Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)

Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)
Season 5:Eps 5


__ADS_3

Albian melangkahkan kakinya menuju ke pintu keluar,tangan sebelahnya mengambung-ambungkan kunci mobil . Wajahnya yang nampak biasa saja kini berubah suram saat membuka pintu rumah. Dafi sudah berdiri di depan pintu dengan tersenyum ramah pada Albian, sesekali memperbaiki dasinya.


"Ngapain kamu ke sini pagi-pagi? " Tanya Albian dengan nada tidak suka.


Dafi meneguk ludahnya kasar. Ia bisa melihat ketidak sukaan Albian atas kedatangannya kemari.


"Dafi ke sini mau jemput Laura, di suruh tante Devia. " Jawab Dafi tanpa melunturkan senyumannya yang menambah ketampanan seorang Dafi.


Albian mendelikan matanya ,dengan wajah yang memerah karna kesal.


"Laura aku yang mengantar ke kampus. Jadi kamu pulang sana. " Usir Albian menggerakkan tangannya, menyuruh Dafi pergi.


"T-tapi Dafi------"


"Eh! Dafi sudah datang ternyata. Maaf ya , pasti lama nunggunya. " Ujar Devia yang tiba-tiba muncul, entah darimana.


Senyuman Dafi semakin mengembang dan melirik kearah Albian yang memasang wajah merengut.Dafi tau bila Albian berusaha membuat dia tidak semakin dekat Dengan Laura tapi semesta seolah mendukung niat baiknya untuk menjalin kedekatan dengan Laura.


"Tante panggil Laura dulu ya, " ujar Devia pergi meninggalkan dua orang beda umur itu.


Albian menatap sinis pada Dafi yang membalas dengan senyuman. Seolah tatapan yang di berikan Albian tidak berpengaruh apapun padanya.


Sayup-sayup terdengar suara langkah kaki saling bersahutan dan semakin mendekat. Albian maupun Dafi langsung menoleh ke sumber suara.


Dafi tersenyum lebar, matanya menatap kagum pada Laura yang nampak cantik dengan balutan dress berwarna pink dan panjang dress itu melebihi lutut dengan rambut yang di gerai dan sebuah pita berwarna merah yang menjepit di sisi rambut Laura. Albian tertegun memperhatikan Laura dengan penampilan yang sangat berbeda dan pakaian yang tentunya tidak terlalu terbuka. Ia benar-benar jatuh dalam pesona Laura yang begitu cantik hari ini.


Satu kata untuk Laura yaitu"cantik".Albian melirik dengan ekor matanya, melihat Dafi juga menatap Laura. Rasanya tak rela melihat keindahan dan kecantikan Laura di nikmati laki-laki lain termasuk Dafi dan hanya dirinya yang boleh melihat keindahan dan kecantikan Laura. Egois memang tapi sejatinya cinta tidak bisa di bagi pada siapapun termasuk wanita yang perlahan mengisi kekosongan hati Albian.


Laura berjalan mendekati keduanya , berjalan beriringan dengan Devia.


"Gimana cantikan Laura? Tentu cantik, dari segi pakaian dan dandanannya sudah di ubah. Supaya yang menyia-nyiakan menyesal! " Sindir Devia di akhir kalimat pada Albian yang masih terpaku menatap Laura.


Laura menundukkan kepalanya, tersipu malu. Jujur dia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya yang terus di perhatikan Albian dengan tatapan terpesona tapi sekilas ingatan Albian membentak dan memarahinya tiba-tiba muncul di kepalanya.


"Ya sudah sana berangkat, jaga Laura dengan baik ya Dafi. " Ujar Devia yang di balas acungan jempol oleh Dafi.

__ADS_1


Dafi mengulurkan telapak tangannya pada Laura yang perlahan menatap matanya. Albian yang melihat itu, entah mengapa hatinya berdenyut nyeri. Perlahan Laura meletakkan tangannya di telapak tangan Dafi yang langsung menggenggam tangannya lembut.


"Dafi berangkat dulu ya tante.Assalamu'alaikum."Ucap Dafi, mencium punggung tangan Devia lembut tanpa melepaskan genggaman tangan sebelahnya pada Laura .


"Waalaikumsalam." Balas Devia.


Albian menatap nanar melihat, Laura masuk ke dalam mobil Dafi.


" Gimana,baru nyesel sekarang? "Ujar Devia, membuka suara.


Albian melihat kearah Mamahnya dengan tatapan yang tidak bisa terbaca.


" Mamah kenapa biarin Laura berangkat dengan Daki? Aku masih bisa mengantar Laura, Mah, "ujar Albian yang terdengar lirih.


Devia mendelikan matanya. " Bukannya kamu nggak suka sama Laura dan juga sangat tidak suka mengantarkan Laura ke kampus. Kamu ngatain Laura manjalah, nggak bisa mandirilah dan menyusahkan kamu terus. Sekarang Laura di antar Dafi kenapa kamu malah nggak suka, setidaknya kamu tidak di buat susah sama Laura. Mamah ingatkan lagi namanya Dafi bukan Daki. "Ujar Devia.


Seperti menjilat ludahnya sendiri, Albian diam seribu bahasa. Percuma menyangkal ucapan Mamahnya yang memang benar. Seharusnya dia senang Laura tidak menyusahkannya lagi tapi kenapa rasanya tidak rela Laura jauh darinya barang sedetik pun apalagi berdekatan dengan Dafi.


