
...Bila Noveltoon bisa mengubah moodmu, maka Al-Quran bisa mengubah kehidupan mu lebih baik lagi~readers~...
Happy reading
"Aku pergi dulu ya" ujar Alvian seraya tersenyum lembut.
Cup!
Pria itu mencium kening Cia dengan sayang. Cia tersenyum, hatinya tiba-tiba menghangat mendapatkan kecupan dari Alvian di keningnya.
"Ingat, jangan keluar" peringat Alvian.
"Iya, pak Alvian" sahut Cia, memeluk pinggang suaminya dengan erat . Ia mendongak menatap Alvian yang menunduk menatap dirinya yang duduk di sofa sedangkan Alvian berdiri.
Alvian mengacak rambut Cia"Aku pergi dulu"ujar Alvian melepaskan lilitan tangannya Cia di pinggangnya.Gadis itu nampak kecewa dengan raut wajah yang nampak sedih. Ia mengusap perut ratanya.
"Kenapa Mommy tiba-tiba sedih bila jauh dari daddy kamu, dek? Apa kamu yang memang tidak mau jauh dari daddy kamu? " tanya Cia pada janin yang ada di perutnya, seakan mendengar apa yang ia ucapkan.
Cia mengangkat kakinya di sofa dan duduk selonjoran di sofa tersebut. Ia merasa cepat lelah setelah hamil, sebelum hamil ia tidak mudah lelah seperti ini. Cia menatap sekitar ruangan Alvian yang di dominasi warna hitam, entahlah, mungkin suaminya itu sangat menyukai warna hitam. Tapi yang membuat Cia betah di ruangan Alvian adalah aroma parfum suaminya sangat melekat di ruangan ini.
Cia mengambil tasnya di meja dan membuka tas berwarna merah maron tersebut. Ia tersenyum melihat masih tersisa dua cemilannya. Cia menyobek bungkus coklat pergi panjang tersebut dan langsung melahapnya. Gigitan demi gigitan , coklat yang di makan Cia akhirnya habis. Ia kembali mengambil cemilan satunya, keripik kentang yang sangat dia sukai. Gerakan Cia membuka bungkus keripik tersebut terhenti ketika mendengar suara pintu yang terbuka.
Cia menoleh ke arah pintu dengan senyuman merekah .Ia mengira orang yang membuka tersebut adalah Alvian. Senyuman Gadis bermata coklat berair itu langsung memudar dengan wajah yang tiba-tiba memucat. Bungkus kripik yang telah ia buka langsung jatuh ke lantai.
Rayyan mengunci ruangan tersebut. Ia berjalan mendekati Cia yang sudah bangkit dari sofa.
"Hallo baby, akhirnya kita bisa bertemu lagi. Aku sudah mencari kamu kemana-mana. Akhirnya aku menemukan kamu, hahaha.. " tawa Rayyan begitu keras, menggelegar mengisi ruangan yang kedap suara tersebut.
"Pergi!! Jangan mendekat brengsek! Pergi! " teriak Cia , berusaha menjaga jarak dengan Rayyan yang semakin mendekat.
Greb
Dengan gerakan cepat Rayyan menarik pergelangan tangan Cia, membuat gadis itu menabrak dada kokoh Rayyan yang nampak tersenyum mengerikan bagi Cia.
"Lepas, lepasin aku, brengsek!! " teriak Cia, mendorong Rayyan yang merengkuh pinggangnya dengan erat.
"Kenapa kamu berani mengucapkan kata-kata kasar seperti itu padaku Cia. Brengsek? Dulu kamu selalu memanggilku kak Rayyan" ujar Rayyan membelai pipi Cia dengan sensual.
Cia tidak bisa membendung air matanya. Ia menatap Rayyan yang membalas tatapan matanya.
"I-itu dulu, sekarang tidak! Kau bukan kakak ku . Kamu pria brengsek berhati iblis! " cela Cia dengan nada suara yang bergetar,menahan tangis. Ia mendorong Rayyan hingga melepaskan rengkuhannya.
Gadis itu mundur beberapa langkah, menjauh dari Rayyan yang tak lepas menatap Cia yang berusaha tidak ketakutan tapi raut wajah dan matanya tidak bisa di bohongi.
