Istri Yang Kau Jandakan

Istri Yang Kau Jandakan
Disambut hangat


__ADS_3

Evana yang sudah bulat dengan keputusannya untuk pergi dari rumah yang pernah ditempati bersama suaminya, terpaksa harus angkat kaki.


Berat rasanya untuk berpisah dengan orang dicintainya, tapi rasa cinta itu seakan membusuk bersama janji suami.


Sangat menyakitkan, itu sudah pasti. Evana berusaha kuat dan sabar, walau jiwanya rapuh sekalipun. Tapi, tidak membuatnya untuk terlihat lemah, meski kenyataannya memang tak berdaya.


Sambil menarik koper, Evana terus berjalan tanpa mengenal itu letih. Meski di penuhi dengan kekecewaan, tak membuatnya menyerah.


Di pinggiran jalanan sambil mencari ojek yang lewat, tiba-tiba terdengar suara panggilan lewat ponselnya, Evana segera merogoh didalam tas kecilnya.


Kemudian, ia menerima panggilan telpon.


"Ya, halo." Jawab Evana ketika sambungan telepon sudah tersambung.


"Aku sedang berada di perempatan jalan, lampu merah sebelum rumah yang aku tempati bersama Mas Ardi." Kata Evana.


"Ya, aku tunggu." Jawabnya, lalu Evana menunggu jemputan dari seseorang yang diperintahkan untuk menjemputnya.


Cukup lama menunggu, akhirnya orang yang menjemput Evana sudah datang.


"Apakah kamu yang bernama Evana?" tanya seseorang laki-laki dengan penampilan yang sangat rapi.


"I-i-i-ya, kamu siapa?"


Jawab Evana dan balik bertanya karena penasaran, takutnya orang suruhan suaminya yang sudah merencanakan sesuatu untuk menjebak dirinya.


"Aku teman kerjanya Neti, namaku Gevando." Jawabnya dan mengulurkan tangannya, yakni tanda memperkenalkan diri.


Dengan ragu dan takut, Evana menerimanya.


"Apakah kamu orangnya yang disuruh Neti untuk menjemput aku?" tanyanya lagi.


"Ya, tadi Neti memintaku untuk menjemput kamu. Katanya kamu mau tinggal bersamanya, benarkah? kalau ya, mari aku akan antar kamu sampai di rumahnya." Jawab Gevando.


"Maaf, ya, kalau aku sudah membuatmu kerepotan." Kata Evana tidak enak hati.


"Tidak masalah, aku tidak merasa direpotkan, mari ikuti saya." Ucapnya dan mengajak Evana untuk naik ke mobil.

__ADS_1


Saat dalam perjalanan, Evana memilih untuk diam. Tidak pantas jika dirinya bertanya maupun mengajaknya mengobrol.


'Mobilnya sangat bagus, siapa lelaki ini? mungkinkah dia ini pacarnya Neti?' batin Evana menebaknya.


Sedangkan Gevando, sekilas menoleh ke arah Evana yang terlihat tengah melamun.


"Jangan banyak ngelamun, nanti kesambet loh." Kata Gevando buka suara.


Evana yang dikagetkan, langsung menoleh. Malu, ya pastinya.


"Maaf, aku hanya lihat-lihat jalanan saja." Jawab Evana beralasan.


"Oh ya maaf sebelumnya. Kalau boleh tahu, kamu sudah menikah atau belum?"


"Sudah, bentar lagi akan diproses perceraiannya, kenapa? apakah Neti menceritakannya padamu?"


"Ya, hanya dengar saja kata dia waktu aku menyuruh jemput kamu. Karena penasaran, aku bertanya langsung padamu. Jangan salah paham dulu, aku hanya memastikan saja. Soalnya yang ditakutkan itu, si Neti yang sengaja mengerjai aku." Kata Gevando.


'Perempuan secantik ini kenapa dijadikan janda? apakah masih kurang cantik? sayang sekali, perempuan secantik dia disia-siakan.' Batin Gevando sambil menyetir mobilnya.


"Kamu sendiri sebenarnya siapanya Neti? gak percaya aku, kalau kamu hanya sekedar temannya. Apakah kamu pacarnya Neti? jawab saja yang jujur, tidak perlu bohongi aku."


Evana hanya menggelengkan kepalanya.


"Nanti kamu tanya aja sama dia, biar kamu tidak penasaran." Kata Gevando, Evana hanya mengangguk.


Tidak memakan waktu lama, akhirnya mobil yang dikendarai Gevando telah masuk ke rumah kos milik Neti, temannya.


