
...Cinta bisa datang kapan saja. Saya bisa saja langsung jatuh cinta kepada kamu walau kita hanya bertemu satu kali. Karna sejatinya cinta itu datangnya tiba-tiba dan hati tidak mampu untuk menolak perasaan cinta itu....
...(Albian)...
Alvian mengusap kedua pipi Cia. Menghapus sisa air mata di pipi berisi milik istrinya dengan lembut.
"Jangan menangis, sayang. Aku baik-baik saja. Kasihan anak kita kalau kamu nangis pasti dia juga akan sedih " lirih Alvian.
Cia yang mendengar ucapan tersebut, tangannya terulur menarik tangan Alvian dan meletakkan telapak tangan besar suaminya di perut yang sedikit membuncit. Alvian sedikit tersentak saat tangannya bersentuhan dengan perut Cia,ia baru tau bila perut istrinya sudah mulai membuncit , ada rasa nyaman menjalar dan hatinya menghangat. Alvian tersenyum menatap Cia dan kembali fokus mengusap perut istrinya. Ada kebahagiaan tersendiri ketika mengusap-ngusap perut Cia.
"Cepat bebas dari sini , mas. Bukan hanya aku yang tidak bisa jauh dari kamu..... Tapi juga anak kita, mas" lirih Cia dengan suara seraknya.
Aktivitas Alvian terhenti. Ia menatap iris coklat milik Cia yang nampak berkaca-kaca. Hati gadis ini benar-benar sangat sensitif. Alvian tersenyum hangat , ia menarik Cia ke dalam pelukannya.
"Sabar ya sayang. InsyaAllah, malam ini aku akan segera bebas. Jangan menangis lagi ya.Aku sakit melihat kamu bersedih seperti ini" jujur Alvian. Seperti sembilu berbisa yang menusuk dan menjalar di hatinya yang benar-benar remuk melihat Cia sudah beberapa kali menangis dan itu karna dirinya.
"Saudara Alvian, mari ikut kami ke ruangan inspektur Wahyu " ujar salah satu anggota polisi. Alvian dan Cia bangkit dari tempat duduk , bersamaan.
"Ada apa ya pak? " tanya Alvian melirik kearah Cia yang nampak gelisah . Ia bisa merasakan genggaman tangan erat sang istri.
"Inspektur Wahyu ingin bicara dengan anda perihal penganiayaan pada saudara Rayyan" jawab polisi itu.
🍁🍁🍁🍁🍁
Alvian masuk ke dalam ruangan yang tertulis di papan pintunya tertera nama inspektur Wahyu Cahyo. Cia terus memeluk lengan Alvian . Hatinya berdegum kencang, ia takut terjadi sesuatu pada suaminya.
Mata Alvian melihat Albian , Rayyan dan pria asing yang tengah duduk di kursi, menoleh kearah menatap kearahnya.
"Silahkan duduk, pak Alvian" ujar inspektur Wahyu mempersilahkan Alvian duduk di sebelah Rayyan yang nampak menatap sinis dan memberikan seringai meremehkan pada Alvian.
Rayyan yakin inspektur Wahyu memanggilnya kesini untuk membahas perihal hukuman yang akan di berikan pada Alvian. Lihat saja, ia akan buat Alvian mendekam di penjara sampai membusuk. Sangat mudah bagi dirinya menambah masa penahanan bagi Alvian. Ia punya segalanya termasuk uang untuk menyogok pihak polisi agar menangguh hukuman bagi Alvian.
Ekm...
Dehem inspektur Wahyu mencairkan suasana yang nampak memanas antara dua belah pihak.Wahyu menyatukan kedua tangannya dan menopang dagunya menatap Alvian dan Rayyan secara bergantian. Menghela napas berat.
__ADS_1
"Jadi saya memanggil kalian berdua kesini. Ingin membahas kasus penganiayaan pada saudara Rayyan" ujar Wahyu.
Rayyan makin mengembangkan senyumnya yang semakin merekah. Lain halnya dengan Cia yang sudah panas dingin, ia takut Alvian harus mendekam di penjara. Alvian menarik Cia dengan lembut, membuat gadis itu duduk di pangkuan suaminya. Kursi terbatas dan Cia tidak mendapatkan tempat duduk dan alhasil ia duduk di pangkuan suaminya.
Rayyan memicing matanya melihat perlakuan Alvian pada Cia . Bagaimana pria itu memeluk pinggang Cia yang duduk di pangkuan Alvian. Albian hanya menggelengkan Kepalanya melihat tingkah laku kembarannya. Bila cinta sudah menyapa, gunung es di Kutub pun bisa mencair.Ingin sekali ia meledak Alvian yang terlalu di perbudak dengan cintanya pada Cia.
