Istri Yang Kau Jandakan

Istri Yang Kau Jandakan
Teringat kejadian yang sama


__ADS_3

Rey tengah melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, secepatnya untuk sampai di tempat tujuan.


Tuan Daro yang sudah ditemani oleh beberapa anak buahnya, tengah menunggu kedatangan putranya.


"Pa, Rey mana? kenapa belum terlihat juga sampai sekarang." Kata istrinya Tuan Daro dengan perasaan cemas.


"Sabar dikit dong, Ma. Mungkin kena macet dijalan." Kata Tuan Daro untuk meyakinkan istrinya.


Saat itu juga, mobil telah berbelok di mana kedua orang tuanya Reyzan tengah menunggu.


Reyzan segera bergegas turun dari mobil, dan menghampiri kedua orang tuanya.


"Nak, kamu gak apa-apa, 'kan? kamu baik-baik saja, 'kan?"


"Ya, aku baik-baik saja. Bagaimana dengan mereka bertiga, Pa? apakah sudah tertangkap?"


Tuan Daro menggelengkan kepalanya dengan lesu.


"Belum, masih dalam kejaran polisi, juga kejaran anak buah Papa."'Jawab Daro penuh khawatir jika tidak dapat di temukan keberadaannya.


"Ya udah, Rey mau ikut mencari mereka. Mama sama Papa lebih baik pulang aja, berbahaya kalau ikut." Kata Reyzan yang tidak ingin terjadi sesuatu kepada kedua orang tuanya.


"Tapi, Rey. Mama juga takut kenapa-kenapa dengan kamu, lebih baik kita pulang bareng aja. Biarkan semuanya kita serahkan kepada yang bertugas untuk menangani kasus kejahatan yang dilakukan oleh kedua orang tua Veria, juga Veria sendiri." Jawab ibunya yang khawatir akan keselamatan putranya.


"Gak, Papa akan ikut kamu mencari mereka. Kalau untuk Mama, mendingan pulang aja bareng ajudan Papa." Timpal Tuan Daro kepada istrinya.


"Nggak, Mama nggak mau." Kata ibunya Reyzan menolak jika harus pulang, sedang anak dan ayahnya tak ikut pulang, pikirnya.


"Ma, ini sangat berbahaya. Lebih baik Mama pulang saja, aku dan Papa yang akan menjadi petunjuk arah. Jugaan, kita berdua gak akan pisah, kita akan satu mobil. Jadi, Mama gak perlu khawatir." Ucap Rey merayu ibunya.


"Baiklah, jika kalian berdua gak bisa pulang, jaga diri kalian baik-baik." Ucap ibunya Reyzan berpesan kepada putranya maupun suaminya.


"Ya, Mama tenang saja. Ya udah, Mama buruan naik mobil." Kata Reyzan menyuruh ibunya untuk segera pulang.

__ADS_1


"Ya, Mama pulang duluan." Jawab ibunya, dan bergegas untuk naik ke mobilnya.


Setelah itu, Tuan Daro bersama putranya segera berangkat untuk mencari jejak kemana perginya Veria bersama kedua orang tuanya.


Lain sisi, Veria begitu kelelahan saat kenyataannya harus menjadi kejaran polisi. Harapan yang sudah direncanakan akan berjalan dengan mulus, kenyataannya harus mengalami kesialan.


Bahkan, rencana yang sudah tersusun rapi, harus gagal begitu saja. Justru, sekarang ini dirinya harus menjadi kejaran polisi.


"Ma! Pa, aku capek." Teriak Veria yang tengah berjalan menyusuri jalanan.


Banyak sekali kendaraan yang masih lalu lalang.


Kedua orang tuanya langsung berhenti jalannya.


"Kalau kamu gak kuat berjalan, kapan sampainya. Sudahlah, kamu tahan dulu capek mu itu. Waktu kita gak banyak, harus segera sampai ke pelabuhan untuk meninggalkan kota ini. Ingat, kita akan tinggal di pulau terpencil. Jadi, jangan banyak bicara, ikuti saja Papa berjalan." Ucap ayahnya Veria.


"Yang dikatakan oleh Papa kamu itu ada benarnya, jangan ngeyel. Sekarang lebih baik kamu itu harus bisa menahan capek, habis itu kita baru bisa bebas. Sudah, ayo buruan kita lanjutkan perjalanan kita." Kata ibunya Veria mengingatkan akan keselamatan dirinya juga kedua orang tuanya.


