
Cia duduk di kantin kampus sambil menikmati mie instan kuah yang dia pesan tadi.Ia terlalu fokus makan hingga tak sadar seseorang duduk di sebelahnya.
Ekhm...
Dehem Darfi sengaja di keraskan membuat Cia menghentikan makannya ,menoleh menatap pria itu sekilas , dan melanjutkan acara makanannya.Darfi mendengus kesal pada Cia yang cuek padanya.
"Hari ini kita kerja kelompoknya di mana? " tanya Darfi membuka suara membuat Cia kembali menghentikan makannya.
"Terserah kamu mau di mana. Yang penting tugas cepat selesai " jawab Cia.
"Kita ngerjainnya di cafe aja nanti sore.gimana? " tanya Darfi.
"Ok, ok. Tapi kamu yang teraktir aku makan ya " ujar Cia berusaha mencari keuntungan.
Darfi memutar bola matanya malas, sudah dia duga kalau sekelompok dengan Cia pasti akan menguras isi dompetnya.
"Kamu'kan sudah punya suami kaya raya masa makan aja masih minta traktiran sih" ujar Darfi mendengus sebal.
"Iya sih. Tapi makan di bayar pakai uang orang lain lebih enak dan ada kepuasan tersendiri " ujar Cia tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Idih, yang ada lebih enak makan bayar pakai uang sendiri dan hasil kerja keras sendiri, kali! " timpal Darfi.
"Stttt, diem gak usah banyak bicara. Memang susah kalau berteman sama orang yang gak sefrekuensi" ujar Cia langsung bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan Darfi yang menjatuhkan rahangnya ke bawah.
"Dih, tidak sefrekuensi katanya" gumam Darfi mencibir.
"Salah apa aku sampai sekelompok sama Cia , mana cuma berdua lagi " keluh Darfi.
__ADS_1
******
"Pokoknya aku tidak mengizinkan kamu kerja kelompoknya di cafe harus di rumah. Biar aku bisa mengawasi kalian berdua " ujar Alvian yang tak mengalihkan pandangan dari laptopnya.
"Bapak, apaan sih. Aku mau kerja kelompoknya mau di cafe.Sekalian refresing, gitu. Sumpek kalau terus di rumah. Apalagi liat muka bapak mulu! " celetuk Cia yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Alvian.
"Aku tidak akan mengizinkan kamu pergi. Kalau mau kerja kelompok harus di rumah atau tidak sama sekali" ancam Alvian tak mau kalah.
Cia mendengus kesal dengan sikap Alvian yang menurutnya egois. Ia langsung meletakkan tas mininya di meja rias dan langsung menghempaskan tubuhnya di kasur king size.Sedangkan Alvian kembali fokus pada laptop di pangkuannya. Padahal gadis itu sudah siap-siap akan pergi tapi gara-gara suaminya yang melarang untuk pergi terpaksa dia harus mengurungkan niatnya untuk pergi kerja kelompok di cafe.
"Bapak kenapa sih, gak ngizinin aku pergi? Kan cuma mau pergi kerja kelompok" ujar Cia mengerucutkan bibirnya.
"Karna kamu kerja kelompoknya cuma berduaan sama laki-laki. Tidak boleh laki-laki dan perempuan berduaan nanti ketiganya setan " sahut Alvian.
"Aku gak berduaan ya. Kerja kelompoknya itu di cafe dan di sana bukan hanya ada aku dan Darfi tapi ada pengunjung cafe yang lain. Kecuali di cafe itu cuma ada aku dan Darfi , baru bapak melarang. Lagian bapak kenapa posesif kaya gini, sih?! " jerit Cia mengacak-acak rambutnya frustasi.
*******
Cia kini sibuk mengerjakan tugas kelompoknya dengan Darfi. Mereka berdua duduk di karpet berbulu . Cia memutuskan kerja kelompok di rumahnya karna dia tidak mau dapat nilai jelek dan mendapatkan siraman rohani dari pak Dodi yang membuat telinganya memerah.
