
Tidak mendapatkan jawaban apapun dari Neti mengenai Evana, kecuali kabar tentangnya yang sudah pergi entah kemana.
Sebenarnya Gevando tidak percaya jika Neti tidak mengetahui keberadaan Evana, sengaja untuk tidak mendesaknya, dan tentunya mencari waktu tepat untuk menanyakan kembali padanya.
"Ya sudah, kalau kamu mau pergi ke kantin." Ucap Gevando.
Dengan senang hati pikirnya Neti yang langsung bergegas pergi ke kantin untuk mengisi perutnya yang terasa keroncongan.
Lain lagi di rumah sakit, Reyzan masih terbaring lemah di atas ranjang pasien.
Kedua orang tuanya tengah menunggu, berharap putranya akan sadarkan diri dari komanya.
Sedih, itu sudah pasti.
"Pa, bagaimana ini? Rey belum juga sadarkan diri dari semalam."
"Papa gak tahu, Ma. Ini semua pasti gara-gara istrinya, yang sudah menyebabkan Reyzan menjadi seperti ini. Benar-benar kurang ajar itu anak, Papa pasti akan membalasnya." Jawab Tuan Daro yang semakin benci kepada menantunya.
Begitu juga dengan istrinya, merasa kecewa saat percaya pada menantunya yang disangkakan perempuan baik-baik, pikirnya. Tetapi, entah kabar dari mana, hingga menuduh menantunya tanpa berpikir panjang.
Cukup lama menunggu bersama suami, ibunya Reyzan merasa bosan karena jenuh tidak ada tanda-tanda jika putranya sadarkan diri.
Di perjalanan, Evana sedang melamunkan suaminya yang entah bagaimana keadaannya. Merasa bersalah karena telah meninggalkan suaminya yang tengah dirawat di rumah sakit, Evana tidak mempunyai perlawanan untuk bertahan berada di sisi suaminya.
Pernikahan yang diharapkan akan mendapatkan timbal balik, seakan perbuatannya tidak di restui.
'Maafkan aku, Bos Rey. Aku istri yang tidak tahu diri, sudah mengabaikan dan tidak bertanggung jawab sebagaimana aku adalah istrimu.' Batin Evana sambil melamun.
Mobil pun berhenti karena sudah waktunya untuk makan siang, Evana segera turun bersama penumpang yang lainnya satu juan di kampung halamannya.
Meski satu tujuan, tidak ada satupun yang dikenalinya. Hidup lama di kota, membuat Evana lupa dengan kampung halaman orang tuanya.
Sambil memesan makanan, Evana teringat dengan suaminya lagi.
'Sabar Va, sabar. Kamu pasti bisa melewati masa sulitmu ini, bersemangatlah.' Batin Evana saat menerima piring untuk mengambil nasi serta sayur dan lauknya.
Tidak ada yang dikenali di dalam Bis yang di tumpangi, Evana duduk sendirian. Sedangkan yang lain bersama dengan pasangannya masing-masing, ada juga dengan keluarganya, juga saudaranya.
Sambil mengunyah makanan, Evana merasa hambar di setiap makanan yang ia telan. Mau bagaimanapun, dirinya tiba-tiba merindukan suaminya. Tidak disadarinya, Evana meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Andai saja aku tidak egois, pasti gak akan terjadi seperti ini."Gumamnya dengan isak tangisnya, begitu susah untuk menelan makanannya.
Tidak mau terlihat cengeng dan lemah, Evana segera menyeka air matanya dan mengusapnya dengan tissue. Kemudian, langsung minum untuk memudahkan makanannya dapat tertelan.
Tidak sampai merasa kenyang, Evana menyudahi makannya, dan kembali naik kedalam mobil.
Setelah semuanya tidak ada lagi yang tertinggal, perjalanannya dilanjutkan lagi sampai ke tempat tujuan.
Sepanjang perjalanan yang memakan waktu begitu lamanya, tidak terasa sudah hampir gelap dan juga sudah waktunya untuk makan malam dan istirahat sejenak.
Di rumah sakit, Reyzan masih saja belum ada perubahan. Kedua orang tuanya masih menunggu putranya sadarkan diri. Gevando yang belum sempat ke rumah sakit karena sibuk di kantor, pulangnya bergegas menuju rumah sakit untuk mengetahui kabar tentang kakaknya.
"Ma, Pa, bagaimana keadaan Kak Rey?" tanya Gevando sambil mengarahkan pandangannya kepada sang kakak yang tengah berbaring lemah di ranjang pasien.
