
Cukup lama dalam menempuh perjalanan menuju kampung yang akan dituju, Reyzan memilih naik kapal laut, tentunya ditemani oleh supirnya.
"Jauh juga ya, Pak. Saya kira siang ini sampai ke kampung, tetapi kenyataannya masih berada di kapal."
"Tuan sih, kenapa gak naik pesawat aja. Jadi, Tuan gak kecapean."
"Ya sih, Pak. Saya pikir naik mobil itu jauh lebih nyaman, dan gak harus nyewa mobil saat sampai di kampung. Bukannya ngirit, tapi kenyamanan lebih enak milik sendiri."
"Ya, Tuan. Yang di katakan Tuan Rey itu memang benar, lebih nyaman milik sendiri. Mau bagus, mau jelek, intinya milik sendiri, Tuan." Kata si Bapak supir.
"Ya udah kalau gitu, saya pindah ke sana ya, Pak."
"Silakan, Tuan." Jawab Pak supir
Setelah izin, Rey eninggalkan supir pribadinya ke lain tempat. Tentu saja, Rey ingin menikmati suasana di siang hari bercambur terik matahari sambil menikmati pemandangan yang begitu luas, juga lautan yang tak kalah bagusnya dengan pemandangan yang lainnya.
Lain lagi di kampung, Evana tengah menemani Nenek Muna yang sedang memanen sayuran. Meski tengah hamil muda, Evana tidak pernah mengeluh saat menjalani masa-masa ngidamnya. Terkadang dirinya juga harus menahan mual, juga pusing kepala.
Tidak terasa juga, rupanya sudah waktunya untuk istirahat. Nenek Muna maupun Evana segera menyudahi pekerjaannya, dan beralih untuk istirahat.
"Gak kerasa ya, Nek, udah mau selesai. Ternyata hidup di kampung itu jauh lebih enak dan gak banyak beban pengeluaran. Bayangkan aja, apa yang kita tanama, bisa kita jual dan kita bisa menikmati hasil pertanian kita. Jadi, gak harus beli sayuran, juga lauk pauknya, bumbu dapur juga, kita cuma butuh garam. Jadi pingin menetap di kampung, lebih nyaman dan tidak mudah terbawa gengsi." Ucap Evana begitu panjang, si Nenek hanya menghela napasnya.
"Bukannya lebih enak tinggal di kota, kita gak ketinggalan jaman." Kata si Nenek.
"Tapi membosankan, Nek. Di kota itu kebanyakan bersaing yang terlalu menggebu, taruhannya juga lebih besar. Jadi, menurut Eva itu, enakan di kampung. Palingan juga harus tebal telinga, sama cuek, dan anggap angin lewat." Ucap Evana melepaskan sarung tangannya.
"Permisi, Nek." Ucap seorang laki-laki tengah mengagetkan Nenek Muna, juga Evana.
Keduanya pun langsung menoleh.
"Eh, kamu Jo, ada apa?"
"Ini, Nek, ada pesanan untuk Neng Eva." Jawabnya.
"Dari siapa, Jo?"
"Dari Radit, Nek." Jawabnya dengan jujur.
"Dari Radit?"
"Ya, Nek, benar." Jawab Jojon dengan anggukan.
Saat itu juga, ponsel Evana berdering dibawah tanaman tomat. Dengan sergap, Evana langsung menyambar ponselnya, dan melihat kontak nama yang muncul di layar ponselnya.
__ADS_1
"Neti." Gumamnya yang masih bisa di dengar oleh Nenek Muna, juga si Jojon.
"Evana angkat dulu ya, Nek." Ucap Evana yang seolah meminta izin kepada Nenek Muna.
"Ya, gak apa-apa." Jawab Nenek Muna mengiyakan.
Evana mengangguk dan segera menerima panggilan dari teman dekatnya di kota.
"Hai juga, Net. Kabarku sangat baik, kamu sendiri bagaimana kabarnya? ada apa kamu menelponku? memangnya kamu gak kerja." Jawab Evana saat mendapat sapaan dari temannya.
Dengan serius, Evana mendengarkan apa yang dibicarakan oleh sahabatnya itu.
"Apa! Veria meninggal? terus, kedua orang tuanya di penjara? ya ya ya, nanti aku balik menghubungi kamu. Gak apa-apa kan, kita sudahi dulu sambungan telponnya."
Sontak kaget dan merasa gak enak hati, Evana meminta kepada Neti untuk menyudahi obrolannya.
Neti yang mengerti maksudnya Evana, pun mengiyakan. Saat itu pula, Evana memutus sambungan telponnya.
"Maaf," ucap Evana merasa gak enak hati kepada yang lebih tua darinya.
"Ini Neng, ayam bakarnya." Ucap si Jojon sambil menyodorkan ayam bakarnya.
