
Pagi hari semua warga tengah disibukkan untuk bersiap-siap menghadiri acara di balai desa. Sama halnya yang dilakukan oleh Nenek Muna yang ikut tinggal di rumah mendiang orang tuanya Evana, lantaran tidak tega menolak ajakannya, juga karena seorang perempuan sendirian. Tentu saja, Nenek Muna khawatir jika ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
Nenek Muna yang tidak ingin datang terlambat, bangun pagi pagi segera membuat sarapan pagi yang ditemani oleh Evana.
"Nek, memang benar ya, hari ini mau ada acara di balai desa?" tanya Evana sambil membantu Nenek Munda di dapur.
"Ya, Nak Eva, benar. Kata warga sih, emang benar mau ada acara pertemuan dengan beberapa orang petinggi, juga dengan pemilik pembuka lapangan pekerjaan. Untuk soal lapangan pekerjaannya sih, Nenek belum tahu pasti. Semoga saja memang benar isu itu, biar warga kampung sini tidak banyak pengangguran. Begitu juga dengan kamu, biar mudah mencari pekerjaan." Jawab Nenek Munda sambil menyiapkan bahan-bahan yang mau dimasak.
"Semoga saja ya, Nek. Soalnya Evana gak punya kerjaan juga, ngandelin buku tabungan, juga ujungnya bakal habis kalau tidak bekerja." Kata Evana disela-sela mengupas bawang putih.
"Ya, Nak Eva. Oh ya, apa kamu beneran mau menetap di desa ini? kalau suami kamu mencarimu, bagaimana?"
"Eva sudah pasrah Nek, biarkan saja waktu yang akan menentukannya. Evana hanya ingin hidup dengan damai, dan tidak ada yang mengganggu." Jawab Evana dengan lesu.
"Apa kamu sudah mendapatkan kabar tentang suami kamu? mau bagaimana pun, kamu adalah istrinya. Kalau sampai ada wanita yang memberi perhatian, apa tidak membuatmu cemburu?"
Evana menggelengkan kepala sambil menunduk sedih.
"Evana akan berusaha untuk menerimanya, Nek. Lagi pula, kedua orang tuanya sudah tidak mau menerima kehadiran Eva, Nek. Lalu, untuk apa Evana bertahan jika keselamatan terancam, Nek?"
Sambil menatap Nenek Muna, kedua matanya berkaca-kaca. Saat itu juga, Nenek memeluknya.
Pelan-pelan mengusap punggungnya, berharap semuanya akan baik-baik saja.
"Kamu yang sabar ya, Nak. Percaya sama Nenek, semua akan ada jalan keluarnya. Kamu tetap fokus dengan diri kamu, biar kesehatan kamu tidak terganggu." Ucap Nenek sambil memeluk, juga mengusap punggungnya.
Evana melepaskan pelukannya.
"Nek, gak apa-apa kan, jika Evana meminta Nenek untuk tinggal bersama di rumah ini?" tanya Evana yang takut sendirian.
"Nenek gak akan kemana-mana, sesuai janji Nenek kepada ibumu, yakni menemani kamu." Jawab Nenek Muna dan tersenyum.
"Makasih banyak ya, Nek." Ucap Eva sambil memegangi kedua tangannya.
"Ya udah, mendingan kamu mandi dulu aja. Nenek mau goreng ikan dulu, kamu pasti masih capek menempuh perjalanan dalam kurun waktu seharian kemarin itu."
"Tapi, Nek."
"Gak ada tapi tapian, buruan mandi. Lagi pula cuma goreng ikan saja, sama bikin sambel. Jadi, kamu buruan mandi."
"Bener nih Nek, nanti Evana disangka gak gak lagi, kalau ketahuan orang lain melihat Nenek yang masak."
__ADS_1
Nenek Muna tersenyum.
"Ya gak lah, Nak. Memang siapa yang mau ngomongin kamu, toh jarak rumah juga gak berdekatan. Ya udah sana mandi, nanti gantian." Kata si Nenek, Evana mengiyakan dan bergegas mandi.
Di tempat lain, tepatnya di rumah sakit. Reyzan terlihat mulai menggerakkan jari jemarinya, sang ibu benar-benar terkejut melihatnya.
Begitu juga dengan sang ayah, langsung bangkit dari posisi duduknya dari sofa.
Tidak pakai lama, Beliau langsung menekan tombolnya.
"Pa, Rezyan, Pa." Ucap ibunya menangis haru, lantaran putranya sudah mulai ada perubahan.
