
"Maaf ya Net, aku bisa menerimanya. Aku masih ada uang dan aku rasa cukup untuk memenuhi kebutuhanku beberapa hari di kampung halaman, simpan saja untuk kebutuhan kamu nantinya." Ucap Evana yang berusaha untuk menolak pemberian dari temannya.
"Gak apa-apa kok, Va. Aku gak keberatan, ini untuk kamu. Jugaan tidak banyak, ambil saja. Aku mohon, terimalah pemberian dariku kali ini." Kata Neti memohon kepada Evana untuk menerima pemberian darinya.
"Tapi, Net."
"Gak ada tapi tapian, terimalah. Aku sudah menganggap kamu saudaraku, dan juga sahabatku." Jawab Neti dengan anggukan, yang berarti meminta Evana untuk menerimanya.
Tidak ingin membuat temannya kecewa saat memberi bantuan kepada dirinya, Evana menerimanya pemberian dari Neti.
"Aku terima uangnya, makasih banyak ya, Net. Janji, kalau aku sudah mengumpulkan uang, aku akan ganti. Ya sudah ya, aku berangkat, takutnya aku akan ketinggalan." Ucap Evana berpamitan.
"Hati-hati ya, Va. Maafkan aku yang gak bisa mengantarkan kamu sampai ke terminal, aku doakan, semoga kamu selamat sampai tujuan. Jaga diri kamu baik-baik, ya."
"Ya, Net, kamu juga jaga diri kamu baik-baik di sini. Aku pamit, sampai jumpa dan sampai ketemu lagi."
Saat itu juga, Evana berpamitan untuk kembali ke kampung halaman orang tuanya dengan seorang diri. Lambaian tangan perpisahan, seakan berat untuk berpisah. Tapi mau bagaimana lagi, Evana tidak mempunyai pilihan selain pulang ke kampung halaman orang tuanya untuk menghindari keluarga suaminya yang kapan saja bisa mencelakai dirinya, pikir Evana yang teringat akan sebuah ancaman.
Kini, Evana sudah dalam perjalanan pulang ke kampung halaman. Sedangkan Neti, kini sudah berada di kantor.
Semua tengah dihebohkan dengan kabar miring tentang sahabatnya, yakni Evana mengenai insiden kecelakaan.
"Duh duh duh, punya teman tapi pembawa sial. Menyedihkan sekali hidupmu, pasti akan mendapatkan komentar pedas yang diterima. Makanya, kalau bersahabat itu, harus pandai pilih. Kalau bikin jelek, gini nih, semua juga bakal ngomongin kamu." Ucap Veria pada Neti yang baru saja duduk di tempat kerjanya.
Neti langsung mendongak, dan menatapnya.
"Tau apa kau tentang Evana, kalau gak tahu itu, lebih baik kau diam." Kata Neti dengan tatapan penuh kekesalan.
"Cukup! hentikan perdebatan kalian berdua. Dan kamu Veria, kembali ke ruang kerjamu. Sekarang aku yang menggantikan posisi Bos kalian berdua." Ucap Gevando yang tiba-tiba sudah datang.
__ADS_1
Veria yang mendapat bentakan dari Gevando, langsung berbalik arah dan kembali ke ruang kerjanya dengan perempuan dongkol.
"Dan kamu Neti, kerja dengan serius. Satu lagi, temui aku saat jam istirahat."
"Ya," jawab Neti dengan anggukan tanda hormat.
Semua karyawan yang menyaksikannya, langsung duduk dengan tenang saat mendengar bahwa Gevando yang dulunya pernah menjadi sekretaris Bosnya, kini yang menggantikan posisinya. Tentu saja, semua tetap takut dengan keberadaan Gevando.
Neti yang tidak mau ambil pusing, segera menyelesaikan pekerjaannya. Cukup pening saat bekerja harus di barengi dengan banyaknya pikiran yang lainnya, tentu saja terasa penat.
Cukup lama berada di depan layar komputer, tidak terasa sudah waktunya untuk istirahat. Teringat akan perintah dari Gevando, serasa malas untuk menemuinya.
"Net, sebenarnya benar gak sih, itu si Evana yang sudah menyebabkan suaminya kecelakaan?" tanya salah satu karyawan memberanikan diri untuk mengetahui kebenarannya.
"Memangnya kamu tau dari mana?" tanya Evana balik.
