjalanan menuju ke tempat diadakannya resepsi pernikahan, Evana bersandar si jendela kaca mobil sambil melihat jalanan.


Seperti mimpi, tapi inilah kenyataannya.


Susah payah melupakan, terkadang rasa sakit itu pun datang, juga kenangan indah bersamanya melintas di benak pikirannya saat merindukan masa-masa bersama.


Meski tidak ada tiga tahun lamanya, Evana sudah menjalani pernikahan dengan sosok Ardi. Benar kata penasehat, berhati-hatilah jika kamu memperkenalkan pasanganmu meski dengan orang yang kamu percaya sekalipun.


Kenyataannya, pun demikian. Evana yang sudah memperkenalkan suaminya dengan teman dekatnya, rupanya lambat laun bermain api dengannya.


Siapa yang menolak, jika kucing jantan disuguhi makanan yang menggoda. Contohnya suami Evana sendiri, yakni selalu kedatangan teman dekatnya, rupanya ada niat terselubung dibelakangnya.


Setelah semua terbongkar, barulah terasa akan rasa sakitnya ketika diselingkuhi.


Evana yang tanpa sadar meneteskan air matanya, segera menyekanya. Napas yang tadinya normal, harus merasakan sesaknya untuk bernapas.

__ADS_1


Neti yang dapat merasakan kesedihan temannya, mengusap punggungnya dan memeluk Evana.


"Sudah lah Va, yang lalu biarlah berlalu. Yang harus kamu hadapi sekarang, adalah perjalanan hidupmu yang baru. Kita tidak pernah tahu, siapa yang akan menjadi jodoh kita. Setidaknya, kita tetap kuat dan bersabar untuk menjalani kehidupan kita." Ucap Neti berusaha untuk menenangkan sahabatnya yang tengah gundah.


Evana mengangguk mengerti, apa yang diucapkan oleh Neti.


Cukup lama dalam perjalanan, akhirnya sampai juga di sebuah gedung yang cukup besar dan juga dengan bangunan yang menjulang tinggi.


Sesuai tugasnya masing-masing, datanglah beberapa orang untuk menjemput Evana dengan temannya di parkiran. Kemudian, mengajaknya kedalam ruangan yang sudah di siapkan.


Sedangkan di dalam gedung, sudah banyak para tamu undangan dari berbagai kalangan dan yang lainnya, termasuk para karyawan di kantornya.


Tidak cukup hanya sekedar datang, ternyata banyak yang tengah membicarakan pengantin perempuannya.


Di lain sisi, ternyata Veria bersama keluarganya baru saja datang. Melihat dekorasi di dalam gedung, membuat hatinya seperti terbakar api cemburu.


Pasalnya, bahwa dirinyalah yang sudah direncakan untuk menikah dengan Reyzan. Tapi kenyataannya, justru wanita lain yang baru saja datang di kehidupan Reyzan.


Ada rasa curiga, tapi tak dapat untuk menguak tentang hubungan Evana dengan Reyzan. Bagai bumi dan langit, begitu jauh perbedaannya.


"Veria, ayo kita ke sana, Nak." Panggil sang ibu untuk mengajak putrinya ke tempat lain.


Veria yang melihat dekorasi tempat duduk untuk sepasang pengantin, benar-benar membuatnya kecewa dan juga kesal.


'Seharusnya aku yang berdiri di panggung itu, bukan perempuan mura_han itu.' Batinnya penuh kesal dan juga merasa dongkol.


"Veria, ayo kita ke sana." Panggil ibunya yang kedua kalinya, lantaran ajakan yang pertama tidak dihiraukan.


"Mama sama Papa duluan aja, nanti Veria menyusul." Sahut Veria yang terasa malas untuk menerima ajakan dari ibunya, lantaran harapannya harus pupus begitu saja.


Sedangkan di ruangan lain, ada Evana yang tengah ditemani Neti saat di rias wajahnya sebagaimana seorang pengantin.

__ADS_1


Evana yang merasa takut dan juga gugup, sebisa mungkin untuk tetap tenang dan menghilangkan kegugupannya.


'Evana, ingat, Va, ini hanya sebuah drama. Satu lagi, semua akan baik-baik saja.' Batin Evana berusaha untuk menenangkan diri sendiri.


__ADS_2