Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)

Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)
Kepergok


__ADS_3

Sebaik-baiknya bacaan, adalah Alquran 📖


Happy Reading


Alvian akan mengabarkan berita bahagia ini pada seluruh keluarganya terutama keluarga Cia. Ia juga akan mengatakan hal ini pada istrinya setelah sampai di rumah. Sebenarnya Alvian tampak ragu mengatakan ini pada Cia. Ia hanya takut gadis ini tidak menerima bila tengah mengandung anaknya. Alvian ingat betul, saat Cia sangat marah bila dirinya sudah menggauli gadis ini. Bisa saja'kan Cia juga tidak menerima bila dirinya tengah hamil.


*******


"Kamu aku antar pulang ya, karna Kondisi kamu tidak memungkinkan untuk kuliah" ujar Alvian. Cia terdiam sejenak, sedetik kemudian ia menganggukkan kepalanya pelan, setuju dengan ucapan Alvian.


"Bapak mau apa! " pekik Cia, ketika Alvian tiba-tiba mengangkat tubuhnya dari brankar.


"Kamu diam, biar kamu aku gendong, nanti kamu capek kalau jalan kaki " ujar Alvian mengangkat tubuh mungil Cia.


"Bapak apaan sih, aku cuma pusing kepala bukan lumpuh!Kenapa pakai di gendong segala sih? Turunin aku sekarang! " suruh Cia dengan nada memerintah.


Alvian seakan menulikan pendengarannya. Ia tetapi mengendong Cia dan berjalan keluar dari ruangan tempat istrinya di rawat tadi.


"Bapak turunin, aku! " ujar Cia dengan wajah merengut kesal dan menggerakkan tubuhnya di


gendongan Alvian.


"Tidak!" sahut Alvian tegas, dengan tatapan lurus ke depan .Ia tidak peduli dengan tatapan para pengunjung lain dan para perawat padanya.


Cia mendengus geram"Turunin aku, Aku malu"cicit Cia pelan namun penuh penekanan.


Alvian menunduk menatap Cia yang menekuk wajahnya dalam gendongannya.


"Diam atau aku cium " ancam Alvian.


"Sini kalau mau cium, palingan enggak berani, pasti bapak cuma mau mengancam aku'kan, supaya nurut sama bapak. Tapi sayang aku tidak ke makan dengan ancaman bapak " ujar Cia menatap sinis pada Alvian.


Cup


Cia langsung membelalakan matanya ketika Alvian menciumnya sekilas di bibir. Wajahnya nampak syok, apalagi semua orang melihat kearahnya, sudah pasti mereka melihat adegan yang sangat memalukan itu , rasanya ia ingin mengubur dirinya hidup-hidup saat ini juga.


"Kenapa diam? Mau lagi " tawar Alvian terkekeh pelan.


Cia yang tersadar dari lamunannya hanya diam. Ia menyembunyikan wajahnya di dada kokoh suaminya. Saat ini dia benar-benar sangat malu, dia pikir ucapan Alvian hanya ancaman saja tapi pria ini benar-benar melakukannya. Alvian tersenyum melihat Cia yang nampak malu, sangat menyenangkan mengerjai istrinya. Mungkin ini akan jadi hobi baru Alvian, menjaili istrinya.


Alvian menurunkan Cia dari gendongannya setelah sampai di parkiran . Ia membukaan pintu Cia, tanpa di suruh pun gadis itu langsung masuk ke dalam mobil. Alvian langsung menyusul masuk ke dalam mobil.


"Cia pakai tali pengamannya dulu, aku takut berhenti mendadak " ujar Alvian .


Dengan malas, Cia memasang seatbelt di badannya . Gadis itu nampak menggerutu karna kesusahan memasang seatbelt di badannya. Ia memang tidak terbiasa memasang seatbelt saat naik mobil. Jadi kurang paham memasang benda ini ke badannya.

__ADS_1


Alvian yang melihat itu tersenyum tipis.


"Sini biar aku bantu " ujar Alvian, mendekatkan tubuhnya pada Cia untuk memasang tali pengaman tersebut di tubuh sang istri.


Cia menahan napasnya saat tubuhnya merapat dengan tubuh Alvian. Aroma maskulin benar-benar menyeruak dari tubuh suaminya, tapi dia merasa rasa pusing di kepalanya dan rasa mual mulai menghilang saat mencium aroma tubuh Alvian yang seakan menjadi obat penyembuh baginya.


Alvian tersenyum ketika sudah memasang seatbelt di badan istrinya. Ia hendak menjauh dari tubuh Cia, tapi tatapan sang istri yang begitu lekat padanya,membuat ia mulai hanyut di dalamnya. Mata Alvian tiba-tiba jatuh pada bibir tipis berwarna cherry alami milik Cia. Ia jadi ingin mencicipi lagi .


Pria itu sedikit memiring wajahnya, ia mendekatkan wajahnya, hingga bibirnya menyatu dengan bibir milik Cia. Gadis itu nampak kaget . Alvian mulai menggerakkan bibirnya, ia mencium Cia dengan lembut . Namun ciuman itu mulai kasar dan menuntut. Cia hendak memberontak tapi ia mulai menikmati itu semua. Suara decapan dan lenguhan terdengar jelas di antar keduanya yang sudah hanyut di dalamnya.


Tok tok


Suara ketukan yang cukup keras di jendela kaca mobil, membuat aktivitas suami-istri itu terhenti. Alvian langsung melepaskan tautan bibirnya. Ia mengusap kasar bibirnya yang nampak membengkak.


Alvian menunggu Cia yang merapikan pakaian dan rambutnya yang nampak kacau setelah itu baru membuka kaca mobilnya.


