
Rey maupun Evana masih belum juga mengerti dengan apa yang diucapkan oleh seorang Ibu paruh baya.
"Pa, katakan padaku, ini ada apa?" tanya Rey sambil mendekati ayahnya.
"Kamu itu bo doh atau pura-pura tidak tahu, Papa dan Mama sudah mengetahui semuanya tentang hubungan pernikahan kamu dengan Evana, perempuan mur_ahan." Jawab Tuan Daro Halilintar, ayah Reyzan.
Rey yang mendengarnya, pun terasa sulit untuk menelan ludahnya.
"Sekarang juga, kau pergi sejauh mungkin dari keluarga Halilintar. Besok juga, kau harus bercerai dengan putraku." Ucap Tuan Daro kepada menantunya.
"Cepat! pergi." Bentak ayah mertua.
Evana yang tidak bisa berkata-kata apa lagi, hanya bisa memutar balikkan badannya. Bahkan, untuk berucap kata permisi saja, bibirnya tak mampu untuk mengatakannya.
Tapi, mau bagaimanapun, Evana pernah disambut baik oleh ayah dan ibu mertuanya. Tidak peduli baginya, jika harus mendapat hinaan yang entah berapa kali.
"Permisi, Ibu, Bapak." Ucap Evana dengan hormat, sebelum dirinya meninggalkan tempat yang dianggapnya akan membawa keberuntungan.
Tapi kenyataannya, justru membawa kesedihan untuknya. Rey yang mendengar dan melihat istrinya hendak pergi dari hadapan kedua orang tuanya, mencoba untuk memohon pada ayah dan ibunya.
"Ma, Pa, Evana itu istriku, jangan usir dia. Aku mohon, Ma, Pa." Ucap Rey memohon, kemudian, langsung memutar balikkan badannya untuk menghentikan istrinya agar tidak pergi meninggalkannya.
"Va, Eva, Va!" teriak Rey sambil mengejar istrinya yang terus berjalan untuk meninggalkan rumah mertuanya.
Sedangkan kedua orang tuanya Rey, mendengus kesal.
"Lihatlah putramu, sudah dibutakan dengan cinta. Bahkan, tidak menyadari, jika Reyzan hanya dimanfaatkannya saja." Ucap Tuan Daro dengan perasaan kesal.
"Lihat saja, kalau sampai perempuan itu kembali ke rumah ini, aku tidak akan tinggal diam. Sudah jelas menikah dengan Veria, tapi itu anak benar-benar bo_doh." Sahut ibunya Rey yang sama kesalnya.
Sedangkan Rey terus membujuk istrinya untuk kembali ke rumah utama.
"Sudahlah Bos, yang dikatakan kedua orang tuamu itu ada benarnya. Aku ini hanya perempuan yang memanfaatkan kamu saja. Sedangkan aku janda miskin, tidak mempunyai apapun selain napas yang masih aku hirup. Berbeda dengan Bos Rey, mempunyai segalanya. Bahkan, untuk mendapatkan perempuan yang setara dengan Bos, juga bisa." Ucap Evana yang tetap menolak ajakan suaminya untuk kembali ke rumah.
"Gak Va, kamu tetap istriku, aku tidak menganggap pernikahan kita ini drama. Aku serius menikahi kamu. Va, aku mohon, kita selesaikan dulu permasalahan kita ini sama Mama dan juga Papa." Bujuk Rey yang terus berusaha untuk merayu istrinya.
__ADS_1
Evana mengatupkan kedua tangannya, seraya untuk memohon.
"Aku akan pulang ke rumah kos-kosan, aku ingin menenangkan pikiranku. Aku mohon, jangan halangi aku untuk pulang." Ucap Evana penuh memohon.
"Aku ikut kamu, Va."
"Gak, aku gak mengizinkan kamu untuk ikut pulang ke rumah kosanku. Kamu masih punya orang tua, Bos, ayah dan ibu. Jadi, jangan ikuti aku." Ucap Evana tetap menolak.
"Va,"
"Bos Rey masih punya kedua orang tua yang harus di hormati, pulanglah. Sampai bertemu lagi, jika kita masih ditakdirkan untuk bertemu. Selagi permintaan kedua orang tuanya Bos Rey baik, terimalah." Ucap Evana, dan bergegas pergi dari hadapan suaminya.
Kebetulan juga, sudah ada mobil angkot lewat di depannya.
