Istri Yang Kau Jandakan

Istri Yang Kau Jandakan
Ingin benar sendiri


__ADS_3

Rey memandangi istrinya begitu fokus, yakni sambil mendengar ucapan dari dokter.


"Istri saya hamil, dok?" tanya Reyzan masih seperti mimpi.


"Benar sekali, istrimu telah hamil calon anakmu." Sahut Nenek Muna yang langsung menjawab pertanyaan dari Reyzan.


Rey yang sangat jelas mendengar ucapan dari Nenek Muna, langsung menoleh ke sumber suara.


"Benarkah kamu ini si Reyzan suaminya Evana?"


"Benar, Nek. Nama saya Reyzan, suami Evana." Jawab Rey dengan anggukan.


"Ya, Nenek sudah bisa menebaknya." Kata si Nenek.


Kemudian, sang dokter meminta Rey dan Nenek Muna untuk pindah ke ruang rawat yang akan ditempati oleh Evana.


"Baik, Dok. Kalau begitu, saya permisi."


"Mari," kata sang dokter memberi ucapan selamat.


'Benarkah Evana hamil anakku?' batin Reyzan yang masih belum percaya dengan apa yang di katakan oleh Dokter.


Pikirannya masih tertuju dengan Ardi, mantan suaminya sang istri. Ditambah lagi keduanya berada di kampung yang sama, tentu saja menaruh kecurigaan kepada istrinya. Bahkan, dirinya sendiri sampai lupa, jika dirinya pernah melakukan hubungan suami-istri.


Baru saja keluar, Rey langsung teringat bahwa dirinya pernah melakukannya bersama istrinya.


Seketika, Rey langsung menghentikan langkah kakinya. Ingatannya kembali tertuju saat liburan bersama istri dan ketika mendapatkan situasi yang sulit, yakni waktu kejebak hujan dan berteduh dalam ruangan yang sempit.


"Nek, gimana dengan Evana, Nek?" tanya Ardi yang tidak peduli ada Reyzan disebelah Nenek Muna.


Radit yang sudah mendapatkan pesan dari Nenek Muna, mengerti apa yang harus ia lakukan.


"Keadaan Evana baik-baik saja, kamu dan Radit lebih baik pulang." Jawab Nenek Muna yang tidak ingin terjadi masalah yang lebih besar lagi, pikirnya.

__ADS_1


"Tapi, Nek, saya ingin melihat keadaannya." Kata si Ardi yang tetap bersikukuh.


Rey yang baru saja fokus memikirkan kehamilan istrinya, langsung menatap kesal terhadap Ardi.


"Pak Ardi, ayo kita pulang. Evana sudah ada suaminya, kita tidak mempunyai hak untuk melakukan kemauan kita. Ayo, kita pulang. Jangan menambah masalah kepada mereka, tidak baik mengganggu rumah tangga orang lain. Biarkan Evana menyelesaikan masalahnya sendiri terlebih dahulu, Pak Ardi pulang." Ucap Radit mencoba untuk membujuk Ardi.


"Pulang lah, Suaminya Evana sudah datang. Jadi, jangan ganggu rumah tangga Evana. Biarkan Evana memilih pilihannya sendiri. Mana yang ia pilih, mungkin itu yang terbaik." Sambung Nenek Muna.


"Nek, meski dia suaminya Evana yang sah. Tapi aku tulus mencintainya, Nek. Dia suami yang tidak bertanggung jawab saat istrinya harus berjuang sendirian melewati hari hari yang harus dilaluinya. Suami macam apa dia." Tuduh Ardi yang tetap bersikukuh untuk merebut mantan istrinya kembali.


Reyzan yang mendengar perkataan Ardi yang seenaknya saja bicara, rasanya ingin melayangkan sebuah tinjuan mendarat di rahang milik mantan suaminya sang istri.


"Kau!"


Reyzan sudah mengepalkan tangan kanannya, dan sudah diangkat keatas, tentu saja sudah siap untuk dilayangkan tinjuannya.


Saat itu juga, supirnya telah datang ikut melerainya.


"Tuan, hentikan. Jangan kotori tangan Tuan ini untuk melukai orang lain. Tangan kanan milik Tuan Reyzan sangat berharga untuk memberi perhatian kepada Nona Evana. Pergilah dan temani Nona Evana, kesempatan datang tidak berkali-kali." Ucap supirnya berusaha untuk memenangkan amarah Tuan-nya.


Ardi yang masih tetap bersikukuh untuk menemui mantan istrinya, juga tidak mau pergi.