Sedangkan Alvian duduk di single sofa mengawasi gerak-gerik Cia dan Darfi saat mengerjakan tugas . Pria itu tidak pernah mengalihkan pandangannya. Darfi merasa risih dengan kehadiran Alvian yang membuatnya tidak nyaman saat mengerjakan tugas. Apalagi sedikit saja berdekatan dengan Cia langsung di tatapan dengan sorot mata yang menghunus bagai pedang.
" Darfi ini maksudnya apa ya, aku gak paham "ujar Cia menunjuk soal yang tidak dia pahami.
Darfi menggeser tubuhnya mendekati Cia dan membaca soal yang tidak di pahami temannya ini. Alvian yang melihat itu langsung memanas. Ia langsung bangkit dari sofa dan mendorong bahu Darfi maupun Cia agar berjauhan.
" Bapak apaan sih? "sungut Cia kesal.
__ADS_1
" Tidak boleh berdekatan. Kalian bukan muhrim"ujar Alvian yang membuat Cia memutar bola matanya malas.
"Kamu kenapa dekat-dekat sama Cia? Dia itu sudah punya suami jadi kamu harus jaga jarak atau saya potong nilai kamu " ancam Alvian . Sedangkan Darfi menatap dengan ekpresi seperti orang tertekan.
"Maaf, pak. Saya cuma jelasin soal yang tidak Cia pahami, itu aja gak lebih " ujar Darfi menundukkan kepalanya tak berani menatap dosennya itu.
"Bapak lebih baik ke kamar atau ngerjain apa kek. Jangan ganggu kami berdua ngerjain tugas. Aku risih di awasi dan di perhatikan kaya gitu. Kasihah Darfi ketakutan melihat bapak " ujar Cia yang langsung di balas gelengan cepat oleh pria itu kalau di menyetujui ucapan Cia bisa-bisa pulang ke rumah hanya tinggal nama.
"Dan membiarkan kalian berduaan.Saya tidak akan pergi dan akan tetap stay di sini sampai kalian selesai mengerjakan tugas kalian berdua . Tidak boleh laki-laki dan perempuan berduaan nanti ketiganya setan " ujar Alvian.
"Iya, setannya bapak " timpal Cia yang langsung mendapatkan tatapan tajam oleh suaminya.
"Ngejawab terus kalau di kasih tau sama suami! " sentak Alvian yang tidak suka dengan ucapan Cia.
Darfi memegangi kepalanya yang pusing tujuh keliling melihat perdebatan pasutri ini di depannya . Memang susah kalau ia satu kelompok dengan orang yang sudah bersuami. Mana suaminya posesif dan overprotective lagi .
******
Cia lewat di depan Alvian yang tengah asik menonton televisi dengan tatapan permusuhan. Sedangkan pria itu tak menghiraukan tatapan istrinya itu. Gadis itu mendaratkan pantatnya di sofa di sebelah Alvian dengan muka keduanya.
"Pak, besok aku mau ke rumah orang tua aku . Nanti anterin " ujar Cia , setelah mengucapkan itu gadis itu langsung masuk ke dalam kamar.
Alvian langsung mematikan televisi dan langsung menyusul istrinya ke kamar. Ia masuk ke kamar dan melihat Cia sudah tidur atau hanya memejamkan matanya. Pria itu merangkak menaiki ranjang dan langsung melingkarkan tangannya di pinggang sang istri. Sebelum menuju ke alam mimpi, sejenak Alvian menatap lekat wajah istrinya yang terlihat begitu polos dan menggemaskan membuat dia ingin menerkam istrinya ini.
Cup
Alvian mencium pipi Cia sekitas dan mulai memejamkan matanya sambil memeluk tubuh mungil Cia seperti guling.
__ADS_1
Bersambung....