
"Hai, calon Kakak ipar ya? perkenalkan, namaku Aiwa Rayana. Nama Kakak, siapa? ternyata calon istrinya Kak Rey, sangat cantik. Pantas aja, Kak Rey gila bener. Eh, maksudnya Aiwa tuh, tergila-gila." Sapa Aiwa yang tak lupa untuk bergurau.
Evana yang hendak tertawa karena ucapan dari Aiwa, rupanya ia tahan agar tidak ketahuan Bosnya. Sedangkan Gevando, dirinya memilih diam di tempat duduknya.
"Perkenalkan, namaku Evana. Kamu juga cantik, perempuan pasti semuanya cantik, kalau tampan itu untuk laki-laki." Jawab Evana menerima uluran tangan dari Aiwa.
"Ya sudah, kita makan malam dulu. Setelah itu, kita bicarakan hari pernikahan kalian berdua." Ucap calon ibu mertua mengajak calon menantunya untuk makan malam.
"Ya, Bu. Maafkan Evana, yang sudah merepotkan Ibu dan keluarga." Jawab Evana sedikit gugup, ditambah lagi tangan Bosnya telah berada diatas pundaknya seraya merangkul.
Gevando yang sudah duduk dari tadi, hanya bisa melihat kedekatan kakaknya dengan perempuan yang ia taksir.
Rey yang tidak ingin dramanya ketahuan, akhirnya menarik kursi untuk Evana, calon istri pura-puranya.
"Nak Ana, maksudnya Ibu, Evana, jangan sungkan sungkan di rumah Ibu, ya. Anggap saja di rumah sendiri, karena sebentar lagi kamu akan tinggal di rumah ini." Ucap calon ibu mertua, Evana tersenyum.
"Ya, Bu." Jawab Evana dengan malu.
"Ya udah, kita makan dulu. Setelah ini, kita lanjutkan lagi ngobrolnya." Ucap Beliau, Evana mengangguk dan menikmati makan malamnya bersama keluarga Bosnya.
Entah sebutan apa yang pantas, Evana merasa bersalah besar atas drama yang dijalankan dengan Bosnya sendiri. Lebih lagi dengan orang yang dikenalinya, Evana benar-benar tidak tahu jika dramanya akan terbongkar. Lebih lagi dengan imbalan yang cukup besar, yakni rumah dan juga uang.
Sambil menikmati makan malamnya, pikiran Evana entah kemana. Takut, bingung, cemas, telah menguasai isi kepalanya.
Makanan yang dilihatnya menggoda selera makan, tiba-tiba berubah menjadi bukan seleranya. Bahkan, seperti menelan racun saja, pikirnya.
"Va, aku ke ruang kerjaku dulu ya. Kamu bisa ngobrol bareng sama Mama, juga sama Aiwa." Ucap Reyzan yang teringat akan sesuatu yang belum ia perintahkan kepada anak buahnya.
Evana yang tidak mempunyai pilihan dan tidak bisa untuk menolak, akhirnya mengiyakan apa yang dikatakan Bosnya.
"Tante, Kak Eva, aku tinggal dulu ya, aku mau keluar sebentar."
"Kemana?" tanya Evana untuk berbasa-basi, meski sebenarnya tidaklah penting untuk bertanya.
"Gak kemana-mana kok, Kak, jugaan ada Kak Gevando yang bisa menemaniku." Jawab Aiwa yang langsung menarik tangan Gevando.
Gevando yang merasa risih saat tangannya ditarik paksa oleh Aiwa, mau tidak mau, aku nurutin kemauan Aiwa.
"Ya, ya, ya, lepasin ini tangan, susah nih mau jalan." Ucap Gevando sambil berjalan dengan terburu-buru karena harus mengimbangi langkah kaki Aiwa yang cukup gesit itu.
__ADS_1
Kini, tinggallah Evana bersama calon ibu mertuanya. sedangkan calon ayah mertua, lebih memilih untuk kembali ke kamarnya. Sedangkan Evana hanya berdua saja bersama beliau.
"Ana, atau Eva, atau sebutan yang lainnya. Kalau begitu, Ibu panggil kamu Eva aja ya, biar sama seperti yang lain. Gak apa-apa kan, Nak? oh ya, gimana kalau kumu ikut Ibu di taman belakang. Soalnya ini ruangan mau diberesin dulu, biar gak kotor." Ucap calon ibu mertuanya.
"Ya, Bu." Jawab Evana dengan anggukan.
Setelah itu, Evana ikut calon ibu mertuanya ke taman belakang.
Gak begitu heran bagi Evana, saat melihat rumah begitu besar dan juga bagus. Hanya saja, dirinya merasa minder ketika berhadapan.
"Nak Eva, ayo silakan duduk." Ucap calon ibu mertua mempersilakan untuk duduk.
"Makasih, Bu." Jawab Evana sesopan mungkin.
Saat calon ibu mertua dan calon menantu tengah duduk berdekatan, beliau meraih tangan milik Evana.
Dengan reflek karena kaget, Evana yang gugup langsung menoleh.
'Hampir saja, Ibu Luvia membuat aku jantungan.' Batin Evana dengan detak jantungnya yang berdegup kencang, langsung tersenyum untuk menutupi rasa groginya.
