Istri Yang Kau Jandakan

Istri Yang Kau Jandakan
Menolak


__ADS_3

Dengan perasaan yang cukup berat, Radit terpaksa mengantarkan lelaki yang ingin bertemu dengan Evana, perempuan yang sudah lama ia sukai. Sebenarnya ingin sekali menghindari Pak Budi, tetapi sudah ketangkap basah oleh Beliau. Mau tidak mau, Radit akhirnya menyetujui untuk mengantarkan Ardi ke rumah Evana.


Sampainya di depan rumah Evana yang mana bangunannya sudah tua usianya, tetap terlihat bagus dan juga kokoh, karena benar-benar dirawat dengan baik oleh Nenek Muna, seseorang yang menjadi kepercayaan orang tuanya.


"Kok, berhenti?" tanya Ardi pada Radit yang tiba-tiba motornya mendadak mengerem.


Radit menoleh, Ardi menatapnya serius.


"Ya ini rumahnya Evana, Pak." Jawabnya sambil menunjuk pada rumah tua tetapi masih terlihat bagus, juga terdapat tanaman sayuran di rumahnya.


"Yakin ini rumahnya?" tanya Ardi kembali.


"Ya, Pak, ini rumahnya. Bapak tinggal masuk aja ke halaman rumahnya, gak apa-apa." Jawab Radit.


"Beneran nih gak apa-apa, kalau saya melanggar aturan di kampung ini gimana? takutnya saya akan dianggap tidak punya etika saat masuk ke pekarangan orang."


"Di kampung gak gitu, Pak. Selagi kita datangnya dengan sopan, gak masalah." Kata Radit menjelaskan.


"Oh, gitu ya. Kalau gitu makasih banyak ya, Dit. Eh tunggu dulu."


"Kenapa, Pak?" tanya Radit.


Ardi memajukan motornya sambil duduk di jok motornya. Kemudian, ia merogoh saku celananya untuk mengambil dompet miliknya.


"Bapak mau ngapain?" tanya Radit penasaran, meski dirinya bisa menebaknya.


Ardi mengeluarkan dua lembar kertas merah.


"Nih, buat kamu yang sudah mengantar saya ke rumah Evana, ambil saja." Jawab Ardi sambil menyodorkan lembaran kertas merah pada Radit.


"Maaf, Pak, saya gak bisa menerimanya. Lagi pula hanya mengantarkan Bapak ke alamat yang di cari, jadi gak perlu memberi saya upah." Kata Radit sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Gak apa-apa ambil aja, saya gak keberatan. Justru saya sangat berterimakasih kepadamu, karena sudah membantu untuk mencarikan alamatnya Evana." Ucap Ardi.

__ADS_1


"Maaf, maaf banget pokoknya. Uangnya mendingan buat Bapak aja. Ya udah ya, Pak, saya mau lanjut kerja, permisi." Jawab Radit dan langsung melajukan motornya.


Ardi yang tidak memaksa kehendaknya, memasukkan kembali kedalam dompetnya.


"Makasih banyak, Dit." Ucap Ardi dengan suara yang cukup nyaring.


Radit yang sudah pergi dan meninggalkan Ardi yang sendirian, langsung melajukan motornya untuk memasuki halaman rumah mantan istrinya. Namun sebelumnya berpikir sejenak sebelum masuk.


"Kira-kira Evana mau menemui aku apa gak ya? semoga saja masih mau menerima aku untuk main ke rumahnya." Gumamnya sambil memantapkan diri dari keraguannya untuk bertemu dengan mantan istrinya.


Ardi tidak begitu peduli jika mantan istrinya akan mengusirnya, pikir Ardi yang sudah siap dengan segala resikonya.


Dengan nekad, Ardi belok ke halaman rumah mantan istrinya. Dan benar saja, Eva bersama Nenek Muna baru saja keluar dari rumah.


"Mas Ardi."


Dengan suara terkejut, Evana menyebutkan nama mantan istrinya. Ardi cepat-cepat turun dari motor. Nenek Muna masih bingung dengan kedatangan sosok Ardi.


"Selamat sore, Nek, EVa. Maaf, jika sudah mengagetkan." Ucap Ardi berusaha untuk bersikap sopan, apalagi di sebelah mantan istrinya ada seorang Nenek yang terlihat dekat dengan mantan istrinya, tentu saja harus menjaga bicaranya.


"Ada tamu, ajak dia masuk. Dan kamu, Nenek sudah tahu siapa kamu. Jadi, jaga jarak jika kamu ingin bertemu dengan Evana." Ucap Nenek pada Ardi yang terdengar sedikit memberi penekanan padanya.


