Istri Yang Kau Jandakan

Istri Yang Kau Jandakan
Dikejutkan dalam pertemuan


__ADS_3

Ardi yang tidak mempunyai pilihan lain untuk menjemput rekan kerjanya, akhirnya mau tidak mau meminta Radit untuk mengantarkan dirinya ke Pelabuhan.


"Gimana ini Pak, jadi ngojek gak nih?" tanya Radit.


"Ya deh, mau minta tolong sama siapa lagi. Ya udah, ayo berangkat ke Pelabuhan." Jawab Ardi sedikit terpaksa karena tidak ada ojek lainnya.


Setelah itu, Ardi diantar oleh Radit ke Pelabuhan. Selama dalam perjalanan, tidak ada satupun yang bicara. Keduanya sama-sama diam tak bersuara.


Ditambah lagi dengan rasa cemburu satu sama lain, lantaran ingin mendapatkan cinta dari perempuan yang sama.


"Ini masih jauh atau sudah dekat, Di?" tanya Ardi karena memang sudah merasa bosan duduk di atas motor.


"Bentar lagi sampai kok, Pak. Itu, sudah kelihatan Pelabuhannya." Jawab Radit sambil berlepas tangan untuk menunjukkan arah Pelabuhan yang sudah terlihat dekat.


"Oh ya, benar. Tunggu tunggu, motor kamu kenapa?"


"Ya ya, Pak." Jawab Radit, dan menepikan motornya di pinggir jalanan.


Kemudian, Ardi maupun Radit segera turun untuk memeriksa kondisi motornya.


"Aih! si_al. Kenapa juga pakai bannya bocor, segala. Mana gak ada bengkel, udah sepi juga." Gerutu Radit saat mendapat kesialan.


"Sudahlah, kita dorong aja sampai parkiran sana. Lagian juga gak mungkin untuk di tinggal di sini. Sini, biar aku yang dorong." Kata Ardi.


"Gak usah, biar aku yang bawa." Jawab Radit yang tidak enak hati.


"Sudah, biar aku aja." Kata Ardi, sedangkan Radit tetap bersikukuh untuk mendorong.


Karena tidak bisa memaksa, Ardi akhirnya mendorong dari belakang, sedangkan yang membawanya si Radit.


Cukup melelahkan, Ardi dan Radit akhirnya sampai juga di parkiran. Kemudian, keduanya segera mencari lokasi yang sudah diberitahu oleh rekan kerjanya Ardi.


"Pak, tadi janjinya gimana?" tanya Radit.


"Tadi bilangnya sih mau menunggu di pintu masuk atau gimana. Bentar, aku buka dulu pesannya." Jawab Ardi, dan segera membuka ponselnya untuk melihat lokasi yang dijadikan tempat untuk pertemuan.


"Ini tempatnya, kamu paham?"


"Oh, ya. Ya udah kalau gitu, kita ke sana aja langsung." Jawab Radit dan mengajak Ardi untuk menuju ke lokasi.

__ADS_1


Sedangkan seseorang yang sudah ditunggu, baru saja turun dari kapal.


"Tuan, kita sudah sampai." Ucap supir mobilnya.


"Ya kah, jauh banget ternyata ya, Pak. Oh ya, tadi janjinya bagaimana Pak?"


"Masih sama, Tuan. Tadi bilang katanya di pintu utama, tapi dengan jarak sepuluh meter. Tempat khusus mobil menunggu pertemuan." Kata si Bapak supir.


"Coba deh, Pak Fergi telpon dulu orangnya. Takutnya orangnya sudah menunggu." Ucap Reyzan memberi saran kepada supirnya.


"Baik, Tuan. Kalau begitu saya mau telpon dulu orangnya, permisi sebentar." Jawab Pak Fergi menyingkir, agar tidak kebisingan dengan suara kendaraan yang lewat.


Setelah mendapat arahan, Pak Fergi segera kembali mendekati Bosnya.


"Sudah, Tuan. Sekarang sudah menunggu kita di tempat yang tadi. Tapi sebelumnya, Bapak cek aja dulu ya, Tuan. Takutnya salah orang, Bapak cek dulu kalau gitu."


"Terserah Pak Ferdi aja, mana baiknya." Kata Reyzan yang tidak mau ambil pusing.


"Kalau gitu, lebih baik Tuan masuk aja ke dalam mobil. Takutnya ada orang yang berniat jahat kepada Tuan. Berjaga jaga itu jauh lebih baik, daripada harus menjadi sasaran dari orang yang tidak bertanggung jawab."


