Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)

Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)
Pernikahan


__ADS_3

Cia terus mengukir senyum di wajahnya. Hari ini akan menjadi hari yang sangat membahagiakan bagi Cia karna dia akan menikah dengan Albian. Mengikat hubungan mereka berdua di sebuah ikatan yang sakral dan tak akan mungkin bisa berpisah kecuali kematian'lah yang bisa memisahkan mereka berdua.


"Kamu cantik banget, sayang" puji Nevia menatap Cia dari pantulan cermin.


"Makasih , Mah. Kapan ijab qobulnya segera di mulai? Cia sudah tidak sabar lagi ganti status jadi istri pak Albian" ujar Cia. Nevia langsung mencubit pipi putrinya gemas.


"Kamu ini gak sabaran banget , sebentar lagi acaranya akan di mulai jadi kamu tunggu di sini dulu ya. Nanti kalau Albian sudah mengucapkan ijab qobul ,baru kamu keluar " tutur Nevia yang di balas anggukan oleh Cia.


******


Di lain tempat Albian terus mondar-mandir di dalam kamar mandi mencari cara agar pernikahan ini tidak terjadi. Ia tidak ingin menikah dengan Cia, gadis yang tidak dia cintai.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau sampai menikah dengan gadis itu " ujar Albian mengedarkan pandang matanya mencari sesuatu. Matanya jatuh pada botol pembersih lantai yang terletak di samping closed.


Albian mengambil botol pembersih lantai itu. Ada rasa keraguan di benaknya untuk melakukan hal yang gila ini yaitu meminum cairan pembersih lantai. Perlahan ia membuka tutup botol tersebut, sebelum meminumnya Albian mencium aroma pembersih lantai yang sangat menyengat dan membuat ia beberapa detik tidak bisa bernapas.


"Semoga aku tidak mati meminum ini, aku hanya ingin menggagalkan pernikahan ini" ujar Albian.


Bismillahirrahmanirrahim


Setelah mengucapkan basmalah Albian meminum cairan pembersih lantai itu. Walau ia tau apa yang dia lakukan mengancam nyawanya dan sesuatu yang di benci Allah tapi dia tidak ada pilihan lain. Botol yang di pegang Albian langsung terjatuh ke lantai. Ia memegangi lehernya yang seakan tercekik setelah meminum racun itu. Wajah Albian memerah menahan sakit di tenggorokannya yang tersekat.Perlahan Albian mulai kesusahan bernapas, dia mulai kejang-kejang dan seluruh tubuh yang bergetar.


Brakkk


Albian jatuh terkapar di lantai kamar mandi dengan busa yang terus keluar dari mulutnya. Matanya masih terbuka walau dia sudah tidak sadarkan diri lagi.


Devia mempersiapkan jas pengantin yang akan di pakai Albian. Shella dan Dira sibuk dengan ponselnya masing-masing, sesekali mereka selfie dengan ponsel mereka berdua. Sedangkan Shalla dan Dela berada di ruang rias Cia .


"Shella kamu cek kamar mandi, dari tadi abang kamu itu tidak keluar-keluar. Katanya cuma buang air kecil tapi lama banget " ujar Devia.


"Iya, Mah" sahut Shella yang berjalan ke kamar mandi di ruangan itu.


Ceklek


Mata Shella membola melihat Albian terkapar di lantai kamar mandi dengan kondisi mulutnya yang terus mengeluarkan busa.Tubuh Shella bergetar melihat saudaranya dengan keadaan seperti itu.Dengan kaki yang lemas ,gadis itu berjalan kearah Devia . Air matanya menggantung di pelupuk matanya siap akan jatuh.


"Mah" panggil Shella dengan nada suara yang bergetar.


"Kenapa nak?" tanya Devia sibuk mencari dasi milik Albian "Kamu kenapa nangis? " tanya Devia menoleh menatap Shella. Dira yang mendengar itu langsung mendekati kakak dan Mamahnya.


"Abang Albian, terkapar di kamar mandi hiks.


mulutnya keluar busa, Mah " ujar Shella menangis mengucapkan itu.

__ADS_1


Devia langsung berlari ke kamar mandi.Kakinya tiba-tiba melemas setelah melihat Albian benar-benar terkapar mandi.


"Albian bangun , nak! Albian bangun! " Devia menepuk pipi putranya yang masih menutup matanya.


"Abang bangun hiks... abang " Dira dan Shella menggoyangkan tubuh Albian.


"Dira, panggil Papah suruh ke sini, cepat! " suruh Devia dengan air mata yang membasahi wajahnya.


Dira langsung berlari keluar dari kamar mandi dan keluar dari kamar rias mencari keberadaan Skala, Papahnya. Gadis itu berlari kearah Skala yang sibuk mengobrol dengan rekan bisnisnya. Dira langsung menarik tangan sang Papah untuk menjauh dari orang-orang.


"Kamu kenapa sayang? " tanya Skala khawatir melihat mata Dira yang sembab.


