
"Evana! Benarkah ini kamu?"
"Nani! ya, ini aku Evana. Kamu Nani, 'kan?"
Keduanya saling mengangguk dan juga saling berpelukan. Setelah itu, saling mencubit gemas kedua pipinya satu sama lain.
"Bagaimana kabarnya kamu, Va? ya ampun, kamu tambah cantik aja sekarang. Pasti kamu sudah sukses ya, di kota."
Evana yang mendengar pertanyaan dari Nani, tersenyum mengembang. Entah harus menjawabnya apa, bahagia dengan berpura-pura atau sesuai kenyataan yang ada.
"Kabarnya aku seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja. Kamu sendiri bagaimana kabarnya? aku dengar kamu sudah punya anak dua ya, mana?"
"Lagi main tempat temannya, biasa anak-anak. Kamu sendiri ngomong-ngomong sudah menikah belum?" jawabnya dan bertanya.
"Sudah menikah, tapi aku gak bersama suamiku." Jawab Evana dengan jujur.
"Kenapa suami kamu gak ikut? oh ya, aku sampai lupa. Ayo Va, masuk. Nenek Muna, mari silakan masuk."
"Ya, makasih." Jawab Evana bersamaan dengan Muna, dan segera masuk ke rumah.
"Silakan duduk, Nek, Va. Maaf ya Va, jika kondisi rumah kami seperti ini. Mungkin jauh beda dengan punyamu, secara kamu tinggal di kota." Timpal Homan mempersilakan duduk kepada tamunya.
"Sama aja, kok. Justru, aku gak punya rumah di kota, tapi milik suami." Jawab Evana berkata jujur.
"Mau punya suami pun, sama aja. Namanya berumah tangga tuh, milik bersama." Kata Nani sambil tersenyum.
"Biasa aja kamu, Nan."
"Tunggu dulu ya, aku mau ke dapur. Nek, Va, tak tinggal dulu. Mas Homan, temani Nenek Muna sama Evana sebentar ya, aku mau ke dapur mau bikin teh dulu."
"Gak usah deh Nan, air putih aja. Tadi aku sudah minum teh bareng Nenek di rumah."
__ADS_1
"Ya, bentar." Sahut Nani, dan pergi ke dapur.
Sambil menunggu Nani keluar dari dapur, Homan dan Evana yang temani Nenek Muna, tengah berbagi cerita dan yang lainnya untuk mengobrol.
Sedangkan di tempat lain, kedua orang tua Reyzan masih setia menunggu putranya sudah berganti hari dan juga waktu kembali dengan jam yang sama.
"Pa, gimana ini? apa perlu kita bawa ke luar negri?" tanya ibunya Reyzan dengan segala kekhawatirannya terhadap kesembuhan anak sulungnya.
"Waktu tidak memungkinkan dengan kondisi Reyzan yang seperti ini, Ma. Kita lihat sampai kapan lamanya, baru kita bertindak." Jawab Tuan Daro yang tidak mau gegabah dalam menentukan keputusan.
"Ya, Pa. Mama nurut aja sama Papa, bagaimana baiknya. Tapi ... kalau seperti ini terus, bagaimana? Mama gak tega melihat Reyzan terus-terusan berbaring di rumah sakit." Kata istrinya yang penuh kecemasan akan keselamatan putranya.
"Sore, Tante. Maaf ya, Tan, baru bisa jenguk Reyzan, soalnya aku sibuk banget di kantor." Sapa Veria yang kini sudah masuk untuk menjenguk Reyzan, lelaki yang telah gagal untuk menikah dengannya.
Kemudian meletakkan bingkisan, yakni berupa buah-buahan dan makanan lainnya.
"Sore, Nak Veria. Gak apa-apa baru datang, Tante dapat memaklumi. Makasih ya, sudah mau jenguk anak Tante. Oh ya, kamu sendirian?"
"Andai saja ya, kamu yang menikah dengan Reyzan, pasti gak seperti ini kejadiannya. Gara-gara perempuan itu, Reyzan harus yang menderita." Ucap ibunya Reyza.
"Semua sudah terlanjur, Tante. Semoga saja setelah kejadian ini, Reyzan akan menyadari karena telah salah memilih istri." Kata Veria dengan percaya dirinya.