Evana yang merasa ragu, menoleh pada Nenek Muna. Tentu saja meminta persetujuan.
Dengan ragu dan pelan-pelan, Evana menerimanya.
"Makasih banyak ya, Bang. Maaf, sudah merepotkan. Oh ya, bilang sama Radit, makasih banyak ayam bakarnya." Jawab Evana berterimakasih, meski ada rasa keberatan untuk menerima pemberian dari Radit.
Tapi salah juga jika menolak, pikirnya.
"Ya udah kalau gitu saya permisi ya, Nek, Neng." Ucap Bang Jojon berpamitan, Nenek Muna mengangguk.
"Bilangin sama Radit, jangan keseringan memberi apapun kepada Evana. Bukannya gak mau menerima, takutnya menimbulkan fitnah dan yang lainnya." Kata si Nenek memberi pesan kepada si Jojon.
"Baik, Nek. Nanti akan saya sampaikan pesan dari Nenek Muna. Kalau gitu saya pamit, Nek." Jawab si Jojon dan bergegas pergi setelah berpamitan.
Sedangkan di tempat lainnya beda lagi, setelah makan siang usai melakukan pengamatan pada sebuah pembangunan serta memperluas lahan, Ardi bersama ketiga temannya kini tengah beristirahat.
"Bro, nanti yang jemput kamu ya?"
"A-aku." Sahut Ardi sambil menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya.
"Ya, kamu. Hari ini kita bertiga mau ke tempat yang satunya, jugaan orangnya bawa mobil sendiri kok, Bro. Jadi, kamu cukup jadi petunjuk jalan aja, anggap aja jalan-jalan." Kata si Deden.
__ADS_1
"Hem. Kalian ini ya, selalu mengandalkan aku."
"Bukan gitu, soalnya memang iya."
"Ah, resek kalian bertiga ini. Gak gak gak, aku gak mau sendirian. Si Bani tuh ditinggal, males Gue kalau disuruh jemput sendirian. Ya kalau orangnya asik buat ngobrol, kalau orangnya songong, kek mana? ogah akunya."
"Kalau orangnya songong, tinggalin aja, repot amat Lu. Dah lah, kamu yang jemput. Ya udah ya, kita mau berangkat dulu. Ingat, jemputnya bukan di bandara, tapi di pelabuhan. Jadi, sekarang juga kamu segera bersiap-siap. Oh ya, itu kunci mobilnya ada di atas lemari kecil itu." Timpal Deden, sedangkan Ardi mendengus kesal.
Mau bagaimana lagi, sudah menjadi tugasnya untuk bergantian. Mau tidak mau, ya harus saling bekerja sama.
Ardi yang sudah kalah telak, akhirnya segera bersiap-siap, meski berdecak kesal layaknya emak-emak yang berkacak pinggang.
"Males banget rasanya mau jemput, enakan juga tidur. Aih, awas aja kamu Deden, besok besok gantian Lu yang jemput Doni." Gerutu Ardi terasa malas untuk pergi jauh.
Karena ketiga temannya sudah pergi, Ardi tengah bersiap-siap untuk berangkat.
"Tadi kunci mobilnya di letakkan dimana ya, sama si Deden. Ah ya, itu kunci mobilnya."
Setelah mengambil kunci mobilnya, Ardi segera ke garasi mobil. Baru aja mau buka pintu mobilnya, tiba-tiba dikejutkan dengan sesuatu.
"Apa! bocor? aih! kenapa juga harus ada drama ban bocor segala." Gerutunya bertambah kesal.
Dengan penuh kesal, Ardi menendang ban mobilnya itu. Kemudian, ia segera keluar untuk mencari tukang ojek.
"Pak, disini ada tukang ojek gak ya?" tanya Ardi pada salah satu warga yang lewat di tempat persinggahannya.
"Tukang ojek?"
"Ya, Pak. Ada gak ya, tukang ojeknya?"
"Lah itu tukang ojeknya, Mas." Kata si Bapak saat melihat seseorang yang sudah di kenal sebagai tukang ojek.
"Ojek, Woi! Ojek." Seru Ardi dengan asal, setidaknya dapat di dengar oleh orangnya.
Merasa dipanggil, langsung menghampiri Ardi.
Langsung saja, keduanya sama-sama kaget melihat satu sama lain.
"Nak Radit, si Mas ini lagi nyari ojek. Kebetulan kamunya lewat, jadi Bapak kasih tahu." Kata si Bapak.
Radit mengangguk.
"Ya, Pak. Kebetulan, saya juga baru mau berangkat untuk mencari orderan." Jawab Radit sedikit melirik ke arah Ardi.
__ADS_1
'Si_al, kenapa mesti harus bertemu dengan sainganku. Semoga aja, jangan sampai aku bertemu suaminya Evana, bakal meledak ini detak jantungku.' Batin Ardi merasa sial.