"Kamu bukan kakak aku! Kakak mana yang tega melecehkan adik tirinya sendiri" ujar Cia mengigit bibir bawahnya menahan sakit mengingat masa lalu yang begitu menyakitkan.
"Aku tau kamu memiliki penyakit hyper *** tapi kenapa harus aku yang jadi pemuas hasrat kamu? Kenapa?!Dan ayah aku meninggal itu karna ulah Mamah kamu!! Kalian tega membunuh ayah aku, demi ambisi kalian untuk menguasai harta keluargaku. Dan juga Mamah kamu tega menjual aku, saat ayah aku terbaring lemah di ranjang. Kalian tega memisahkan seorang putri dari ayah kandungnya.Kalian lebih rendah dari binatang, bahkan induk harimau tidak pernah tega membunuh bayi kijang yang tak berdaya saat induknya meninggalkannya untuk menyelamatkan diri" napas Cia turun naik. Terlihat jelas luapan amarah dari matanya.Sorot mata Cia menggambarkan kesedihan yang mendalam.
Rayyan terdiam, dengan tangan terkepal. Ia memalingkan wajahnya. Apa yang di ucapkan Cia memang benar, tapi untuk masalah Mamahnya menjual Cia, ia tidak pernah tau. Karna saat itu ia tinggal di rumah oma'nya. Dan Mamahnya hanya mengatakan bila Cia kabur bukan di jual. Kalaupun ia tau Mamahnya akan menjual adik tirinya , maka ia tidak akan pernah setuju dan akan menentang.
On flashback
"Dek, kesini. Kakak mau bicara " panggil Rayyan melambaikan tangannya di ambang pintu.
"Ada apa kak? " tanya Cia mendongak menatap Rayyan.
__ADS_1
Remaja berumur 18 tahun itu menarik tangan Cia masuk ke dalam kamarnya. Ia mendudukkan adik tirinya di pangkuannya.
"Kamu diam nurut sama kakak" ujar Rayyan dengan nada memerintah. Cia mengangguk kepalanya patuh.
Rayyan menyentuh area sensitif Cia, membuat gadis itu menggelinjang kesakitan dan merasakan perih di daerah sensitifnya.
"Akh.. Kakak sakit hiks... Sudah kak, sakit hiks... " Cia berusaha narik tangan Rayyan dari dalam celananya. Seakan tidak memperdulikan tangisan adik tirinya demi memuaskan hasrat dan fantasi liarnya. Rayyan dengan teganya memasukkan dua jarinya ke dalam milik Cia yang waktu itu masih berumur 8 tahun.
"Ayah tolong hiks... Kakak Rayyan sakit hiks.... Sudah kak ampun hiks... " tangisan dan jeritan Cia tidak menghentikan aksinya yang memajukan jarinya.
Brakk
Suara pintu terbuka dengan kasar. Dani menatap nyalang pada Rayyan yang masih melakukan aksi gilanya.
"Rayyan!! " teriak Dani, berjalan cepat kearah Rayyan dan mengangkat tubuh mungil Cia yang sudah lemah.
"Apa yang kamu lakukan dengan Fely, hah?! Kamu memang anak kurang ajar!! Rima!!! " teriak Dani dengan keras . Sedangkan Rayyan terlihat santai tak merasa takut sedikit pun.
"Apa sih mas , teriak-teriak? Kuping aku sakit dengernya" gerutu Rima.
"Kamu didik anak kamu! Maksudnya apa melecehkan Fely, hah?! Ini karna kamu membiarkan dia berteman dan berkeliaran bebas di luar. Aku yakin pasti anak kamu ini, melakukan hal menjijikan seperti ini pasti karna pengaruh dari teman-temannya" ujar Dani menatap tajam pada Rayyan.
"Heh! Mas. Jangan asal nuduh ya. Anak aku, anak yang baik dan tidak mungkin melakukan itu pada Felicia yang jelas-jelas masih kecil. Kalaupun ia ingin menuntaskan hasratnya tinggal pergi ke club" ujar Rima, menatap sinis pada Dani.
