Istri Yang Kau Jandakan

Istri Yang Kau Jandakan
Takut terlambat


__ADS_3

Alangkah terkejutnya saat mendapati Evana yang sudah tidur di ruang tengah beralaskan tikar seadanya.


"Jadi, Evana juga tidak tidur di kamar?" gumamnya saat melihat Evana yang sedang tidur pulas.


Tidak ada pilihan, Neti ikutan tidur di sebelahnya. Meski tidak begitu luas tikarnya, seenggaknya dapat ditempati dua orang.


Cuaca yang terasa gerah di malam hari, rupanya datangnya hujan deras dan suasana berubah menjadi hangat. Semakin larut, hujannya semakin deras. Evana maupun Neti, sama-sama kedinginan. Entah siapa yang memulai duluan, keduanya sudah berpindah tempat ke kamarnya masing-masing.


Sambil meraba sesuatu di sekitarnya, Neti meraih ponselnya yang tidak jauh dari tempat tidurnya.


"Apa! jam setengah tujuh, oh! tidak." Teriak Neti yang tersadar dari mimpi panjangnya.


"Mana hari ini di kantor mau ada acara, lagi. Ah! kenapa aku sampai lupa sih, Neti, Neti. Ah ya, Evana juga mau daftar jadi karyawan baru." Gerutunya sambil menatap layar ponselnya.


Tidak ingin terlambat, Neti segera bangun dan membangunkan Evana yang sepertinya belum juga terlihat suara apapun di dalam kamarnya.


Dilihatnya pintu yang terbuka, Neti segera masuk ke kamarnya dan mencoba untuk membangunkannya.


"Eva, bangun, kita kesiangan. Eva, bangun." Panggil Neti berulang kali untuk membangunkan Evana.


Sedangkan yang dipanggil panggil namanya, hanya mengubah polisinya. Terlihat jelas bahwa Evana masih mengantuk dan juga malas untuk bangun.


"Ya ampun, ini anak. Evana, bangun."


Neti semakin kencang untuk memanggilnya.


Evana yang baru tersadar dari tidur pulsanya, pelan-pelan membuka matanya untuk disempurnakan penglihatannya.


"Neti, kamu sudah bangun, rupanya. Memangnya ini jam berapa ini? masih malam, ya."


Dengan santainya, Evana bertanya pada Neti..


"Masih malam, kata kamu. Nih, lihat jamnya." Jawab Neti sambil menunjukkan layar ponselnya yang menyala, terlihat jelas waktu ditunjukkannya.


Seketika, Evana membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna. Sungguh, semua dari luar dugaannya.

__ADS_1


"Apa! sudah jam tujuh kurang, aih! tidak mungkin." Kata Evana yang langsung menyambar ponsel yang berada ditangan Neti.


Tentu saja, Evana mencoba memastikannya, siapa tahu saja dirinya tengah dikerjain.


Sambil mengucek kedua matanya, Evana menatapnya dengan lekat. Apa lagi kalau bukan memeriksa waktu yang diperlihatkan oleh Neti.


Setelah mencocokkan waktu di ponsel miliknya sendiri, Evana mendongak pada Neti. Begitu luasnya senyuman yang di tunjukkan pada Evana untuk Neti.


"Gimana? bohong, gitu. Sudah, cepetan kamu mandi. Kita tidak punya waktu lagi untuk sarapan pagi. Nanti kita sarapan di kantor, soalnya ini hari sangat padat jadwal kerjaku." Kata Neti dan meminta Evana untuk segera bersiap-siap.


"Baik, Ibu Neti yang sangat cantik." Ucap Evana sambil menyibakkan selimutnya, dan segera mandi.


"Kaga lucu, sudah sana buruan mandi." Perintah Neti sambil mendorong tubuh Evana ke kamar mandi.


"Ya, ya, ya." Kata Evana yang langsung masuk ke kamar mandi.


Begitu juga dengan Neti, sama halnya segera bersiap-siap karena sudah tidak mempunyai waktu yang panjang untuk bersiap-siap.


Saat hendak mau masuk ke kamar mandi, tiba-tiba Neti teringat dengan daya listrik yang sedang dalam perbaikan, langsung lesu gitu saja.


"Duh, terpaksa hanya diusap saja ini badan." Gumamnya dengan lesu.