Ardi yang sadar diri akan statusnya sebagai mantan suami, hanya bisa mengangguk pasrah.


"Ya, Nek. Kedatangan saya kemari hanya ingin bertamu, kedua ingin menanyakan sesuatu hal pada Evana." Jawab Ardi sejujur mungkin.


"Ya udah, sekarang masuk dulu ke rumah. Tidak baik jika bertamu hanya berdiri di depan rumah, ayo masuk dulu." Kata Nenek Muna, Ardi merasa lega karena tidak diusir, pikirnya.


Evana yang sebenarnya merasa enggan untuk menerima mantan suaminya main ke rumahnya, tapi tidak mungkin juga mengusirnya begitu saja, pikirnya. Mau tidak mau, Evana mempersilakannya untuk masuk.


Saat sudah berada di dalam rumah, Evana mempersilakannya untuk duduk. Sedangkan Nenek Muna yang membuatkan minuman.


"Nenek tinggal dulu, kalian berdua silakan mengobrol." Ucap Nenek setelah meletakkan secangkir kopi di atas meja, tepatnya di depan Ardi.

__ADS_1


"Ya, Nek." Jawab keduanya serempak.


Evana yang tengah berhadapan dengan mantan suaminya, seraya baru mengenalinya, gugup dan juga takut pastinya.


Meski keduanya pernah menjalani rumah tangga bersama, tetap aja berasa pendekatan. Begitu juga dengan Ardi sendiri, seperti tengah jatuh cinta lagi dengan mantan istrinya sendiri.


"Maaf, kedatangan Mas Ardi kesini ada perlu apa?" tanya Evana membuka suara.


Ardi yang tidak puas ketika duduknya berhadapan, akhirnya berpindah tempat duduknya di sebelah mantan istrinya.


Evana sedikit ketakutan pastinya, susah payah untuk menggeser posisinya agar tidak berdekatan dengan mantan suaminya.


Naas, posisinya sudah mentok di pinggiran sofa.


"Gak usah takut, aku gak akan ngapa-ngapain kamu. Aku hanya ingin obrolan kita lebih jelas dan juga leluasa." Ucap Ardi.


"Tapi, Mas, aku sudah menikah."


"Aku gak peduli dengan status kamu yang sudah menikah, karena aku tahu, kamu gak mencintai suami kamu." Ucap Ardi asal, seolah mengetahui hubungan pernikahan mantan istrinya.


"Ya tapi kan,"


Ardi langsung meraih tangan mantan istrinya, dan menggenggamnya dengan sangat erat.


"Va, aku mohon, kita balikan lagi seperti dulu. Kita rujuk, kita menikah lagi." Ucap Ardi tanpa merasa bersalah saat ska_ndalnya terbongkar oleh Evana, yang kini sudah menjadi mantan istri.


Bagi Ardi, Evana sudah menikah dengan lelaki lain itu sudah termasuk impas, pikirnya.


Evana berusaha melepaskan tangan mantan suaminya itu, takutnya akan memberi kesempatan pada Ardi.


"Maaf, Mas, aku gak bisa. Aku sudah menikah, dan pernikahan bukan hal permainan. Aku tahu, pernikahanku ini bukan atas dasar rasa cinta, tapi gak mungkin juga aku mempermainkan pernikahan aku sendiri. Jadi, aku mohon sama Mas Ardi untuk tidak membahas kata balikan, kita sudah mempunyai jalan hidup dengan pilihan kita masing-masing." Jawab Evana menjelaskan, juga berusaha menolak dengan kalimat sebaik mungkin agar tidak memancing emosinya.


"Tapi, Va, aku masih mencintai kamu. Aku gak bisa jika harus kehilangan kamu. Va, aku mohon kita balikan lagi. Aku janji untuk tidak mengulangi kesalahan yang kedua kalinya, dan aku janji akan memperbaiki semuanya." Ucap Ardi penuh dengan permohonan, sedangkan Evana perlahan mengatupkan kedua tangannya.

__ADS_1


Evana menggelengkan kepalanya, yakni sudah bulat dengan keputusan yang diambilnya.


"Maaf, Mas, aku benar-benar gak bisa. Lebih baik Mas Ardi mencari wanita lain yang lebih baik dariku, bukan sepertiku yang serba kekurangan. Sekali lagi, aku minta maaf." Jawab Evana dengan tatapan memohon.


__ADS_2