
'Baru aja masuk, sudah mendapat tugas. Benar-benar ini kantor, apa jangan-jangan dia ini hanya mau mengerjai ku?' batin Evana sambil memperhatikan Bosnya yang tengah sibuk dengan layar komputernya.
Saat itu juga, Reyzan langsung menoleh padanya.
"Aw!" pekik Evana saat mendapat lemparan pena pada bagian keningnya.
Evana memekik sambil mengusapnya pelan karena rasa sakit yang ia terima.
"Ngapain kamu perhatikan aku kek gitu, naksir? mimpi. Lanjutkan kerjaan kamu itu, awas saja kalau gak benar hasilnya." Ucapnya memarahi, Evana hanya mengernyit dengan kalimat pertama.
"Dih! siapa juga yang mau naksir kamu, kek gak ada laki-laki lain yang lebih waras dari kamu." Gumamnya sambil melanjutkan pekerjaannya.
Tak di sadari, Reyzan sudah berdiri didekatnya yang hendak penanya yang barusan ia lemparkan pada Evana.
"Laki-laki yang lebih waras dari aku memang banyak, tapi laki-laki yang sepertiku gak ada dan gak akan kamu temui. Sini, berikan penanya." Ucap Reyzan sambil meminta penanya untuk dikembalikan.
Evana yang mendengarnya, pun berubah menjadi gugup dan tentunya masih menyimpan rasa kekesalannya.
Saat memberikan penanya, Evana sama sekali tidak mengangkat wajahnya.
Dengan berani, Reyzan mengangkat dagunya Evana, dan keduanya saling menatap satu sama lain.
"Jangan banyak tingkah di ruangan ini, ingat itu. Kalau sampai kamu berani membuat onar, aku akan mengurung kamu di ruangan itu." Ucap Reyzan dan menunjuk pada ruangan yang dijadikan tempat untuk beristirahat.
"Ruang apaan, Bos?" tanya Evana pura-pura tidak tahu, meski sebenarnya sudah mengetahui ruangan apa yang dimaksudkan.
Selama Evana pernah bekerja di kantor, dirinya mengetahui ruangan privat untuk beristirahat Bosnya. Tentunya, dirinya mengetahui dari banyaknya gosip yang ia terima. Entah benar atau tidaknya, justru Evana penasaran dengan gosip yang beredar.
Tapi kenyataannya, justru dia berbanding terbalik dengan apa yang sudah ia dengar lewat gosip bersama teman-temannya. Justru, dirinya bagai tommy and jerry. Berdebat dan saling membenarkan ucapan masing-masing.
"Aw!" pekiknya saat mendapatkan sentilan dari Bosnya.
"Otakmu dibenerin dulu, das_ar me_sum. Ditunjukkan ruangan untuk menghukum, melamun tidak jelas. Sudah cepetan kerjakan tugasmu, setelah ini kamu temani aku makan siang."
__ADS_1
"I-i-ya, Bos." Jawabnya gugup, Reyzan hanya tersenyum tanpa diketahui Evana saat menuju kursi kerjanya.
'Enak aja ngatain aku me_sum, dih. Salah sendiri nunjukin ruangan privat, siapa juga yang gak me_sum. Aih, kenapa aku membatin itu orang, kepedean. Ah ya, dia kan katanya duda kan, ya. Kasihan ... kaya dan tampan tapi tak ada istri. Eih, lebih parah lagi aku. Udah miskin, janda, lagi.' Batin Evana sambil melanjutkan pekerjaannya.
Sekilas, Reyzan menoleh pada Evana yang masih sibuk mengerjakan pekerjaannya. Reyzan tersenyum tipis, dan kembali ke layar komputernya.
Entah apa yang dipikirkan Reyzan saat menoleh pada Evana, rencana apa yang ada di dalam pikirannya.
Cukup lama dalam mengerjakan tugasnya, akhirnya dapat menyelesaikannya dengan mudah dan juga cepat.
Karena sudah selesai, Evana menyerahkannya pada si Bos.
"Ini, Bos. Mohon diperiksa lagi, takutnya ada yang salah." Ucap Evana sambil menyodorkan tugas yang diperintahkan oleh Reyzan, Bosnya.
Reyzan menerimanya, dan memeriksa hasil kerja Evana. Awalnya seperti tidak percaya, karena menurutnya sangat rumit untuk dikerjakan.
Berawal mau membuat Evana pusing, tetapi justru dirinya yang pusing untuk mengerjai Evana agar banyak bertanya, pikir Reyzan.
