
Setelah mengirimkan pesan kepada Neti, Evana segera masuk bersama Ardi.
"Kita duduk di sana aja, bagaimana?"
"Boleh,"
Saat keduanya duduk bersebelahan layaknya suami istri, tiba-tiba pandangan Evana tertuju pada sosok laki-laki yang sangat dikenalinya.
'Mam_pus aku, kenapa aku harus bertemu dengannya lagi sih? aih, udah kek daun kelor aja ini bumi.' Batinnya berusaha untuk tidak menunjukkan barang hidungnya.
Berharap, tidak melihat dirinya yang tengah berada di restoran. Naas, saat Evana mencoba menoleh untuk melihatnya, ternyata orangnya juga melihat kearah dirinya.
Kedua matanya saling menatap satu sama lain, hingga keduanya terjadi adu pandang.
Evana menelan salivanya dengan kasar, rasanya begitu sulit untuk menelannya.
Dengan sengaja, dan juga dengan otak jailnya, langsung bangkit dari posisinya dan ikut membawa porsi makannya serta minumannya untuk dibawa ke meja makan yang dimana Evana tengah duduk bersama laki-laki.
"Hei, Evana. Kebetulan sekali, aku ikutan gabung ya." Ucapnya sambil naik turunkan alisnya, terlihat seperti tengah menggoda.
Ardi yang melihatnya, pun terasa risih dengan lelaki yang tidak dikenalinya itu. Lebih lagi terlihat tengah menggoda Evana, tentu saja menjadi cemburu.
"Tunggu, bukankah kamu laki-laki yang mencegat mobil itu ya?" tanyanya saat teringat dengan kejadian yang sudah lewat.
Ardi yang mendengarnya, pun mencoba untuk mengingat kembali.
Saat itu juga, Ardi langsung menoleh pada Evana.
"Bukan, aku sama sekali tidak mengenal ini orang diwaktu itu. Dia ini hanya numpang saja, tapi gak mau duduk dibelakang." Ucap Evana mencoba memberi jawaban yang benar, meski kenyataannya sudah kenal, bahkan Bos nya sendiri.
'Semoga saja yang dikatakannya itu benar, bahwa Evana tidak mengenal laki-laki ini. Tapi, dilihat sorot matanya, keduanya sudah saling mengenal.' Batin Ardi mulai curiga.
"Sudahlah, aku cuma mau makan bareng sama kalian. Anggap saja, pertemuan kemarin itu, awal pertemanan kita hari ini. Oh ya, kalian berdua suami istri ya? jujur saja."
Evana langsung menatap Bosnya, sedangkan yang ditatap, orangnya kembali jail dengan menaik turunkan alisnya seraya menggoda.
__ADS_1
Ardi yang melihatnya, semakin risih dan benar-benar terganggu momen yang sudah dibayangkan saat masih berada di dalam mobil.
Karena malas untuk mengobrol, ketiganya fokus dengan makanannya masing-masing. Satupun tidak ada yang angkat bicara, termasuk Evana sendiri.
Selesai makan, ketiganya segera minum. Setelah itu, waktunya untuk meninggalkan restoran.
"Waduh, dompetku." Ucapnya saat merogoh kantong celananya berulang kali, tetap saja tidak mendapatkan dompetnya.
Sambil nyengir kuda, Reyzan mengedipkan matanya seakan memberi kode pertolongan.
"Boleh gak, bayarin dulu makananku ini? besok bakal aku gantiin. Tadi aku lupa membawa dompetku, ternyata aku lupa untuk membawanya." Ucap Reyzan dengan sengaja untuk mengerjai Evana maupun Ardi.
"Boleh, nanti aku yang membayarnya." Jawab Ardi yang tidak ingin di cap laki-laki pelit atau yang lainya, yakni dapat mencoreng nama baiknya.
Cukup perselingkuhannya dengan Lely, Ardi tercoreng namanya oleh Evana. Tidak hanya tercoreng namanya, tetapi dirinya juga harus kehilangan istri.
"Terima kasih banyak kalau gitu, bolehkah aku meminta nomor telpon kalian? maksud aku untuk mengajak pertemuan agar aku bisa membayar hutangku ini." Ucap Reyzan dengan nada serius, sedangkan Evana tidak menanggapinya sama sekali.
"Tidak perlu, anggap saja kalau aku ini sedang mentraktir kamu." Kata Ardi yang tidak ingin dianggap remeh.
