Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)

Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)
Season 2:Eps 26


__ADS_3

1 Minggu berlalu


Albian membukakan pintu mobil untuk Laura. Gadis itu keluar dari mobil , suaminya mengulurkan tangannya pada Laura yang langsung menyambut uluran tangan Albian.


Pria itu menutup pintu mobil dan menggenggam tangan sang istri. Albian berjalan beriringan dengan Laura, memasuki area kampus. Semua orang menatap kearah keduanya yang berjalan menyusuri   koridor kampus dengan tangan yang saling bertautan. Beberapa wanita merasa iri melihat Laura di antar oleh suaminya dan beberapa juga menatap tidak suka pada Laura.


Albian menghentikan langkahnya di depan kelas Laura. Ia berbalik menatap gadis yang telah menjadi istrinya tersebut, seraya tersenyum.


"Kamu belajarnya yang pintar.Nanti kalau sudah selesai kuliahnya, kamu telpon aku, " ujar Albian yang di angguki Laura.


"Nanti aku bakal telpon Kakak kalau sudah selesai kuliahnya. Kakak juga yang rajin cari uangnya, " ujar Laura terkekeh pelan.


Albian mengacak-ngacak rambut Laura pelan. Hingga gadis itu memekik kesal karna rambutnya sudah tidak berantakan.


"Ish! Kakak.....Rambut aku berantakan lagi. " Kesal Laura, tapi itu malah membuat Albian tertawa, karna gemas.


"Aku pergi dulu, ya. Jaga diri baik-baik, "


Cup!


Albian memberikan kecupan singkat di kening Laura yang tersenyum lebar. Gadis itu meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangan Albian.


"Kakak, juga jaga diri sama hati kakak. Takutnya nanti kecantol sama dosen perempuan yang lebih cantik dari aku, " ujar Laura mengerucutkan bibirnya.


Albian menangkup kedua pipi Laura, membuat pandang matanya terfokuskan pada wajah  suaminya yang menatap dirinya sendu.


"Bagaimana bisa hati aku berpindah ke perempuan lain. Sedangkan aku sangat mencintai kamu dan secantik apapun perempuan di dunia ini, kamu tetap paling cantik di mata aku, sayang, " tutur Albian. Laura tersipu malu dengan mengulum senyum.


"Kakak, gombal terus, " sangkal Laura mendorong lengan Albian pelan, karna menutupi salah tingkanya.

__ADS_1


"Ini bukan sebuah gombalan, tapi memang kebenaran, " sahut Albian. Pria itu melihat ke pergelangan tangannya, yang melingkar sebuah jam tangan. "Laura, aku berangkat kerja dulu. Sebentar lagi sudah akan mengajar, " ujar Albian, kembali mencium kening Laura dan langsung beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut.


Laura tersenyum, menatap kepergian Albian, hingga hilang dari pandangan matanya. Ia berbalik hendak masuk ke dalam kelas, tapi sebuah tangan mencekal pergelangan tangannya dengan kasar membuat ia langsung berbalik dan menubruk dada bidang seorang pria yang menatap dirinya dengan tatapan tajam.


******


Buk!


Laura meringis kesakitan, merasakan punggungnya yang terhempas ke tembok, akibat dorongan kasar Revan. Pria itu menyeret Laura masuk ke dalam gudang .


"S-sakit," Laura merintih kesakitan merasakan sakit di punggungnya. Rintihan kesakitannya makin terdengar, Revan mencengkram kedua pipi Laura dengan kasar.


"Bagus ya! Kamu memilih menikah dengan pria itu . Padahal aku sudah mengatakan dengan mu agar tidak menjalin hubungan dengan pria manapun, tapi kamu malah menikah dengan Albian, Albian itu! " Bentak Revan, dengan rahang yang mengeras.


Laura langsung menyingkirkan tangan Revan dari wajahnya. Ia mengusap kasar air mata yang menetes.


Revan langsung meninju tembok di sebelah Laura dengan kuat , membuat gadis itu kaget dan memejamkan matanya dengan tubuh yang bergemetar ketakutan. Mata pria itu memerah dan melotot menatap Laura yang menutupi matanya karna ketakutan.


"Lihat aku, Laura! " Revan menarik kedua tangan Laura dengan kasar.Gadis tersebut perlahan menatap Revan yang menatap dirinya dengan sorot mata yang di selimut emosi.


"Kamu tahu,aku rela pacaran dengan Bella , agar membuat kamu cemburu. Aku kira kamu mencintai ku, tapi ternyata kamu menjalin hubungan dengan Albian dan menikah dengannya. Apa kamu tidak peka dengan kebaikan yang aku lakukan dengan mu, Laura. Aku benar-benar bodoh! Terlalu berharap dengan kamu!! " Teriak Revan di depan wajah Laura yang sudah terisak-isak menangis ketakutan.


Bugh.....


Revan, jatuh tersungkur di lantai. Laura syok melihat pria itu tiba-tiba terkapar di lantai. Ia di buat kaget lagi, Albian'lah yang memberikan pukulan pada Revan.


"Kak Albian, " gumam Laura. Ia langsung berjalan kearah suaminya dan memeluk Albian dengan erat.


Albian membalas pelukan Laura sejenak. Ia menguraikan pelukannya dan meneliti wajah sang istri yang memerah di bagian pipi, bekas cengkraman Revan.

__ADS_1


"Kamu tidak papa? " Tanya Albian dengan wajah yang begitu nampak khawatir. Awalnya Albian kembali ke kelas Laura, karna tas sang istri yang tertinggal di mobil. Ia tahu, Laura ada di gudang karna ada beberapa mahasiswa yang tidak sengaja melihat Revan membawa istrinya ke dalam gudang dan memberitahukan pada dirinya yang tengah mencari-cari Laura.


"Aku tidak papa. Untung kakak segera datang, " jawab Laura, yang masih setia Albian.


Sret!


Tubuh Albian tiba-tiba menggelinjang, membuat Laura melepaskan pelukannya. Ia menatap suaminya dengan tatapan bingung.


"Laura, " desis Albian, makin erat memeluk sang istri.


Laura memegangi belakang Albian,ia merasakan sebuah benda menancap di bagian sisi perut suaminya. Sedangkan Revan tersenyum miring, setelah menusuk Albian dengan pisau yang berkarat, namun ujung pisau tersebut sangat tajam.


"D-darah, " lirih Laura, tercengang menatap telapak tangannya yang sudah berlumuran darah.


"REVAN!! " Teriak Laura dengan wajah yang bergetar.


"Ini balasan untuk Albian karna telah merebut kamu dari aku dan juga balasan karna telah memenjarakan Rayyan, kakak tiriku, " sahut Revan tanpa rasa bersalah.


Albian langsung jatuh ke lantai, Laura tidak sanggup menopang tubuh besar suaminya.


"Kakak, bertahan. Aku telpon Ambulan , " Laura mengeluarkan ponselnya dan langsung menelpon pihak rumah sakit.


"La-Laura, bila aku tidak selamat. Maka maafkan aku, bila tidak bisa menepati janji aku, untuk terus bersama kamu, " lirih Albian dengan nada suara pelan. Menahan sakit di lukanya.


Laura menjatuhkan ponselnya dan langsung memeluk Albian, erat.


"Kakak tidak boleh meninggalkan aku. Kakak harus bertahan, sebentar lagi Ambulannya datang. Kakak harus bertahan, " tangis Laura dalam pelukan suaminya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2