
Namun, tiba-tiba Neti teringat dengan kalimat mengenai Veria, perempuan yang ditunggu-tunggu untuk masuk penjara.
"Va, tunggu. Tadi kamu bilang, nunggu Veria masuk penjara, maksudnya apaan?"
Dengan detail, Evana menjelaskannya sama Neti, dan tidak ada yang tertinggal sesuai yang dikatakan oleh Bosnya sendiri saat menjelaskan padanya mengenai Veria.
"Jadi, Veria berada dalam kasus besar? gila ya itu anak, udah psik_opat gitu. Kejam banget dia, demi si Bos, dia rela melakukan kejahatan. Benar-benar itu anak, gak jera juga rupanya."
"Ya, makanya itu, semua akan bebas, jika Veria sudah masuk penjaga." Kata Evana.
"Tapi, Va."
"Tapi kenapa, Net?"
"Aku takut, kamu juga bakal jadi incaran Veria, bagaimana? dah deh, kamu batalkan aja pernikahan kamu sama Bos Rey. Mendingan kamu nikah aja sama Gevando, yang jelas-jelas kamu gak bakal punya pesaing." Ucap Neti berubah menjadi khawatir.
"Gak, Va. Ini sudah menjadi keputusan aku, dan semua aku rasa bisa diatasi." Kata Evana yang tetap dengan pendiriannya.
"Tapi, ini sangat berat untukmu. Kalau sampai kamu jatuh cinta sama si Bos, gimana? ingat loh, kamu satu kamar. Tidak cuma itu aja, kamu dan Bos itu, sudah pernah menikah. Kamu pasti sudah tahu kan, maksudku ini."
Evana sejenak berpikir, kemudian ingatannya kembali dengan nasehat yang diberikan oleh Neti, yakni untuk konsultasi dengan dokter.
"Aku pastikan, semua akan baik-baik saja. Udah ah, kita istirahat yuk."
"Ya deh, terserah kamu aja. Aku hanya bisa mendoakan kamu, dan menyemangati kamu."
Setelah tidak ada yang perlu untuk dibicarakan, Evana dan Neti segera beristirahat. Cukup panjang untuk melewati malamnya, keduanya terhanyut dalam mimpinya masing-masing.
Tetapi tidak untuk Ardi, justru dirinya tidak bisa tenang. Berkali-kali dirinya hanya bolak-balik saat berada di dalam kamarnya.
Ingatannya kembali dengan kenangan bersama istrinya dulu, saat baru menikah. Kenangan dalam rumah milik orang tuanya, telah menjadi saksi dipersatukannya cinta diantara keduanya.
Sebuah foto pernikahan, terpajang di atas tempat tidur. Senyum bahagia oleh keduanya, kini telah berubah dengan luka.
"Aaaaaa!" teriak Ardi sekencang mungkin.
Tentu saja, mengagetkan semua yang ada di dalam rumah. Ardi memegangi kepalanya yang terasa penat, penyesalan terus menghantui pikirannya.
Ditambah lagi dengan apa yang diucapkan Lely, yakni mengenai kehamilannya. Bukannya bahagia seperti yang diharapkannya, justru dirinya kini tak menginginkan kabar kehamilan pada Lely, perempuan yang dijadikan selingkuhannya.
__ADS_1
"Evana, aku mohon, jangan kamu ceraikan aku. Sekarang aku benar-benar menyesalinya, dan aku siap menerima hukuman darimu." Ucapnya sambil memegangi kepalanya yang terasa amat sakit.
Sang kakak yang melihat adiknya tengah memegangi kepalanya, langsung mendekatinya.
"Kamu kenapa, Ardi? tadi Kakak dengar, bahwa kamu berteriak cukup keras suaranya. Kamu sakit? aku ambilkan kotak obat dulu."
"Gak, aku gak kenapa-kenapa, Kak. Aku hanya kangen aja sama Evana, hanya itu." Jawab Ardi tidak ada yang ditutup-tutupi.
"Kangen, kenapa gak kamu jemput saja istrimu. Bicarakan baik-baik, dan minta maaflah sama istrimu."
Ardi menggelengkan kepalanya.
"Gak, Kak. Evana sudah memutuskan sendiri, bahwa dia ingin bercerai. Dan aku rasa, Evana gak bakal mau untuk kembali lagi bersamaku."
"Serius?"
Ardi mengangguk.
"Ya, mungkin aku dan Evana memang ditakdirkan gak berjodoh. Aku sudah menjadi pengkhianat untuknya."
