
Selesai urusannya dengan yang berwajib, Rey dan kedua orang tuanya merasa lega. Tapi, tetap menjadi kesedihan karena mendapati orang yang disangkanya sangat baik dan tidak ada kekurangannya, justru telah memperalat dan membohonginya.
Begitu juga dengan istrinya Tuan Daro, merasa beruntung karena semua sudah terkuak.
"Tidak seharusnya si Veria harus kehilangan nyawanya, tetapi takdir berkata lain, yakni karena ambisinya." Ucap ibunya Reyzan yang menyayangkan akan tindakan kejahatan dari Veria yang sudah telah menjadi tersangka atas kematian istri pertama putranya.
"Namanya juga jalan hidup, mana kita tahu. Terkadang yang kita lihat baik, itu buruk. Begitu juga dengan sebaliknya, yang buruk akan kelihatan baik. Semua sudah berakhir, kita buka cerita kita yang baru lagi." Jawab Tuan Daro sambil merangkul pundak istrinya.
"Dan kamu, Reyzan. Keputusan ada padamu, kejarlah istrimu jika Evana adalah kebahagiaan kamu. Papa dan Mama tidak melarang kamu lagi, masih ada kesempatan untukmu mencari keberadaan istrimu. Ingat, jangan sia-siakan waktu yang kamu miliki." Ucap sang ayah pada putranya.
Reyzan mengangguk.
"Ya, Pa. Besok pagi-pagi aku akan langsung berangkat sesuai alamat yang aku dapatkan." Jawab Reyzan.
"Ya, malam ini kamu bisa gunakan waktumu untuk beristirahat. Ayo, kita pulang." Kata sang ayah, dan mengajak putranya untuk pulang.
Sedangkan di kampung halaman, Evana sama sekali tidak bisa tidur. Bahkan, pikirannya semakin gelisah dan tidak tenang.
"Loh, kok gak tidur. Kamu sakit? atau, ada kabar dari kota?"
Evana menggelengkan kepalanya.
"Nggak, Nek. Gak tau nih, tiba-tiba Evana terbangun. Nenek sendiri kok gak tidur? Nenek juga baru aja kebangun, kah?"
"Ya, Nenek kebangun karena haus. Jadi, Nenek keluar untuk mengambil air minum." Jawab Nenek Muna sambil membawa gelas kosong ditangannya.
"Kirain Evana, Nenek gak bisa tidur juga." Kata Evana sambil nyengir.
"Hem, bilang aja kalau kamu kangen sama suami kamu." Ledek Nenek Muna, Evana justru tersenyum.
"Apa-apaan sih Nenek, gak kok. Tadi Evana memang gak bisa tidur, mungkin karena hamil, Nek."
"Ya, si jabang bayi kangen sama ayahnya. Makanya, bangunin kamu untuk merindukan calon bapaknya."
"Nenek mah bisa aja deh, gak lah Nek. Lagi pula gak mungkin deh, jika si jabang bayi ada rasa kangen, lucu sekali."
"E, e, e, jangan aneh, orang hamil tuh, ada ada aja yang diinginkan, ada juga yang tidak disukai." Kata Nenek Muna, sedangkan Evana tertawa kecil mendengarnya.
__ADS_1
"Udah dulu ya Nek, Evana mau masuk ke kamar, ngantuk." Ucap Evana yang tidak ingin terus-terusan diledek oleh Nenek Muna.
Nenek Muna mengangguk dan tersenyum.
"Ya, tidurlah, sudah malam. Gak baik buat bergadang malam-malam gini buat perempuan hamil muda seperti kamu, harus istirahat dengan waktu yang pas." Kata si Nenek.
"Ya, Nek. Kalau gitu, Evana tidur duluan ya Nek." Jawab Evana dan berpamitan untuk masuk ke kamarnya.
Lain lagi dengan Ardi, justru tengah bergadang dengan teman yang lainnya.
"Kamu gak tidur, Di?" tanya temannya sambil memainkan ponselnya.
"Belum ngantuk akunya, masih belum bisa tidur. Oh ya, tadi pagi kamu bilang, ada satu anggota lagi yang mau datang ke kampung, maksudnya aku dua sama si Doni, benarkah?"
"Ya, benar. Tapi, tadi siang aku dapat kabar, katanya di pending dulu. Soalnya si Doni sama teman yang satunya ada kepentingan, jadi di cancel."
