Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)

Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)
Season 2:Eps 19


__ADS_3

2 Hari berlalu


Devia sibuk membantu Laura membereskan pakaian gadis tersebut. Wanita paruh baya itu memasukkan baju, celana dan barang-barang yang Laura butuhkan selama di rawat inap di rumah sakit ke dalam tas.


"Tante Albian, mana? " Tanya Laura pada Devia . Karna sudah dua hari ini,semenjak Albian membantunya ketika jatuh dari brankar, pria itu tidak pernah muncul lagi. Tentu Laura merasa kehilangan dan merasa ada yang kurang saat tidak ada Albian di dekatnya. Walaupun ia masih sakit hati dengan perlakuan pria itu padanya dulu. Tapi ia tidak bisa menampik bila ia  sangat mencintai Albian.


Devia yang di tanya seperti itu, menghentikan aktivitasnya, ia menoleh menatap Laura yang diam termangu.


"Laura, "


"Laura!" Panggil Devia sedikit meninggikan nada suaranya, membuat yang di panggil langsung terkesiap, kaget.


"Iya? Ada apa tante? " Tanya Laura spontan.


Devia menggelengkan kepalanya, heran dengan Laura . Ia kemudian tersenyum, "Tadi kamu tanya, apa? " Tanya balik Devia seraya mengancingkan resleting tas ransel berwarna hitam tersebut.


"Albian mana tante? Sudah dua hari tidak ke sini lagi? " Tanya Laura yang nampak gugup. Karna Devia tahu kalau ia tengah bertengkar dengan Albian waktu itu.


Devia tersenyum, lebih tepatnya tersenyum tengah menggoda Laura, "Katanya lagi nggak mau bertemu Albian, kenapa nyariin? " Goda Devia, membuat pipi Laura memanas, salah tingkah.


"A-aku cuma tanya aja tante, tumben tidak ke sini lagi. " Ujar Laura, memalingkan wajahnya dari Devia, entah mengapa pipinya tiba-tiba jadi blushing seperti ini . Devia makin tersenyum lebar melihat itu.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sopir pribadi Devia, memasukkan tas ke dalam bagasi mobil. Sedangkan Laura dan Devia sudah duduk di dalam mobil. Gadis itu menatap keluar jendela kaca mobil, melihat beberapa mobil yang keluar-masuk  ke area rumah sakit, mungkin menjenguk sanak saudara atau menjemput keluarga yang sudah selesai menjalankan masa perawatan di rumah sakit tersebut.


Suara mesin mobil yang di nyalakan, membuat lamunan Laura buyar. Ia menoleh menatap kearah Devia yang sibuk berchatan dengan seseorang yang, entahlah Laura tidak tau tapi terlihat Mamah dari Albian itu tersenyum-senyum membaca balasan dari pengirim pesan.


"Tante, om Skala mana? " Tanya Laura, membuat Devia menghentikan aktivitasnya bertukar pesan dengan seseorang di ponsel.


"Om Skala, sibuk mengurus perusahaan. Tadinya mau ikut menjemput kamu tapi tiba-tiba ada meeting mendadak. " Jawab Devia yang di balas anggukan oleh Laura.


Hingga suasana di dalam mobil kembali hening yang terdengar hanya suara deru mesin mobil dan suara pengendara yang lalu lalang. Laura mengkerutkan keningnya melihat mobil melewati rumah tante Devia begitu saja. Apa mungkin sopir pribadi ini tidak sengaja kelewatan atau memang tante Devia yang ingin pergi ke suatu tempat. Gadis itu makin di buat bingung dan juga heran saat mobil berhenti di sebuah taman yang tidak jauh dari rumah tante Devia.


"Kenapa tamannya sepi? " Gumam Laura, seraya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam menunjukkan pukul 19:00 malam tapi taman yang selalu ramai sampai pukul 22:00 malam itu begitu sepi. Tidak ada satupun orang atau muda-mudi yang selalu nongkrong di tempat ini.


