
Evana yang mendengar penuturan dari Gevando, cuma mengangguk pelan sambil membereskan ruang kerja sekretaris.
Saat itu juga, Evana kembali teringat dengan Ardi, suaminya. Pernikahan yang didambakannya sesuai harapan, rupanya berubah menjadi sebuah kehancuran.
Ditambah lagi dengan perselingkuhannya bersama teman dekatnya, tentu saja sangat menyakitkan.
"Hei, kamu kenapa melamun? tolong bawakan berkas-berkas ini."
"Eh ya, maaf. Mana, sini biar aku yang bawa."
"Kamu mikirin apaan sih? suami kamu, ya."
"Sok tahu kamunya, nggak kok."
"Ya juga gak apa-apa, mikirin suami sendiri kan, gak masalah. Kecuali kamu sedang memikirkan suami orang, gak boleh pastinya. Kalau mikirin sosok seperti aku yang jomblo ini, boleh banget. Nggak, gak, aku cuma bercanda. Yuk ah, bawa ke ruang kerjamu bersama Bos barumu." Kata Gevando bersenda gurau, Evana tersenyum mendengarnya.
'Kakak beradik, tetapi beda banget karakternya dengan kakaknya. Ya iya lah, pasti ada perbedaan.' Batin Evana sambil berjalan dibelakang Gevando.
Saat semuanya sudah tertata dengan rapi di atas meja kerja, Evana merasa lega, dan tidak ada lagi beban yang menumpuk.
"Karena tugasku sudah beres dan tidak ada lagi yang tertinggal, aku pamit untuk meninggalkan tempat ini. Untuk kamu Evana, selamat bekerja dan selamat memulai dengan kerjaan barumu di kantor ini. Sampai bertemu lagi di lain kesempatan, ok."
"Ya, makasih." Jawab Evana dengan senyumnya yang ramah.
Setelah Gevando keluar dari ruangan tersebut, kini tinggallah Reyzan dan Evana.
'Mam_pus dah, kenapa aku harus berhadapan dengannya. Ah, benar-benar sial akunya.' Batin Evana tanpa sengaja memperhatikan Reyzan, Bosnya sendiri.
"Ngapain masih di situ, cepetan kau duduk di tempat kerjamu." Ucap Reyzan pada sekretaris barunya.
"I-i-ya, Bos." Jawabnya terbata-bata.
'Lumayan juga ini perempuan, bisa ku jadikan bahan mainan di ruang kerjaku. Cantik sih, ah! ngapain juga aku harus memuji dia. Tunggu tunggu tunggu, sepertinya bisa ku jadikan alasan yang tepat.' Batinnya sambil memainkan penanya di sela-sela jari tangannya.
"Maaf, Bos. Saya disuruh ngapain, ya?" tanya Evana yang tidak tahu harus mengerjakan pekerjaan apa, lantaran dirinya baru menjadi sekretaris. Tentu saja, belum mengetahui apa yang harus di kerjakan.
"Nanti ada yang akan mengajarimu, tunggu saja orangnya." Jawabnya tanpa menoleh ke arah Evana.
Tatapan Reyzan tengah fokus dengan layar komputernya, dan sama sekali tidak menoleh.
__ADS_1
Karena harus menunggu seseorang datang, Evana memperhatikan isi dalam ruangan Bosnya. Begitu luas dan juga sangat rapi, serta kebersihannya.
Tiba-tiba, Evana kembali teringat sesuatu, yakni harus mengurus surat perceraian. Saat mengingat kenangan bersama suaminya, tiba-tiba ada pesan masuk di ponselnya.
Takut karena jam kerja, Evana membiarkannya dan tidak memeriksa sama sekali. Takut, jika dirinya akan mendapatkan sangsi karena jam kerja.
Reyzan menoleh padanya, tentu saja dapat mendengar suara ponsel yang seperti ada pesan masuk.
"Terima saja, hari ini masih diberi kebebasan. Tapi tidak untuk hari besok, akan ada sangsinya sendiri saat di jam kerja bermain ponsel." Ucap Reyzan.
Evana yang mendengarnya, pun senyum sumringah karena merasa mendapatkan izin.
"Jangan lebar-lebar senyumnya, aku tidak butuh." Kata Reyzan, sedangkan Evana sendiri hanya mengernyit.
Karena rasa penasaran, secepatnya untuk membuka pesan masuk.
Saat membuka layar ponsel, yang muncul nomor suaminya.
'Evana, aku ingin bertemu denganmu. Kapan dan waktunya, aku siap. Ini sangat penting, aku tunggu di tempat biasa, taman kecil di pinggiran danau.'