Nampak pria dengan seragam tukang parkir dengan peluit yang mengalung di lehernya menggelengkan kepalanya. Karna ia sempat mengintip melalui kaca mobil, saat Alvian tengah berciuman dengan Cia.


"Bapak kalau mau ehme,ehm sama istrinya jangan di sini, dari tadi saya sudah memperhatikan mobil bapak, mesin mobilnya sudah menyala tapi tidak jalan-jalan " cerocos tukang parkir dengan kumis brewokan tersebut.


Cia menutupi wajahnya dengan bantal kecil berbentuk hello kitty. Ia seperti pasangan yang tertangkap basah tengah melakukan hubungan terlarang. Benar-benar hari ini sangat melakukan bagi Cia.


Alvian tampak tersenyum "Bapak kaya tidak pernah muda saja , saya pengantin baru jadi wajar tidak bisa menahan diri kalau bersama istri saya bila berduaan" ujar Alvian. Cia menatap tajam Alvian yang sudah tidak tau malu mengumbar hal seperti itu pada orang lain.


"Awws!Sakit sayang" ringis Alvian merasakan cubitan Cia di pinggangnya.


"Pak saya jalan dulu , istri saya mau cepat-cepat pulang" ujar Alvian, yang di balas anggukan oleh tukang parkiran tersebut.


Alvian mulai mengendarai mobilnya dengan kecepatan normal.


"Bapak kenapa sih, bicara seperti itu sama orang asing? Aku malu tau gak, orang lain sampai tau apa yang kita lakukan di mobil , ini salah bapak! " ujar Cia merajuk.


Cia bersedekap dada dan menekuk wajahnya. Ia benar-benar di buat kesal oleh Alvian.Sedangkan pria itu memilih diam, ia yakin saat berbicara Cia tidak akan merespon karna masih dalam mode marah .


Mobil yang di kendarai Alvian, sudah memasuki pekarangan rumah. Ia memarkirkan mobilnya tepat di depan teras. Cia langsung turun dari mobil dengan wajah merengut.


Alvian yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Cia membuka pintu rumah. Ia nampak mengeryit heran melihat dalam rumah yang sangat gelap. Biasanya lampu di ruang tamu dan ruangan lain , lampunya selalu di nyalakan agar tidak terlalu gelap di rumah ini.


Lampu tiba-tiba menyala seketika , dan itu membuat Cia nampak terkejut. Mata gadis itu membola melihat kedua orang tuanya dan mertuanya berdiri di depannya.


"Ayah! Bunda! "Cia langsung memeluk Nevia dengan erat.


" Aku merindukan kalian "ujar Cia beralih memeluk Dirga.

__ADS_1


" Kami juga merindukan kamu, Cia "ujar Dirga mencium pipi chubby putrinya dengan gemas.


Devia mendekati Cia , ia mengusap kepala menantunya dengan lembut. Cia menatap kearah Devia saat merasakan usapan di kepalanya.


" Bunda"ujar Cia mencium punggung tangan Devia dengan lembut.


"Gimana kabar kamu, sayang? " tanya Devia lembut.


"Alhamdulillah, baik bunda " jawab Devia.


"Papah tidak di tanya kabarnya gimana? " ujar Skala dengan nada bercanda. Cia tersenyum, mendekati Skala dan mencium punggung tangan mertuanya.


"Kamu makin cantik, nak. Bagaimana kehidupan kamu setelah berumah tangga dengan Alvian? Apa Alvian memperlakukan kamu dengan baik? " tanya Skala.


Cia menoleh kearah Alvian yang tersenyum tipis kearahnya.


"Pak Alvian memperlakukan aku dengan baik, Pah" jawab Cia.


Skala dan yang lain langsung mengkerutkan keningnya mendengar Cia yang memanggil Alvian dengan sebutan pak.


"Kamu kenapa memanggil Alvian dengan sebutan pak, nak? " tanya Dirga mendekati putrinya .


Cia terdiam sambil merutuki kebodohannya di dalam hati.


"M-maksud aku mas Alvian, aku tidak sengaja memanggil mas Alvian dengan sebutan pak. Karna di kampus aku memanggil pak jadi sampai sampai ke biasaan " ujar Cia beralasan.


Dirga dan yang lainnya mengangguk. Paham dan mengerti.


"Selamat ya sayang atas kehamilan kamu " ujar Devia yang langsung memeluk Cia yang nampak terkejut.


"H-hamil, maksudnya apa? " tanya Cia bingung. Devia langsung melepaskan pelukannya.


"Lho? Kamu tidak di beritahu Alvian , kalau kamu sedang hamil? " tanya Nevia.


Cia menggelengkan kepalanya dengan pelan. Nevia menghela napas pelan, ia menatap kearah Alvian dengan tatapan bertanya.


Alvian mendekati mertuanya sambil menggaruk pelipisnya yang tak gatal.


"Sebenarnya aku mau memberi kejutan pada Cia, jadi biar dia mendengar berita bahagia ini dari ayah sama bunda " ujar Alvian.


"Kamu senangkan, Cia.Hamil anak Alvian? " tanya Devia.


Cia menganggukkan kepalanya, seraya tersenyum tipis.


"Aku senang Mamah. Berarti Allah mempercayakan aku dan Alvian untuk merawat malaikat kecil yang tumbuh di rahim aku " ujar Cia tersenyum bahagia. Alvian bernapas sangat lega mendengar itu.

__ADS_1


Semua orang tersenyum, tak terkecuali Alvian. Pria itu berharap semoga dengan adanya janin yang tumbuh di rahim Cia, gadis itu mulai membuka hatinya dan semoga hubungan mereka semakin dekat.


Bersambung...


__ADS_2