Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)

Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)
Season 2:Eps 27


__ADS_3

Laura terus menggengam tangan Albian yang berlumuran bercak darah. Ia terus menangis sesegukan menatap suaminya yang masih terjaga, dengan alat bantu pernapasan yang melekat di antara hidung dan mulut Albian. Mobil Ambulan melaju dengan kencang dengan serine yang terus berbunyi, agar para pengendara menepi.


"Kakak Albian aku takut, " ucap Laura di sela-sela tangisnya. Albian hanya memberikan lirikan tanpa mengeluarkan suara, namun tatapan matanya seakan mengatakan kepada Laura, bila semuanya akan baik-baik saja. Rasa sakit yang di rasakan Albian dengan suara yang tersekat di tenggorokan, membuat ia kesulitan untuk mengeluarkan  sepatah kata pun.


"Ke-kenapa pisaunya tidak di cabut? Suami saya kesakitan, karna pisau itu masih menancap." Ujar Laura pada petugas  yang duduk menghadap ke arahnya.


"Maaf mbak. Bila saya cabut pisau ini, sama saja saya mempercepat kematian suami mbak . Bila mencabutnya sembarangan maka itu akan berakibat fatal, " tutur petugas itu. Laura terdiam, mendengar penuturan pria dengan seragam putih yang melekat di tubuhnya ,seakan mengerti.


Tangan gadis itu terulur memberikan usapan lembut di kepala Albian yang terus merintih kesakitan dengan keringat dingin yang membasahi wajah suaminya. Walau pria tersebut  berusaha menyembunyikan apa yang ia rasakan sekarang dari Laura , tapi tetap saja rasa sakit ini sangat menyiksa dirinya.


"Bertahan kak, sebentar lagi kita sampai rumah sakit . Jangan di tutup matanya. " Ujar Laura berbisik di telinga Albian, mewanti-wanti.


Mobil Ambulan itu telah sampai di depan rumah sakit, setelah memakan waktu tempuh selama 30 menit . Laura terlebih dulu turun dari mobil Ambulan.Beberapa para petugas rumah sakit menurunkan Albian dari mobil Ambulan dengan brankar yang beroda.


Laura berlari mengikuti para suster yang mendorong brankar ke arah ruang UGD. Gadis itu hampir jatuh karna larinya tidak seimbang dengan para suster yang membawa Albian dengan tergesa-gesa , karna benar-benar mengutamakan keselamatan pasien.


"Maaf, anda tidak bisa masuk ke dalam, " cegah suster tersebut saat Laura akan masuk menyusul Albian ke dalam.


"Tapi suami saya sangat membutuhkan saya ada di sampingnya. Saya mohon izinkan saya masuk. " Mohon Laura dengan kedua tangan yang menyatu.


Suster tersebut tetap melarang dan langsung menutup pintu tersebut dengan rapat-rapat. Laura menangis dengan rasa sesak yang menjalar di dadanya, ia menatap dari kaca pintu tersebut yang buram, tidak melihat dengan jelas apa yang di lakukan para dokter dan suster pada suaminya. Laura menempelkan telapak tangan kanannya di kaca itu.

__ADS_1


"Aku mohon, tetap bertahan demi aku. Aku yakin kakak kuat dan bisa melewati ini semua. Maafkan aku, karna aku, kakak harus terluka seperti ini. Andai waktu bisa di putar kembali, biarlah aku yang ada di posisi kakak sekarang. Aku benar-benar tersiksa melihat kakak seperti ini".


Laura menjauhkan dirinya dari depan pintu yang bertuliskan ruang UGD yang tersemat di pintu tersebut. Ia berjalan kearah tempat duduk. Laura mendudukkan dirinya di kursi . Ia memejamkan matanya dengan kepala yang mendongak ke langit-langit dengan mata yang terpejam .


Ceklek...


Suara pintu yang terbuka, membuat Laura perlahan membuka matanya. Ia menegakkan tubuhnya dan bangkit dari tempat duduknya.Laura berjalan kearah dokter yang menangani Albian. Dokter itu tertunduk di sertai kesedihan yang terbingkai di wajahnya.Laura yang melihat aura kesedihan dari pria yang mengenakan pakaian putih tersebut, makin ketakutan. Takut terjadi hal yang buruk pada suaminya.