Dani menggelengkan kepalanya, menatap tak percaya dengan Rima yang membela Rayyan dan mewajarkan Rayyan berhubungan suami istri di luar sana dengan wanita lain.
"Kamu gila Rima!! Aku menyesal menikah dengan kamu. Aku kira bila aku menikah dengan kamu maka Cia akan bahagia dan mendapatkan kasih sayang seorang ibu , hal yang tidak pernah Cia dapatkan" ujar Dani yang langsung pergi membawa Cia yang sudah lemah.
"Kamu saja yang terlalu membela putri bodoh kamu itu!! " teriak Rima pada Dani yang berjalan menjauh, keluar rumah.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Alhamdulillah, tidak apa-apa, pak. Cuma lecet sedikit. Andai benda itu di masukan begitu dalam mungkin selaput darah di daerah sensitif anak bapak akan sobek, dan mungkin akan mengalami pendarahan seperti saat seorang wanita pertama kali melakukan hubungan suami istri, maka vaginanya akan mengeluarkan darah karna masih perawan tapi untuk anak kecil seperti Felicia darah akan terus keluar sampai lukanya mengering. Tapi beruntung lukanya tidak sampai menyobek selaput darah anak bapak " jelas dokter Jesy .
"Apakah anak saya masih perawan? " tanya Dani. Mungkin terdengar gila, tapi ia tidak mau saat putrinya dewasa nanti dan menikah, suaminya akan mengira Felicia sudah berhubungan dengan pria lain.
Dokter Jesy tersenyum "Jadi begini kesimpulannya, pak.Untuk pertanyaan anda, memasukkan jari ( benda lain) ke dalam ****** tentu saja dapat menyebabkan terjadinya robekan pada selaput darah yang dapat disertai perdarahan ringan pada sebagian wanita, tetapi hal ini tidak dapat digunakan sebagai acuan apakah sudah tidak perawan atau tidak. Kecuali wanita tersebut memang sudah berhubungan layaknya suami istri dengan pria lain maka itu bisa dianggap wanita tersebut sudah tidak perawan lagi " tutur dokter Jesy.
Dani bernapas lega, setidaknya masa depan putri kecilnya masih aman .
"Tapi masalah terbesar yang harus di hadapi anak bapak adalah rasa trauma dari mental dan psikisnya. Karna anak kecil seperti Felicia sangat sulit melupakan kejadian pelecehan yang ia alami. Dan untuk penyembuhan hanya cukup menghibur dan tidak membiarkan Felicia sendirian karna itu akan membuat ia terus mengingat pelecehan tersebut. Dan lebih penting lagi, pelaku pelecehan untuk tidak di pertemukan dengan Felicia. Apakah bapak tidak berniat melaporkan pelaku? " tanya dokter Jesy, sebenarnya ia sangat geram dengan sang pelaku. Bisa-bisanya anak sekecil Felicia jadi sasaran untuk menyalurkan kebutuhan biologis dan fantasi gila.
Dani tersenyum miris.Bagaimana bisa ia melaporkan pelaku yang merupakan anak tirinya sendiri ke polisi.
🍁🍁🍁🍁🍁
Dua tahun berlalu semenjak kejadian itu. Rayyan di pindahkan oleh Dani ke rumah oma ,ibu dari pihak Rima. Ia tidak mau mengambil resiko bila pelecehan yang di lakukan Rayyan akan terulang kembali. Tentu, Dani dan Rima bertengkar hebat tentang masalah ini . Rima tidak terima bila Rayyan tinggal dengan orangtuanya. Tapi wanita itu tidak bisa menentang Dani yang mengancam melaporkan Rayyan ke polisi atas tindakan pelecehan.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Ayah cepat sembuh ya . Cia sayang
ayah "ujar Cia mengusap punggung tangan ayahnya dengan lembut.
Dani terbaring tak berdaya di ranjang. Pria berumur 35 tahun itu harus mengalami trok tiba-tiba. Dani tidak bisa bicara maupun berjalan dan itu tidak lepas dari perbuatan Rima yang memang mengincar harta milik Dani.
__ADS_1
" Ayo ikut, aku! "ujar Rima menarik tangan Cia dengan kasar .