Devia turun dari mobil, di susul oleh Laura yang terus menatap sekitar taman.


"Laura, tante mau ke toilet dulu ya, " ujar Devia, membuat Laura menatap kearah wanita paruh baya itu.

__ADS_1


"Ooh, iya. Kamu duluan ke taman ya. Tante sudah janjian sama teman tante di sini. Jadi kamu ikutin aja lilin yang berjejer itu, " lanjut Devia menunjuk lilin yang belum Laura sadari bila memang sudah ada di tanah yang seperti sudah di tancap agar tidak jatuh , mungkin ia kurang fokus untuk menyadari hal itu.


"Iya, tante," sahut Laura sambil menganggukkan kepalanya.


Laura langsung melangkahkan kakinya mengikuti jejeran lilin yang begitu banyak. Gadis itu makin di buat bingung ketika banyak taburan kelopak bunga mawar yang berhamburan, hingga tiba-tiba sebuah lampu menyala , menerangi kelopak bunga mawar yang berbentuk love di keliling jejeran lampu agar Laura bisa melihatnya.


Gadis itu menutup mulutnya, seakan kaget dan juga kagum, melihat hal yang menurutnya sangat romantis. Apa mungkin om Skala yang ingin memberikan kejutan pada tante Devia, dan mengira bila yang datang ini adalah tante Devia padahal itu dia.


Laura menutupi matanya saat sebuah  jejeran mobil sedan berwarna hitam secara beriringan berjalan menuju kearahnya dan menyoroti dirinya dengan lampu mobil yang begitu menyilaukan. Lima mobil itu berputar-putar mengelilingi Laura yang begitu bingung di buatnya. Hingga sebuah mobil berhenti di hadapan gadis cantik berwajah blasteran itu.


Albian keluar dari mobil dengan gagahnya dengan memakai tuxedo berwarna hitam dan kemeja putih di dalamnya, membuat pria itu terlihat lebih berwibawa dan makin terlihat tampan dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, membuat Albian tambah keren.Jangan lupakan dengan jambul rambut yang selalu tegak sebagai nilai plesnya yang menambah kadar ke tampannya.


Laura melihat Albian dengan tatapan begitu terkesima. Ia bahkan tidak bisa berkedip sedetik pun melihat Albian yang makin terlihat begitu tampan. Jantung gadis itu berdetak bertalu-talu saat Albian  berjalan mendekatinya. Satu tangkai mawar, Albian berikan pada Laura yang nampak melongo.


"Ini untuk kamu, " ujar Albian, membuat Laura tersadar pada lamunannya dengan wajah kebingungan , dan pria itu terkekeh melihat wajah Laura yang nampak begitu menggemaskan.


Dengan tangan yang berkeringat dingin dan juga bergetar, Laura mengambil setangkai bunga mawar yang di berikan Albian padanya. Ia benar-benar nervous saat ini juga.


Laura spontan mundur beberapa langkah saat Albian tiba-tiba bersimpuh di hadapannya dan menyodorkan sebuah kotak cincin yang menampilkan dua cincin berlian sepasang.


"Laura, maukah kamu menjadi istri dari Albian Fraya Sadewa, menjadi ibu dari anak-anak ku dan menjadi patner dunia-akhirat ku! " Ujar Albian dengan begitu lantang.


"TERIMA!! "


"TERIMA!! "


Teriak Alvian, Cia, Devia, Skala dan adik-adik Albian yang lainnya yang juga ikut hadir, berdiri mengelilingi Laura dan Albian entah sejak kapan.


"Terima Albian, sayang. Mommy sama Papih merestui! " Teriak Lily yang ikut hadir dengan sang suami Ria, walau duduk di kursi roda karna tubuh yang begitu lemah untuk menopang berat tubuhnya sendiri tapi itu tidak akan menyurutkan semangat Rian untuk melihat momen berharga bagi putri satu-satunya.


