
Saat keduanya tersadar dengan apa yang dilakukan barusan, langsung mengenakan handuknya kembali.
Evana langsung tiduran sambil membelakangi suaminya. Malu, itu sudah pasti. Ditambah lagi dengan suasana yang masih diguyur hujan deras, membuat Evana tidak bisa beralasan untuk meninggalkan tempat persinggahan.
Rey yang melihat posisi Evana meringkuk, Rey memeluknya dari belakang sambil meraih tangan istrinya, juga mendekatkan wajahnya di tengkuk leher istrinya.
"Aku akan bertanggung semuanya tentang dirimu."
Ucap Rey berbisik didekat daun telinga milik istrinya, Evana tak menyahut dan memilih untuk diam sambil memejamkan kedua matanya agar dapat tidur dan melupakan kejadian yang sudah ia lewati berdua bersama layaknya hubungan suami-istri.
Rey yang tidak mendapatkan respon dari istrinya, ia tetap memeluk dan ikutan tidur hingga tidak terasa hujan pun sudah mulai reda.
Evana yang tersadar dari tidur lelapnya, pelan-pelan membuka kedua matanya untuk menyempurnakan kesadarannya.
Kemudian, ia melihat bahwa tangannya tengah digenggam oleh suaminya, hanya saja tidak begitu erat.
Pelan-pelan, Evana menghela napasnya. Dengan hati-hati agar suaminya tidak terbangun dari tidurnya, menyingkirkan tangannya. Lalu, Evana sedikit menggeser posisinya.
Naas, justru Rey mengeratkan kembali pelukannya.
"Mau kemana? di luar sana masih gerimis, temani aku dulu."
"Em ... tapi aku haus." Jawab Evana beralasan.
"Tahan dulu rasa dahaganya, kita nikmati liburan kita ini. Bukankah kamu tadi sangat menikmatinya, gimana kalau kita melakukannya lagi."
Seketika, Evana langsung bangkit dari posisi tidurnya dan pindah tempat di sudut ruangan.
"Gak, aku gak mau. Da_sar, kamu yang me-sum." Sahut Evana yang sudah berpindah tempat.
Rey yang mendengarnya, pun tersenyum sambil menatap istrinya dengan tatapan menggoda.
"Me_sum sama istri sendiri gak apa-apa, 'kan? apa kamu rela, jika aku mencari wanita lain di luaran sana. Yakin nih, kamu gak cemburu?"
"Gak! aku gak bakal cemburu dengan perempuan mana pun, mau melakukannya dengan wanita lain juga terserah. Kita menikah kan, hanya sandiwara. Percuma juga jika aku cemburu, toh juga bakal di ceraikan." Kata Evana setengah melirik suaminya dengan suara yang kedengaran ketus.
Rey justru tertawa kecil mendengarnya. Kemudian, ia mendekati istrinya yang tengah duduk sambil memegangi kedua kakinya dengan posisi sedikit meringkuk dan menunduk. Takut, jika suaminya memaksa untuk melayani yang kedua kalinya.
"Kamu lucu, keliatan banget kalau kamu itu sebenarnya gak rela jika aku mencari wanita lain di luaran sana. Sudah, tenang aja, aku bukan type lelaki yang suka berselingkuh, sekalipun pernikahan kita ini hanya sandiwara." Ucap Rey sambil memandangi istrinya yang terlihat cemberut.
Evana yang mendengar suaminya bicara, sama sekali tidak menanggapinya. Saat itu juga, Rey maupun Evana sama-sama dikagetkan dengan ketukan pintu.
__ADS_1
Evana yang mendengar pintunya di ketuk dari luar, langsung tercengang.
"Bukan siapa-siapa, pasti orang suruhanku. Kamu berdiam saja disini. Biar aku yang akan keluar untuk melihatnya." Ucap Rey yang teringat saat dirinya meminta kepada anak buahnya untuk mengantarkan pakaian lengkap untuk dirinya dan sang istri.
"Permisi, Tuan. Ini, pakaian yang anda pesan beberapa jam yang lalu." Ucapnya sambil menyodorkan paperbag kepada Bosnya.
"Makasih, kalian berdua boleh pergi dari sini." Ucap Rey, dan saat itu pun, terlihat seseorang tengah berjalan mendekatinya.
"Kak Rey ada di sini?" tanyanya sambil melihat apa yang dikenakan oleh Reyzan yang hanya mengenakan handuk kimono saja.
Bahkan, sepasang matanya tertuju yang ada di tangannya.
"Ya, tadi aku dan Evana kejebak hujan. Jadi, terpaksa kita berdua mengenakan handuk, karena baju kita semuanya basah." Jawab Rey dengan santai.