"Oh, berarti gak jadi berangkat ke sini? kalau boleh tau, memangnya dari keluarga mana yang mau ikut kerja sama dengan kita? dari orang biasa kek kita, atau punya nama."
"Aku kurang tahu, katanya gak penting kata si Doni. Ya udah, aku gak mendesak dia orang untuk memberitahunya kepada kita."
"Oh, kek dunia misterius aja." Kata Ardi yang merasa aneh.
"Hem, ya ya ya. Eh, itu ada yang menelponmu, buruan dilihat."
"Ya, tunggu sebentar."
Kemudian, segera menerima panggilan dari seseorang.
"Oh, jadi besok malam udah datang." Ucapnya di balik ponselnya.
Setelah menerima panggilan, ponselnya diletakkan kembali di atas meja.
"Siapa yang menelpon mu, Bro?" tanya Ardi disela-sela sibuk dengan ponselnya.
"Ini, si Doni yang menelpon, temanya si Doni yang mau ikut bekerja sama dengan kota. Besok pagi mau datang, diantara kita diminta untuk menjemputnya."
"Jemput, maksudnya jemput ke bandara atau dimana?" tanya yang satunya.
__ADS_1
"Ya, di bandara. Katanya sih sendirian, soalnya si Doni belum bisa ikut, mungkin akan menyusul kalau sudah gak ada kesibukan." Jawabnya.
"Gampang lah, cuma soal jemput doang." Kata si Ardi ikut menimpali.
"Ya sih, gampang. Ngomong-ngomong, gimana kabarnya janda kamu itu, Di? Buruan sikat, entar keburu diembat orang lagi, berabe Lu."
"Mantan istriku sudah punya suami, Bro. Dianya sedang hamil, gak mungkin juga aku Merebut dia. Lagi pula, dianya sudah mengatakannya langsung padaku, bahwa dia tidak akan kembali denganku, sekalipun sudah bercerai dengan suaminya yang sekarang ini. Entahlah, kadang aku masih berharap untuk kembali." Jawab Ardi dengan lesu.
"Sabar ya, Bro. Kalau emang jodohnya kamu, gak akan menjadi milik orang lain. Tetapi kalau bukan jodoh kamu, harus bisa menerima dengan hati yang lapang."
"Ya itu, Bro. Yang dikatakan Deden itu benar, kita cuma bisa berusaha dan juga harus lapang untuk menerima kenyataan, sekalipun itu menyakitkan. Sudahlah, perempuan gak hanya satu, jugaan kamu gak jelek jelek amat, tajir juga ya, ngapain pusing. Toh, jodoh sudah ada takdirnya masing-masing." Kata teman yang satunya ikut menimpali.
"Ya, sih, tapi kan, ah sudahlah. Sekarang udah waktunya untuk tidur, jangan dibiasakan untuk bergadang, gak baik untuk kesehatan. Tuh, lihat. Jam nya ada udah mau menjemput pagi, ayo kita tidur."
Ardi mengangguk, juga mengiyakan.
Karena tidak ingin kesehatan menurun, Ardi bersama teman yang lainnya segera tidur, hingga sampainya pagi menyambut dirinya.
.
.
.
Pagi, semua tengah aktivitas dengan kesibukannya. Sama halnya dengan Reyzan, tengah bersemangat untuk berangkat ke kampung untuk mencari keberadaan istrinya tinggal.
"Rey, sarapan dulu, Nak." Ucap ibunya saat mendapati putranya yang baru saja sampai di anak tangga yang terakhir.
"Ya, Rey, sarapan dulu kamunya. Secara, kamu akan menempuh perjalanan yang cukup jauh. Jadi, kondisi fisikmu harus benar-benar dalam keadaan sehat." Timpal ayahnya yang baru saja keluar dari kamar.
"Ya, Pa, Ma. Oh ya, Vando beneran mau tinggal di luar negri kah? atau, hanya menangani kerja sama saja."
"Katanya sih gitu, mau tinggal di luar negri ada beberapa hari lagi. Tapi, Papa belum tanyakan lagi dengannya."
"Semoga aja betah, biar bisa sukses." Kata Reyzan.
"Doakan saja untuk Vando. Ya udah kalau gitu, ayo kita sarapan dulu."
__ADS_1
Reyzan tersenyum, dan juga mengangguk.