"Ya deh, ya. Tapi jangan cepat-cepat jalan kakinya. Soalnya aku benar-benar capek, juga haus. Tau sendiri dari tadi jalan terus, gak ada istirahatnya sama sekali." Jawab Veria dengan penuh kesal, lantaran harus mendapat sial, juga membuat hidupnya terancam dan bisa menjadi tahanan, pikirnya.


"Jangan ngebut ngebut, Rey. Jalannya pelan aja, biar kita bisa memperhatikan jalanan dengan fokus." Kata Tuan Daro mengingatkan putranya.


"Ya, Pa, ini juga pelan jalannya. Oh ya, apakah Papa sudah memerintahkan jalur keluarnya kota menuju kota lain?"


"Sudah, Papa sudah kerahkan kepada anggota polisi dan juga orang-orang suruhan Papa untuk berjaga dalam bentuk penyamaran di setiap titik pelabuhan maupun bandara dengan waktu non stop." Jawab ayahnya Reyzan.


"Syukurlah kalau sudah ditangani, berarti kita tinggal mencarinya di wilayah sekitar, tidak harus di luar pulau." Kata Reyzan sambil celingukan mencari keberadaan ketiga tersangka.


Sedangkan Veria mulai merasa kelelahan saat dirinya harus berjalan terus menerus hingga sampai ke pelabuhan.


"Aaaaaaaaa!"


Teriak Veria saat melihat satu kendaraan mobil dengan lajunya yang cukup tinggi kecepatannya, juga pencahayaan lampunya yang begitu terang dan juga membuat mata menjadi silau.

__ADS_1


Saat itu juga, mobil yang kecepatannya tinggi, pengemudi tidak mampu untuk mengendalikan mobilnya yang cukup kencang.


Seketika, tubuh Veria terhantam mobil hingga terpental jauh dari lokasi kejadian. Dan, di situ juga, ternyata kedua orang tuanya melihat kejadian tersebut di depan kedua matanya.


Beberapa anggota polisi yang telah bertugas, langsung bergegas. Juga, ada tiga polisi yang tengah melakukan pencarian tersangka yang kebetulan berada di tempat lokasi kejadian insiden kecelakaan.


Sama juga dengan Reyzan, yang kebetulan berada di belakang mobil yang tengah menabrak.


Ssssttt


"Ada kecelakaan, Pa." Ucap Reyzan yang langsung mengerem mendadak.


Sedangkan di tengah jalanan, kedua orang tua Veria menangis histeris saat mendapati putrinya yang terlihat tak berdaya.


"Ma, Pa,"


"Tidak ...!"


Teriak kedua orang tuanya saat melihat putrinya menghembuskan napasnya yang terakhir. Baru saja memanggil kedua orang tuanya, harus meninggalkan Mama dan Papanya untuk selama-lamanya.


Saat itu juga, ketiga polisi langsung mengamankan kedua orang tua Veria saat didapati sesuai ciri-cirinya.


"Lepaskan! lepaskan aku. Veria, kamu jangan tinggalkan Mama sama Papa, sayang. Veria! bangun, Nak." Ibunya Veria berteriak histeris saat harus menerima kenyataan yang begitu menyedihkan, dan tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah saat tertangkap oleh anggota polisi.


Begitu juga dengan ayahnya, sedari tadi terus memberontak sanbil memegangi tangan putrinya yang terasa berat untuk kehilangan anak perempuan satu-satunya.


Sedangkan Rey dan ayahnya yang baru saja turun dari mobil, ingin rasanya untuk melihat bagaimana keadaan korban kecelakaan.


Saat sudah di depan lokasi kejadian, Rey bersama ayahnya dapat melihat kedua orang tuanya Veria tengah dalam penangkapan oleh beberapa anggota polisi. Kemudian, kedua matanya tertuju pada korban kecelakaan yang ditutup oleh lembaran lembaran koran.


Karena penasaran, Rey akhirnya bertanya kepada salah satu anggota polisi untuk menanyakan kebenaran siapa yang kecelakaan.


Saat mendapatkan kejelasan, Rey maupun ayahnya sama-sama terkejut mendengarnya. Kemudian, tubuhnya mendadak lemas.

__ADS_1


Belum juga tertangkap, tetapi sudah pergi untuk selama-lamanya. Sungguh, diluar dugaan. Saat itu juga, kenangan yang menyayat hatinya telah mengingatkan dirinya soal insiden kecelakaan pada istrinya yang pertama.


Usia pernikahan yang belum lama, harus kehilangan istri yang dicintainya untuk selama-lamanya. Dan kini, Rey kembali ketakutan jika harus kehilangan istri yang kedua.


__ADS_2