Istri Yang Kau Jandakan

Istri Yang Kau Jandakan
Dipertemukan


__ADS_3

"Aw!" pekik Evana saat punggungnya di tepuk oleh Bosnya.


Evana langsung menoleh ke belakang.


"Bos Rey, ada apa?" tanya Evana yang tidak menyadari ucapan dari Bosnya saat dirinya tengah melamun.


"Hem. Gak ada apa-apa, ayo kita kembali ke kantor. Aku rasa masih ada waktu untuk menyelesaikan pekerjaan kita di kantor, lumayan masih bisa untuk di kejar. Tapi sebelumnya, kita cari makan dulu." Jawab Rey saat hendak membuka pintu mobil untuk sekretarisnya.


"Ya, Bos." Jawab Evana, kemudian segera masuk kedalam mobil, dan disusul oleh Bosnya duduk tempat kemudi.


Selama perjalanan menuju restoran atau warung makan, Evana maupun Bosnya, sama-sama diam dan tidak ada yang bicara.


Evana yang teringat dengan Ardi, rasanya begitu sakit untuk menjalani perpisahan. Mau bagaimanapun, Evana masih ada rasa cinta, meski rasa itu berubah menjadi pahit sepahitnya empedu, tetap saja masih ia ingat akan kenangan indahnya hidup bersama dalam menjalani hubungan penikmat.


Rey yang sedari tadi berkali-kali memperhatikan Evana walau hanya sekilas, dapat dilihat jika Evana seperti tengah memikirkan sesuatu.


'Sepertinya dia terlihat penuh penyesalan, semoga saja tidak.' Batin Rey sambil nyetir mobilnya.


Dengan reflek karena mendapati restoran, Rey langsung belok dengan cara dadakan. Tentu saja, membuat Evana yang tengah melamun, akhirnya dibuatnya kaget.


"Aw!" pekik Evana yang merasakan keningnya terbentur cukup kuat, dan membuatnya meringis kesakitan.


"Makanya, jangan suka ngelamun." Ucap Rey tanpa menoleh pada Evana sedikitpun, ia justru fokus dengan setirnya.


Sampainya di area parkiran, Rey mematikan mesin mobilnya dan baru menoleh pada Evana.


"Kita sudah sampai, ayo turun."


"Ya, Bos." Jawab Evana yang tidak konsentrasi, pikirannya masih saja entah kemana.


Kemudian, disusul Rey yang juga segera turun dari mobilnya. Setelah itu, keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam restoran layaknya sepasang suami-istri bagi yang tidak mengenalinya.


Baru saja mau masuk, tiba-tiba Rey dikagetkan dengan seseorang yang sangat dikenalinya.


"Nak Reyzan, kamu."

__ADS_1


"Ya, Bu, ini saya Reyzan. Apa kabarnya, maafkan saya yang tidak pernah berkunjung ke rumah Ibu." Jawab Rey dengan sopan, tak lupa mencium punggung tangannya.


Evana yang menyaksikannya, pun penasaran akan kedekatan ibu paruh baya dengan Bosnya.


"Kabar Ibu seperti yang kamu lihat, sangat baik." Jawab Beliau dan langsung menoleh pada Evana yang tengah berdiri di sebelah Bosnya.


Diperhatikannya dari ujung kepala hingga sampai ke ujung kakinya.


"Perempuan yang ada di sebelah kamu ini, siapa, Nak?" tanya Beliau penasaran setelah memperhatikannya.


"Dia calon istri saya, Bu. Maafkan saya, jika belum sempat meminta restu kepada Ibu." Jawab Rey akhirnya berterus terang, Beliau tersenyum mendengar pengakuan darinya.


"Cantik, siapa namamu, Nak?" pujinya dan berbalik pandang, lalu bertanya pada Evana.


"Saya, Bu." Jawab Evana sambil menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya.


"Ya, kamu, Nak."


"Saya Evana, Bu." Jawab Evana sedikit gugup, lantaran ibu paruh baya yang ada di hadapannya itu belum ia kenal sama sekali, justru dirinya teramat penasaran.


"Nama yang sangat cantik, seperti pemiliknya. Perkenalkan, nama Ibu, Meilia. Reyzan ini dulunya menantu Ibu, dan sekarang dia menduda. Semoga kamulah jodoh untuknya, jodoh yang terbaik. Kamu mirip sekali dengan anak Ibu, cantik, dan ramah." Ucap Beliau, seketika membuat ingatan Rey kembali kepada mendiang istrinya.


Evana yang mendengarnya, pun ikut sedih atas kepergian istri Bosnya.