Laura yang melihat kedua orang tuanya yang juga hadir , langsung berlari kearah mereka bedua dan menubruk tubuh Lily, sang mommy. Gadis itu menangis sejadi-jadinya dalam dekapan wanita yang telah melahirkan. Tiga bulan harus terpisah jauh dengan kedua orang tuanya, membuat Laura sangat merindukan Mommy dan Papihnya yang harus menjalani penyembuhan penyakit yang di derita Rian.


"Ura, kangen, " ujar Laura di sela isak tangisnya , memeluk Lily yang juga tidak bisa menahan air matanya agar tidak menetes.


Tidak terasa Devia juga ikut meneteskan air matanya, melihat pemandangan yang begitu mengharukan. Ia memeluk lengan Skala, yang mengecup keningnya begitu mesra.


"Romantis banget, aku nggak pernah di lamar kayak gitu, sama kamu, " ujar Cia dengan bibir yang cemberut.


Alvian langsung menyentil kening Cia dengan pelan, "Kemaren kita nikahnya dadakan, sayang.Mana bisa aku melamar kamu yang waktu itu melamar Albian, " ujar Alvian menyindir Cia yang cengengesan dan memeluk Alvian dengan erat.

__ADS_1


"Aku lupa, andai aja aku bisa tahu Mas itu jodoh aku, mungkin aku akan melamar kamu,Mas, " ujar Cia, yang menikmati usapan lembut tangan besar suaminya.


"Queen mana kak? " Tanya Shilla yang sudah berdiri di depan mereka berdua, membuat suasana yang tadinya romantis kini langsung lenyap seketika.


"Queen, lagi sama Omanya di rumah. Tidak mungkin kalau Abang bawa ke sini, " Jawab Alvian yang di angguki Cia.


*****


"Ura kangen banget sama Papih. Papih sudah sembuhkan? " Tanya Laura yang begitu betah memeluk pria yang begitu berpengaruh bagi kehidupannya.


"Iya, sayang. Papih sudah sembuh, cuma butuh pemulihan,"jawab Rian.


" Jadi Albiannya di terima atau nggak? "Goda Rian pada Laura yang langsung memerah pipinya.


Laura melepaskan pelukannya pada Papihnya dan menatap kearah Albian yang menatap ke arahnya juga, menunggu jawaban darinya. Ia berjalan menghampiri Albian yang langsung memasang senyuman begitu manis.


" Jadi kamu mau menerima saya? "Tanya Albian dengan wajah harap-harap cemas.


Laura diam, sejenak menatap Albian.


" Maaf aku nggak bisa,"jawab Laura. Albian langsung menampilkan wajah yang begitu kecewa dan semua orangnya yang ada di sana juga ikut kecewa dan sedih mendengar jawaban Laura.


"Maksudnya nggak bisa nolak, " ujar Laura tertawa cukup keras karna melihat wajah kecewa Albian yang langsung termakan ucapannya.


Semua orang mengelus dada, ternyata hanya bercanda.


Albian langsung mencubit pipi Laura dengan gemas, karna telah di bohongi.


"Pintar banget ya, belum jadi istri sudah berani bohong, " ujar Albian yang masih mencubit pipi Laura yang memekik kesakitan.


"Sudah sakit, " ringis Laura, melepaskan tangan Albian dari pipinya.


"GAK PAPA DI BOHONGI YANG PENTING JADI KAWIN!! " Timpal Azka yang baru datang dengan mengandeng tangan Meisya yang tengah mengandung saat ini.


Semua orang yang mendengar itu langsung menatap kearah Azka yang sudah tua tapi tetap saja dengan ciri khasnya yang tidak bisa diam barang sedikit pun.


"YEYY, KAWIN!! " Sahut Albian yang langsung tertular dengan penyakit Azka.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2