
Di rumah kediaman Tuan Daro Halilintar, tampak Rey tengah sibuk tengah mengemasi barang-barangnya untuk mencari keberadaan istrinya tinggal.
Sedangkan di restoran, kedua orang tua Veria tengah menunggu kehadiran keluarga Tuan Danu Halilintar untuk datang sesuai perjanjian yang sudah disepakati.
Lain lagi dengan Tuan Daro dan istrinya, kini tengah menunggu putranya yang masih berada di dalam kamar, yang juga tidak keluar keluar.
"Pa, mana Reyzan? kenapa belum juga keluar dari kamarnya."
Dengan gelisah, ibunya Reyzan sudah tidak sabar untuk berangkat ke restoran.
"Sabar dulu kenapa, Ma. Mungkin aja, Rey masih bersiap-siap." Jawab Tuan Daro meyakinkan istrinya.
"Ya, tapi ini sudah jam berapa, Pa?"
"Mama ini gimana sih, nunggu sabar aja gak bisa. Tuh, Reyzan." Kata Tuan Daro sambil menunjuk ke arah anak tangga.
Saat itu juga, ibunya Reyzan terbelalak melihat putranya yang seperti membawa koper saat menuruni anak tangga.
Dengan rasa penasaran dan ingin tahu, istrinya Tuan Daro segera mendekati putranya yang sudah di anak tangga terakhir.
"Kamu mau kemana, Rey?" tanya ibunya dengan penasaran, juga sambil memeriksa apa yang tengah dipegang oleh putranya.
"Rey mau pergi mencari Evana, Ma." Jawab Reyzan berterus terang.
"Apa, pergi mencari Evana? kamu jangan gi_la, Rey. Malam ini, Mama dan Papa ada janji untuk makan malam bareng keluarga Veria, juga mengajak kamu. Sudahlah, kamu tak perlu mencari keberadaan istrimu. Lagi pula nih ya, kamu nikahnya aja tanpa didasari dengan rasa cinta. Jadi, untuk apa dipertahankan, jugaan masih banyak perempuan lain yang mau mencintai kamu." Kata Ibunya terus berkomentar, sedangkan Rey tidak menanggapinya.
"Pa, Rey pamit. Untuk Mama, maaf, Rey harus pergi malam ini juga. Kebahagiaan Rey ada pada Evana, bukan perempuan lain." Ucap Rey berpamitan, dan tetap bersikukuh dengan pendiriannya.
Tuan Daro yang tidak mungkin untuk mencegah keinginan putranya, sama sekali tidak mau ikut campur.
Berbeda dengan istrinya Tuan Daro, justru masih ngebet untuk menjodohkan putranya dengan Veria. Lain dengan Tuan Daro, lebih pilih menuruti apa yang diinginkan oleh putranya, asal itu akan membuatnya bahagia.
Cukup pernikahannya yang pernah gagal karena sebuah insiden kecelakaan, Tuan Daro tidak ingin putranya mengalami nasib yang sama dengan masa lalunya, yakni harus kehilangan istrinya.
__ADS_1
Setelah pergi meninggalkan rumah, juga kedua orang tuanya, Tuan Daro bersama istrinya hanya bisa menghela napasnya.
Karena merasa malu, akhirnya segera menghubungi keluarga Veria.
Di restoran, Veria yang tengah menerima panggilan dari ibunya Reyzan, langsung menerimanya, juga tak lupa untuk membahas mengenai acara pertemuan dan juga makan malam bersama.
Setelah mendapat obrolan bahwa keluarga Daro membatalkan acara makan bersama di restoran yang sudah dijanjikan, Veria mendadak memasang wajah kesalnya, juga ingin rasanya membanting ponselnya.
"Sayang, kok cemberut gitu, ada apa, sayang?" tanya ibunya yang melihat putrinya tengah memasang muka cemberutnya.
"Gimana gak cemberut coba, ibunya Rey membatalkan acara kita ini, Ma." Jawab Veria sambil berdecak kesal.
"Apa! membatalkan acara pertemuan? kok bisa, kenapa katanya?" tanya ibunya ingin tahu.
"Mana Veria tau, orang langsung Veria matiin. Habisnya kesel banget tau, Ma, Pa. Masa ya, seenaknya batalin acara. Udah gitu, kita hanya nganggur di sini." Jawab Veria dengan penuh kesal.
"Seharusnya tuh, kamu bilang sama ibunya Reyzan. Bukan dimatiin panggilannya, kamu ini gimana sih. Masa ya, harus diajarin terus. Gini nih, kalau suka sama cowok tidak dipikir dulu." Kata ibunya ikut mengomeli putrinya.