"Kalau bole Ibu tahu, kenapa kamu berpisah dengan suamimu, Nak? maaf, Ibu telah lancang bertanya hal pribadimu. Karena Ibu ingin mendengarnya langsung darimu, karena Rey, terkadang susah untuk berkata jujur pada Ibu."
Evana yang mendapat pertanyaan dari calon Ibu mertuanya, ikutan bingung untuk menjawabnya. Satu sisi, dirinya akan dikatai istri tidak bisa menyenangkan hati suaminya, satu sisa lagi karena tidak bisa memberinya keturunan dalam waktu yang cepat. Alasan yang penuh kecacatan, pikir Evana.
"Ah enggak kok, Bu. Evana bercerai karena mungkin sudah bosan, Bu." Jawab Evana beralasan.
"Cuma itu? bo_doh sekali suami kamu itu, dipikir menikahi perempuan itu seperti barang mainan, begitu. Ketika merasa bosan, ganti istri dan yang lama di buang." Ucap beliau.
"Soal alasannya, Evana tidak tahu, Bu. Mungkin saja, kita berdua memang tidak berjodoh." Jawab Evana yang tidak ingin terlalu menyalahkan mantan suaminya.
Mau bagaimanapun, dirinya pernah saling mencintai, meski kenyataan harus tersakiti. Tidak untuk menjelek-jelekan pasangan itu, jauh lebih baik daripada harus membuka aibnya, pikir Evana.
"Ibu doakan, semoga kamu dan Rey tidak mengalami hal yang sama. Juga, semoga kalian berdua memanglah berjodoh." Ucap beliau, Evana tersenyum mendengarnya.
"Semoga saja ya, Bu, Bos Rey memang jodoh buat Evana. Tapi ..."
"Tapi kenapa?"
"Evana bukan orang berada, Bu. Jangankan untuk rumah, orang tua saja tidak punya."
__ADS_1
"Ibu tidak mempermasalahkannya, yang terpenting kamu dan Rey bahagia didalam pernikahan kalian berdua. Untuk rumah, Rey juga bisa membelikannya untuk kamu. Yang terpenting, kamu harus setia dengan putranya Ibu. Dia sudah pernah ditinggal istrinya untuk selamanya, dan Ibu berharap, kamu akan setia menemaninya dengan segala kekurangan yang dimilikinya." Ucap calon Ibu mertua penuh harap.
Sedangkan Evana seakan tengah dihantui dengan dramanya sendiri. Pernikahan yang dianggap akan menjadi lahan keberuntungan, justru seperti tantangan baginya, lantaran harus ada sesuatu perjanjian, yang kapan saja bisa terbongkar, pikir Evana.
'Bagaimana ini, jika Ibu Luvia mengetahui drama yang dibuat. Kalau sampai murka, habislah aku. Bukannya aku senang, karena misiku akan berjalan, tapi kenyataannya justru menakutkan.' Batin Evana sambil melamun, pandangannya saja tidak fokus.
"Sudah ngobrolnya, sayang?"
Rey yang baru saja datang, langsung menyambar pipi kanan milik Evana untuk di ci_um. Tentu saja, pemiliknya kaget dibuatnya.
Tidak merasa bersalah sama sekali, justru mulai berani memainkan matanya seraya menggoda dengan posisi membusungkan badannya. Kemudian, Rey ikut duduk disebelah Evana.
"Ya udah kalau gitu, dari pada mengganggu kalian berdua, Mama mau masuk kedalam rumah. Tapi ngat, cuaca malam ini, dingin. Jadi, jangan lama-lama berada di taman."
"Ya, Ma, tenang aja." Jawab Rey, sedangkan Evana semakin gugup dibuatnya.
Lebih lagi Bosnya sudah mulai berani menci_um pipinya, membuat Evana terbayang-bayang ketika sudah menikah.
"Kenapa, pingin dici_um lagi?" tanya Rey sedikit menggoda.
"Nggak, nggak pingin akunya. Siapa juga yang mau dici_um Bos Rey secara sadar, tadi kan drama."
Saat itu juga, Rey langsung meraih tengkuk lehernya milik Evana, dan menahannya sangat kuat. Sedangkan tangan yang satunya menahan lengan milik Evana.
"Bos, mau ngapain?" tanya Evana dengan susah payah untuk melepaskan diri dari Bosnya.
"Mau yang nyata kan, kamu bilang barusan."
"Nggak, Bos, serius. Tadi aku cuma bercanda, nggak serius." Ucap Evana berusaha untuk melepaskan diri yang mana anggota tubuhnya terkunci oleh Bosnya.
Rey yang tidak ingin Evana memberontak, akhirnya dilepaskannya.
"Hampir saja aku gak bisa bernapas, untung dilepaskan." Kata Evana terbatuk batuk saat tengkuk lehernya tidak menjadi kram karena ulah dari Bosnya.
"Kata kamu sendiri bilangnya bukan nyata, tetapi drama. Giliran di kasih yang nyata, kamu nolak." Ucap Rey dengan santai.
Evana yang mendengarnya, pun langsung menoleh pada Bosnya.
"Apa,"
__ADS_1
Evana meringis.
"Nggak, Bos." Jawab Evana yang justru serba bingung sendiri karena memikirkan statusnya nanti yang sudah menjadi istri Bosnya sendiri.