Istri Yang Kau Jandakan

Istri Yang Kau Jandakan
Beralasan


__ADS_3

Radit yang dikagetkan Evana jatuh pingsan, ia segera menangkap tubuhnya. Alhasil, Radit jatuh bersamaan dengan Evana yang pingsan begitu saja saat menabrak dirinya.


"Va, kamu kenapa, Va? Eva! bangun." Panggil Radit sambil menepuk-nepuk kedua pipinya, berharap akan sadarkan diri dari pingsannya.


Nenek Muna yang dapat melihatnya walau hanya sekilas saja, tahu betul kalau yang dikejar itu adalah Evana.


Ardi yang melihat mantan istrinya jatuh pingsan, ia langsung mendekatinya. Sedangkan Radit, langsung membawanya ke puskesmas terdekat, yakni masih dalam ruang lingkup balai desa.


Nenek Muna maupun Ardi yang ikut cemas dan khawatir akan keadaan Evana, bergegas mengejar Radit yang tengah berlari untuk memberi pertolongan kepada Evana.


"Bu Dokter, tolong tangani pasien dengan baik." Pintu Radit penuh khawatir, Bu Dokter mengangguk dan segera memeriksa kondisinya Evana.


Radit yang sedari tadi mondar-mandir sambil menunggu, ikut sedih dengan musibah yang menimpa teman kecilnya.


"Bagaimana keadaan Evana?" tanya Ardi pada Radit dengan napasnya yang ngos-ngosan, lantaran mengejar Radit yang membawa mantan istrinya sampai di puskesmas.


"Ya Nak Radit, bagaimana kondisinya Evana? baik-baik saja, 'kan?" tanya Nenek Muna yang sudah tidak sabar untuk melihat kondisi Evana, tentu saja sangat khawatir akan keadaannya.


"Maaf, jika saya lancang. Kalau boleh tahu, apakah Bapak mengenal Evana? maksud saya, bukan kenal barusan."


Dengan rasa penasaran dan ingin tahu, akhirnya memberanikan diri untuk bertanya pada lelaki yang usianya diatas dirinya.


Ardi mencoba tersenyum ramah pada Radit.


"Ardi, ngapain kamu kemari? kita sudah ditunggu oleh Bapak kades loh, ayo kita ke temui. Soalnya masih ada hal penting lainnya yang harus kita selesaikan, ayo cepetan."


"Tapi Ded, ini penting." Jawab Ardi yang bingung mengatakannya apa, serta bagaimana harus menjelaskannya.


"Lebih penting mana sama rencana kita, sudahlah ayo ikut aku." Ucap Deden, rekan kerjanya.


Ardi yang tidak mau kehilangan jejak mantan istrinya, terasa berat untuk meninggalkannya.


"Ya, Pak, biar saya yang akan menjaga Evana." Timpal Radit ikut bicara, Ardi hanya mengangguk.


"Nek, dan kamu yang tidak saya kenal, saya permisi." Ucap Ardi berpamitan, Nenek Muna mengangguk dan menyimpan rasa penasaran, sama halnya seperti Radit yang juga penasaran dengan sosok laki-laki berpenampilan keren, yakni tiba-tiba mengejar Evana.


Nenek Muna yang mendapati Radit tengah bengong, langsung menepuk tangannya tepat di punggung Radit.

__ADS_1


"Nenek, bikin kaget aja. Tadi itu, siapa sih Nek? perasaan kek kenal gitu sama Evana, apa ya, laki-laki tadi orang yang dikenal dari kota?"


"Mungkin aja, Nenek hanya menebaknya saja. Ya udah, ayo kita temui Evana, kita lihat kondisinya."


"Ya, Nek, mungkin aja itu laki-laki kenal di kota." Ucap Radit tanpa mencurigai sosok lelaki yang bernama Ardi sedikitpun, entahlah.


"Sudah, gak perlu kamu pikirkan. Ayo kita temui Evana, Dit." Ajak Nenek Muna yang sudah tidak sabar dan ingin melihat kondisinya.


"Ya, Nek." Jawab Radit, dan bergegas masuk ke ruang pemeriksaan untuk melihat kondisi Evana.


Alangkah terkejutnya saat mendapati Evana yang sudah sadarkan diri dalam ruangan pemeriksaan.


"Eva, kamu gak apa-apa, 'kan? katakan padaku, mana yang sakit?" tanya Radit dengan perasaan khawatir.


"Aku baik-baik saja, Dit. Oh ya, laki-laki yang tadi mengejar aku, mana?"


"Sudah pergi, memangnya kenapa dengan laki-laki itu, Nak?" tanya Nenek Muna menimpali.


Evana tersenyum, dan menggelengkan kepalanya.