Reyzan mengiyakan dengan cara anggukan.


Sambil celingukan, Pak Fergi mencari dia sosok yang disebutkan ciri-cirinya.


"Itu apa ya," gumam Pak Fergi saat melihat dua orang lelaki yang terlihat seperti ciri-ciri yang ia ketahui.


Begitu juga dengan dua orang yang tengah berdiri diseberang jalan, juga tengah mengamati lokasi yang sesuai pesan dari rekan kerjanya Ardi.


"Pak Ardi, itu bukan, orangnya?"


Ardi langsung mengamatinya, dan mencoba untuk menghubungi. Tentu saja, Ardi memastikan benar atau tidaknya orang yang ia maksudkan.


Sambil menghubungi nomor yang dituju, Ardi mengamatinya.


"Ya, Di, benar. Tuh lihat, orangnya angkat telpon dariku." Jawab Ardi dengan yakin.


"Ya juga, ya. Kalau gitu, ayo kita ke sana." Kata Radit dan mengajak untuk menghampirinya.


"Permisi, Pak. Apakah Bapak yang tadi yang menelpon saya?"

__ADS_1


"Ya, saya orangnya. Maaf, Bos saya masih berada dalam mobil." Jawab Pak Fergi dengan jujur.


Ardi yang mendengarnya, pun ada sedikit rasa kesal dengan tingkah calon rekan kerjanya.


'Cih! mentang mentang orang kaya dan menjadi seorang Bos, sampai segitunya tidak mau turun dari mobil hanya untuk menghampiriku.' Batin Ardi dengan rasa kesal.


"Kalau begitu, saya permisi sebentar. Maaf, saya harus menemui Bos saya dulu. Kalau tidak keberatan, saya minta untuk menunggu kami sebentar saja." Ucap Pak Fergi.


"Ya, Pak, silakan." Jawab Ardi dengan anggukan.


Setelah itu, Pak Fergi kembali tempat dimana Bosnya berada. Sedangkan Ardi tengah berpikir untuk mencari cara agar bisa ikut pulang dengan cara nebeng.


"Di, nanti kamu ya, yang minta ikut nebeng. Aku lagi gak berselera untuk meminta bantuan sama orang kaya tapi belagu." Ucap Ardi pada Radit.


"Belagu kenapa, Pak?" tanya Radit ingin tahu.


"Apa kamu itu tidak mengamatinya? hem. Turun dari mobil aja ogah, mentang-mentang jadi Bos, cuih. Mana sok belagu mau ikut kerja sama segala, ogah ikut kerja sama dengan orang sombongnya selangit." Kata Ardi mendengus kesal.


"Hem, jangan naik darah gitu Pak. Ingat, masalah perasaan jangan dibawa ke Pelabuhan, takutnya ikut terhanyut." Ledek Radit yang mulai berani.


"Kau! sok tahu kamu ini. Asal kamu tahu, kau gak bakalan bisa dapetin Evana."


"Sudahlah Pak, buat santai aja. Mau siapa yang dipilih oleh Evana, ya memang itu pilihan dia. Kita sebagai lelaki yang tidak dipilih, harus bisa menerimanya dengan lapang. Jangan sampai kita memperlihatkan kebodohan kita hanya merebutkan seorang perempuan." Ucap Radit begitu sangat jelas untuk didengarnya.


"Namanya perempuan yang kita cintai itu, ya kita pertahankan. Lelaki macam apa kamu ini, menyerah gitu aja." Ucap Ardi yang telah lupa, jika Radit menyukai mantan istrinya.


Saat itu juga, mobil mewah tengah mengagetkan Ardi maupun Radit. Sehingga obrolannya terputus tanpa ada penyelesaian.


Sesuatu yang membuatnya penasaran dengan sosok yang akan melakukan kerjasama dengannya, Ardi memperhatikannya begitu fokus, dari pintu mobil terbuka, hingga turun dari mobilnya.


Sosok laki-laki yang bertubuh tinggi dengan setelan pakaiannya yang terlihat Berwibawa, terlihat begitu sempurna, kini tengah berjalan menghampirinya.


"Sepertinya aku kenal dengan itu orang, tapi siapa?" gumam Ardi sambil mengingat seseorang yang pernah ia temui.


Semakin dekat, membuat Ardi semakin berpikir keras untuk mengingatnya.


"Kamu!"


Keduanya sama-sama terkejut saat melihat satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2