Saat memeriksa, Reyzan benar-benar dibuatnya kagum. Bahkan, dirinya seperti tiak percaya dengan hasil kerja Evana.
Bahkan, adiknya sendiri kalah telak dari Evana.
'Aku tak akan melepaskan perempuan ini untuk pindah di kantornya Gevando, aku harus mempertahankan dia. Bila perlu aku tambahkan gajinya, pasti dia akan memilih untuk bekerja denganku. Selain cantik, perempuan ini juga cerdas. Benar yang dikatakan Veria, benar-benar mujur nasibku ini.' Batin Reyzan saat mengetahui cara kerja Evana yang terbilang cukup mahir dan juga cerdas.
"Bos, gimana? masih ada yang salah atau tidak?" tanya Evana yang ingin mengetahui hasil kerjanya.
"Baik, tidak ada yang salah sama sekali. Aku akan mentraktir kamu makanan yang enak, tapi tetap ada syaratnya." Jawab Reyzan yang selalu kebanyakan ide, entah untuk mengerjai atau memberi kejutan sekalipun.
'Mau nraktir aja pakai syarat segala, dih. Mendingan juga tidak usah.' Batinnya dengan kesal.
"Sekarang juga, ayo ikut aku." Ucap Reyzan mengajak pergi.
Evana yang statusnya sudah menjadi sekretaris, kemanapun perginya si Bos, Evana tidak bisa menolak ajakannya maupun perintah darinya.
__ADS_1
"Ya, Bos." Jawab Evana mengangguk.
Sambil berjalan beriringan, semua karyawan yang hendak menuju kantin, tidak ada satupun yang tidak memperhatikan keduanya.
Bahkan, banyak karyawan yang membicarakan Evana dan Bosnya.
"Enak bener ya itu anak, baru masuk saja sudah dijadikan sekretarisnya Bos ganteng." Ucap salah satu karyawan yang tengah mengomentari Evana yang langsung dijadikan sekretarisnya.
"Ya ih, enak banget dianya. Kita yang sudah mengakar di kantor ini saja, tidak pernah di lirik untuk jadi sekretarisnya." Timpal karyawan yang satunya.
"Namanya juga keberuntungan, kita tidak pernah tahu. Jangan berprasangka buruk sama teman kerja kita, mungkin memang keberuntungan dia." Sahut Neti yang juga ikut menimpali.
"Eh, bukannya perempuan itu teman kamu?" tanyanya pada Neti, lantaran mengetahui saat berangkat bersama.
"Ya, dia teman aku." Jawab Neti dan tersenyum.
"Kamu gak merasa iri, gitu? secara dia yang beruntung."
"Kan, aku sudah bilang. Mungkin hari ini hari keberuntungan dia, bukan aku ataupun kalian. Buktinya saja, aku juga sudah lama bekerja di kantor ini. Nyatanya, aku sama seperti kalian." Jawab Neti beralasan.
Bukannya tidak mau menjadi sekretarisnya, karena sesuatu yang tidak bisa untuk dijelaskan.
"Salut aku sama kamu, tidak merasa iri sama sekali. Oh ya, yuk kita ke kantin." Ucapnya dan mengajak Neti untuk pergi ke kantin.
"Boleh, kebetulan aku juga sudah lapar. Soalnya tadi aku buru-buru, jadi gak sempat untuk sarapan." Kata Neti dan pergi bareng bersama teman-teman kerjanya.
Sedangkan Evana dan Bosnya, kini sudah berada di ruangan yang menjadi tempat untuk makan siang.
Veria yang kebetulan melihat Bosnya bersama Evana tengah berada di dalam satu ruangan, akhirnya segera memesan makanan dan dibawanya di tempat dimana bosnya beristirahat untuk makan siang.
Setelah pesanan sudah datang, Evana bingung harus ngapain. Tidak mungkin juga langsung makan begitu saja, tentunya menunggu si Bos menyuruhnya, pikir Evana sambil memperhatikan makanan yang ada di depan matanya.
Sedangkan Reyzan, justru tengah sibuk dengan ponselnya. Evana mengernyit saat Bosnya sama sekali tidak menyuruhnya makan.
__ADS_1
'Apa ya, jadi Bos seperti ini. Biasanya tuh ya, seorang Bos akan ganjen dengan sekretarisnya. Lah ini, udah kek es balok yang berada di tengah tengah hamparan salju.' Batin Evana dengan apa yang dia lihat di tempat kerjanya dulu, yakni mempunyai Bos yang ganjen dengan sekretarisnya, pikir Evana. Meski tidak semua seorang Bos akan bersikap seperti yang di sangka oleh Evana.