
...Hargai orang yang selalu berada di samping mu saat suka maupun duka. Karna hanya orang yang benar-benar tulus menyayangi mu yang selalu ada untuk mu...
...(Felicia) ...
Albian membukakan pintu mobil untuk Alvian yang sedikit kesusahan membuka pintu mobil tersebut karna luka di bahu di bagian kanannya yang membuat pergerakannya terbatas. Cia dengan sigap langsung menggenggam tangan Alvian yang hendak turun dari mobil.
Alvian langsung menyambut tangan Cia dan menggenggamnya dengan senyuman yang terus terpatri di wajah tampannya. Albian yang memperhatikan itu tersenyum walau hatinya sedikit tersentil,sedikit terasa sesak di dadanya.
"Terimakasih Albian sudah mengantarkan kami berdua sampai rumah " ujar Alvian yang terkekeh.
"Tidak usah mengucapkan terimakasih, Alvian. Kita saudara jadi harus saling membantu " sahut Albian yang di angguki Alvian yang mengenggam tangan Cia erat.
"Ya sudah. Aku pamit pulang dulu. Kalau ada apa-apa telpon aku" ujar Albian yang sudah membuka pintu mobil , bersiap menaiki mobilnya.
Cia membuka pintu rumah. Ia mendahulukan Alvian yang lebih dulu masuk ke dalam . Gadis itu segera menyusul masuk dan menutup pintu, tidak lupa menguncinya.
"Mas, mau makan? " tawar Cia menatap Alvian yang menoleh kearahnya.
"Aku sudah kenyang, sayang. Aku mau mandi badan aku gerah " sahut Alvian di sertai senyuman.
"Tapi luka mas belum sembuh, kenapa harus di bawa mandi? Lebih baik badan mas aku lap pakai kain basah. Lagi pula lukanya belum kering masih basah " ujar Cia .
"Ya sudah . Aku nurut saja sama istri ku yang cantik ini " jawab Alvian terkekeh.
Semburat merah tiba-tiba muncul di kedua pipi Cia yang sudah memanas. Ia tersipu malu dengan ucapan suaminya. Cia menundukan kepalanya sambil menutupi kedua pipinya dengan tangan menyembunyikan pipinya yang ia rasa sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Kenapa pipinya di tutup, hmm? " tanya Alvian yang menarik kedua tangan Cia.
Cia tetap mempertahankan tangannya yang bertengger di kedua pipinya. Tapi tarikan tangan Alvian cukup kuat. Cia mendongak menatap Alvian yang memegangi kedua tangannya yang sudah di tarik untuk menutupi kedua pipinya yang sangat memerah. Tangan pria itu terulur, mengusap pipi Cia dengan lembut.
"Kamu makin gemesin kalau pipinya merah seperti ini " ujar Alvian yang di sambut dengan senyuman malu-malu oleh Cia.
🍁🍁🍁🍁🍁
Albian mengendarai mobilnya di kecepatan rata-rata. Ia harus pulang cepat,pasti Mamahnya sangat mengkhawatirkan dirinya. Padahal dia sudah dewasa tapi Devia tetap mengawasi dan memperlakukan dirinya dan adik-adiknya yang lain seperti anak kecil. Contohnya bila dia makan terlambat pasti akan mendapatkan omelan dari Devia karna memang ia dan Shalla memiliki penyakit yang sama yaitu mag.
Albian menginjak remnya mendadak ketika hampir menabrak seorang gadis yang tiba-tiba menyebrang jalan. Dagangan gadis itu langsung terhempas ke aspal, membuat barang dagangannya berserakan di jalan.
"Astaghfirullah! " sebut Albian.
__ADS_1
Albian langsung turun dari mobil. Ia mendekati gadis itu yang terduduk di aspal dengan wajah yang nampak syok.
"Kamu enggak papa? " tanya Albian menatap gadis yang tertutup wajahnya dengan rambut.
Gadis itu menyingkirkan rambut yang menghalangi penglihatannya. Ia menatap Albian yang berjongkok di depannya.
"Apa kamu terluka? Kita ke rumah sakit ya? " ajak Albian yang di balas gelengan oleh gadis tersebut.
Gadis itu segera bangkit dari aspal. Ia memunguti kacang goreng yang sudah di bungkus dan juga kue yang sudah tergeletak di jalan dan sudah pasti tidak bisa untuk di jual lagi. Albian yang melihat itu ikut membantu memunguti barang dagangan gadis tersebut.
Mata gadis itu sudah berkaca-kaca melihat dagangan yang sudah tidak bisa di jual lagi.Baru dua orang yang membeli dagangannya tapi kesialan selalu menghampirinya.Albian memperhatikan raut sedih dari gadis yang memiliki tubuh yang lumayan berisi dengan pipi putih yang bulat walau wajahnya nampak kotor dan berminyak.
"Ini saya ganti barang dagangan kamu " ujar Albian menyodorkan lembaran uang merah lima lembar.