Kedua orang tuanya sama-sama menggelengkan kepalanya.
"Kakak kamu belum juga sadarkan diri, Van. Ini semua gara-gara perempuan itu, Reyzan harus mengalami musibah seperti ini." Jawab ibunya bersedih.
Gevando segera duduk di tengah-tengah kedua orang tuanya.
"Ma, tidak baik berkata seperti itu. Mungkin saja ini hanya sebuah musibah, tidak lebih." Kata Gevando yang mencoba untuk menenangkan hati kedua orang tuanya.
Gevando semakin penasaran dengan apa yang dikatakan ibunya.
"Maksudnya Mama itu, apa?" tanya Gevando ingin tahu.
"Kamu masuk ke ruangan kerja Papa, kamu akan mengetahui semuanya. Kamu akan tahu pernikahan yang di sembunyikan oleh Kakakmu." Timpal sang ayah ikut bicara.
"Pernikahan yang disembunyikan? maksudnya mereka berdua berpura-pura, gitu kah?"
"Ya, benar." Jawab sang ayah.
"Baiklah, aku akan segera pulang. Mama kalau capek di rumah sakit, nanti biar di gantikan asisten rumah. Lebih baik Mama istirahat saja dulu di rumah, besok pagi Mama bisa datang lagi ke rumah sakit." Kata Gevando.
"Gak, Mama akan tetap menunggu kakak kamu sampai sadarkan diri dari komanya. Mama takut, ketika Rey bangun, tidak ada Mama." Jawab ibunya.
Gevando yang tidak bisa memaksa ibunya, dirinya yang memilih untuk pulang. Tentunya, untuk melihat kebenarannya.
Saat itu juga, Gevando bergegas pulang. Sedangkan kedua orang tuanya memilih untuk menjaga putranya di rumah sakit sampai adanya perkembangan mengenai putranya.
__ADS_1
Gevando yang sudah tidak sabar, langsung meninggalkan kedua orang tuanya di rumah sakit.
Berbeda lagi di tempat persinggahan sementara, Evana baru saja makan malam bersama orang-orang yang satu mobil dengannya. Kini, Evana mencoba untuk tidak begitu banyak pikiran, takutnya kondisi fisiknya akan menurun dan akan merepotkan orang banyak.
Selesai makan malam, Evana kembali naik mobil Bis untuk melanjutkan perjalanannya menuju kampung halaman orang tuanya.
Untuk menghindari rasa capek yang berlebihan dan juga agar bisa istirahat, Evana memilih untuk memejamkan kedua matanya agar bisa tidur dalam mobil.
Begitu juga dengan yang lainnya, sama saja seperti Evana yang tengah tidur di dalam mobil hingga tidak sadarkan diri sudah pagi saat sampai di terminal.
"Sudah sampai sudah sampai," ucap seseorang yang begitu bersemangat untuk membangunkan orang-orang yang masih tertidur lelap didalam mobil.
Karena teriakan yang cukup keras suaranya, semua terbangun dari tidurnya masing-masing.
Evana yang sudah sadarkan diri dari tidurnya, segera bersiap-siap untuk turun. Perjalanan yang memakan waktu yang cukup jauh, kini sudah sampai di terminal daerahnya.
Saat turun, Evana benar-benar tidak menyangka jika dirinya kembali ke kampung halaman orang tuanya. Sekian lama pergi jauh, kini kembali pada titik awal dirinya dilahirkan.
Evana segera mengambil barang bawaannya di bagasi mobil, dan mulai mencari ojek untuk mengantarkan ke kampungnya.
Saat mendapatkan ojek, Evana dapat bernapas lega. Akhirnya ia kembali juga.
"Maaf, tujuannya mau kemana ya Mbak?" tanya seorang ojek saat dirinya diminta untuk mengantarkan ke tempat tujuan.
"Kampung Hayati, blok lima belas." Jawab Evana mengingat-ingat.
Wajah Evana sama sekali tidak pernah berubah, tetap cantik dan awet muda, serta masih bisa untuk dikenali.
"Mbaknya kok mirip teman saya, ya."
"Maksudnya,"
"Gak jadi deh Mbak, ayo saya antar." Katanya sambil meraih tas bawaannya.
"Ya, Mas." Jawab Evana dan segera naik di atas motor.
"Sudah kan, Mbak? maksud saya gak ada yang ketinggalan."
"Gak ada, kok."
__ADS_1
"Ya udah kalau gitu, kita berangkat." Ucapnya dan segera melajukan motornya.