"Gak ada apa-apa kok, Nek. Tadi hanya salah paham aja, Evana takut." Jawab Evana beralasan.


Evana mengangguk, yakni untuk meyakinkan Radit dan juga Nenek. Meski tahu apa yang ia katakan adalah salah, Evana merasa belum siap untuk berterus terang.


Karena tidak ada yang perlu di curigai, Radit bertanya mengenai kondisi Evana.


"Maaf, Bu, Bagaimana keadaan Evana? apakah keadaannya baik-baik saja? atau, masih butuh perawatan."


"Keadaannya baik-baik saja, juga boleh pulang. Mungkin karena shock aja, jadi kaget, terus pingsan." Jawabnya.


"Oh, kalau gitu kami pamit." Ucap Radit, Evana maupun Nenek Muna juga ikutan berpamitan.


Sedangkan di tempat lain, yakni di dalam ruang kantor balai desa, Ardi mondar-mandir tidak tenang, lantaran tengah sibuk memikirkan mantan istrinya.


"Di, sebenarnya kamu ini kenapa sih? perasaan dari tadi aku perhatikan, kamu kek orang bingung gitu, khawatir juga, campur aduk pokoknya deh."


"Ya nih, Lu kenapa, Di?" timpal teman satunya ikut heran dengan sikap Ardi yang aneh menurutnya.

__ADS_1


"Gak apa-apa, kapan ini acaranya selesai?" tanya Ardi yang sudah tidak sabar untuk menemui mantan istrinya.


"Serius, kamu gak sedang ada masalah?" tanya Deden ingin tahu.


"Serius,"


"Terus, tadi aku lihat kalau kamu sedang mengejar perempuan, siapa?"


"Ya Di, tadi perempuan yang kamu kejar itu siapa?"


"Hus, diam. Ada yang datang ke sini, diam dulu." Kata Ardi yang melihat beberapa orang kantor desa menghampirinya.


Sebelum berhadapan dengan orang-orang kantor desa, Ardi membuang napasnya dengan kasar.


'Setelah ini, aku harus menemui Evana, apapun caranya.' Batin Ardi yang kesulitan berkonsentrasi saat mengobrol penting dengan pegawai kantor balai desa.


Lain lagi di rumah sakit, Reyzan sedikit-sedikit mulai ada perubahan. Sedangkan kedua orang tuanya hanya bisa nurut dengan apa yang diinginkan putranya, termasuk untuk mencari keberadaan Evana.


"Kak Rey, gimana keadaannya? maaf, aku baru bisa datang jenguk Kakak." Ucap Gevando yang baru saja datang ke rumah sakit jam makan siang.


Rey sama sekali tidak menanggapinya, ia tertunduk sedih saat harus kehilangan cara untuk mengetahui keberadaan istrinya. Napasnya mulai terasa sesak, pikirannya berubah tidak karuan.


"Aku ingin istirahat, jangan ganggu aku, pergilah dari hadapanku."


Rey langsung berbaring dengan kondisi kedua tangannya yang menyilang di atas dada bidangnya, yakni sengaja menghindari untuk mengobrol, dan pastinya teringat kemana perginya sang istri.


"Ya, Kak, silakan istirahat." Kata Gevando dan mendekati kedua orang tuanya yang tengah duduk di depan ruang pasien.


"Gimana dengan kakak kamu, Van?" tanya sang ibu penasaran.


"Sepertinya Kak Rey ingin bertemu dengan istrinya, Ma. Aku sendiri dapat melihat dari aura wajahnya. Sudahlah Ma, gak perlu Mama percaya dengan isu itu. Percayalah sama aku, Evana bukan seperti yang Mama sangkakan. Dia perempuan baik-baik, karena duluan aku yang mengenal Evana ketimbang Kak Rey. Jadi, aku tahu siapa itu Evana." Jawab Gevando mencoba untuk meyakinkan ibunya, berharap akan memikirkan kembali untuk kesehatan kakaknya, pikir Gevando.


"Kamu yakin? Mama masih belum percaya dengan yang kamu ucapkan barusan, karena Mama mendengarnya sendiri dan melihat CCTV itu, Van. Nyata dan jelas nyata, apa yang sudah diucapkan oleh Kakak kamu dan juga istrinya."


"Gak perlu bingung, Papa punya rencana sendiri." Timpal sang ayah ikut memberi saran.


"Rencana apa yang akan Papa lakukan?" tanya Gevando penasaran.

__ADS_1


"Sudahlah, nanti kita bahas lagi. Sekarang lebih baik kamu kembali ke kantor, Mama sama Papa yang akan menunggu kakak kamu." Kata sang ayah, Gevando tidak punya pilihan lain selain nurut dengan ayahnya.


__ADS_2