"Makasih banget loh, ternyata kalian berdua orang baik. Ah ya, pertanyaan aku tadi belum di jawab. Kalau boleh tahu, kalian berdua ini apakah suami-istri?"
Ardi yang tidak mau menjadi lelaki yang tidak tegas, akhirnya angkat bicara. Tidak peduli jika jawabannya akan ditertawakan oleh sama-sama lelaki.
"Iya, itu dulu. Sekarang kita sedang mengurus perceraian." Jawab Ardi tanpa harus bersandiwara, dirinya tak ingin disalahkan atas kemauan yang sebenarnya untuk tidak bercerai.
"Oh, maaf. Bukan niat aku untuk ingin tahu, cuma penasaran saja. Takutnya aku tidak mempunyai sopan santun untuk menyapanya, maka dari itu, aku bertanya lebih dulu. Ah ya, sepertinya aku harus segera pulang. Makasih banyak ya, traktirannya." Ucap Reyzan yang langsung pamit untuk pulang.
Evana yang sedari tadi diam, hanya menahan kesalnya atas apa yang sudah dilakukan oleh Bosnya yang sudah jail.
'Awas lu ya, Bos. Lihat aja besok, bakal aku kerjain balik.' Batin Evana dengan kesal.
Setelah Reyzan pergi, kini tinggallah Evana bersama Ardi.
"Oh ya, nanti beritahu aku tagihan laki-laki tadi. Biar aku yang akan bayar." Ucap Evana tidak enak hati.
__ADS_1
"Dia bukan orang yang spesial di hati kamu, 'kan?" tanya Ardi penasaran, lantaran begitu peduli untuk membayar tagihannya.
Evana justru tersenyum mendengar pertanyaan dari Ardi.
"Bukan, kenal juga gegara waktu itu. Kenal dekat aja gak, pakai spesial dihati segala. Aku tidak punya hubungan spesial dengannya, kenal aja hanya karena sial aja. Sudah ah, ayo kita pulang. Total aja milik laki-laki tadi sama punya Neti."
"Gak usah, biar aku semua yang akan bayar. Anggap saja sedang menemui orang yang membutuhkan bantuan, kita beri aja dengan senang hati." Kata Ardi.
"Ya, termasuk memberi sesuatu di atas ran_jang kepada perempuan yang membutuhkan bel_aian." Gumamnya tanpa di sadari jika Ardi dapat mendengarkannya.
"Katanya tidak akan membahasnya lagi, apakah kamu masih membenciku?"
"Gak kok, aku cuma greget aja. Sudah ah, cepetan kamu bayar tagihannya. Aku sudah sangat mengantuk, karena besok aku harus berangkat kerja." Jawabnya.
"Baiklah, kamu tunggu di mobil saja. Ini, kunci mobilnya."
"Gak, aku ikuti kamu saja." Kata Evana menolak.
"Terserah kamu saja, aku tidak akan memaksamu." Ucap Ardi dan segera membayar total tagihannya.
Setelah itu, keduanya segera pulang.
Selama dalam perjalanan, Evana hanya menatap luar dengan melihat gedung-gedung serta pinggiran jalanan yang dilalui orang orang yang lewat.
Tidak terasa, akhirnya sampai juga di depan rumah kosannya Neti.
"Kamu tinggal di rumah kosan seperti ini?" tanya Ardi merasa sangat bersalah.
"Ya, kenapa memangnya? justru aku merasa sangat nyaman untukku singgah. Untuk apa rumah bagus dengan fasilitas yang bagus juga, jika didalamnya penuh drama." Jawab Evana terang-terangan tanpa ada yang ditutupi.
"Aku minta maaf, kalau aku sudah membuatmu jadi seperti ini." Ucap Ardi merasa bersalah.
"Gak apa-apa, aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir, dan juga tidak perlu kamu pikirkan tentang hidupku." Jawab Evana.
Saat itu juga, Ardi mengambil sesuatu didalam dompetnya.
__ADS_1
"Ini, pakailah sesuai kebutuhan kamu. Terserah kamu mau gunakan berapapun, aku tidak melarangmu." Ucap Ardi sambil menyodorkan ATM kepada Evana.
"Maaf, aku sudah bekerja. Jadi, aku tidak membutuhkan pemberian darimu. Simpan saja untuk masa depanmu, karena nanti kamu juga bakal menikah. Untuk memenuhi kebutuhanku sehari-hari, aku masih bisa mencarinya sendiri." Jawab Evana menolak sambil mengatupkan kedua tangannya.