Istri Yang Kau Jandakan

Istri Yang Kau Jandakan
Berebut mengakuinya


__ADS_3

Dengan bantuan dua lelaki, Evana dapat dilarikan ke puskesmas terdekat.


Dengan gusar dan dibayangi dengan kekhawatiran, Nenek Muna mondar-mandir tidak penuh kecemasan.


"Nek, duduk aja dulu. Tenangkan pikirannya Nenek, semoga keadaan Evana baik-baik saja." Ucap Radit membujuk Nenek Muna untuk duduk sambil menunggu pemeriksaan terhadap Evana yang tiba-tiba jatuh pingsan.


Di sudut teras puskesmas, ada Ardi yang juga dihantui dengan perasaan khawatir akan kondisi mantan istrinya.


"Permisi, adakah disini suaminya pasien?"


Radit maupun Ardi sama-sama bingung untuk menjawabnya.


Dengan nekad, Radit mengangkat tangan kanannya. Nenek Muna tentunya sangat kaget dengan keberaniannya Radit yang unjuk tangan.


"Saya Bu, saya suaminya Evana." Jawab Radit seolah tidak ada rasa canggung dan juga takut untuk mengakuinya.


Ardi memajukan wajahnya dengan tatapan terkejut mendengar pengakuan dari Radit.


"Bukan, Bu, dia bukan suaminya, tetapi saya lah suaminya yang sebenarnya. Saya punya bukti yang akurat, bahwa saya adalah suaminya." Sahut Ardi menimpali sambil berjalan, juga merogoh saku celananya untuk menunjukkan bukti kepada Radit juga sama Ibu Bidan yang bertugas di puskesmas.


Dengan percaya diri, Ardi membuka lembaran foto berukuran kecil, yakni foto pernikahannya bersama mantan istrinya.


Radit yang penasaran, langsung menyambar foto tersebut yang ada ditangan Ibu bidan.


Dengan seksama dan memastikannya dengan pasti, Radit langsung mendongak pada Ardi. Kemudian, mengembalikan foto pernikahan Ardi bersama Evana.


'Jadi, laki-laki ini adalah suaminya Evana? pantas saja, mereka berdua terlihat sudah saling mengenal, ternyata suami istri.' Batin Radit penuh kecewa.


"Tunggu, kalau kamu memang suaminya, kenapa tidak satu rumah? oh, jangan-jangan perasaan cintamu tidak tersampaikan, dan membuat drama yang seolah-olah kamu beristrikan dengan Evana. Sekarang kan, jaman udah canggih, apalagi kamu orang kota, pasti mahir dalam berkarya untuk pembohongan publik." Tuduh Radit dengan berani, karena ada sesuatu yang membuatnya tiba-tiba tidak percaya dengan ucapannya.

__ADS_1


"Jaga bicaramu, justru yang banyak drama dan menghayal itu kamu. Cuih! mengaku suaminya Evana, tapi tidak punya bukti." Ejek Ardi dengan sungut.


Nenek Muna yang tidak ingin ada keributan di puskesmas, juga menjadi pusat perhatian, segera menarik paksa Radit untuk menghindar.


"Nek, lepaskan tanganku." Kata Radit sedikit mengecilkan suaranya, agar tidak menjadi pusat perhatian orang lain yang tengah berobat.


"Sini, Nenek ceritakan semuanya padamu." Ucap Nenek Muna yang akhirnya memberi penjelasan kepada Radit, yakni agar tidak salah paham.


Sedangkan Ardi, akhirnya masuk ke ruangan pemeriksaan, yakni sesuai perintah ibu bidan.


Evana yang melihat mantan suaminya yang masuk ke dalam ruang pemeriksaan, benar-benar kaget melihatnya.


"Bu bidan, kalau boleh tahu, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Ardi tanpa canggung maupun takut, dan juga ragu.


Atas perasaannya yang masih mencintai mantan istrinya, seolah masih menjalin hubungan pernikahan. Tentu saja, Evana sangat kaget. Entah mantan suaminya yang sedang bermain drama, atau memang dengan kesadarannya untuk mengakuinya, Evana benar-benar tidak dapat mengetahuinya tentang tujuan mantan suaminya.


"Istrinya Bapak baik baik saja keadaannya. Justru, saya akan memberi kabar gembira untuk Mbak Evana dan suaminya." Jawab ibu bidan dengan senyumnya yang natural.


"Kabar bahagia? maksudnya Ibu bidan itu, apa?" tanya Evana dengan rasa penasaran.