"Dah lah, aku mau makan." Ucap Veria yang masih merasa kesal, juga dongkol.
Karena sudah waktunya untuk makan malam, Veria ditemani kedua orang tuanya untuk makan malam dengan formasi yang sama saat makan di rumahnya sendiri.
Sambil menikmati makanannya, Veria maupun kedua orang tuanya akhirnya dapat menghabiskan porsi makannya masing-masing.
"Sudah, jangan ngambek gitu dong. Positif thinking aja kenapa, mungkin kedua orang tuanya Reyzan lagi ada kendala, atau Reyzan sendiri."
"Tapi gak harus gini kan, Ma? bikin kesel aja deh. Tau begini, ogah berangkat. Kalau bukan karena ingin mendapatkan Reyzan, males aku melakukan pertemuan macam ini, hanya membuang-buang waktu saja." Ucap Veria dengan kesal.
"Sudahlah, yang terpenting kamu tinggal selangkah lagi untuk dapatkan Reyzan. Bukankah kamu dulu pernah melen_yapkan istri pertamanya Reyzan? kenapa kamu gak lakukan saja kepada istri keduanya juga. Kamu bisa menyuruh orang suruhan kamu untuk mencari keberadaan istri keduanya. Setelah itu, habisin dia, mudah 'kan? lagi pula jejakmu yang dulu tidak ketahuan. Sekalipun ketahuan, Tuan Daro tidak akan berani memenjarakan kamu."
"Tapi, Ma."
"Gak ada tapi tapian, percaya saja sama Mama. Karena nyawa Tuan Daro pernah di selamatkan oleh Papa, dan pastinya tidak akan pernah ia lupakan." Ucap ibunya Veria menjelaskan.
__ADS_1
Sedangkan ayahnya Veria justru tertawa lepas.
"Kamu itu salah, Ma. Bukan aku orangnya, tapi aku bohongi Tuan Daro untuk aku ambil kesempatan. Padahal, yang menolong Tuan Daro itu adalah orang lain, bukan Papa." Kata ayahnya Veria ikut menimpali, dan berkata jujur.
"Jadi, bukan Papa yang menolong?"
Ayah Veria mengangguk, sedangkan ibunya Veria benar-benar gak nyangka akan kebohongan suaminya.
"Tuan Daro Halilintar yang bodoh, sangat mudah Papa kibulin selama ini."
Seketika, bagai tersambar petir saat mendengar pengakuan dari ayahnya Veria, juga obrolan dari awal, membuat darah yang mengalir seakan tersendat, juga dengan otaknya yang mendadak terasa mendidih hingga teras panas di kepalanya.
Kedua tangannya mengepal kuat, rasa ingin menghajar habis-habisan.
"Darwa!" teriak Tuan Daro sambil berjalan dan diikuti oleh istrinya dari belakang.
Tuan Daro mempercepat jalannya dengan kepalan tangannya yang siap untuk dilayangkan pada bagian rahang milik ayahnya Veria dengan kuat.
Saat itu juga, Ayah Veria benar-benar sangat terkejut mendengarnya, begitu juga dengan ibunya Veria, juga Veria sendiri sangat terkejut mendengarnya.
"Kau! pembohong, dan rupanya kalianlah pemb_unuh yang sebenarnya kepada istri pertama putraku. Kalian benar-benar bia_dap yang sudah memperalat kami."
"Tidak, Tuan Daro. Tadi aku hanya bersandiwara saja, cuma ngeprank aja, serius. Aku mohon, jangan tanggapi omongan kami tadi. Soalnya kamu dan anak istrimu tudak juga datang, jadi kita bermain drama. Percayalah denganku, Tuan." Ucap ayahnya Veria berusaha untuk merayu Tuan Dari, yakni agar tidak menganggap serius akan ucapannya.
Sedangkan Veria sendiri terlihat ketakutan, jika perbuatannya telah diketahui oleh Tuan Daro. Begitu juga dengan ibunya, ikut takut akan menjadi tahanan di balik jeruji besi.
"Kalian benar-benar tidak punya hati, bahkan sudah tega memb_unuh istri pertama putraku. Kalian harus di hukum, awas kalian." Ucap ibunya Reyzan yang juga ikut geram dan berubah menjadi benci saat melihat dan mendengarnya secara langsung.
Ayah Veria yang tidak punya cara lain, langsung menggunakan idenya.
"Ayo kita kabur." Perintah ayahnya Veria kepada istri dan anaknya, yakni dengan cara menarik tangannya dan diajaknya berlari.
"Jangan lari! tangkap mereka." Teriak Tuan Daro sambil meminta bantuan orang lain, lantaran sama sekali tidak membawa anak buah.
__ADS_1