"Ya, Tante sangat menyayangkannya." Ucap ibunya Reyzan.
Ingin tahu bagaimana dengan keadaan Reyzan, lelaki yang disukainya itu, Veria mendekatinya.
Diperhatikannya Reyzan yang terbaring lemah, Veria mengusap lembut tangannya.
'Andai saja kamu mau menikah denganku, tentu saja kamu tidak akan mengalami hal seperti ini. Karena semua ini sudah menjadi kesalahan kamu, terimalah nasibmu yang seperti ini. Aku pastikan setelah sembuh nanti, kau akan membenci istrimu.' Batin Veria dengan senyum tipis, sesuatu yang tengah diharapkan.
Sedangkan di tempat lain, yakni di desa, Evana yang tidak ingin berlama-lama bertamu, pamitan untuk pulang bersama Nenek Muna.
__ADS_1
"Gantian loh, besok kamu yang main ke rumahku, ok. Aku tunggu kedatangan kamu, kita kan, sudah lama gak pernah ngobrol dan berbagi keseruan. Kalau gitu, aku pamit pulang ya." Ucap Evana yang sekaligus berpamitan pulang.
"Ya deh ya, besok kalau gak ada kesibukan, aku main ke rumah kamu. Soalnya di kampung kita ini mau ada acara kegiatan di balai desa, katanya sih ada yang mau memberi lapangan pekerjaan."
"Loh, kok Nenek gak tau. Memangnya kapan diumumkannya, Nan?"
"Hanya kabar yang beredar aja, Nek, dari Pak Lurah. Saya tahunya juga dari suami, Nek. Dengar dengar sih, besok suruh kumpul ke balai desa untuk melakukan riset sama tanya jawab mengenai perkembangan desa kita ini. Ya ... semoga saja isunya benar, Nek."
"Semoga saja, soalnya biar desa kita ini maju dan sukses untuk masyarakatnya. Biar gak ada pengangguran, semua bisa bekerja dan mendapatkan upah dengan layak. Jadi, desa kita jadi makmur."
"Ya, Nek, semoga saja begitu." Kata si Nani yang juga sependapat dengan Nenek Muna.
"Ya udan ya, Nan, aku pulang dulu." Ucap Evana berpamitan.
"Ya, Va. Sampai ketemu lagi." Jawab Nani dengan senyumnya yang ramah, Evana dan Nenek Muna segera pulang dan meninggalkan rumah Nani.
Sambil menuntun sepedanya, akhirnya sudah sampai di halaman rumah mendiang orang tuanya Evana.
"Nek, Nek Muna." Panggil seseorang yang rupanya sudah berada di belakangnya.
Nenek Muna maupun Evana, keduanya langsung menoleh ke belakang.
"Pak RT, ada apa?" tanya Nenek Muna yang langsung memutar balikkan badannya saat melihat siapa orangnya yang datang.
Belum sempat menjawab, Pak RT memperhatikan Evana yang menurutnya sangat asing, alias tidak dikenalinya.
"Dia ini anaknya mendiang Sigit sama Erma, Pak RT. Namanya Evana,byang dulunya tinggal di kota, dan sekarang mau tinggal di kampung sini. Maaf sebelumnya ya Pak RT, belum sempat membuat laporan. Rencananya sih, besok pagi laporannya."
"Oh, anaknya mendiang Bapak Sigit? sudah besar ya. Dulu tahunya masih anak-anak, soalnya Bapak juga gak lama tinggal di desa ini, jadi lupa." Kata Pak RT.
"Oh ya Pak RT, memang benar ya, besok di suruh hadir di balai desa. Kata istrinya Homan, suruh datang ke balai desa, benarkah?"
__ADS_1
"Ya Nek, benar. Kedatangan saya kesini ini sebenarnya memang mau memberitahu Nenek untuk hadir di balai desa, soalnya akan ada obrolan dari orang kota yang mau membuka lapangan pekerjaan di kampung kita ini. Untuk di terimanya, semua akan di kupas tuntas oleh pihak yang akan memberi keputusan, yakni dari perwakilan suara masyarakat." Jawab Pak RT memberi penjelasan.