" Mamah sakit, jangan di tarik tangan Cia, Mah "mohon Cia merasakan kebas di pergelangan tangannya akibat tarikan kasar Rima.
Buk...
Rima mendorong kasar Cia hingga jatuh terjerembab di dalam kursi mobil.
" Mamah kita mau kemana? Cia mau menemani ayah, Mah. Kasihan ayah, Mah "Cia mengoyang-goyangkan bahu Rima yang tengah menyetir mobil.
" Diam Cia! Dan jangan panggil aku Mamah, aku bukan Mamah kamu, bodoh! "bentak Rima menambah kecepatan mobilnya.Cia tersentak mendengar bentakkan Rima. Ia duduk di kursi mobil dengan banyaknya pertanyaan di benaknya saat ini . Ia mau dibawa ke mana oleh Mamah tirinya?
Mobil berhenti di depan sebuah mansion. Rima keluar dari mobil dan menarik kasar tangan Cia yang menolak keluar dari mobil.
" Cepat keluar, Cia! "ujar Rima menarik tangan Cia.
" Cia enggak mau, mah. Cia mau pulang "ujar Cia.
" Ikut atau ayah kamu saya jamin hidupnya tidak lama lagi"ancam Rima. Tubuh Cia melemah dan Rima tersenyum melihatya.
"Ini anak yang saya tawarkan pada bapak Dirga. Bapak cuma bayar 12 miliar bila menginginkan Cia " ujar Rima.
Nevia langsung mendekati Cia dan memeluknya.
"Mas, dia sangat mirip dengan almarhum putri kita bunga" ujar Nevia dengan mata berkaca-kaca ,mengusap pipi chubby Cia yang menatap bingung pada Nevia.
"Tapi Cia memang anak yatim piatu, kan? Saya takut Cia masih mempunyai orang tua " ujar Dirga memberikan satu koper besar berisi uang yang diinginkan Rima.
"Tentu, dia di buang oleh kedua orang tuanya di depan rumah saya. Saya merawat dan menjaganya dengan baik. Saya menjual Cia karna tidak mempunyai uang untuk memenuhi kebutuhannya termasuk membiayai pendidikannya, daripada dia hidup luntang-lantang, masa depan belum tentu cerah, lebih baik saya jual pada bapak. Saya juga tidak bohong'kan . Lihat wajah Cia sangat mirip dengan almarhum putri bapak " ujar Rima menatap Nevia yang terus memeluk Cia yang diam mematung.
Dirga mmenganggukkan kepalanya. Apapun akan dia berikan pada Nevia, istrinya. Agar tidak terus merancau memanggil Bunga yang sudah meninggal dunia.
Off flashback
"Kenapa diam, hah?! Beruntung masih ada orang baik yang merawat aku seperti anak kandungnya sendiri. Kamu dan ibu kamu orang gila yang mementingkan harta demi ambisi kalian terpenuhi! " ujar Cia dengan napas memburu.
Buk
Rayyan langsung menerjang tubuh Cia yang langsung jatuh ke sofa.
"Lepasin aku, bapak Alvian tolong!! " teriak Cia mendorong tubuh besar Rayyan yang mengukung tubuhnya .
"Iya, aku akui. Aku memang pria hyper ***" ujar Rayyan mencium bibir Cia dengan rakus.
"Mmmppp"
🍁🍁🍁🍁🍁
"Mau kemana? " tanya Albian yang tak sengaja berpapasan dengan Alvian yang nampak buru-buru.
"Laptop ku ketinggalan di ruangan. Oh, iya. Albian tolong belikan bubur buat Cia di kantin ya " ujar Alvian.
"Bukannya kamu juga mau ke ruangan kamu ya " ujar Albian.
"Iya, tapi aku harus buru-buru. Kasihan mahasiswa ku menunggu lama, bila membelikan bubur untuk Cia " ujar Alvian yang di balas anggukan oleh Albian.
__ADS_1
Sampai sini ya, tangan aku tremor 🖐 kelamaan ngetik. Aku menulis 2000 kata. Sambungan nanti malam InsyaAllah. tolong berikan masukan bila cerita ku ada kekurangan atau kesalahan😄.