"Kita sudah sampai, ayo kita turun." Ajak Gevando sambil melepas sabuk pengamannya.


Evana yang mendengarnya, pun segera turun dari mobil. Sedangkan Gevando membantu membawakan kopernya.


Saat sudah turun dari mobil, rupanya Neti tengah menunggu di depan rumah kosnya.


"Akhirnya, kamu lepas juga dari kandang singa. Oh ya, Van, makasih banyak ya, kamu sudah bantu aku menjemput teman aku." Ucapnya pada Evana, dan beralih kepada Gevando.


"Ya, sama-sama. Kalau gitu, aku langsung pulang aja. Lain waktu aku main ke rumah kos-kosan kamu." Jawab Gevando yang langsung pamit pulang.

__ADS_1


Kemudian, pandangannya berpindah ke Evana.


"Va, aku pulang dulu. Semoga betah tinggal bareng sama Neti, hati-hati sama dia, super jahil dan reseh dianya."


Evana hanya tersenyum mendengarnya.


"Yang reseh tuh kamu, jangan dengerin omongannya Gevando, dia mah jagonya reseh dan juga gombal." Kata Neti, Evana memilih diam tak menanggapi.


Setelah bayangan mobil yang dikendarai Gevando sudah tak terihat, Neti mengajaknya untuk masuk.


"Gevando itu pacar kamu kan, ya?" tanya Evana saat Neti menutup pintunya.


"Bukan, dia itu adiknya Bos aku. Orangnya baik banget, dia temannya pacar aku." Jawab Neti menjelaskan.


"Adiknya Bos kamu, yang benar aja. Kata dianya tuh, teman kerjanya kamu. Yang benar yang mana, kamu atau dia."


"Kalau soal teman kerja satu kantor mah ya, orang dia sekretarisnya kakaknya sendiri. Besok aku akan daftarkan kamu jadi karyawan di kantor kakaknya, tempatku bekerja."


"Duh, Net. Maafkan aku ya, sudah banyak ngerepotin kamu." Kata Evana merasa tidak enak hati karena sudah merepotkan temannya.


"Gak lah, aku tidak merasa direpotkan. Aku sudah menganggap kamu saudara aku sendiri. Oh ya, gimana dengan suami kamu? yakin nih, kamu seriusan mau cerai? apa tidak sebaiknya kamu pikirkan lagi." Ucap Neti sambil mengambil air minum untuk Evana.


"Nih, diminum dulu. Agar pikiran kamu jauh lebih tenang, agar pikiran kamu tidak merasa penat." Sambungnya lagi, dan Evana menerima satu gelas air minum.


Saat duduk, Evana meminumnya hingga tandas.


"Pernikahanku sudah tidak bisa untuk dibenahi lagi, Mas Ardi tetap ingin berpisah. Untuk apa mempertahankan pernikahan, kalau pasangan kita sudah tidak mau. Biarlah, mungkin ini jalan yang terbaik untukku dan untuknya."


"Kamu yang sabar ya, Va. Lelaki tidak hanya satu, masih banyak yang lebih baik lagi. Intinya, jadikan masalah itu sebagai pelajaran. Kamu itu cantik, baik, pasti banyak laki-laki baik yang akan bersedia menjadikan kamu istrinya. Oh ya, sudah mau gelap keknya. Kamu mandi dulu ya, Va. Biar badan berasa segar, juga tidak bikin kepala penat."


"Ya, Net. Makasih banyak ya, kamu temanku yang selalu ada saat aku sedang membutuhkan. Maaf, jika aku belum bisa membalas kebaikan kamu."


"Jangan bilang gitu, aku sudah menganggap kamu sebagai saudaraku. Oh ya, kamar kamu yang itu. Masuk aja, semua sudah aku siapkan. Kalau kamu capek, kamu boleh langsung istirahat." Kata Neti, dan menunjuk kamar yang sudah disiapkan untuk Evana.


"Ya, Va. Makasih banyak ya, kamu selalu ada buatku saat sedang ada masalah."


"Kalau gini terus, kapan mandinya. Ya udah sana buruan mandi, aku mau hubungi Gevando untuk mendaftarkan kamu untuk bekerja di kantor bareng aku."

__ADS_1


"Gak, Net. Pokoknya nanti aku bakal traktir kamu kalau aku sudah bekerja dan sudah gajian. Makasih, makasih, makasih, pokoknya dah." Ucap Evana dengan girang.


__ADS_2