Istri Yang Kau Jandakan

Istri Yang Kau Jandakan
Keputusan yang diambil


__ADS_3

Sambil melajukan mobilnya, Reyzan begitu fokus dengan setir mobilnya.


"Kak Rey," panggil Aiwa sambil menoleh pada sang pemilik nama.


"Ya, kenapa?"


"Memangnya Kak Rey gak jadi nikah sama Kak Veria ya, kenapa?" tanya Aiwa ingin tahu.


"Gak kenapa-napa, Kakak merasa gak cocok aja sama Veria, kenapa?"


"Ya gak sih, cuma ingin tahu aja. Aku pikir, Kak Rey menikahnya sama Kak Veria, kan cantik orangnya, pintar juga."


"Cantik dan pintar, tapi gak menjamin Kakak untuk suka sama dia. Kamu kek kaya detektif aja tanya sedetail gitu, gak sedang jadi mata-mata, 'kan?"


Aiwa meringis, dan menggelengkan kepalanya.


"Gak, cuma penasaran aja sama Kak Rey. Perempuan secantik Kak Veria aja di tolak, terus calon istrinya Kak Rey cantiknya kek mana ya? Aaaaa jadi penasaran." Kata Aiwa penasaran.


"Besok, Kakak ajak kamu bertemu dengannya. Tapi ingat, jaga bicaramu." Ucap Rey sambil menyetir.


"Siap, Bos. Oh ya, kabar Tante sama Paman, bagaimana?"


"Mereka semua baik-baik saja."


"Syukurlah kalau gitu,"


"Ya, ngomong-ngomong, tujuan kamu pindah kuliah, untuk apa?"


"Mama mau ke luar negri, katanya mau menetap di Paris. Sedangkan aku gak mau. Jadi, Paman dan Tante memintaku untuk tinggal bersama."


"Hem. Gitu, ya. Kirain ada apa, rupanya kamu sendiri yang gak mau pindah."


Aiwa kembali memasang muka cemberutnya, Rey yang melihatnya justru tertawa kecil.


"Makanya, kalau belajar itu yang sungguh-sungguh. Jadi gak gini nih, mending pindah lokasi daripada ikut sama orang tua. Padahal, kalau kamu ikut orang tua kamu ke luar negri, maka akan bertambah wawasan untukmu. Tidak hanya itu saja, kamu bisa langsung terjun ke dunia karirmu."


"Tapi aku belum siap, Kak."


"Apa perlu, kamu dan Gevando dinikahkan dulu."


"Jangan, jangan. Kak Gevando dingin banget dan juga galak, bisa kelaparan aku kalau nikah sama dia."

__ADS_1


"Terus,"


"Mau fokus kuliah dulu lah, Kak Rey gimana sih."


"Hem, bagus lah kalau gitu."


"Ya dong, katanya suruh rajin belajarnya. Jadi, Kak Gevando lupakan aja dulu."


"Terserah kamu," kata Rey sambil menyetir.


Aiwa hanya meringis.


Tidak lama kemudian, Aiwa dan Rey akhirnya sampai juga di rumah. Dibantu oleh dua asisten, Rey tidak susah payah untuk membawakan barang bawaan miliknya Aiwa.


"Tante ... Aiwa sudah datang. Bagaimana kabarnya, Tante?" sapa Aiwa yang langsung memeluk ibunya Rey.


Setelah itu, ibunya Rey melepaskan pelukan dari Aiwa. Kemudian, kedua pipinya dicubit gemas.


"Kabar Tante sangat baik, udah besar saja kamu, Nak. Tambah cantik, lagi. Kabar Mama sama Papa, bagaimana? katanya mau menetap di luar negri, benarkah?"


"Ya, Tante. Mama sama Papa mau menetap di luar negri, tapi gak tahu itu benar atau cuma bohongan."


"Ya udah, kamu istirahat saja dulu di kamar. Kamu pasti capek dalam perjalanan ke rumah Tante." Ucap ibunya Rey, Aiwa mengangguk dan diantar oleh asisten rumah menuju kamar yang sudah di sediakan.


"Rey," panggil ibunya yang juga ikutan duduk disebelah putranya.


"Ya, Ma." Jawab Rey sambil bersandar.


"Kamu serius, mau menikah dengan perempuan pilihan kamu sendiri? Mama dengar, perempuan itu janda, dan tidak punya siapa-siapa, juga tidak punya rumah, apakah itu benar?"