"Loh, memangnya kamu gak buka media sosial? kok sampai tidak tahu berita paling trendingnya di group."
Dengan seksama, Evana membuka group kantornya. Alangkah terkejutnya saat mendapatkan berita yang tidak benar itu, tapi masih beruntung, karena tidak menyebar luas ke situs lainnya, hanya di group saja, pikirnya.
"Nanti semuanya juga bakal tahu mana yang benar dan mana yang salah. Untuk saat ini, aku bisa memberi penjelasan, percuma jika gosipnya lebih besar pembicaraannya dari penjelasan dariku. Ya udah ya, aku mau ke ruang kerjanya si Bos. Kalian kalau mau ke kantin, pergi saja, nanti aku menyusul."
"Ya, Net. Aku sih percaya aja sama kamu, karena aku tahu siapa kamu orangnya, tak pernah memberi berita yang salah." Ucapnya, sedangkan Neti buru-buru untuk menemui Gevando sesuai perintahnya.
Saat sudah berada di depan pintu, terasa berat untuk menekan tombolnya. Karena dapat dilihat lewat dari dalam, pintunya terbuka dengan sendirinya oleh Gevando.
Neti kaget dibuatnya, dan segera masuk ke dalam.
"Permisi, Bos." Ucap Neti tetap dengan sopan, karena mengetahui siapa Gevando sebenarnya.
__ADS_1
"Duduklah, ada banyak pertanyaan untukmu." Perintah Gevando, sedangkan Neti hanya bisa nurut.
"Bagaimana keadaannya Evana, Net? kamu tidak perlu canggung berhadapan denganku, karena aku tetap Gevando yang kamu kenal. Sekarang beritahu aku, bagaimana keadaannya Evana?"
"Em ... baik, keadaannya baik-baik aja. Kalau boleh tahu, memangnya ada perlu apa memanggilku?"
"Cuma mau tanya aja, bagaimana keadaannya Evana. Apakah aku bisa menemuinya setelah pulang kerja nanti? aku ingin mengetahui kebenarannya, yakni mengenai insiden kecelakaan Kakakku."
"Maaf, Evana sudah pergi, dan dia tidak lagi bersamaku." Jawab Neti dengan jujur, tetap aja tidak memberi tahu kemana perginya.
Takut, jika akan membahayakan keselamatan temannya. Mau bagaimanapun, keberadaan Evana akan disembunyikan, terkecuali dalam keadaan darurat, pikirnya.
"Apa! pergi, kemana perginya?"
"Aku gak tahu, karena sebuah permintaanya." Jawab Neti beralasan.
"Kamu pasti bohong, tolong katakan padaku, kemana perginya Evana, Net? ada hal penting yang harus aku katakan padanya, mengenai insiden kecelakaan yang sebenarnya." Kata Gevando.
"Percuma saja jika Evana memberi penjelasan kepadamu, karena omongan kamu tidak akan pernah di percaya oleh kedua orang tua kamu, sekalipun itu benar."
"Aku yakin jika kamu pasti mengetahuinya, beri penjelasan padaku."
"Penjelasan apa, aku tidak tahu, karena Evana tidak menceritakannya padaku. Kalau kamu ingin tahu, cari tahu pokok permasalahannya, apa yang sebenarnya terjadi. Kalau kamu hanya mengendalikan penjelasan dari Evana, percuma saja menurutku." Kata Neti.
"Setidaknya kamu beritahu aku kemana perginya Evana."
"Aku gak tahu, sekalipun aku tahu, gak akan aku beritahu kepadamu. Karena aku gak menjamin jika Evana akan selamat, yang ada akan menjadi kesempatan emas yang sudah menjebak Evana." Jawab Neti yang mengetahui kabar miring mengenai temannya saat membuka group kantornya yang membicarakan insiden kecelakaan Bosnya bersama Evana, pikir Neti yang masih mengkhawatirkan keselamatan sahabatnya.
Gevando yang tidak mendapatkan titik terang, terasa pusing dan tidak tahu harus mencari kebenarannya itu dari mana. Lebih lagi orang yang dicarinya tidak ada, membuat Gevando pusing tujuh keliling.
__ADS_1
"Kalau sudah tidak ada pertanyaan lagi, aku mau pergi ke kantin." Ucap Neti tanpa canggung, tentunya untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan dari Gevando mengenai temannya.