
Albian lebih dulu masuk ke rumah setelah keluar dari mobil, meninggalkan Laura yang diam mematung di dalam mobil dengan tatapan yang menyorot pada sosok Albian yang sudah menghilang dari pandangan matanya. Gadis itu perlahan mendorong pintu mobil dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
"Laura sini, nak, " panggil Devia yang tengah duduk di sofa di temani Dira yang duduk di sebelah sang Mamah, sambil memakan cemilannya.
Laura menghentikan langkah kakinya saat melewati ruang tamu. Ia perlahan membalikkan badannya menghadap Devia. Wanita paruh baya itu kaget melihat wajah Laura yang lebam, ia langsung bangkit dari sofa .
"Laura , wajah kamuΒ kenapa? " Tanya Devia panik. Ia menyentuh pipi Laura yang memar dan darah yang mengering di sudut bibir.
Gadis berambut pirang itu meringis ketika Devia menyentuh pipinya yang benar-benar ngilu.
"Laura, jawab tante, kamu kenapa? " Tanya Devia memaksa. Mata Devia berkaca-kaca melihat wajah Laura yang seperti mendapatkan penganiayaan.
"I-itu tante.... "
"Pasti Albian'kan? " Tebak Devia menyela ucapan Laura. Karna Laura pulang bersama Albian, sedangkan saat masuk ke dalam rumah putranya terlihat biasa saja.
Laura menundukkan kepalanya. Ia diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, tangannya memilin ujung bajunya. Kalau ia membantah ucapan Devia, itu tidak mungkin karna apa yang di ucapkan oleh sahabat Maminya, memanglah benar. Dan dia tidak menyangkal hal itu.
Devia yang melihat Laura hanya diam, membuat ia semakin yakin dengan dugaannya itu bila memang benar, bila Albian yang sudah berbuat kasar.
"Dira! Kamu obati luka di wajah kak Laura . " Suruh Devia yang langsung di angguki Dira.
Devia langsung berjalan menuju ke kamar putranya dengan emosi yang menggebu-gebu.
"Kakak duduk dulu ya, Dira mau ngambil P3K dulu, " ujar Dira menarik lembut tangan Laura dan menyuruh gadis itu untuk duduk di sofa.
"Tunggu ya. " Ujar Dira yang di balas senyuman tipis oleh Laura. Dira berjalan menuju ke kamarnya mencari P3K.
πππππ
Brak...
Devia langsung masuk ke dalam kamar Albian dengan membanting pintu kamar dengan begitu kencang. Matanya menatap sekitar penjuru kamar yang nampak kosong.Tapi sayup-sayup Devia mendengar suara gemericik air di kamar mandi dan pasti Albian ada di dalam sana.
TokkΒ tokk...
"Albian buka pintunya, Mamah mau bicara! " Teriak Devia dengan suara kerasnya.
Ceklek
__ADS_1
Albian membuka pintu kamar mandinya. Ia keluar dari sana dengan handuk yang melilit di pinggangnya dengan tetesan air di rambutnya yang masih basah.
"Ada apa, Mah? " Tanya Albian, mengambil handuk kecil di sampingnya.
Plakk..
Devia langsung memberikan tamparan keras pada Albian yang terkaget-kaget mendapatkan bogeman dari sang Mamah. Ia memegangi pipinya yang tercetak jelas bekas tamparan Devia.
"Mamah, kenapa nampar aku? Aku salah apa? " Tanya Albian yang tidak terima. Ia merasa tidak melakukan apapun, atau kesalahan.
"Seharusnya, Mamah yang tanya! Kamu mau jadi banci, hah!! " Bentak Devia berkacak pinggang , sedikit mendongakkan kepalanya menatap Albian yang cukup tinggi.
"Banci? Maksudnya apa? Aku nggak ngerti? " Ujar Albian yang benar-benar bingung dengan ucapan Devia. Sejak kapan dia jadi banci?
"Kamu kenapa nampar Laura, hah?! Kamu sama saja jadi pria banci yang berani kasar dengan perempuan. Kamu kalau memang tidak suka dengan Laura dan tidak menerima perjodohan ini, oke fine. Mamah bisa saja jodohin Laura dengan Dafi yang jelas-jelas pria baik, lembut dan taat beragama dari pada sama kamu , kasar! " Ujar Devia dengan meninggikan volume suaranya dan menekankan kata"kasar".
Albian membulat matanya mendengar ucapan Devia. Ada rasa tidak suka di hatinya ketika sang Mamah ingin menjodohkan Laura dengan Dafi, sepupunya.
"Mamah apaan sih! Aku nggak bisa mengontrol emosi aku. Lagipula dia yang mancing duluan.Sebelum Laura aku tampar (Albian menjeda ucapannya sejenak) Dia di bully sama temannya. " Ujar Albian ,membuat alis Devia terangkat.
"Maksud kamu? " Tanya Devia penasaran.
Albian menghela napas berat. Ia berjalan menuju ke lemari pakaian. Devia masih terdiam di tempatnya, sedetik kemudian wanita paruh baya itu berjalan mendekati Albian yang memasang baju kaos berwarna hitamnya.