"Ya, Bu Bidan. Istri saya kenapa? kok ada kabar bahagia. Terus, kabar bahagianya itu apa, Bu Bidan?"


Ibu bidan tersenyum saat Evana dan Ardi sama-sama penasaran.


"Kabar bahagianya itu, istri Bapak hamil. Selamat ya, Mbak Eva, bentar lagi akan menjadi seorang ibu." Jawab Ibu bidan dan memberi ucapan selamat kepada Evana.


Sejenak, Evana terdiam. Seperti mimpi dan juga tidak percaya jika dirinya tengah hamil. Bahkan, selama dua tahun menanti sang buah hati, tidak kunjung hamil.


Saat itu juga, Evana mencoba mengingat kembali terakhir melakukan hubungan inti_m dengan seorang laki-laki. Seketika, Evana teringat saat melakukannya bersama suaminya yang bernama Reyzan, lelaki yang sudah memberi kehangatan di saat terjebak hujan.

__ADS_1


Evana masih diam, seolah seperti mengumpulkan ingatannya dengan sempurna.


Begitu juga dengan Ardi, benar-benar kaget mendengarnya. Haruskah bahagia karena mengetahui bahwa mantan istrinya tidak lah ada kelainan dengan kesehatannya, atau justru semakin sakit hati saat mendengar istrinya tengah hamil dengan lelaki lain, tetapi bukan dengannya.


Ibu Bidan yang bingung dengan ekspresi keduanya, langsung menepuk bahunya satu persatu secara bergantian. Benar saja, Evana maupun Ardi sontak kaget dibuatnya.


"Kok malah bengong, bahagianya mana?" tanya Ibu bidan setelah membuyarkan lamunan keduanya.


"Maaf, Bu Bidan. Saya terhipnotis dengan kabar bahagia yang disampaikan untuk saya, sekali lagi saya benar-benar sangat bahagia mendapatkan kabar bahagia ini." Jawab Evana dengan sebaik untuk menjawab pertanyaan dari ibu bidan.


"Yang dikatakan oleh istri saya itu benar, Bu Bidan. Soalnya sudah lebih dua tahun kami menantikan kabar bahagia ini, dan sekarang benar-benar ada keajaiban, saya sangat bahagia. Terimakasih banyak ya, Bu Bidan, sudah menangani istri saya dengan baik." Ucap Ardi dengan aktingnya.


Ibu bidan tersenyum mendengar penjelasan dari Ardi, yang tentu saja sangat menyentuh hatinya.


Lain lagi dengan Radit, sedari tadi mondar-mandir menunggu Ardi keluar. Tentu saja, sudah tidak sabar ingin menyeretnya keluar, lantaran sudah memberi kebohongan padanya.


"Nek, aku harus masuk ke dalam. Meski laki-laki yang bernama Ardi itu adalah mantan suaminya, tetap saja sudah tidak ada hak apapun untuk mengakui suaminya Evana." Ucap Radit yang sudah tidak sabar.


"Tenangkan dulu emosinya kamu, jugaan di dalam ada Ibu bidan, kamu tidak perlu risau. Setidaknya kamu sudah mengetahui statusnya, bahwa lelaki yang bernama Ardi itu adalah mantan suaminya." Jawab Nenek Muna berusaha untuk mencegah Radit agar tidak gegabah saat melakukan sesuatu.


Radit mencoba untuk menerimanya, juga bersikap tenang, karena dirinya sadar akan statusnya yang hanya teman semata.


Evana yang masih lemas, dibantu Ardi untuk turun.


"Kalau keadaan kamu masih terasa lemas, bagaimana kalau dirawat saja di sini, atau di rumah saja. Ingat, kamu tidak sendirian lagi, ada calon buah hatimu yang juga membutuhkan perhatian penuh darimu. Jadi, aku sarankan untuk dirawat saja dulu, sampai keadaan kamu benar-benar sudah pulih." Ucap Ardi yang tidak tega melihat kondisi mantan istrinya yang terlihat lemas dan juga pucat.


"Yang dikatakan suaminya Mbak Eva itu benar, lebih baik dirawat dulu. Setelah keadaan sudah membaik, baru boleh pulang." Timpal ibu bidan yang juga memberi saran sambil membujuk, takutnya kondisinya yang lemah dapat mengganggu kesehatannya, juga kesehatan si jabang bayi, pikirnya.


"Kamu gak perlu memikirkan hal yang rumit, fokus saja dengan kesehatan kamu dan juga calon buah hatimu." Kata Ardi yang terus membujuk.

__ADS_1


__ADS_2