Istri Yang Kau Jandakan

Istri Yang Kau Jandakan
Pingsan


__ADS_3

Sudah pagi rupanya, Reyzan langsung bergegas bangun dari tidurnya yang tidak terasa nyenyak.


Dengan terburu-buru segera bersiap-siap untuk melakukan ritual paginya di dalam kamar mandi. Selesai itu, Rey bergegas menyelesaikannya.


Tidak ingin waktunya terbuang sia-sia, Rey dengan gesit menuruni anak tangga.


Sang ibu pun mengagetkannya saat baru saja berhenti di anak tangga yang terakhir.


"Tumben, pagi-pagi gini sudah rapih. Kamu mau pergi kemana, Rey? kelihatannya kamu tengah terburu-buru."


Rey cukup dikagetkan oleh ibunya, dan berasa malas untuk memberi tanggapan kepada ibunya.


"Itu, em ... aku ada janji dengan teman. Jadi, sepertinya aku tidak bisa temani Mama untuk ikut acara yang ada di restoran." Jawab Rey yang sudah tidak sabar dan ingin sekali segera pergi dari rumah untuk mencari informasi tentang istrinya yang belum ditemukan keberadaannya.


"Sudahlah, Ma. Kita tidak perlu paksa Rey untuk menuruti kehendak kita, biarkan putra kita mencari kebahagiaannya sendiri." Ucap sang ayah ikut menimpali juga berkomentar.


Kini, sejak Rey mengalami kecelakaan, perlahan Tuan Daro sudah tidak begitu memberi kekangan pada putranya.


Berbeda dengan Ibunya, justru belum juga berubah dan masih seperti yang dulu, yakni tetap dengan tujuannya.


Rey yang mendapat pembelaan dari sang ayah, hatinya cukup merasa lega, dan tidak begitu penat untuk mencari keberadaan istrinya.


Tuan Daro berjalan mendekati putranya dengan tatapan penuh keseriusan, juga menganggukkan kepalanya pela, seraya memberi kode merestui pilihan putranya.


"Sudah, sana pergi." Ucap sang ayah yang mengerti akan keinginan putranya.


"Gimana sih, seharusnya Papa itu mencegah Rey. Bukan menyetujui Rey untuk pergi, bagaimana dengan acara hari ini, Pa?"


"Acaranya akan berjalan dengan baik. Kamu ini kenapa sih Ma? itu begitu ketat dengan Rey, tapi tidak dengan Gevando."


"Sama aja lah Pa, Gevando kan, belum punya pasangan. Jadi, gimana Mama mau menilai Gevando, Pa?"


"Terus, kenapa kamu tidak mencarikan pasangan untuk Gevando? dan kamu selalu sibuk dengan keputusan kamu sendiri."


"Nanti kalau Reyzan menikahnya bukan dengan perempuan mura_han, Mama akan mencarikan jodoh untuk Vando, Pa."


"Kamu sedang tidak membodohi suami kamu ini, 'kan?"


"Tentu saja tidak lah, Pa. Membodohi yang bagaimana sih? Mama gak ngerti deh maksudnya Papa itu gimana."


"Sudahlah, ayo kita sarapan pagi. Setelah itu kita segera bersiap-siap." Ajak Tuan Daro yang sudah tidak ingin berlama-lama mengulur waktunya.


"Ya, Pa." Jawabnya, dan segera sarapan pagi.

__ADS_1


Sejak perginya Gevando ke luar Negri atas keputusan Tuan Daro, suasana di rumah mulai terasa sepi.


Di tempat lain, Reyzan tengah sibuk dengan anak buahnya yang akan di perintahkan menuju kampung halaman yang sesuai dengan alamat pemilik nomor ponsel.


"Gimana, Bos. Sudah ditemukan alamatnya kah? atau masih sulit untuk di lacak."


"Bentar, aku sedang menunggu balasan pesan dari Jordi. Nanti kalau aku sudah mendapatkan alamatnya, kalian harus segera berangkat untuk memastikan." Jawab Reyzan sambil menatap layar ponselnya yang tengah menunggu pesan masuk dari Jordi.


Tidak lama menunggu, akhirnya pesan pun masuk ke nomor ponselnya. Senyum merekah terukir jelas di kedua sudut bibirnya.


"Nih, alamatnya. Kalian cari dengan benar, jangan sampai ada yang salah. Sekarang juga kalian segera bersiap-siap untuk berangkat." Ucap Reyzan tanpa membaca dengan baik alamat yang di kirimkan oleh Jordi.


"Terus, Bos Rey gak ikut?"


Rey menggelengkan kepalanya.


"Hari ini aku ada pertemuan penting dengan rekan kerja, kalian berangkat duluan dan memberi informasi yang benar."


"Baik, Bos." Jawab ketiganya dengan serempak.


Setelah pergi, Rey sendiri segera menemui Doni sesuai dengan perjanjian sebelumnya.


"Hei, Bro. Gimana, jadi ikut gak kamunya besok? aku mau berangkat."