"Ya, Ma, benar." Jawab Rey dengan anggukan.


"Tidak! Papa tidak setuju. Mau di taruh dimana harga diri Papa kamu ini, kalau kamu menikah dengan perempuan yang tidak mempunyai asal usulnya. Jangan orang tua, rumah saja tidak punya." Sahut sang ayah yang menolaknya mentah-mentah dengan pilihan putranya.


Saat itu juga, Rey langsung berdiri.


"Aku tidak peduli, sekalipun bukan orang kaya. Aku akan tetap menikahinya, itu sudah menjadi pilihanku, Pa."


Sang ayah begitu geram saat mendengar keputusan dari anaknya yang tetap tidak bisa untuk di rubah, yakni menikahi perempuan pilihannya sendiri ketimbang pilihan dari orang tuanya.


"Sudah sudah, hentikan perdebatan kalian berdua. Biarkan Rey memilih pilihannya sendiri, kita lihat sampai satu tahun kedepan. Jika selama satu tahun tidak kunjung hamil juga, Rey harus berpisah, titik." Ucap sang ibu yang akhirnya memberi syarat kepada putranya.

__ADS_1


Entah syarat yang menyulitkan, atau justru memang sengaja, karena sebenarnya sudah menyelidiki calon menantunya.


Rey yang mendengarkan apa yang telah diucapkan ibunya, seakan mendapatkan tantangan yang cukup berat.


"Bagaimana, apa kamu siap menerima syarat dari Mama?" tanya sang ibu untuk memastikan putranya.


"Aku siap menerima syarat dari Mama. Tapi ada syaratnya juga untuk Mama, bagaimana?"


Menerima syarat dari ibunya, tak lupa juga untuk memberi syarat kepada orang tuanya sendiri.


"Memangnya syarat apa yang kamu minta?"


"Aku tidak akan tinggal di rumah ini setelah menikah, bagaimana menurut Mama?"


Seketika, kedua orang tua Rey saling beradu pandang satu sama lain. Keduanya tampak bingung untuk menjawabnya, seraya meminta pendapat.


"Boleh saja, tapi Papa kurangi waktunya. Jika selama delapan bulan belum juga hamil, kamu harus secepatnya bercerai. Jika tidak, kamu akan tetap Papa nikahkan dengan Veria, titik." Ucap sang ayah yang kini ikutan memberi syarat untuk putranya.


"Baik, aku terima syarat dari Papa. Baiklah, kalau gitu persiapkan saja pernikahanku dalam jangka dekat ini. Buatlah pestanya semeriah mungkin, tapi tidak melebihi meriahnya dengan istri pertamaku." Kata Rey berpesan.


"Ya, tenang saja. Papa akan membuat pesta pernikahan kamu dalam jangka waktu dekat ini, beritahu saja tanggal pernikahan kamu." Ucap sang ayah yang pada akhirnya menyetujui permintaan anaknya.


Gevando yang mendengarnya, ada sedikit rasa cemburu terhadap kakaknya. Perempuan yang ia kenali lebih dulu, rupanya harus menjadi miliknya sang kakak. Ingin marah dan juga ingin merebutnya, semua tidak mungkin untuk ia lakukan dengan mudahnya.


Sambil berjalan menuju kamarnya, Gevando sama sekali tidak begitu memperhatikan ke depan dengan fokus, lantaran pikirannya yang entah kemana.


"Aw!" pekik Aiwa yang langsung berpegangan tangan miliknya Gevando yang hampir saja terpeleset dan juga jatuh.


Dengan sigap, Gevando langsung menangkap tubuh Aiwa yang hampir saja terjatuh ke lantai, saat hendak sampai di anak tangga paling terakhir.


Dan akhirnya, keduanya saling menatap satu sama lain. Bagai mimpi, jika dirinya tengah menangkap tubuh Aiwa.


"Kak-kamu, kapan datangnya?"


Sedikit terbata-bata, Gevando seperti tidak percaya dengan siapa ia bertemu.


Aiwa justru tersenyum lebar.


"Tadi aku di jemput sama Kak Rey. Kak Vando, gimana kabarnya? cie ... tambah ganteng aja deh."


"Gak usah banyak pujian, sudah sana minggir, aku mau ke kamar." Kata Vando yang terlihat begitu malas untuk bicara.

__ADS_1


Aiwa yang melihat ekspresi Vando yang tidak bersemangat, benar-benar membuatnya penasaran.


__ADS_2