
Sambil makan, Rey menyempatkan diri untuk mengobrol sedikit-sedikit dengan Radit.
"Oh ya Dit, nanti kamu temani aku ke rumah Pak Lurah ya. Kamu gak apa-apa kan, aku mintain bantuan?"
Radit mengangguk.
"Ya, Pak. Nanti saya akan temani Bapak ke rumah Pak Lurah. Kalau boleh tahu, Bapak ada perlu apa ya? bukankah besok masih ada waktu?"
"Gak ada apa-apa, cuma mau melapor saja. Sekalian mau tanya-tanya, itu saja."
"Oh ...,"
"Kenapa?"
"Nggak, Pak. Kirain saya si Bapak mau ada perlu apa, gitu."
"Nggak ada apa-apa kok, ya udah lanjutin dulu makannya. Tapi benar ya, nanti temani aku ke rumah Pak Lurah." Kata Rey meminta tolong.
"Ya, Pak." Jawab Radit dengan anggukan.
Selesai makan, tiba-tiba Rey merasakan sesuatu pada perutnya.
"Kenapa juga mesti di warung makan, tahan dulu kek." Gumamnya saat merasa perutnya melilit.
"Dit, toiletnya di mana ya?" tanya Rey sambil menahan sembelit.
"Ke belakang aja, terus tanya sama diantara mereka, nanti ditunjukin kok." Jawab Radit sambil menunjuk ke arah yang dimaksudkan.
"Ok, aku tinggal dulu." Ucap Reyzan dan segera bergegas pergi ke toilet.
Sedangkan Ardi yang melihat Rey pergi ke belakang, segera menghampiri Radit.
"Ngomong apa tadi dianya?" tanya Ardi ingin tahu.
"Gak ngomong apa-apa, cuma minta ditemani pergi ke rumah Pak Lurah. Orangnya bilang sih, mau melapor, itu saja."
"Ke rumah Pak Lurah mau melapor? memangnya gak ada hari esok?"
"Mana saya tahu, Pak. Mungkin biar sekalian capek, besok buat istirahat. Lagian udah makan, mungkin begitu." Jawab Radit menjelaskan, dan tidak mau berprasangka buruk terhadap orang lain, meskipun baru dikenalinya.
__ADS_1
'Aku yakin kalau si Rey itu mau mencari tahu tentang Evana, apa lagi tujuannya coba.' Batin Rey menerka-nerka.
"Pak, kok bengong."
"Enggak kok, cuma lama sekali menunggu dia keluar."
"Namanya juga lagi kebelet, mungkin lama." Jawab Radit merasa aneh dengan cara Ardi membicarakan sosok Rey yang seperti ada rasa kebencian dan tidak suka.
'Apa ya, persaingan bisnis. Tetapi kalau dilihat-lihat sih, sepertinya bukan.' Batin Radit mencoba untuk mencernanya, tetap saja tidak menemukan jawabannya.
Malas memikirkan masalah orang lain, Radit memilih melihat-lihat di sekelilingnya. Tidak lama kemudian, akhirnya Rey sudah keluar dari toilet. Terlihat jelas jika Rey tengah berjalan mendekatinya.
"Ayo, kita lanjutkan perjalanannya lagi." Ajak Rey yang tidak begitu memperhatikan Ardi yang sudah diketahui mantan suami istrinya sendiri.
Sebenarnya Ardi tidak ingin satu mobil dengan suami mantan istrinya, lantaran cemburu yang berkepanjangan, membuatnya tidak berselera berada satu mobil yang sama. Tetapi mau bagaimana lagi, Ardi tengah mendapati si_al lantaran mobil miliknya harus mengalami ban bocor. Mau tidak mau, Ardi terpaksa ikut nebeng.
'Coba aja kalau si Radit tahu jika si Rey ini suaminya, aku jamin ada rasa kesal sepertiku.' Batin Ardi sambil berjalan menuju parkiran.
Sedangkan di tempat lain, Evana tengah memasak di dapur dibantu oleh Nenek Muna. Namun, tiba-tiba Evana kelimpungan saat merasakan sesuatu yang membuatnya mual.
"Sudah sudah, mendingan sekarang kamu mandi. Lihat itu jamnya, biar Nenek saja yang melanjutkan masaknya. Kasihan calon bayi kamu, jika kamu paksa untuk masak." Ucap Nenek sambil meraih sesuatu yang ada di tangan Evana.
