
Cia duduk di kursi rias. Matanya menatap pantulan cermin di depannya yang menampakkan pantulan Alvian di cermin yang tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Pria itu melakukannya dengan wajah yang begitu serius tak menyadari bila dirinya terus memperhatikan. Sudut bibir Cia terangkat, membentuk sebuah senyuman.
"Mas, dingin" ujar Cia membuat Alvian yang tengah mengeringkan rambut Cia terhenti.
"Tunggu sebentar aku matikan AC-nya dulu " ujar Alvian, meletakkan handuk kecil di bahunya.
Pria itu berjalan ke meja di samping ranjang. Ia mengambil remote AC dan mematikan AC tersebut. Alvian mengambil selimut di kasur. Ia menutupi tubuh mungil Cia agar tidak kedinginan.
"Sekarang masih kedinginan? " tanya Alvian menatap Cia dari pantulan cermin.
Cia menganggukkan kepalanya "Iya, masih dingin. Mas duduk di sebelah aku deh" pinta Cia yang langsung di turuti Alvian yang mengambil kursi satunya dan memposisikan dirinya duduk di sebelah Cia.
Greb
Cia langsung memeluk Alvian, mendongak, menatap suaminya dengan senyuman yang memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Kalau sudah meluk mas. Jadi nggak kedinginan lagi " ujar Cia terkekeh dengan pipi yang memerah. Dia jadi salah tingkah sendiri dengan apa yang dia lakukan.
"Sudah pintar modus ya, dasar genit " ujar Alvian mencubit hidung Cia dengan gemas.
"Ish! Jangan di cubit hidungnya tapi di cium dong " ujar Cia dengan nada bercanda.
Cup!
Mata Cia terbelalak ketika mendapatkan kecupan di ujung hidung mancungnya,mendadak. Ia menatap Alvian yang tertawa melihat raut kaget wajahnya.Alvian mencubit pipi Chubby Cia dengan gemas.
"Aduh! Istri aku sudah kembali gendut lagi. Aku jadi suka mencubit pipi gembul kamu ini" ujar Alvian mencubit gemas pipi kanannya Cia. Tidak memperdulikan pekikan Cia yang kesakitan.
"Sakit, mas! " kesal Cia.
Plak
Cia memukul tangan besar Alvian yang masih mencubit pipinya.
"Jangan di cubit terus!Kalau gitu kemaren aku diet aja. Nggak usah makan yang banyak " ujar Cia.
__ADS_1
"Kamu kalau diet, aku gigit. Aku lebih suka perempuan gendut daripada yang kurus. Kamu kalau nggak makan, anak aku nanti kelaparan di dalam sini " sahut Alvian mengusap perut Cia, lembut.
"Semoga anak kita perempuan ya. Nanti kalau perempuan aku kasih nama, Queenza Farasya Dewi" ujar Alvian memeluk Cia, meletakkan dagunya di kepala Cia.
"Mas, kenapa mau anak perempuan? " tanya Cia.
"Karena wajahnya pasti mirip seperti kamu, cantik" jawab Alvian mainkan ujung rambut Cia.
"Pasti anak kita cantik'lah kan dari bibit unggul. Kamu tampan dan aku cantik, pasti anak kita cantik dan tampan melebihi kita berdua. Sebenarnya aku tidak masalah mau anak perempuan atau laki-laki. Karna semuanya sudah Allah yang menentukan, mas " ujar Cia.
"Iya aku tau sayang. Tapi semoga saja anak kita perempuan.Tidak ada salahnya kita berharap. Kalau yang lahir laki-laki nanti kamu malah lebih sayang dengannya daripada aku " ujar Alvian mengerucutkan bibirnya ke bawah.
Cia tertawa pelan. Jadi dia tau kenapa Alvian menginginkan anak perempuan karna bila anak laki-laki yang lahir takut tersaingi.
"Iih, cemburu ya mas. Takut aku lebih sayang sama anak kita kalau yang lahir laki-laki. Bagus kalau laki-laki , pasti lebih tampan daripada kamu. Dan aku akan di perlakuan seperti Ratu oleh dua laki-laki sekaligus" ujar Cia bertepuk tangan sumringah membayangkan bila dia memiliki anak laki-laki yang memperlakukan dirinya seperti Alvian lakukan padanya sekarang.Karba sifat anak tidak akan jauh dari sifat ibu dan ayahnya.
🍁🍁🍁🍁🍁
"ALBIAN AKU MAU IKUT!!ALBIAN!!" teriak Laura mengejar mobil Albian yang berjalan laju meninggalkan dirinya yang berlari mengejar mobil tersebut.