"Bentar ya, Nak, dokter akan segera datang." Ucap ayahnya dengan perasaan yang bercampur aduk rasanya.
Tidak lama kemudian, datanglah seorang dokter dengan lengkap alat periksanya.
"Mohon untuk geser sebentar ya, Bu, Pak. Saya mau memeriksa kondisi pasien." Ucap sang dokter.
Kedua orang tuanya Reyzan bergegas menyingkir dari ranjang pasien.
Dengan hati-hati saat melakukan pemeriksaan, juga dalam menangani pasien. Sang dokter terlihat begitu tenang saat memeriksa pasiennya.
"E-va-aa-na," panggil Reyzan menyebut nama istrinya dengan susah payah dan terbata-bata lantaran napasnya yang masih terasa berat.
Sang dokter langsung menoleh kepada kedua orang tua pasien.
" Siapa Evana?" tanya sang dokter.
"Istrinya, Dok." Jawab ibunya Reyzan yang akhirnya berkata jujur.
"Saya Dok, istrinya." Sahut dari ambang pintu yang dengan berani langsung menjawab pertanyaan dari dokter.
Ibunya Reyzan pun terkejut melihat kehadiran Veria di pagi hari.
"Kemarilah, suami Anda memanggil nama Anda. Semoga dengan hadirnya sang istri dapat memulihkan kesehatannya." Kata sang dokter, Veria tersenyum lebar.
Ditambah lagi memang dirinya yang harus dijodohkan, tentu saja mendapat peluang emas untuk mendapatkan kesempatan emas, pikirnya.
Veria yang diminta untuk mendekat, langsung berjalan mendekati doktet dan Reyzan yang masih terbaring lemah di ranjang pasien.
Tuan Daro hanya bisa membuang napasnya dengan kasar. Entah kenapa kehadiran Evana hanya akan menambah masalah kesehatan putranya, pikirnya.
__ADS_1
Mau bagaimanapun yang namanya kebohongan akan menjadi beban masalah, pikir Beliau.
"Nama pasien siapa?" tanya Dokter karena tidak mengetahuinya.
"Reyzan, Dok." Jawab Veria dengan percaya diri.
Sedangkan Reyzan yang baru saja membuka kedua matanya, pandangannya pun masih samar-samar dan belum terlihat jelas.
Begitu juga dengan jari jemarinya yang masih terasa kaku untuk digerakkan. Cukup lama menatap langit-langit ruangan rawat pasien, Reyzan mencoba untuk menyempurnakan penglihatannya mengenai isi ruang tersebut.
Kedua orang tuanya menatap sedih dengan kondisi putranya yang terlihat memprihatinkan, ditambah lagi tidak ada penyemangat hidupnya.
Setelah penglihatannya lumayan sedikit demi sedikit terlihat jelas, Reyzan memeriksa di sekelilingnya. Satu persatu yang berada di sebelahnya, diamatinya dengan seksama dari sang dokter, asistennya, ayah dan ibu, terakhir perempuan yang teramat ia benci.
"E-va-na, ma-na?" tanya Reyzan masih susah payah untuk berucap.
Sang dokter heran dibuatnya, dan tertuju pada Veria yang mengaku nama Evana.
"Itu, istri Anda Tuan Reyzan." Kata Dokter sambil menunjuk ke arah Veria yang belum lama mengaku sebagai Evana.
Reyzan menggelengkan kepalanya.
"Bu-kan," ucap Reyzan.
"Maaf, sekarang juga Anda keluar." Pinta Dokter kepada perempuan yang mengaku namanya Evana.
"Saya, Dok." Jawab Veria sambil menunjuk diri sendiri dengan telunjuk jarinya, sang dokter mengangguk.
"Ya, keluarlah sebentar." Kata ibunya Reyzan.
Tuan Daro, pun mengangguk.
Mau tidak mau, Veria dengan perasaan kesal dan dongkol, dirinya harus keluar dari ruangan pasien.
Kini, tinggal kedua orang tuanya saja bersama dokter dan satu asistennya.
Reyzan yang masih lemah, tidak bisa berbuat apa-apa.
"Mana yang benar, Bu? anak Ibu kondisi ingatannya baik, dan tidak ada cidera apapun di bagian kepalanya. Sebenarnya perempuan tadi itu, siapa? jangan bohongi pasien dengan kondisi yang sedang pemulihan. Bisa fatal nantinya jika kondisi kesehatannya yang akan mulai membaik harus terganggu." Ucap Dokter.
Kedua orang tuanya gemetaran saat mendengar kalimat ancaman dari Dokter.
__ADS_1