
Kedua orang tua Vando dan Rey, masih menunggu kabar putranya yang masih ditangani oleh dokter. Namun, tiba-tiba ingatan ibunya Rey teringat dengan Evana yang entah dimana keberadaannya.
"Ma, mau kemana?" tanya Tuan Daro pada istrinya.
"Mama mau menemui Evana, Pa." Jawab sang istri yang sudah tidak sabar untuk memaki menantunya.
Tuan Daro sama sekali tidak menghalangi istrinya, karena tujuannya pun sama untuk mengusir Evana dari kehidupan putranya, takut dengan kebenaran jika menantunya hanya akan memanfaatkan putranya.
Dengan langkah kakinya yang begitu cepat, istrinya Tuan Daro buru-buru untuk menghampiri Neti terlebih dahulu, tentunya untuk menanyakan dimana Evana.
"Hei! dimana teman kamu itu, si Evana. Jangan bilang, kalau kecelakaan pada putraku adalah kesengajaan dari teman kamu itu."
Neti yang sedang mengkhawatirkan keadaan temannya, tiba-tiba dikagetkan dengan suara bentakan dari ibu mertuanya Evana.
Saat itu juga, Neti langsung berdiri dihadapan ibunya Gevando
"Ibu itu lucu, mana saya tahu." Jawabnya Neti tidak kalah ketusnya.
"Ma! sudah, jangan berdebat. Ingat, ini rumah sakit, tepatnya orang sakit, bukan tempatnya orang berdebat." Kata Vando mencoba untuk menengahi.
"Awas saja kamu, kalau sampai terjadi sesuatu pada putraku, aku akan seret teman kamu dalam penjara." Ancam ibunya Vando dengan tatapan tajam, Neti yang mendengarnya, pun langsung membuang muka dan pergi dari hadapan ibu mertuanya Evana.
"Ma! sudah, cukup." Bentak Gevando yang sudah geram dengan sikap ibunya.
Saat masuk dalam ruang rawat pasien, rupanya Evana baru saja sadarkan diri yang ditemani oleh satu orang perawat. Bahkan, tidak terpasang selang infus di tangannya, yang berarti keadaan Evana baik-baik saja.
Tetap saja, ibu mertuanya ternyata mengikuti kemana perginya Neti, juga diikuti oleh Gevando. Takutnya sang ibu hilang kendali dan mengatai Evana yang tidak tidak. Tentu saja sangat mengkhawatirkan, lebih lagi didalam rumah sakit.
"Va, kamu sudah sadar, aku sangat khawatir dengan keadaan kamu. Gimana ceritanya, kamu baik-baik saja, 'kan? tidak ada luka apapun pada diri kamu."
__ADS_1
Evana mengangguk pelan.
"Ya, Net, aku baik-baik saja. Oh ya, gimana keadaannya Bos Rey, apakah dia baik-baik saja? ayo katakan padaku."
"Aku belum mengetahui keadaannya Bos Rey, masih ditangani dokter, juga sudah ada kedua orang tuanya yang menunggu, aku gak berani ikut menunggu bareng mereka." Jawab Neti dengan jujur.
"Mereka sudah datang?" tanya Evana memastikan, Neti mengangguk.
"Ya, kami sudah datang. Sekarang juga, kau pergi dari rumah sakit ini juga. Ingat, putraku tidak butuh kamu disampingnya. Cepat pergi dari rumah sakit ini, atau aku akan memanggil satpam untuk menyeret kamu." Ucap Ibu mertua dengan pantang sambil berjalan mendekat.
Seorang perawat yang ada didalam, juga tidak berani untuk melerai. Takutnya, jika dirinya juga mendapat imbasnya, dan lebih memilih untuk keluar daripada urus urusannya panjang.
"Ma! sudah, jangan hakimi Evana. Belum tentu Evana bersalah." Ucap Gevando mencoba untuk menghentikan ibunya agar tidak terus memarahi istri kakaknya.
"Diam! kamu Gevando. Oh, jangan-jangan kamu juga menyukai Evana."
"Ma, gak ada kaitannya aku cinta Evana atau apalah. Sekarang lebih baik Mama segera keluar dari ruangan ini, biarkan Evana istirahat." Ucap Gevando mencoba untuk memohon kepada ibunya.
Evana yang tidak ingin menjadi sasaran empuk oleh ibu mertuanya, terpaksa meninggalkan rumah sakit.