Bugh..
"KAMU JAHAT ALBIAN!! KENAPA KAMU MALAH MEMILIH MEMBAWA PEREMPUAN ITU DARIPADA AKU?! KENAPA?!!Hiks..... Sakit" Laura terisak-isak. Ia berusaha berdiri walau sedikit kesusahan .
Hatinya sakit , bukan hanya itu tapi juga cemburu yang dirasakannya sangat menyakitkan.
On flashback
"Kamu ngapain di sini? " tanya Albian menatap Laura yang bersandar di mobilnya.
"Aku tadi nggak sengaja lihat mobil kakak di sini. Jadi mau ikut kaksk sekalian boleh nggak? " tanya Laura dengan penuh harap.
"Tidak bisa " tolak Albian.
"Memangnya kenapa? Kita satu arah dan aku pulangnya ke rumah kakak juga" ujar Laura.
__ADS_1
Albian menatap jengah pada Laura. Matanya menatap sekitar hingga tidak sengaja melihat Ria yang berjalan kaki melewati depan mini market tempat dia berdiri sekarang.
"RIA!! " panggil Albian melambaikan tangannya pada Ria.
Ria yang merasa di panggil namanya, menoleh ke asal suara . Ia mengeryitkan dahinya melihat Albian melambaikan tangannya agar mendekat. Ria berjalan mendekati Albian tanpa ada keraguan. Laura menatap Ria dan beralih menatap Albian yang tersenyum pada gadis itu. Sedangkan pada dirinya Albian begitu dingin jangankan diajak bicara, tersenyum pun tidak pernah sama sekali pada dirinya.
"Kenapa " tanya Ria, melirik Laura yang menatap merengut pada dirinya.
"Kamu pulang jalan kaki'kan?Kalau begitu biar aku antar, tidak baik kalau ibu hamil berjalan kaki terlalu jauh " ujar Albian menarik tangan Ria, menggiring menuju mobilnya.
Albian membukakan pintu mobil untuk Ria dan mempersilahkan masuk. Tapi gadis itu masih diam mematung.
"Kenapa diam? Ayo masuk " suruh Albian mendorong Ria hingga masuk ke dalam mobilnya.
Laura langsung berjalan cepat kearah Albian yang hendak masuk ke dalam mobil.
"Kak, aku mau ikut. Uang aku sudah habis tadi, jadi nggak bisa bayar taksi. Boleh ikut ya masa dia boleh numpang mobil kakak, tapi aku nggak boleh. Itu namanya nggak adil" ujar Laura yang sudah membuka pintu mobil belakang. Tapi dengan cepat Albian menarik pergelangan tangan Laura, membawanya menjauh dari mobil.
" Saya tidak mengizinkan kamu ikut naik mobil saya. Dan saya mau mengantarkan Ria----Jadi kamu tidak bisa ikut! "ketus Albian.
Mata Laura memanas mendengar ucapan Albian yang bernada ketus, bibir Laura melengkung ke bawah .
" T-terus aku pulang naik apa? Aku sudah nggak punya uang. Uang aku sudah habis mentraktir teman-teman aku "ujar Laura lirih.
Albian mendecih sinis. Ia mengeluarkan selembar uang berwarna merah di saku celananyanya dan memberikannya pada Laura.
" Ini, naik taksi"Albian memberikan uang "Seharusnya kamu tidak terlalu bodoh jadi orang.Kamu harusnya bisa membedakan mana orang yang tulus baik dengan kamu dan hanya memanfaatkan kamu " ujar Albian yang langsung meninggalkan Laura yang menatap nanar uang di tangannya.
Dia memang bodoh. Sudah tau teman-temannya hanya mau berteman dengan dirinya karna uang. Tapi dia harus bagaimana? Dia hanya anak introvert yang sangat sulit bergaul karna merasa minder. Saat dua temannya mengajaknya berteman tentu dia sangat senang tapi karna dua temannya itu tahu dia anak dari Rian Altahreja, pengusaha kaya raya.
Off flashback
Laura berjalan menuju trotoar dan mendudukkan dirinya. Ia memegangi luka di kakinya dan meniup-niup. Orang lain hanya tau dia hidup sempurna tanpa tau masalah apa yang sekarang dia hadapi.
Bersambung....
__ADS_1
Maaf kalau komen kalian saya gak bisa bales karna HP saya lagi ngode minta ganti.
KALIAN JAGA KESEHATAN, JANGAN LUPA PAKAI MASKER KALAU KELUAR DAN CUCI TANGAN SETIAP MEGANG APAPUN. TERPAPAR COVID ITU BENAR-BENAR MENYIKSA.