" Ba-bagaimana keadaan suami saya, dok? "Tanya Laura dengan nada suara yang bergetar dan tersendat.


" Maaf.... "Hanya itu yang keluar dari bibir dokter pria tersebut.


" Maaf?Maaf apa, dok? Suami saya selamatkan?Pasti dia sedang mencari saya ya? "Tanya Laura dengan senyuman merekah ,di sertai harapan besar di benaknya pada keadaan suaminya.


Laura tertawa pelan. Seolah menganggap ucapan dokter itu hanya sebuah lelucon. Hingga tawa itu berubah menjadi tangisan yang terdengar begitu pilu. Gadis itu memundurkan tubuhnya beberapa langkah, kedua tangannya mencengkram rambutnya kuat hingga kusut dan berantakan. Tubuh Laura bergetar hebat dengan tangisan histeris dan pekikan yang keras yang keluar dari bibir merah muda itu.


Laura berlari sempoyongan, masuk ke dalam ruang UGD. Ia menghentikan langkahnya di depan brankar tempat Albian yang terbujur kaku dengan wajah yang begitu pucat. Dengan langkah gontai dan pelan ia mendekati suaminya. Tangan Laura bergetar saat bersentuhan dengan wajah sang suami yang begitu dingin. Ia menatap para suster yang tertunduk.


Laura menghapus air matanya kasar. Ia mendekatkan bibirnya di telinga suami.


"Kakak jangan bercanda hiks... Aku baru bahagia karna sudah memiliki kakak , tapi kenapa sekarang kakak harus meninggalkan aku dan kembali melukai hati aku lagi, kak?Bangun kak, jangan jadi pengecut! Kakak sudah janji tidak akan membuat aku menangis lagi. Kakak Bangun!"Teriak Laura di telinga Albian, histeris.

__ADS_1


Laura langsung memeluk tubuh Albian yang begitu dingin. Ia menangis sejadi-jadinya . Tangan kanannya terkepal kuat memukul-mukul dada kokoh Albian. Para suster langsung menarik Laura, menjauh dari jenazah suaminya. Ia memberontak di sertai teriakan histeris. Satu suster melepaskan satu persatu alat medis yang melekat di tubuh Albian, termasuk alat bantu pernapasan.


" Jangan lepaskan alat itu!!Suamiku tidak bisa bernapas,bila tidak ada itu!!"Laura meneriaki suster tersebut.


"Sadar buk. Suaminya sudah meninggal, "ujar suster tersebut mengingatkan Laura yang langsung memberikan tatapan yang menghunus bagai pedang, tidak terima.


" Suami saya tidak meninggal! "Sahut Laura, meneriaki suster yang ada di sampingnya. Ia benar-benar belum bisa menerima kenyataan yang begitu menyakitkan ini. Ia merasa Albian tidak mungkin meninggalkannya.


Laura langsung melepaskan pegangan dua suster tersebut di kedua tangannya. Ia langsung mendorong salah satu suster yang mencabuk alat pernapasan pada Albian. Gadis itu kembali memasangkan alat tersebut.


" Kakak tenang ya, aku sudah memasang alat ini kembali. Supaya kakak tetap bisa hidup dan terus bernapas. "Laura memeluk tubuh kaku Albian dan memgecup kening pria tersebut.


Para suster yang ada di sana menggelengkan kepalanya, menatap iba pada Laura. Gadis itu benar-benar di butakan oleh cintanya pada Albian dan tidak bisa menerima kenyataan yang memang harus ia terima.


" Kakak , matanya jangan di tutup terus hiks.... Buka kak. Aku benci kakak terus menutup mata dan hanya diam".


Laura mengguncang-guncang tubuh Albian yang sudah tidak berjiwa itu.


"Kakak Albian!! " Teriak Laura dengan kencang. Napas gadis itu terengah-engah dengan keringat yang mengucur di seluruh wajah dan lehernya.


Ia menatap sekitar. Para suster dan pengunjung rumah sakit menatap kearah dirinya, aneh. Laura langsung melihat kearah pintu UGD yang masih tertutup rapat. Jadi itu cuma mimpi. Ia mengira itu benar-benar nyata, bila ia harus kehilangan Albian untuk selama-lamanya. Laura langsung mengusap wajahnya kasar.

__ADS_1


Bersambung....


Hari ini free


__ADS_2