"Nanggung, Nek." Kata Evana.
"Tapi, Nek."
"Gak ada tapi tapian, cepat buruan mandi. Sekarang ini sudah sore, gak baik jika kamu malas-malasan." Kata si Nenek Muna.
Dengan paksaan, dan awalnya menolak. Tetapi setelah dipikir, yang dikatakan Nenek Muna itu ada benarnya. Dengan perasaan gak enak hati, Evana segera mandi sesuai yang Nenek Muna suruh.
"Benar ya Nek, Evana mandi dulu." Ucap Evana yang sebenarnya tidak ingin merepotkan orang lain.
"Ya, cepetan mandi, ini sudah sore." Kata Nenek Muna, Evana mengiyakan.
"Nek, tapi nanti setelah mandi, Evana mau ke rumah Mbak Yuti ya Nek."
"Mau ngapain? sudah cepetan mandi."
"Mau minta buah mangga yang masih muda, Nek."
__ADS_1
"Nanti biar Nenek aja yang minta, lebih baik kamu di rumah aja."
"Gak ah Nek, maunya ikut metik sendiri buah mangganya."
"Ya, nanti Nenek temani." Sahut si Nenek yang tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak tidak terhadap Evana yang sudah dianggapnya anak sendiri.
"Ya deh, Nek." Jawab Evana yang akhirnya nurut dengan Nenek Muna.
Lain lagi dengan Rey dan Radit, juga Ardi, didalam mobil semua tidak ada yang bersuara, termasuk pak supir.
Di dalam mobil, Rey menyibukkan diri dengan ponselnya. Alih-alih mencoba mencari akun Media milik istrinya. Berharap, akan menemukannya.
'Apa ya, Evana sudah menonaktifkan diri untuk tidak bersosial media. Mungkin benar yang diucapkan Neti, semoga saja setelah melihatku datang ke kampungnya nanti, masih menerimaku. Tetapi jika gak, aku harus apa?' batinnya sambil melihat jalanan yang ia lewati.
Cukup lama dalam perjalanan, tidak disangka sudah sampai di tempat singgah khusus ditempati anggota yang melakukan kerja sama dalam membangun lapangan pekerjaan untuk masyarakat sekitar maupun daerah lainnya yang masih ikut dalam kawasan kepulauan tersebut.
"Kita sudah sampai, ayo turun." Ucap Ardi sambil melepas sabuk pengamannya.
"Oh, ini tempatnya." Jawab Rey sambil celingukan melihat sekitarnya, dan ia menyusul ikut turun dari mobil.
Begitu juga dengan Radit, juga ikut turun. Namun, tiba-tiba teringat dengan motornya yang masih berada di area Pelabuhan.
Radit mengusap wajahnya dengan kasar, juga menghela napasnya saat dirinya pulang tidak membawa motornya.
"Kamu kenapa?" tanya Rey saat melihat Radit seperti tengah gusar.
"Gak kenapa-napa, aku hanya sedang memikirkan motorku." Kata Radit berterus terang.
"Oh ya, masih di Pelabuhan tadi ya. Tenang aja, aku akan meminta tolong sama supirku untuk membawanya ke bengkel."
"Gak usah, Pak. Biar nanti saya saja yang akan mengambilnya." Ucap Radit yang tidak ingin merepotkan orang lain.
"Sudah, tenang saja. Aku akan meminta supirku untuk datang kembali ke Pelabuhan, tapi gak sekarang, besok."
"Jadi ngerepotin Bapak."
"Yang ada tuh, aku yang banyak merepotkan kamu. Kalau bukan karenamu, belum tentu juga aku sudah sampai di kampung sini. Makasih banyak ya, Dit."
"Sama-sama, Pak. Kalau gitu saya pamit mau langsung pulang, lagi pula sudah ada Pak Ardi. Untuk ke rumah Pak lurahnya besok saja ya, Pak. Sekarang sudah mau gelap, takutnya mengganggu jam istirahat." Kata si Radit.
__ADS_1
Setelah dipikirkan, Rey mengangguk dan mengiyakan.
"Bener ya, besok pagi-pagi kamu harus sudah datang." Ucap Rey yang tak lupa untuk meminta tolong kepada Radit.