Istri Yang Kau Jandakan

Istri Yang Kau Jandakan
Tidak ada izin


__ADS_3

"Jaga bicaramu, lebih baik kamu kembali ke ruang kerjamu." Perintah Rey pada Veria.


"Mau sampai kapan sih, kamu terus-terusan dingin terhadapku. Apa kamu lupa, dengan permintaan orang tua kita?"


Seketika, Rey langsung menoleh pada Veria.


"Tentu saja aku ingat, menerima perjodohan, 'kan? lupakan saja dengan perjodohan kita. Aku beritahu sama kamu, bahwa aku ini sudah mempunyai pacar, dan kamu harus bisa menerimanya." Jawab Rey beralasan, meski sebenarnya belum mempunyai pacar beneran.


"Bohong, melihat kamu berkencan saja aku gak pernah."


"Apa perlu aku menunjukkannya padamu? kalau aku tengah berkencan dengan seseorang. Baiklah, nanti aku akan menunjukkannya padamu kalau aku akan berkencan dengan calon istriku." Kata Rey yang mulai geram saat mendapatkan pertanyaan dari Veria.


Saat itu juga, Rey melihat adik perempuannya tengah berjalan beriringan dengan Evana, sekretarisnya.


"Wah, sepertinya kalian berdua benar-benar berjodoh." Ledek Gevando pada kakaknya dan Veria.


Bukannya menjawab ledekan dari Gevando, justru Rey langsung mengarahkan pandangannya ke Evana.


Veria sendiri senyum percaya diri saat Gevando meledek dirinya.


Sedangkan Evana sendiri merasa takut saat Bosnya menatap tajam padanya. Takut, jika kedatangannya sudah di tunggu sedari tadi.


"Maaf, Bos, saya terlambat." Ucap Evana sambil menunduk.


"Masuk, dan kerjakan tugasmu hari ini dengan benar. Awas, jangan sampai ada yang salah." Perintah Reyzan.


"Baik, Bos." Jawab Evana dengan anggukan dan segera masuk.


Kini, tinggallah Gevando dan Veria dihadapannya.


"Veria, kembali ke ruang kerjamu." Perintah Rey pada Veria.


Tidak bisa menolak, akhirnya Veria patuh Dan segera kembali ke ruang kerjanya.


"Dan kamu, mau ngapain datang ke kantor ini?" tanya sang kakak yang mulai menaruh curiga, lantaran datang bersama Evana.


"Aku ingin berbicara sesuatu pada Kakak, apakah aku tidak diizinkan untuk masuk ke ruang kerjanya Kak Rey?"


"Katakan saja disini, tidak penting, 'kan?"


"Sangat penting, dan banyak hal yang ingin aku katakan." Jawab Gevando.

__ADS_1


Tidak ada cara lain selain mengizinkan adiknya masuk ke ruang kerjanya, Rey kang mengajaknya untuk masuk.


Evana yang mendapatkan tugas dari Bosnya, sama sekali tidak memperdulikannya dan memilih untuk mengerjakan tugas yang harus diselesaikan di waktu itu juga.


"Kamu mau bicara apa denganku, Vando?" tanya Rey penasaran.


Evana hanya memasang telinganya untuk menjadi pendengar setia.


"Aku mau narik Evana dan Neti untuk pindah ke kantorku, bagaimana?"


Seketika, Rey membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna.


"Mau narik Evana dan Neti ke kantor cabang? tidak! aku tidak akan mengizinkan Evana untuk pindah, titik. Kalau untuk Neti, silakan, aku tidak akan menahannya." Jawab Rey sambil mengitari adiknya dengan posisi tangannya berada dalam saku celananya.


Evana sendiri langsung kaget saat mendengar ucapan dari Bosnya. Seketika, menghentikan aktivitas kerjanya. Karena kurang puas dan penasaran, akhirnya bangkit dari posisi duduknya untuk melihatnya lebih jelas lagi.


"Apa alasannya Kak Rey menahan Evana untuk tetap berada di kantor ini? bukankah ada Veria yang bisa menggantikan posisi Evana, terus kenapa aku tidak boleh menariknya dari kantor ini."


"Karena aku sudah muak dengan kejahatan Veria. Asal kau tau, Vando, Veria adalah dalang dari kematian istriku." Ucap Rey dengan tegas.


Vando yang mendengarnya, pun kaget bukan main. Seperti tidak percaya dengan ucapan dari kakaknya sendiri.