"Memangnya kamu sudah mendapatkan alamatnya?" tanya Doni.


"Sudah, informasi yang aku dapatkan ada di kampung. Tapi, soal benar atau gaknya, kurang memungkinkan." Jawab Rey menjelaskan.


"Ada di kampung? coba mana alamatnya, siapa tahu saja aku mengetahui kampungnya istrimu."


"Bentar, aku ambil ponselku dulu." Kata Rey sambil merogoh ponselnya.


"Memangnya kamu gak gunakan jasa anak buah yang handal? sampai-sampai belum juga temukan alamatnya istri kamu."


"Aku benar-benar sibuk mengurusi kantor, Don. Ayahku sudah angkat tangan, semua aku yang urus, sedangkan Vando sudah di kirim ke luar negeri. Tentu saja, aku yang kelimpungan mengerjakan semuanya." Kata Rey sambil memijat pelipisnya.


"Itu mah derita kamu yang menjadi anak tertua." Ledek Doni sembari tertawa kecil.


"Sudahlah, jangan meledek aku terus. Nih, alamatnya istriku." Kata Rey dan menunjukkan alamat yang belum lama dikirimkan oleh Jordi, orang suruhannya.


Dengan seksama dan juga teliti, Doni membacanya tidak ada yang terlewatkan meski hanya satu kata sekalipun.


Seketika, Doni mendelik dan menyambar ponselnya Rey. Kemudian, mengulang kembali untuk membaca alamat yang ditunjukkan pada dirinya.

__ADS_1


Setelah cukup jelas dan juga gamblang, Doni mendongak setelah menunduk, dan langsung menatap Rey dengan tatapan sejajar.


"Ini alamat, tempat dimana aku mengajak kamu untuk bekerja sama memberi lapangan pekerjaan bersama ke empat temanku yang lainnya. Jadi, mau apa lagi, sekarang juga kamu ikut denganku." Ucap Doni dengan tatapan yang begitu serius.


Rey langsung bengong, terkejut pastinya.


"Jadi, ini alamat, tempat dimana kamu memberi lapangan pekerjaan?"


"Ya, benar."


"Serius?" tanya Rey memastikan karena dirinya merasa tidak percaya.


Doni mengangguk.


"Gimana, mau ikut denganku, 'kan?"


"Tentu saja aku ikut, siapa orangnya yang gak ingin bertemu dengan istrinya. Lelaki bodoh yang mengabaikan kepergian istrinya, Don." Kata Rey bersemangat karena sudah mendapatkan titik terang lewat teman akrabnya.


Doni mengernyit keheranan.


'Cih! selama ini kemana aja ini anak? hem. Mungkin saja Rey tengah menimbang perasaannya pada istrinya, dan sekarang baru menyadari akan berharganya istrinya.' Batin Doni asal menebak sosok Reyzan, teman akrabnya.


Rey yang benar-benar sudah tidak sabar untuk bertemu, secepatnya untuk segera pulang dan bersiap-siap untuk berangkat bersama Doni.


"Aku mau pulang dulu, nanti aku langsung ke rumah kamu, Don." Ucap Reyzan yang bersemangat untuk bertemu istrinya.


"Ya, ya sana buruan pulang, Bro. Tapi, berangkatnya sekitar jam satu siang, gak apa-apa kan, Bro?" Kata Doni.


Sedangkan Reyzan tersenyum bahagia saat mendapatkan peluang emas, pikirnya. Tidak peduli berangkat siang atau malam, yang jelas dirinya mendapatkan titik terang untuk menemukan keberadaan istrinya.


Lain lagi di kampung halaman, Evana yang sedari tadi menolak makanan, perutnya terus merasa mual. Bahkan, badan ikut terasa meriang.


"Eva, kamu kenapa, Nak? badan kamu kelihatan pucat banget. Nenek antar kamu ke puskesmas ya?" tanya Nenek Muna dengan kekhawatiran saat melihat Evana yang tengah menahan rasa sakit dengan tangannya yang menahan kepalanya.


"Gak usah Nek, mungkin cuma masuk angin saja. Nanti setelah minum obat masuk angin juga sembuh." Kata Evana yang tidak ingin merepotkan Nenek Muna, dan menganggap dirinya hanya masuk angin semata, pikirnya.


"Terus, kamu mau kemana?" tanya Nenek Muna saat mendapati Evana hendak membuka pintu rumah.


"Mau ke warungnya Mbak Narti, Nek. Eva mau beli obat masuk angin, keknya perutnya kembung, Nek."


"Sini, biar Nenek yang beli obatnya. Kamu di rumah aja, bila perlu Nenek panggilkan pak Mantri untuk memeriksa kondisi kamu." Kata Nenek Muna yang benar-benar khawatir.


Evana yang sudah tidak kuat menahan rasa pusing dan juga mual, akhirnya pingsan setelah Nenek Muna membuka pintunya.

__ADS_1


Saat itu juga, tubuh Evana ditangkap oleh sosok laki-laki yang baru aja mau mengetuk pintu.


__ADS_2