🍁🍁🍁🍁🍁


Dafi membukakan pintu mobil untuk Laura. Gadis itu keluar dari mobil. Ia tersentak ketika Dafi kembali menggenggam tangannya.


" Iya, sama-sama. "Ujar Dafi.


" Aku punya sesuatu untuk kamu, "ujar Dafi, membuat Laura yang hendak pergi di urungkan ketika mendengar ucapan Dafi.


Dafi mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya. Ia memberikan setangkai bunga mawar merah pada Laura yang nampak kaget.


" Ini buat aku? "Tanya Laura yang masih memasang wajah keterkejutannya. Baru kali ini ada seorang laki-laki yang memberikan bunga padanya.


Laura langsung mengambilnya dengan senyuman manis yang dia lemparkan pada Dafi. Ia menghirup dalam aroma bunga tersebut.


" Suka? "Tanya Dafi yang di angguki Laura.


Di lain sisi, Albian mencengkram kuat setir mobilnya melihat dari kejauhan,Dafi memperlakukan Laura begitu manis. Ternyata pria itu bergerak sangat cepat untuk benar-benar ingin mengambil hati dan perhatian Laura.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁


Albian langsung menghempaskan pantatnya dengan kasar di sofa. Alvian yang tengah bermain dengan Queen menatap kearah kembarannya.


" Kenapa datang-datang muka di tekuk seperti itu? "Tanya Alvian. Albian menatap sekilas pada Alvian dan kembali menatap kearah lain dengan menopang dagunya.


Alvian mengidikan bahunya, acuh. Kalau Albian tidak mau memberitahu, Alvian tidak masalah toh bukan masalahnya juga.


" Yayayaya... "Queen menunjuk-nunjuk pulpen yang berwarna merah pada Alvian.


" Queen mau ini? "Ujar Alvian menyodorkan pulpen pada Queen yang tersenyum dan mengambil pulpen tersebut dari tangan Alvian.


" Aduh! Queen kebiasaan ya. Suka ngemut-ngemut barang sembarangan. Ini kotor banyak kumannya. "Nasehat Alvian pada Queen mengemuti pulpen.Bayi itu mengerjap-ngerjapkan matanya lucu melihat Alvian yang berceloteh. Queen yang baru berusia lima bulan itu, menggerakkan tangannya hendak meraih wajah Alvian. Ia tertawa seakan Alvian tengah mengajaknya bercanda.


Sudut bibir Albian terangkat, tersenyum. Melihat interaksi ayah dan anak itu. Rasanya ia ingin segera menikah dan memiliki banyak anak.


" Cia, mana? "Tanya Albian yang malah dapat pelototan mata dari Alvian.


" Kenapa nyari-nyari istri aku?! "Tanya Alvian dengan nada tidak suka.


" Kenapa sih kamu sensian seperti itu?Aku cuma tanya bukan rebut istri kamu. Lagipula tumben-tumben bawa Queen ke kampus? Memangnya Cia kemana? "Tanya Albian lagi.


Alvian menghela napas lelah. " Cia kemaren ngerengek sama aku mau reunian sama teman SMA-nya tapi Queen nggak ada yang jaga dan Queen juga lebih dekat dengan Cia. Tadi Queen nangis-nangis pas liat Cia pergi sama temannya. "Ujar Alvian yang menguyel-uyel pipi gembul Queen yang tengah mengemuti biskuit di peruntukan untuk bayi.


" Terus kenapa kamu biarin Cia pergi. Kasihan Queennya , apalagi anak kamu minumnya ASI. "Ujar Albian.


" Sudah di sediakan stok ASI untuk Queen di botol. kalau Queen mau ASI tinggal aku tuangkan ke dodot. "Jawab Alvian.


" Walaupun statusnya sudah menjadi istri dan kewajibannya memang menjalankan tugasnya sebagai seorang ibu rumah tangga . Tapi aku juga harus membiarkan Cia untuk bebas, menikmati dunia luar sekedar menghilangkan kepenatannya yang berkutat di dapur,membersihkan rumah ,mengurus aku dan Queen.Cia juga butuh liburan, jadi tidak masalah bila aku menjaga Queen . Kasihan Cia setelah melahirkan Queen dia jadi jarang melakukan perawatan . Jadi seharian ini full Cia untuk memanjakan dirinya entah ke salon atau shopping. "Lanjut Alvian tersenyum.


" Ya memang seperti itu resiko jadi wanita sudah punya anak dan suami . Segala pekerjaan rumah di lakukan seperti maling, harus cepat dan cekatan. Tapi bukannya kamu punya pembantu? "Tanya Albian.


" Pembantu kemaren berhenti karna anaknya sakit di kampung dan tidak bisa di tinggal. Jadi untuk sementara Cia yang memasak dan bersih-bersih rumah. Kalau aku tugasnya nyuci pakaian , nyiram bunga di halaman dan membantu apa yang bisa aku bantu. Kami berdua bagi tugas setidaknya bisa meringankan tugas Cia. "Ujar Alvian.


Albian tertepuk tangan, respect pada Alvian.

__ADS_1


Bersambung...


Bersambung....


__ADS_2