"Tidak, aku sudah mempunyai bukti yang sangat akurat. Belum saatnya aku menjebloskan dia ke dalam penjara, selagi dia tidak mengganggu kehidupanku selanjutnya."


"Dengan dasar apa, Kak Rey tidak melaporkan Veria."


"Kalau bukan kedua orang tua kita balas budi, apa lagi."


"Terus, apakah Mama dan Papa juga tahu kejahatan Veria?"


Rey menggelengkan kepalanya.


"Nggak, untuk sementara aku masih bisa untuk menahannya."


"Terus, bukti itu apakah masih berada sama Kakak?"


"Tidak penting aku menjawab pertanyaan darimu, itu kunci bisuku saat aku dalam keadaan sulit." Jawab Rey yang tidak ingin membocorkan siapa orangnya yang ia percaya.


Meski adiknya sendiri dapat dipercaya, tetap saja harus diwaspadai. Bisa jadi, adiknya adalah alat umpan untuk menangkap targetnya.


Evana yang mendengar percakapan kakak-beradik, justru bertambah pusing untuk memikirkannya.

__ADS_1


Tanpa disadari oleh Rey sendiri, bahwa didalam ruang kerjanya ada Evana. Entah kenapa, dirinya biasa-biasa saja saat berkata jujur dihadapan adiknya.


Saat itu juga, Rey menoleh kearah Evana yang rupanya tengah berdiri menjadi pendengarnya.


Evana segera buru-buru untuk kembali duduk. Gevando tidak peduli jika Evana juga ikut menjadi pendengar.


"Evana, keluar sebentar. Aku ada pembicaraan yang penting, cepat kamu keluar. Kamu bisa sarapan terlebih dahulu, bukankah tadi kamu belum sarapan. Pergilah ke kantin, nanti akan dipanggil jika kami sudah selesai bicara." Perintah Gevando yang akhirnya menyuruh sekretarisnya kakaknya untuk keluar dari ruang kerjanya.


Evana yang tidak bisa menolak, akhirnya mengiyakan dan keluar.


Setelah keluar, kini tinggal kakak beradik yang masih berada ruangan tersebut.


"Terus, apa alasannya aku tidak bisa menarik Evana, Kak?" tanya Gevando dengan rasa penasarannya.


"Dia yang bisa aku andalkan untuk menjadi sekretarisku, aku akui dengan kepintarannya."


"Kak Rey tidak sedang jatuh cinta dengannya, 'kan?" tanya Gevando menebak, tentunya ingin mengetahuinya. Setidaknya dari logat bicara dan sikapnya.


Rey tersenyum sinis kepada adiknya.


'Aku tidak punya cara lain untuk mempertahankan Evana. Selain bisa aku jadikan alat dalam kesulitanku, aku juga membutuhkan kepintarannya. Baiklah, aku akan mulai permainanku sendiri. Pers_etan dengan kisah sebenarnya.' Batin Rey setelah dipikirkan secara matang.


"Ya! aku jatuh hati dengannya. Tidak hanya itu, aku kan menjadikan dia istriku." Jawab Rey dengan yakin.


'Benar dugaan aku.' Batin Gevando.


"Apa Kak Rey sudah mengetahu statusnya? tentu saja itu akan menjadi bumerang Kakak sendiri." Kata Gevando ingin tahu reaksi kakaknya.


"Aku bukan anak kecil yang tidak menyelidiki perempuan yang akan masuk ke dalam ruangan ku ini, tentu saja aku mengetahui semuanya tentang Evana, ketimbang dirimu." Jawab Rey yang sebenarnya juga mengetahui jika adik laki-lakinya juga tengah mendekati sekretarisnya.


Gevando yang tidak ingin berdebat yang tidak ada manfaatnya, memilih untuk menyudahinya.


"Baiklah, kalau Kakak sudah mengetahui semuanya tentang Evana. Aku tidak akan menarik sekretaris Kakak untuk pindah ke cabang perusahaan. Ingat, saat Kakak menyatakan untuk membuat keputusan, jangan sampai menjadi bumerang Kakak sendiri nantinya." Ucap Gevando yang seakan-akan menakuti kakaknya.


Rey menyeringai.


"Kamu tidak perlu mengingatkan aku, semua bisa aku atasi sendiri." Kata Reyzan.


"Baiklah, aku pamit pulang." Ucap Gevando berpamitan.


"Silakan, dan kamu tidak perlu menemui Evana. Biar aku yang akan menemuinya, kamu lebih baik segera pergi ke kantor mu." Kata Rey.

__ADS_1


__ADS_2