"Saya ingin saksi yang melihat kejadian penganiayaan yang di lakukan tersangka Alvian pada saudara Rayyan untuk menceritakan kronologinya karna saya kurang puas dengan cerita anda tadi. Siapa nama anda? " tanya inspektur Wahyu pada pria yang seumuran dengan Rayyan .
"Nama saya Aligar, pak" jawab Aligar dengan lantang seakan tidak ada sesuatu pun yang ia takutkan.Inspektur Wahyu menganggukkan kepalanya.
"Coba jelas lagi kronologisnya" ujar inspektur Wahyu.
"Jadi saat itu saya melewati ruangan pak Alvian. Saya tak sengaja mendengar sayup-sayup suara bantingan dan teriakan pak Rayyan yang minta tolong. Karna saya takut terjadi apa-apa di dalam sana saya langsung masuk, untung saja saat itu pintu tidak di kunci jadi saya dengan mudah masuk ke dalam ruangan tersebut. Saat itu saya melihat pak Alvian memukul dan memghatam pak Rayyan yang waktu itu sudah babak belur " ujar Aligar.
Inspektur Wahyu menatap kearah Rayyan yang sudah diam membeku. Rayyan mengumpat dalam hati pada Aligar yang mengatakan wajahnya babak belur sedangkan wajahnya sekarang tidak babak belur sedikitpun hanya lengan dan kakinya yang di buat Alvian berjalan tertatih-tatih.
Rayyan meneguk ludahnya secara kasar seakan sebuah benda mengganjal di tenggorokannya.
Setelah mengamati wajah Rayyan , inspektur Wahyu kembali menatap Aligar "Lanjutkan" pinta inspektur Wahyu pada Aligar yang senang hati melanjutkannya karna ia yakin Rayyan akan membayarnya lebih banyak bila ia menambahkan bumbu -bumbu kebohongan ke dalam cerita itu seakan benar-benar nyata bagi polisi di depannya ini yang bergelar inspektur itu.
"Saya langsung menolong pak Rayyan dari pak Alvian yang terus memberikan pukulan pada pak Rayyan. Beruntung waktu itu saya dengan sigap menolong..... Kalau tidak mungkin pak Rayyan sudah mati mengenaskan" ujar Aligar.
Aligar nampak gugup dengan tatapan mengintimidasi oleh inspektur tersebut yang di berikan padanya.
"Saya yakin-seyakinnya , pak. Buat apa saya bohong . Sungguh sifat yang sangat picik bila saya mengatakan kronologis yang bohong apalagi ini masalah penganiayaan yang tidak bisa di buat main-main karna ini masalah nyawa dan keselamatan seseorang. Saya hanya ingin menegakkan kebenaran, pak! " ucap Aligar dengan lantang.
Albian mendengus kesal dan geram pada Aligar yang terkenal kenakalannya. Aligar merupakan mahasiswanya dan tega sekali memfitnah Alvian . Dan dia yakin pasti Rayyan sudah membayar mahal pada mahasiswa yang terkenal brandalan ini. Tapi tenang. Ia akan membalikkan masalah ini yang akan menjadi boomerang bagi Rayyan. Seringai mengerikan muncul di wajah tampan Albian. Sedangkan Alvian tersenyum tipis pada Rayyan yang sudah memucat.
Rayyan merutuki kebohongan karna memilih Aligar sebagai saksi mata pura-puranya. Kalau begini malah ia yang akan di jebloskan ke penjara.
"Kamu tahu. Kalau kamu menyampaikan kesaksian palsu maka saya akan menjebloskan kamu ke penjara atas dasar berita bohong.Lalu kenapa pak Alvian memiliki luka di kepalanya? Bukannya kamu bilang hanya pak Rayyan yang memiliki memar di wajah bukan pak Alvian? " tanya Wahyu yang mendekatkan wajahnya pada Aligar yang sudah beberapa kali meneguk ludahnya .
Wahyu langsung memperlihatkan layar laptopnya pada Rayyan dan Aligar . Menampilkan rekaman CCTV yang ada di ruangan Alvian saat terjadi masalah tersebut.
Deg.....