Saat itu juga, ada beberapa orang yang sudah diperintahkan oleh supirnya Reyzan kepada warga kampungnya Nenek Muna untuk diminta bantuannya.


"Ayo Pak, kita pergi dari rumah sakit ini." Ucap salah seorang yang berusaha untuk membujuk Ardi segera pergi dari rumah sakit tersebut.


"Lepaskan! jangan melarang saya untuk menemui mantan istri saya, dia bukan suami yang bertanggung jawab, juga bukan suami yang baik." Kata Ardi dengan segala emosinya.


Reyzan yang malas melayani Ardi, langsung pergi untuk menemui istrinya di ruangan yang sudah diberitahukan oleh dokter.


"Pak, masih ada hari lainnya untuk menyelesaikan masalah Bapak bertemu dengan Evana. Biarkan Pak Rey menemui istrinya, karena memang Pak Rey ayah dari janin yang di kandung istrinya." Ucap Radit yang ikut membujuk Ardi.


"Kau tahu apa tentangku dan Evana? ha!"

__ADS_1


"Tentu saja, Evana menceraikan kamu karena kamu sudah menyakiti perasaannya. Kamu sudah berselingkuh di hadapannya. Sekarang juga, bawa dia dari rumah sakit ini. Kalaupun masih nekad, jangan salah, jika hukum akan bertindak kepadamu." Ucap seorang ibu paruh baya yang ditemani suaminya.


Sedangkan Nenek Muna sudah menyusul Reyzan menuju ruangan dimana Evana di pindahkan.


Reyzan yang sudah tidak sabar ingin bertemu lagi dengan istrinya dalam keadaan sadar, cepat cepat segera masuk.


Saat sudah di sebelah istrinya, Rey membelai rambutnya. Kemudian, menc_ium keningnya dengan lembut. Baru pertama kali ini, Rey melakukannya. Belum sempat mengutarakan perasaannya, perpisahan harus diterimanya.


"Sayang, bangun, sayang, ini aku suami kamu." Ucap Reyzan sambil memegangi tangan istrinya yang tidak terpasang dengan selang infus.


Rey duduk disebelahnya, dan menempelkan tangan istrinya di pipi kanannya.


"Sayang, maafkan aku yang sudah membuatmu seperti ini. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi, dan aku akan selalu menjagamu, juga bertanggungjawab atas dirimu." Ucap Reyzan merasa bersalah, lantaran kurang perhatiannya kepada sang istri.


Saat itu juga, Evana menggerakkan tangannya sambil membuka kedua matanya dengan pelan. Sambil menyempurnakan penglihatannya, Evana merasa ada sesuatu yang memegangi tangannya.


Reyzan yang melihat istrinya memberi reaksi saat sadarkan diri dari pingsannya, segera menekan tombol memanggil dokter.


Ketika pandangannya mulai sudah terlihat dengan jelas, Evana memeriksa di sekelilingnya hingga berhenti pada sosok laki-laki yang berstatus suami sahnya.


"Sayang, kamu sudah sadar. Ini, ini aku suami kamu, Reyzan."


Evana bagai mimpi saat mendapati sosok suaminya yang sudah berada di hadapannya. Sungguh, masih tak menyangka.


Saat itu juga, Evana menarik tangannya dan mecoba untuk menepuk pipinya antara nyata atau hanya mimpi, pikirnya.


"Ini nyata, sayang, nyata. Aku Reyzan suami kamu." Ucap suaminya untuk meyakinkan sang istri.


"Pergi, cepat segera pergi dari sini. Aku tidak mau berurusan dengan kedua orang tua kamu. Pergilah, jangan temui aku." Ucap Evana seperti ketakutan saat dirinya teringat saat diusir dari rumah milik mertuanya.


"Mama dan Papa sudah menyetujui pernikahan kita, sayang. Percayalah padaku, kamu tidak perlu takut lagi." Ucap Reyzan yang terus berusaha untuk meyakinkan istrinya.


Evana menggelengkan kepalanya, kejadian yang menimpa suaminya, masih menghantui di benaknya. Ditambah lagi dengan insiden kecelakaan suaminya, yang dimana dirinya melihatnya dengan jelas saat suaminya terpental menghantam mobil.

__ADS_1


"Kami merestui hubungan pernikahan kalian, Nak. Maafkan kami berdua yang sudah lancang untuk menghancurkan hubungan kalian." Ucap seorang ibu paruh baya yang baru saja datang, dan kini berdiri diambang pintu bersebelahan dengan suaminya.


__ADS_2