"Air, mana ini air. Kenapa airnya mendadak kecil gini keluarnya, aih. Neti tidak sedang mengerjai aku, 'kan? mana aku sudah kek gini, lagi. Neti ...!" gerutunya dan berteriak memanggil Neti pada kalimat terakhirnya dengan suara yang cukup nyaring untuk di dengar.


Neti yang mendengar saat namanya dipanggil oleh Evana, hanya bergidik ngeri. Takutnya, setelah keluar dari kamar, dirinya akan mendapatkan omel serta sumpah serapah darinya.


"Bo_doh amat dah, mau marah kek, mau apa kek, terserah." Ucapnya lirih sambil mempercepat untuk bersiap-siap.


Sedangkan Evana yang sudah entah seperti apa kondisinya di dalam kamar mandi, tidak peduli jika tidak karuan ritual mandinya.


"Awas, kau Neti. Lihat ini, badanku tidak karuan rasanya. Entah bau apa, dan entah seperti apa juga ini baunya. Tubuhku masi terasa anyir juga rasanya." Gerutunya sambil bercermin.


Neti yang mendengar celotehan dari Evana, justru tertawa sambil mendekatinya.


"Ah, reseh kamu. Nih, lihat aku. Badanku berasa gak karuan, tau gak sih Net. Aku absen dulu aja, ya ... gak percaya diri akunya. Mana ketemu sama teman kamu itu, lagi. Mendingan kamu aja yang berangkat, ok." Ucap Evana yang sudah menyerah sebelum memulai.

__ADS_1


"Payah kamu, Va. Katanya mau kerja. Baru juga sial gini, udah menyerah saja kamunya." Ucap Neti memprovokasi pada Evana.


"Tapi kan, badanku rasanya gak karuan. Kamu juga sih, kenapa gak bilang dari semalam. Aku kan bisa cuci muka saja kalau gini, Net." Ucapnya sambil mengucir rambutnya.


"Jangankan ngomong sama kamu, aku sendiri aja lupa. Asal kamu tahu aja nih ya, aku sendiri gak mandi, cuma cuci muka dan sikat gigi, dah itu aja."


Yang awalnya mau marah, tiba-tiba Evana gantian mentertawakan Neti.


"Makanya, lain kali tuh diingat-ingat. Dah, aku sudah siap untuk berangkat. Yuk ah, nanti keburu telat kata kamu."


"Ntar, aku ambil tasku dulu. Jangan lupa loh ya, pintu kamar kamu di kunci." Jawab Neti yang tak lupa mengingatkan Evana.


"Ya, Net."


Setelah sudah siap untuk berangkat, keduanya segera keluar dari rumah kosannya.


"Dia siapa, Net? teman kos-kosan baru ya? boleh dong kenalin."


"Ya, dia teman kosanku. Maaf ya Bid, aku bisa kenalin sama kamu." Jawab Neti, terakhir menjulurkan lidahnya seraya mengejek.


"Pelit ah, kamunya."


"Biarin, wek ..." Kata Neti yang terus mengejek Abidzar, tetangga kosannya.


Meski dalam ruang lingkup bercampur aduk, tetap aman dan tidak ada kerusuhan apapun, antara kosan wanita maupun untuk laki-laki.


"Jangan mudah tergoda, soalnya disini nih memang tempatnya raja gombal. Yuk ah, kita berangkat. Nanti bisa-bisa kita ketinggalan mobil busnya." Ucap Neti sambil menarik tangan Evana, supaya jalannya lebih dipercepat lagi.


Abidzar yang melihatnya, hanya menggelengkan kepalanya.


"Awas, kamu Net. Punya teman cantik gak kamu kenalin, aku godain nanti di kantor." Ucapnya sambil menyalakan mesin motornya.


Sedangkan Evana bersama Neti tengah menunggu mobil bus lewat. Sambil menunggu, berkali-kali Neti melihat jam tangannya.


"Mana sih mobilnya, lama banget deh. Sudah hampir telat nih, cepetan dong datang." Gerutunya sambil menghentakkan kedua kakinya berulang kali dan terus menerus karena sudah tidak sabar lagi untuk sampai di kantor.

__ADS_1


Saat merasa sudah bosan, datanglah mobil angkot, tetapi bukan mobil bus lainnya. Melainkan mobil angkot yang akan mengangkut ibu-ibu pergi ke pasar.


"Yah! mobil ini yang datang, udah pasti ini mobil terakhir." Gerutunya dengan lesu.


__ADS_2