
Sambil berjalan memasuki restoran, tiba-tiba dikejutkan oleh seseorang yang juga baru saja datang.
"Gevando!"
Dengan reflek, Neti memanggilnya.
Seketika, Gevando langsung menghampirinya.
"Kalian, ada acara apa ke restoran ini?" tanyanya sambil memperhatikan Evana yang terlihat seperti menahan sakit.
Meski masih bisa untuk berjalan, tetap saja masih ada rasa sakit yang tertinggal.
"Kami mau makan, kenapa? kamu sendiri ngapain disini? kenapa tidak makan di rumah saja." Kata Reyzan sambil menatap adik laki-lakinya.
"Aku sedang ada pertemuan, biasa anak muda." Ucap Gevando dengan santai.
Saat itu juga, datanglah beberapa temannya, termasuk Raka, kekasih Neti.
"Raka!"
Neti pun terkejut saat mendapati kekasihnya berada di restoran. Rasa cemburu tiba-tiba nyantol di benak pikirannya, meski yang ia lihat hanya lelaki semuanya.
"Sayang, kamu darimana saja. Kenapa jam segini kamu belum juga pulang, apa ada pekerjaan tambahan?"
"Gak ada, tadi habis melayat di rumah ibu mertuanya Evana, beliau sudah berpulang untuk selama-lamanya." Jawab Neti berterus terang.
"Oh, kirain. Ya udah, aku mau kumpul bareng dengan Gevando, tidak apa-apa, 'kan?"
"Ya, gak apa-apa." Jawab Neti, sampai tak sadar, jika Rey dan Evana sudah duduk yang jaraknya tidak jauh darinya.
"Eva, Bos Rey, dimana mereka berdua?" gumamnya sambil celingukan mencari keberadaan Bosnya, juga Evana.
"Net, ke sini." Panggil Evana pada temannya sambil melambaikan tangannya.
Neti akhirnya merasa lega, rupanya tengah di kerjain, pikirnya.
"Kirain gak jadi makan, ternyata duduk di sini." Ucap Neti sanbil menarik kursinya.
Sedangkan Gevando dan teman-temannya pindah tempat duduknya, tentu saja agak dekat jaraknya dengan tempat duduknya sang kakak.
Rey yang dapat mencerna maksud dari adiknya, justru memperkeruh suasana hati Gevando.
Rey sengaja pergi sebentar, dan kembali lagi. Kemudian, duduk di sebelah Evana.
__ADS_1
Neti yang melihatnya, pun merasa aneh dan juga curiga. Sedangkan Evana sendiri merasa risih saat Bosnya duduk di sebelahnya.
"Kalau kamu ingin satu meja dengan pacar kamu, silakan. Kalau gak, juga gak apa-apa. Gak ada niat untuk mengusir kamu, siapa tahu aja, pingin makan sambil mengobrol." Ucap Rey membuka suara, tepatnya berbicara dengan Neti.
Neti yang bingung, antara pindah tempat duduk atau tidaknya, Neti terus berpikir dan mencoba untuk mencernanya.
'Apa ya, Bos Rey tengah melakukan pendekatan dengan Evana? sepertinya sih memang begitu. Tapi, gimana dengan perasaannya Gevando kalau lihat pemandangan yang seperti ini? pasti akan marah besar padaku.' Batin Neti yang kebingungan.
"Kalau gak mau juga gak apa-apa, duduklah dengan tenang. Kamu gak usah gugup ataupun takut, aku gak akan memecatmu." Kata Rey sambil menunggu pesannya datang.
Evana sendiri sama sekali tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Bosnya. Berkali-kali mencernanya, tetap saja tidak menemukan jawabannya.
Saat itu juga, entah ada angin apa, Raka datang menghampiri Neti.
"Sayang, kita makan satu meja aja yuk?"
"Tapi kan, kamu harus kumpul bersama teman-temanmu." Kata Neti.
"Gak juga gak apa-apa. Sudah yuk ah, ikut aku, nanti pesannya suruh mengantarkan di meja nomor tiga puluh delapan." Ucap Raka sambil menarik tangannya.
Rey yang merasa janggal, ia berusaha untuk berpikir positif.
"Va, gak apa-apa kan, jika aku pindah tempat dudukku?" tanya Neti merasa tidak enak hati dengan temannya.