'Apa ya, Kak Rey sudah melakukannya bersama Evana? gak mungkin jika Kak Rey tidak melakukannya, secara dia lelaki normal, juga Evana yang cantik.' Batinnya dengan tatapan penuh kesal.
"Bos, mana bajunya?"
Saat itu juga, Rey maupun Gevando langsung menoleh ke sumber suara. Dilihatnya Evana yang hanya mengenakan handuk kimono dengan rambut yang di kuncir, tentu saja memperlihatkan tanda kepemilikan di bagian leher jenjangnya yang begitu banyak tanpa di sadari oleh Evana sendiri.
"Masuk dulu, dan tutup pintunya." Perintah Rey sambil menunjuk, Evana yang tidak ingin suaminya marah, segera masuk dan menutup pintunya.
Kemudian, Rey kembali menatap adik laki-lakinya.
Gevando yang mendengarnya, hatinya terasa dongkol dan juga napasnya pun terasa sesak. Kesal, ingin marah, itu sudah pasti. Perempuan yang sudah diincarnya, harus jatuh ditangan kakaknya.
Tanpa menjawab sepatah katapun, Gevando langsung pergi dari hadapan kakaknya begitu saja tanpa permisi.
Rey yang malas menuruti emosinya, memilih untuk masuk untuk memberikan baju ganti kepada istrinya.
Sedangkan Gevando sambil berjalan, juga menahan perasaan kesalnya.
"Kak, Kak Vando." Panggil Aiwa sambil mengejar langkah kaki Gevando yang begitu cepat dan juga gesit.
"Kak Rey sama istrinya, mana?" tanya Aiwa sambil mengimbangi langkah kaki Gevando.
Saat itu juga, Gevando langsung berhenti, dan menoleh pada Aiwa yang terlihat kelelahan karena mengejar dirinya yang jalannya begitu cepat.
"Di belakang, ayo kita pulang."
"Pulang, perut aku lapar. Kita beli makan dulu ya, Kak."
__ADS_1
"Bukannya tadi kamu itu udah makan, gak gak, kita makan di rumah aja."
"Beli bakso aja deh, ya ya ya. Mau ya, Kak ... aku lapar lagi nih."
"Bawel, tetap aja bawel. Kamu itu ya, dari dulu selalu merepotkan, Ya deh ya, kita beli bakso."
"Nah, gitu dong. Makasih ya, akak sayang."
"Gak usah ngelantur, gak lucu." Kata Gevando yang tak lupa menyentil keningnya Aiwa.
"Aw! sakit tau, Kak."
"Bod_oh amat, yang sakit kan, kamu sendiri, bukan aku."
"Iiiiiih, Kak Vando ini bikin jengkel mulu deh."
"Sudah, ayo buruan." Ucap Gevando yang langsung menarik tangan milik Aiwa.
Meski terlihat kesal, Aiwa tidak mempermasalahkannya, karena ia tahu, meski Gevando galak, tetap memberi perhatian kepadanya, walau dengan terpaksa.
Aiwa percaya, bahwa pada suatu saat nanti, Gevando akan berubah dan mau memberi cinta untuknya, pikir Aiwa yang tetap optimis. Tidak peduli baginya, jika selalu mendapat sikap jutek yang diterimanya.
Sedangkan Rey dan Evana baru saja selesai mengganti pakaiannya, kini keduanya sudah terlihat rapi. Meski sama sekali tidak membersihkan diri, keduanya tetap terlihat baik-baik saja layaknya tidak terjadi sesuatu pada keduanya.
Evana yang teringat akan tanda kepemilikan yang diberikan oleh suaminya, langsung sibuk mencari sesuatu yang bisa dijadikan penutup.
"Kamu sedang mencari apa?" tanya Rey yang melihat istrinya seperti tengah mencari sesuatu.
Tanpa malu-malu, Evana mengatakannya langsung dengan jujur.
"Nyari sesuatu yang bisa menutupi tanda ini." Jawab Evana sambil menunjuk ke leher jenjangnya.
"Oh, itu. Rambutmu di urai aja, nanti jalannya, aku akan merangkul kamu, biar gak ada yang melihat tanda kepemilikan yang aku berikan sama kamu." Ucap Rey memberi saran kepada istrinya.
Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya nurut dengan saran yang diberikan oleh suaminya.
"Bagaimana, sudah tidak ada yang tertinggal, 'kan?" tanya Rey sambil mengenakan sepatunya.
"Gak ada. Oh ya, baju yang basah ini mau di bawa pulang atau gimana, Boa?"
"Biarin aja disini, nanti orang suruhanku yang akan membereskannya. Lebih baik kita segera pergi dari tempat ini."
__ADS_1
Evana mengangguk. Setelah itu, keduanya segera pergi meninggal tempat yang dijadikan tempat untuk singgah serta berteduh.