"Pak Supir, berhenti." Panggil Evana cukup keras, dan segera mengejarnya. Kemudian, langsung naik ke dalam mobil.
Rey yang masih bengong dan seperti tidak percaya dan juga terasa mimpi, saat itu juga tersadar jika istrinya baru saja masuk ke dalam mobil.
Rey yang tidak ingin istrinya pergi, langsung mengejar mobil yang baru saja berjalan dengan kecepatan sedang.
Evana yang dapat melihat suaminya berlari mengejar dirinya, merasa kasihan dan merasa bersalah atas sikapnya pada sang suami.
"Aaaaaaaaaaa!"
BRUK!
Evana yang dapat melihat dengan jelas motor dengan kecepatan tinggi tengah menyambar suaminya hingga terpental dan menghantam mobil yang berlawanan.
"Pak! stop!"
Saat itu juga, sang supir langsung menghentikan mobilnya. Evana yang sudah panik duluan, segera mengejar suaminya yang sudah tergeletak dan bersimbah darah.
"Tidak ...!" teriak Evana cukup nyaring suaranya.
Semua orang yang melintasi jalanan, langsung berhenti dan segera memberi pertolongan untuk korban kecelakaan. Evana masih terus menangis histeris sambil memangku suaminya yang tidak lagi sadarkan diri.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, datanglah mobil ambulan dan membawa korban kecelakaan ke rumah sakit. Evana yang bersimbah darah suaminya masih terus menangis dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Setelah sampai di rumah sakit, Evana menjatuhkan tubuhnya dilantai sambil menyalahkan diri sendiri dengan tangisan isaknya.
Tidak mempunyai pilihan lain, Evana segera meminta tolong Neti untuk memberi kabar kepada Gevando.
Evana yang pada saat itu tubuhnya sudah tidak bisa menopang berat badannya, tiba-tiba dirinya langsung jatuh pingsan.
Seorang perawatan yang tidak jauh jaraknya dengan Evana, segera memberi pertolongan untuknya dan dibawa ke dalam ruang pemeriksaan.
Cukup lama tidak juga sadarkan diri, Tuan Daro beserta anak dan istrinya telah datang. Kemudian, Sedangkan Neti, lebih dulu sudah sampai di rumah sakit menunggu teman dekatnya yang masih belum juga sadarkan diri.
"Kamu pasti temannya Evana, dimana teman kamu itu?" tanya ibu mertuanya Evana dengan nada yang terlihat galak.
"Ma, sudah, hentikan dulu amarahnya. Kak Rey masih ditangani oleh Dokter, tenangkan dulu pikirannya Mama." Ucap Gevando mencoba untuk membujuk ibunya agar tida gegabah.
Kemudian, Tuan Daro mengajak istrinya untuk duduk sambil menunggu Dokter keluar.
Sedangkan Gevando mendekati Neti yang juga tengah menunggu temannya, lantaran juga belum sadarkan diri.
"Net, dimana Evana? dia baik-baik saja, 'kan?" tanya Gevando.
Neti yang mendapat pertanyaan dari Vando, langsung menoleh padanya.
"Kenapa Bos Rey bisa kecelakaan, Van?"
"Mana aku tahu, Net. Kamu sendiri kan, yang memberiku kabar."
"Aneh saja, tiba-tiba Mama kamu menatapku dengan tatapan tidak suka. Tentu saja, aku ingin tahu kebenarannya."
"Kamu ini kenapa sih, memberi pertanyaan yang aku sendiri tidak tahu. Memangnya Evana sudah bicara apa denganmu, ha? sampai-sampai seperti ini pertanyaan yang kamu berikan untukku."
"Maaf, aku hanya khawatir dengan Evana. Soalnya aneh saja, kata perawat, Evana ditemukan pingsan saat menunggu Bos Rey yang tengah ditangani Dokter. Tentu saja, mereka berdua tidak sedang bersama. Kalaupun bersama, pasti keduanya sama terluka, ya 'kan?"
"Kita tanya saja nanti sama Evana, kita bisa meminta penjelasan padanya." Kata Gevando memberi saran.
__ADS_1
"Ya, hanya Evana yang mengetahuinya, juga Bos Rey yang menjadi korban insiden kecelakaan." Jawab Neti sambil duduk dan menunggu temannya selesai ditangan oleh dokter.