Gadis itu mendongak menatap Albian yang lebih tinggi darinya.Ia menatap uang yang di sodorkan padanya, seakan sedang berpikir. Dengan ragu-ragu ia mengambil dua lembar uang merah tersebut, membuat satu alis Albian terangkat .
"Kenapa cuma dua lembar di ambil? Saya memberikan uang ganti rugi untuk kamu semuanya bukan dua lembar " ujar Albian.
"Dua ratus ribu cukup untuk uang ganti rugi " cicit gadis itu dengan pelan.
"Apa? Saya tidak mendengar" ujar Albian mendekatkan telinganya pada gadis itu.
Gadis itu memundurkan tubuhnya, menjauh dari Albian . Ia ingin mual mencium aroma parfum Albian yang begitu menyengat.
Albian menjauhkan tubuhnya dari gadis itu. Ia menarik tangan gadis tersebut dan meletakkan sisa uang tiga ratus ribu di telapak tangan gadis tersebut.
"Jangan di tolak. Ini uang ganti rugi untuk dagangan kamu yang sudah hancur. Saya takut kamu menjual kembali dagangan kamu yang tak layak untuk di makan lagi " ujar Albian. Gadis itu mendengus mendengarnya. Ia tidak sejahat dan setega itu sampai menjual barang dagangan yang sudah berserakan di aspal kecuali kacang goreng ini yang masih bisa di jual.
Albian tersenyum melihat wajah kesal gadis tersebut. Ia menatap sekitar jalanan yang nampak sangat sepi dan sangat jarang di lalui pengendara. Lalu kenapa gadis ini bisa ada di sini? Apa dia tidak takut bila ada orang yang ingin berniat jahat padanya,apalagi ia perempuan?
"Kamu kenapa bisa ada di jalan ini? " tanya Albian menatap gadis tersebut.
Gadis itu tidak menjawab. Ia langsung pergi meninggalkan Albian yang menatap gadis itu sendu.
🍁🍁🍁🍁🍁
Cia membuka satu persatu kancing baju Alvian. Ia melepaskan pakaian yang melekat di tubuh Alvian dengan sangat hati-hati takut mengenai bahu yang terdapat luka yang masih di perban.
Cia memeras kain kecil dari baskom berisi air hangat . Ia melap tubuh Alvian dengan sangat lembut. Setelah selesai gadis itu memakaikan kembali baju yang berkancing ke tubuh Alvian.
__ADS_1
"Celana tidak di ganti juga? " tanya Alvian.
Cia meneguk salivanya kasar. Kalau bagian itu ia tidak berani.
"T-tapi aku malu . Mas bisa ganti sendirikan? " tanya Cia yang berharap Alvian mengatakan iya .
"Tidak bisa, sayang. Mengganti baju, aku harus di bantu kamu apalagi menganti celana " ujar Alvian.
"Aku tidak nyaman bila tidak mengganti celana. Apalagi ini celana bekas tadi siang. Kalau tidak di ganti nanti paha sama kaki aku gatal-gatal" ujar Alvian yang mulai rewel.
"Tapi aku malu, mas" ujar Cia dengan pipi yang memerah.
"Tidak papa, Cia. Kita sudah jadi suami-istri jadi.... Halal bagi kamu melihat aurat aku sebaliknya aku juga halal melihat aurat kamu " ujar Alvian memberikan penjelasan.
Tangan Cia terulur menyentuh resleting celana Alvian dengan tangan bergemetar.Keringat dingin mulai membasahi dahinya.
Sret....
Cia sudah berhasil membuka resleting Alvian. Ia menarik celana Alvian dengan pelan. Hingga hanya tersisa boxer yang menutupi benda pusakanya.
"Sayang sekalian ganti boxer aku. Aku tidak nyaman kalau pakai boxer bekas tadi siang " ujar Alvian dengan senyuman jailnya. Ia sangat suka melihat wajah tertekan Cia.
Cia menghela napas panjang.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Lepaskan aku!!! " teriak Rayyan di dalam sel.
"Jangan berteriak-teriak. Suara kamu menganggu tahanan yang lain " tegur polisi yang berjaga.
"Lepaskan aku!! Kamu tidak tau siapa aku. Aku pria yang paling kaya di kota ini bahkan aku bisa membeli harga dirimu! " tunjuk Rayyan pada polisi yang berjaga itu.
"Sekaya apapun dirimu tidak akan merubah nasib mu yang akan tetap menjadi tahanan di penjara ini " sahut polisi tersebut .
Rayyan terdiam, ia mendengus geram. Harga dirinya seakan tercoreng.
"Lihat saja, setelah aku bebas dari sini. Aku pastikan kantor polisi ini akan aku bakar " ancam Rayyan . Polisi itu hanya memutar bola matanya malas untuk menanggapi ucapan Rayyan.
Aligar hanya bisa terduduk di lantai penjara yang begitu dingin memperhatikan Rayyan yang terus berteriak-teriak.Percuma berteriak-teriak minta di bebaskan karna mereka berdua akan tetap jadi tahanan.
__ADS_1
Bersambung....
JANGAN SHALAWAT DAN AL-KAHFI YANG TEMAN-TEMAN.