"Maafkan Evana ya, Bu. Bukan maksud Evana untuk merebut suami anak Ibu, saya doakan, semoga putri Ibu tenang di tempat peristirahatannya." Jawab Evana yang bingung harus berkata apa.


Ditambah lagi ada Bosnya, sang pemilik kenangan.


"Ya udah, kalau kalian mau masuk ke dalam, Ibu mau pulang. Dan kamu Nak Rey, ajaklah calon istrimu main ke rumah. Ibu kesepian, di rumah tidak ada siapa-siapa lagi. Ibu sekarang sendirian menikmati hidup, main ke rumah ya." Ucap Beliau terlihat memohon.


"Ya, Bu. Akan Rey usahakan untuk datang ke rumah Ibu, tapi tidak untuk hari ini." Jawab Rey berusaha membuat Ibu mertuanya lega.


"Ya, tidak apa-apa, jugaan tidak memaksakan untuk datang hari ini. Ibu tunggu kedatangan kalian berdua." Ucap Beliau, Rey mengangguk dan tersenyum.


Setelah berpamitan pulang, Rey mengajak Evana untuk segera masuk ke dalam restoran.

__ADS_1


Evana sedikit menyimpan rasa penasaran, lebih lagi saat melihat Bosnya tersenyum tanpa beban.


'Sepertinya Bos Rey orangnya gak dingin, mungkinkah karena kehilangan istri tercintanya? sampai-sampai menunjukkan sikap dingin dan juga kaku. Jadi penasaran, seperti apa sosok istrinya itu. Eh, tadi katanya aku mirip dengan istrinya si Bos, ada ada saja ibu mertuanya tadi.' Batin Evana semakin penasaran dengan rumah tangga Bosnya.


Saat keduanya duduk berhadapan, Rey segera pindah untuk duduk di sebelahnya setelah mengamati disekelilingnya. Entah apa tujuannya, Rey sendiri yang tahu.


"Jangan takut, aku gak bakal nerkam kamu. Duduk aja di tempat, jangan geser." Ucap Rey dengan santai.


"Bukan itu maksud aku," kata Evana.


Saat itu pula, Rey langsung menoleh pada Evana dan menatapnya dengan serius.


"Terus, kenapa?" tanya Rey sambil memandangi Evana begitu fokus.


"Bos, jangan menatapku begitu. Percaya deh, aku gak mirip dengan mendiang istrimu. Tadi ibu mertua kamu itu, cuma bohong, serius." Jawab Evana dengan gugup, tak lepas selalu menggigit bibir bawahnya, tentu saja membuat Rey semakin terpancing.


Rey langsung menatap lurus ke depan, tentunya untuk mengalihkan pandangannya dari Evana.


"Sapa juga yang mau mengamati kamu, aku hanya tidak ingin ada yang mencelakai kamu. Secara, sisi kanan dan juga kiri, tidak ada siapa-siapa selain bangku kosong. Jadi, jangan ke ge eran dulu. Aku juga tahu, kamu gak ada mirip-miripnya sama mendiang istriku, jauh, masih cantikan ... Ibuku."


Evana langsung melotot saat Rey menoleh padanya. Kemudian duduk bersandar.


"Hem. Ya ya lah, Bos." Kata Evana sedikit geram, Rey justru tertawa kecil.


"Kamu penasaran ya, besok aku ajak kamu ke rumah orang tua mendiang istriku. Ibunya sangat baik, dan juga sangat menyayangi mendiang istriku walau bukan putrinya sendiri." Ucap Rey dengan jujur tanpa ada yang ditutupi.


"Bukan putrinya?"


"Ya. Ah sudah lah, kita makan dulu, nanti kita lanjutkan lagi obrolan kita."


"Ya, Bos." Jawab Evana.


Evana tidak bisa memaksakan Bosnya untuk bercerita, dirinya memilih untuk nurut dan menikmati makanannya yang sudah dipesan.


Sedangkan di kantor, suasana tetap sama, hanya saja tidak terlihat sosok Bosnya beserta sekretarisnya.

__ADS_1


Veria yang berkali-kali mengecek Bosnya, tetap saja tidak ada di ruang kerjanya. Rasa penasarannya, pun muncul dengan tiba-tiba.


"Apa mereka berdua ada janji? sampai-sampai kompak begini. Aku harus bagaimana untuk memberi jebakan kepada Reyzan, kalau gini terus, aku gagal untuk mendapatkannya. Ah, aku tahu sekarang." Gumamnya saat dirinya tengah sendirian di dalam ruang kerjanya.


__ADS_2