"Tadi , aku jemput Laura di kampusnya tapi aku melihat Laura di bully sama teman satu kampusnya. Laura juga di bully karna merebut pacar orang. Dan kenapa aku nampar dia, karna dia itu melawan sama aku. Aku cuma menyindir cara dia yang berpakaian terlalu terbuka. Coba Mamah bedakan Shalla, Shela, Dela dan Dira , pakaiannya sopan dan tidak terlalu terbuka seperti Laura . Mamah juga kenapa tidak menegur dia. Kalau Laura kenapa-kenapa bagaimana? Amit-amit kalau hamil di luar nikah karna pakaian yang dia pakai membangkitkan syahwat laki-laki, termasuk ak... " Albian langsung menjeda ucapannya, sedikit lagi keceplosan.
"Termasuk apa, Albian? " Tanya Devia menunggu ucapan Albian yang belum terselesaikan.
"Pokoknya, Mamah suruh Laura jangan pakai baju haram itu lagi. Kalau perlu buang semua bajunya" Ujar Albian.
"Ck! Tumben peduli, " Sindir Devia. Albian menggigit bibir bawahnya kelu dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, mendengar ucapan Devia.
"Tapi ingat Albian. Cara kamu itu salah pada Laura. Kalau mau menasihati itu dengan cara yang baik dan lembut. Karna perempuan itu akan mendengarkan nasehat kamu bila menyampaikannya dengan lemah lembut. Kalau kamu menasehati dengan cara nyindir atau dengan kata-kata yang kasar dan main fisik, pasti perempuan itu akan semakin memberontak bahkan akan semakin liar. Pahamkan maksud Mamah, Albian! " Ujar Devia meninggalkan suaranya di akhir kalimat.
"Hmm... "Dehem Albian.
πππππ
Semua orang sudah berkumpul,dan duduk di kursi masing-masing, di meja makan. Albian menikmati makan malamnya, sesekali mencuri pandang pada Laura yang hanya mengaduk-adukan makannya. Ada rasa bersalah di benak Albian yang merasa sudah keterlaluan pada Laura tapi di pikir-pikir lagi caranya memang benar, supaya Laura tau kesalahannya di mana.
__ADS_1
Suara bel pintu, membuat semuanya menatap kearah pintu keluar yang tidak jauh dari tempat mereka duduk sekarang. Dila langsung bangkit dari tempat duduk, berjalan menuju pintu keluar, melihat siapa yang bertamu jam sembilan malam seperti ini.
Senyum Devia mengembang, melihat yang bertamu adalah Dafi, ke ponakannya yang merupakan anak dari almarhum Dafa.
" Assalamu'alaikum, tante Devia. "Ujar Dafi langsung mencium punggung tangan Devia dengan lembut.
Albian langsung memasang wajah masamnya,melihat Dafi.
" Ayo duduk dulu Dafi. Sekalian ikut makan ya . Sini duduk di sebelah Laura. "Ujar Devia.
Dafi duduk di sebelah Laura, dan memberikan senyuman manisnya pada semua orang di sana. Pria dengan pakaian yang rapi, rambut yang tersisir sangat rapi dan baju yang selalu di masukkan ke dalam.Albian terus memantau gerak-gerik Dafi. Apa Mamahnya benar-benar mau menjodohkan Laura dengan Dafi?
" Tumben datang ke sini? "Ujar Devia.
" Iya nih tante. Dafi di suruh Bunda buat mengundang keluarga tante Devia buat datang ke salematan rumah baru yang bakal Dafi tempati sama Bunda . "Jawab Dafi.
" Wahh, beli rumah baru ya. "Ujar Devia yang nampak senang.
" Iya tante. Hasil kerja keras Dafi sendiri tante. "Jawab Dafi yang nampak malu-malu.
Albian berdecih mendengar ucapan Dafi yang sangat nampak ingin menyombongkan dirinya tapi dengan cara yang halus.
" Ya ampun, masih muda sudah bisa beli rumah kamu ,Dafi. Tante jadi bangga sama kamu . Albian aja belum menghasilkan apapun dari hasil kerjanya. "Ujar Devia di akhiri tawa. Albian mendengus kesal mendengar ucapan Mamahnya.
" Eh, ini kenalin namanya Laura "ujar Devia menunjuk dengan lirikan matanya.
Dafi menatap Laura yang tersenyum kikuk. Pria itu menjulurkan tangannya pada Laura yang langsung di sambut Laura.
Albian langsung bangkit dari tempat duduknya dan pergi begitu saja.
" Heh! Albian makannya di habiskan dulu. Dasar anak kurang ajar ya, mubazir ini lho! "Teriak Devia .
Dafi langsung melepaskan genggaman tangannya pada Laura.
" Kamu cantik "puji Dafi.
" Makasih ."Jawab Laura tersenyum simpul.
"Tante.Om Skala mana? " Tanya Dafi yang tidak melihat Skala.
__ADS_1
"Ooh, om Skala lagi pergi keluar kota,di Bali.Alvian trauma naik pesawat.Dia takut kejadian kemaren terulang lagi. Apalagi Cia juga baru melahirkan, jadi tidak mungkin harus di tinggalkan. " Jawab Devia. Dafi manggut-manggut mendengarnya.
Bersambung...