Tanpa disadari, jika dirinya juga hanya berdua dengan Bosnya.
"Sudah cepetan sana, makan bareng sama kekasih kamu." Kata Evana seraya mengusirnya.
"Serius nih? ya udah kalau gitu, aku tinggal ya?"
Evana mengangguk dan tersenyum, dan dibalas senyumnya oleh Neti.
Kini, tinggal Evana dan Bosnya yang berada dalam satu meja.
Evana yang baru menyadari jika dirinya hanya berdua dengan si Bos, benar-benar dibuat jantungan.
"Kita cuma berdua aja nih, Bos?"
"Ya lah, memang mau ditambahin siapa lagi." Jawab Rey dengan datar.
"Aku yang akan tambahin, bagaimana?"
Suara Gevando benar-benar membuat Rey dan Evana terkejut dibuatnya.
__ADS_1
Rey hanya menoleh tanpa ekspresi apapun.
Evana bingung harus menanggapinya atau mengabaikan kehadirannya Gevando.
"Va, aku turut berdukacita ya, atas meninggalnya Ibu mertua kamu. Oh ya, kamu gak nginap di rumah mendiang ibu mertua?"
Evana menggeleng, sedangkan Rey hanya menjadi pendengar setia.
"Gak, aku gak mau bertambah masalah aja." Jawab Evana tanpa ada yang ditutup-tutupi.
"Ya juga sih." Kata Gevando.
Kemudian, menoleh pada kakaknya sendiri.
"Sudah ngomongnya? kembali ke tempat duduk mu yang semula. Kamu tahu, kalau duduk hanya bertiga, akan mengakibatkan kesialan pada salah satunya. Jadi, aku takut jika kamu akan ketiban sial, maka menyingkir lah." Ucap Rey sengaja mengusir adiknya secara halus.
Bukannya marah saat sang kakak mengusir dirinya, justru tersenyum lebar.
"Justru itu, duduk berdua itu sangat bahaya. Apalagi sama-sama tuanya, eh! maaf, sengaja. Eh! maksudnya aku itu gak sengaja, maaf. Jadi, kalau duduknya berpasangan itu, harus ada yang jaga. Karena apa, takutnya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan." Kata Gevando dengan asal, setidaknya dirinya tidak di usir oleh kakaknya.
Rey yang mengetahui maksud dan tujuan dari adik laki-lakinya, hanya menatapnya dengan tajam. Evana sendiri merasa bingung dibuatnya.
Tidak lama kemudian, pesannya pun datang. Evana dapat bernapas dengan lega. Pasalnya, dirinya tak lagi harus pusing untuk melihat dan mendengarkan kakak beradik yang saling membenarkan kalimatnya masing-masing.
Tidak ada cara lain selain mengambil kesempatan untuk mengantarkan makanan untuk Neti, yakni untuk menghindari kakak-beradik yang ada di hadapannya itu.
"Kamu mau kemana?" tanya Rey dan juga Gevando secara bersamaan saat Evana hendak bangkit dari posisi duduknya.
Bahkan, kedua tangannya di tahan oleh Rey maupun Gevando, adiknya sendiri.
Saat itu juga, Evana melihat tangan kanan dan kirinya secara bergantian. Seketika, Rey juga adiknya sama-sama langsung melepaskannya.
Namun, Rey kembali memeganginya.
"Aku mau mengantarkan makanan ini kepada Neti, Bos." Jawab Evana berterus terang.
"Gak, aku gak akan izinkan kamu untuk mengantarkan makanan ini ke Neti. Ada Gevando yang bisa di mintai bantuan. Kalaupun sampai tidak mau, kita akan mencari restoran lain, tentunya agar tidak mendapat gangguan seperti ini." Kata Bosnya.
Gevando yang dijadikan sasaran empuk oleh kakaknya, terasa geram dan ingin sekali menjadikan kakaknya sendiri bak adonan.
"Tidak perlu, aku bisa mengambilnya sendiri." Ucap Neti yang tiba-tiba sudah datang untuk mengambil makanan miliknya.
Gevando tersenyum lega, akhirnya tidak mendapatkan perintah oleh kakaknya. Rey hanya menatapnya penuh kesal.
__ADS_1