Sedih dan tidak tega dengan kondisi suaminya, Evana merasa keberatan untuk meninggalkan suaminya yang mungkin saja keadaannya sang memprihatinkan.
Dengan pelan, Evana turun dari atas ranjang pasien. Kemudian, dirinya memberanikan diri untuk menghadap ibu mertuanya.
"Baik, Bu, saya akan pergi dari rumah sakit ini." Ucap Evana dengan singkat.
Baginya, tidak ada izin sama sekali untuk dirinya menemani sang suami di rumah sakit. Pastinya akan bertentangan dengan ayah mertua maupun ibu mertuanya.
"Baguslah, sekalian akan dipercepat proses perceraian kamu dengan putraku."
__ADS_1
"Silakan, jika itu yang terbaik untuk anak Ibu. Saya tidak punya hak apapun, saya datang dengan tangan kosong, pergi juga dengan tangan kosong." Kata Evana yang berusaha untuk tetap tenang, meski sebenarnya ingin menangis, agar dapat meluapkan kesedihannya.
Neti yang tidak punya hak apapun, hanya bisa menerima keputusan temannya. Sebenarnya kasihan saat melihat temannya terus dimaki dan juga dihina. Tapi, mau gimana lagi, orang berduit bisa melakukan apapun yang diinginkannya, pikir Neti.
Evana yang sudah bulat dengan tekadnya untuk pergi meninggalkan suaminya yang terbaring lemas, ia melakukannya dengan terpaksa.
Sambil berjalan untuk keluar dari ruang pasien, Evana ditemani Neti.
Gevando yang tidak tega melihat Evana diusir dari rumah sakit, merasa kasihan. Mau bagaimanapun, Evana istri sah kakaknya. Tapi, dirinya juga ingin terus-terusan berdebat dengan ibunya.
Dengan terpaksa juga, Gevando membiarkan Evana pergi dari rumah sakit. Ketika tidak lagi terlihat bayangan Evana, langsung pergi dari ruangan tersebut untuk melihat kondisi kakaknya.
Begitu juga dengan ibunya, menyusul untuk melihat keadaan putranya.
Evana yang tengah berjalan seperti tidak menginjakkan kakinya di lantai, seakan berat untuk menopang berat badannya.
Bagaimana tidak bersedih hatinya, harus diusir dengan cara hina, dan juga tidak lagi diizinkan untuk menemani suaminya yang terbaring lemas di rumah sakit. Justru, dirinya harus meninggalkan suaminya, dan diminta untuk berakhir dalam perceraian.
"Va, kamu yang sabar, ya. Percayalah denganku, semua akan kamu lewati dan juga akan kamu temui kebahagiaan. Aku yakin bahwa kamu pasti kuat dan juga bisa, kamu wanita tangguh." Ucap Neti mencoba untuk menenangkan perasaan sedih temannya.
"Aku gak tahu, Net. Aku kira semua akan baik-baik saja, tapi kenyataannya berbanding terbalik dengan apa yang aku harapkan." Kata Evana dengan lesu, dan juga tidak ada semangat sedikitpun pada dirinya, lebih lagi belum mengetahui keadaan suaminya.
"Aku tahu ini berat untukmu, dan aku yakin kamu mampu. Saat kamu harus diusir Ardi, kamu bisa melewatinya, begitu juga dengan yang sekarang, kamu pasti bisa. Kamu gak sendirian, ada aku yang akan selalu menemani kamu."
"Makasih ya, Net. Kamu teman aku yang selalu ada buatku, dan juga selalu membantumu."
"Sebenarnya ini salahku, andai aku tidak mengajakmu untuk ikut kerja denganku, mungkin tidak akan seperti ini kejadiannya. Mungkin saja kamu sudah lebih baik dari sebelumnya, bukan bertambah buruk seperti sekarang ini. Maafkan aku ya, Va." Ucap Neti merasa sangat bersalah atas apa yang sudah membuat temannya harus bersedih yang kedua kalinya.
Evana langsung mengentikan langkah kakinya, dan menoleh pada Neti.
__ADS_1
"Kamu gak salah, semua ini juga sudah menjadi keputusanku dari awal saat Bos Rey memberi tawaran kepadaku. Jangan menyalahkan diri kamu sendiri, karena kamu gak bersalah." Kata Evana.