"Kamu belum mencobanya lagi, siapa tahu aja, istri kamu berubah pikiran." Kata sang kakak, Ardi tetap saja menggelengkan kepalanya, karena tidak merasa yakin seratus persen, jika Evana mau menerimanya kembali.
"Kamu belum mencobanya yang kedua kali."
"Apa kamu yakin, jika si Lely itu benar-benar hamil anakmu?"
"Aku tidak tahu, Kak."
"Nanti akan Kakak bantu untuk mendapatkan informasi lebih detail lagi mengenai Lely, kamu fokus saja dengan tujuan kamu. Ingat, jangan kamu sia-siakan." Kata sang kakak mengingatkan.
"Aku akan datangi Evana di rumah kosannya besok pagi." Jawab Ardi.
"Nah, gitu dong. Kamu harus yakin, ok. Ya udah, sekarang lebih baik kamu istirahat." Kata sang kakak sambil menepuk pundak milik adiknya, Ardi mengangguk tanda mengerti.
Setelah merasa tenang, Ardi kembali melanjutkan tidurnya berteman kesepian. Biasanya ada sang istri yang dapat ia peluk ketika tidur, kini hanya khayalan semua yang sulit untuk jadi nyata.
Tak terasa melewati malam hari, pagi yang cerah telah menyambutnya dengan semangat. Ardi segera bergegas mandi dan bersiap-siap untuk menemui Evana.
Tidak ada lagi yang tertinggal, Ardi segera keluar dari kamarnya. Yuda sebagai kakak kandungnya, tersenyum saat mendapati adiknya yang kembali bersemangat.
__ADS_1
"Nah, gini kan enak jika dipandang. Sarapan dulu, gak terlambat, gak."
"Tapi, Kak. Aku takutnya Evana sudah berangkat, sarapannya nanti pulangnya aja." Jawab Ardi yang langsung berpamitan.
Sang kakak tak mempunyai hak apapun, kecuali hanya bisa mengingatkan.
Sedangkan Evana, kini tengah menikmati sarapan pagi bersama Neti.
"Kamu seriusan nih, mau berangkat sama Bos Rey."
"Ya, serius."
"Aku berangkat sendirian dong, ya jahatnya kamu."
Evana justru tertawa kecil saat melihat ekspresi Neti yang dibuat cemberut.
"Ketawa, lagi."
"Lucu aja sama ekspresi kamu itu. Tenang aja, nanti aku minta sama Bos Rey untuk mengantarkan kamu ke kantor."
"Hem. Tetap aja, pulangnya sendirian. Tapi gak apa-apa lah, penting urusan kamu sama Ardi cepat selesai. Soalnya aku gak ingin, kamu terus-menerus kepikiran Ardi, aku gak mau kamu akan disakiti yang kedua kalinya. Tapi, apa kamu sudah yakin untuk berpisah? maksudnya aku becerai? ya ... siapa tahu aja, Ardi bertobat dan benar-benar gak akan mengulangi lagi." Kata Neti yang tak lupa untuk mengingatkan.
"Keputusan aku sudah bulat, yakni bercerai. Mungkin kalau aku ada anak dengan Mas Ardi, aku akan berpikir panjang. Tapi ini, aku gak punya anak bersama Mas Ardi, untuk siapa aku bertahan kepada orang berkhianat."
"Benar,"
"Ya udah, kita lanjutkan lagi sarapannya. Takutnya, si Bos keburu datang." Ucap Evana sambil mengunyah makanan.
Tidak lama juga, terdengar suara mobil telah berhenti di depan rumah kosan.
Evana yang kebetulan sudah selesai sarapan, cepat-cepat untuk keluar.
"Net, keknya Bos Rey sudah datang deh. Yuk, buruan keluar." Ucap Evana.
"Ya, kamu lihat aja dulu. Aku mau ambil tas kerjaku sebentar." Jawab Neti sambil bangkit dari posisi duduknya.
Evana yang tidak ada yang tertinggal, ia langsung membuka pintunya.
Alangkah terkejutnya saat melihat sosok Ardi di hadapannya.
__ADS_1
"Mas Ardi, ada perlu apa?" tanya Evana bercampur kesal dan juga gugup.
Saat itu juga, mobil mewah baru saja berhenti di belakang mobilnya Ardi. Tentu saja, keduanya langsung melihatnya hingga pemilik mobil turun dari mobilnya.