Evana membacanya dalam hati, benar-benar kaget dengan pesan yang ia terima dari suaminya.
Saat itu juga, seseorang yang akan mengajari Evana sudah berada di ruang kerja Bosnya.
"Kamu ajari sekretaris baruku, beri tahu dia, apa yang harus di kerjakan dan yang tidak boleh dikerjakan. Satu lagi, jangan lelet dan juga jangan banyak salah." Perintah Reyzan kepada seseorang yang sudah ditugaskan untuk mengajari sekretaris barunya.
Perempuan yang juga setara usianya dengan Evana, menjadi orang kepercayaan keluarga Reyzan.
Evana yang memang belum mengerti apa saja yang harus dikerjakan dan untuk diingat, Evana dengan fokus memperhatikannya.
Sedangkan Reyzan, dirinya tengah disibukkan dengan pekerjaannya juga.
"Veria, kamu ajari dia sebaik mungkin. Jadikan dia pintar, bukan semakin bod_oh." Ucap Reyzan memberi perintah kepada Veria, perempuan yang rupanya memendam rasa pada Reyzan.
"Ya, Bos." Jawab Veria dengan anggukan.
Kemudian, Reyzan segera keluar dari ruang kerjanya.
'Tidak aku biarkan perempuan ini dekat dengan Bos Reyzan, aku harus memberi ancaman padanya.' Batinnya yang tidak ingin mempunyai pesaing untuk mendekati Bosnya.
__ADS_1
Setelah tidak ada Reyza di dalam ruangan tersebut, Veria mengajari Evana.
"Maaf, saya harus panggil siapa ya?" tanya Evana karena takut salah memanggil.
"Panggil saja Veria, aku rasa usia kita setara. Berapa usiamu? dan juga namamu."
"Usia aku menginjak dua puluh delapan tahun, namaku Evana. Terserah mau panggil aku siapa, yang terpenting masih dalam kata namaku." Kata Evana.
'Benar dugaanku, tidak jauh beda dengan usiaku.' Batin Veria.
Karena tahu ada CCTV tersembunyi di dalam ruangan Bosnya, Veria sama sekali tidak berani untuk berbicara yang macam-macam. Lebih lagi untuk membicarakan Reyzan dan memberi ancaman kepada Evana, itu sangat tidak mungkin untuk Veria lakukan.
'Aku harus bermain cantik untuk mengatasi perempuan ini. Cantik sih, dari pada aku. Tetap saja, perlahan aku harus menyingkirkannya. Apapun caranya, karena aku tidak ingin mempunyai pesaing untuk mendapatkan Reyzan, duda keren.' Batin Veria.
Cukup lama mengajari Evana, lama-lama Evana dan memahami apa yang sudah dijelaskan oleh Veria. Awalnya cukup kesulitan, dan rupanya berhasil untuk mempelajarinya.
Karena penasaran, Evana akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Kalau boleh tahu, kenapa bukan kamu saja yang menjadi sekretarisnya? justru kamu begitu mahir untuk mengerjakannya."
"Aku sama sekali tidak di izinkan untuk menjadi sekretarisnya, dengan alasan karena aku sangat dibutuhkan untuk mengajari karyawan baru, seperti kamu ini. Soal gaji, masih lebih tinggian di posisiku, karena tugasku juga tidak mudah, masih ada pekerjaan lainnya." Jawab Veria berterus terang tanpa ada yang ditutupi.
"Oh, gitu ya." Kata Evana sambil manggut-manggut.
Saat itu juga, Reyzan masuk ke ruang kerjanya.
"Bagaimana, Ver?" tanya Reyzan sambil menarik kursinya.
"Sangat sempurna, Evana sangat cerdas dan juga pintar. Kamu tidak salah memilih dia untuk menjadi sekretaris barumu. Kalau gitu, aku mau kembali ke ruang kerjaku." Jawab Veria.
"Silakan kembali ke ruang kerjamu." Ucap Reyzan.
Veria yang sudah tidak dibutuhkan lagi, segera keluar dan kembali ke tempat kerjanya.
Setelah menerima penjelasan dari Veria, Reyzan langsung bangkit dari posisi duduknya dan memberi Evana tugas.
"Selesaikan tugas ini dengan benar, jangan sampai ada kesalahan. Ingat, periksa dan periksa sebelum kamu serahkan padaku, paham."
"Ya, Bos." Jawab Evana menerima tugas yang diberikan oleh Reyzan.
__ADS_1