__ADS_1
Deguman jantung Rayyan begitu menggila melihat isi rekaman CCTV itu. Ia kenapa sampai bodoh seperti ini? Sampai lupa bila di ruangan Alvian di lengkapi CCTV, kalau dia tau sudah ia sabotase rekaman CCTV itu. Tapi nasi sudah jadi bubur, ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Aligar memegangi dadanya. Napasnya sudah tersekat di tenggorokan seakan kesulitan untuk menghirup oksigen. Dengan wajah yang begitu pucat pasi dengan keringat dingin mengucur deras di wajahnya terutama Rayyan yang sudah tidak bisa berkutik . Ia menatap Albian yang memberikan 🖕jari tengah padanya, membuat ia makin mendengus.
Cia langsung memeluk Alvian. Ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan dengan mata yang berbinar-binar.
Aligar bangkit dari kursinya hendak kabur tapi anggota polisi sudah menodong pistol tepat di kepalanya. Refleks Aligar mengangkat kedua tangannya dengan tubuh yang bergetar. Saat ini juga pria itu ingin menangis. Niatnya mau cari untung dengan pura-pura jadi saksi mata tapi malah jadi buntung.
"Jadi pak Rayyan. Kenapa anda memalsukan kejadian yang sebenarnya dan menyuruh orang lain menjadi saksi mata palsu?Anda bisa mendapatkan hukuman berlapis tentang pelecehan, kekerasan pada wanita, penganiayaan dan menyampaikan berita bohong" ujar inspektur Wahyu yang nampak menahan amarahnya. Ia paling benci di bohongi.
Rayyan meneguk ludahnya dengan kasar. Ia mengambil sesuatu di saku celana dan menyelipkan lembaran kertas pada Wahyu yang terangkat satu alisnya.
"Anda tulis saja nominal yang ada inginkan di cek ini. Asalkan jangan penjarakan saya. Kalau anda ingin lebih banyak lagi mendapatkan uang dari saya. Tolong penjarakan Alvian, buat dia yang seakan salah " bisik Rayyan yang berharap Wahyu mau bekerja sama dengannya. Yang Rayyan tahu, orang tidak bisa menolak bila sudah di berikan uang.
Wahyu menatap Rayyan yang memberikan senyuman padanya. Ia melirik anak buahnya memberikan isyarat. Anggota polisi yang bertubuh kekar itu menarik Rayyan, membuat pria itu refleks berdiri.
"Kenapa saya di tarik? Saya mau di bawa kemana?! " tanya Rayyan yang meninggikan suaranya.
"Anda pikir saya anggota polisi yang bisa anda suap dengan uang. Orang-orang memang akan mudah tergoda dengan uang tapi tidak semua anggota polisi, termasuk saya menutupi kebenaran demi sebuah uang yang anda berikan. Kami bekerja dengan kejujuran dan membela kebenaran. Jangan samakan kami seperti anggota polisi yang lain yang tumpul ke atas tapi tajam ke bawah. Bawa mereka berdua ke sel penjara! " perintah Wahyu dengan nada tegas.
"Lepaskan saya. Saya tidak mau masuk penjara! " Rayyan memberontak ketika dua anggota polisi menyeret dirinya keluar dari ruangan tersebut.
"Awas kamu Alvian, aku akan membalas kamu. Lihat saja aku juga akan bebas sebentar lagi dari penjara. Dan kamu Cia, aku pastikan kamu juga akan mendapatkan hal sama dari ku . Aku akan menyiksa kamu dan menjadikan kamu milikku, hahaha... " teriak Rayyan yang di akhiri tawa yang cukup keras.
Alvian menutup kedua telinga Cia agar tidak mendengarkan ucapan Rayyan yang bisa mempengaruhi kehamilan istrinya yang mudah kepikiran.
"Pastikan Rayyan di hukum seberat-beratnya, pak" ujar Albian pada Wahyu yang mengangguk kepalanya.
"Di persidangan nanti, anda bisa menuntut tersangka Rayyan. Tapi itu semua tergantung bagaimana hakim pengadilan menentukan berapa lama Rayyan akan mendekam di penjara " ujar Wahyu yang di angguki tiga orang yang ada di depannya.
"Kita siapkan pengacara yang terbaik di kota ini untuk menuntut Rayyan seberat-beratnya" desis Alvian penuh penekanan.
"Bagaimana Hotma Paris . Ia pengacara yang terkenal dan sudah beberapa kasus dia menangkan" usul Albian dengan menaik-turunkan alisnya.
"Aku tidak sanggup menyewanya" sahut Alvian . Sebenarnya ia sanggup menyewa pengacara itu.....tapi akan mengeluarkan uang yang lumayan fantastis.
__ADS_1
Bersambung....
SUDAH SAYA PANJANGIN CERITANYA. PASTI KALIAN MAU MUNTAH KARENA CERITA SAYA YANG SANGAT PANJANG INI😂