"Papah, bang Albian keracunan " ucap Dira. Skala langsung berlari menuju kamar rias diikuti oleh Dira dari belakang.


"Albian, kenapa sampai seperti ini,Devia? " tanya Skala panik dan khawatir melihat putranya yang tergeletak tak sadarkan diri.


"Aku gak tau mas, tiba-tiba Albian sudah kaya gini " jawab Devia tidak bisa menahan tangisnya.


Skala mengangkat tubuh putranya yang lebih besar darinya. Dengan sekuat tenaga ia mengangkat tubuh Albian dan membawa keluar dari kamar rias. Skala keluar lewat pintu belakang agar para tamu tidak melihatnya. Beruntung ia memarkirkan mobilnya di belakang gedung. Skala memasukkan Albian ke dalam mobil berwarna hitam itu.


"Kamu tidak ikut? " tanya Skala pada Devia yang hanya diam berdiri mematung.


"Aku gak ikut, mas. Kamu aja yang nganter Albian ke rumah sakit " ujar Devia. Skala menganggukkan kepalanya dan masuk ke dalam mobil.


"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin pernikahan ini harus di batalkan pasti orang-orang akan mencemooh keluarga ku dan keluarga Dirga " ujar Devia bingung dan resah memikirkan ini semua.


"Alvian" gumam Devia, yang tiba-tiba mengingat kembaran Albian.


Devia mengeluarkan ponselnya dan menelpon Alvian agar datang ke kamar rias.


******


Cia menatap lesu pada jam dinding yang sudah menunjukkan jam 11 siang tapi dia tidak mendengar Albian mengucapkan ijab qobul di mikrofon. Shalla mendekati kakak iparnya itu dan mengusap punggung Cia lembut.


"Tunggu sebentar lagi ya kak, mungkin bang Bian lagi ngapalin naskah akad nikahnya,mungkin takut lupa kalau ngucap ijab qobulnya di depan pengulu dan orang banyak " ujar Shalla mencoba menghibur Cia.


Cia menganggukkan kepalanya"Iya, Shalla"jawab Cia.


*******


"Mamah mohon, menikahlah dengan Cia, nak. Kamu mau keluarga kita menanggung malu karna pernikahan ini batal " lirih Devia bersimpuh di depan Alvian.


"Mah, jangan kaya gini " ujar Alvian menarik Devia agar bangkit tapi wanita itu tidak mau bangkit ia akan tetap bersimpuh di depan putranya kecuali mau menggantikan posisi Albian sebagai mempelai pria.

__ADS_1


"Mamah, gak bangkit kecuali kamu mau menikah dengan Cia " ujar Devia dengan air mata yang berderai. Alvian memegangi kepalanya, dia benar-benar bingung dan ini situasi yang sangat sulit baginya, menikah dengan calon adik iparnya sendiri.


"Mamah, bangun ya. Aku mau menikah dengan Cia " ujar Alvian. Devia menghentikan tangisannya dan langsung bangkit .


"Bener kamu mau, nak? Kamu gak bohongin Mamah'kan ? " tanya Devia memastikan.


Alvian menggelengkan kepalanya "Aku gak bohong, aku akan menikahi Cia" jawab Alvian.


Devia langsung memeluk Alvian erat. Pria itu membalas pelukkan sang Mamah walau hatinya menolak dengan pernikahan ini tapi dia tidak kuat dan tidak sanggup melihat Mamahnya menangis dan memohon padanya.


******


"Saya terim nikah dan kawinnya Felicia binti Dirgantara dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai " Sekali tarikan napas Alvian mengucapkan ijab qobul dengan lancar dan lantang.


"Bagaimana para saksi " tanya penghulu pada para tamu undangan yang hadir.


"Sah!"


"Sah! "


Seru para saksi dengan suara menggelegar memenuhi ruangan resepsi pernikahan itu. Walau para tamu undangan sedikit bingung dengan nama menpelai pria yang tidak sama dengan yang ada di undangan pernikahan.


Cia berjalan menuju ke pelaminan di iringi oleh Nevia dan Shalla yang berjalan beriringan mengantarkan Cia . Alvian menatap gadis yang sudah dia persunting menjadi istrinya. Pria itu menatap lekat Cia yang terlihat sangat cantik dari biasanya. Para undangan juga dia buat terpesona oleh kecantikan Cia.


"Silahkan mempelai pria mencium kening istrinya dan sebaliknya mempelai wanita mencium tangan suaminya" ujar penghulu tersebut memberikan arahan.


Alvian mendekatkan wajahnya mencium kening Cia, walau dengan tubuh yang berkeringat dingin dan jantung yang berdegub kencang. Sedangkan Cia menutup matanya merasakan benda kenyal dan lembab itu menempel sempurna di keningnya.


Kini giliran Cia yang mencium tangan Alvian yang telah sah menjadi suaminya walau dia tidak mengetahui bahwa bukan Albian yang menikahinya melainkan kembaran pria itu.


Mereka berdua bertukar cincin setelah itu mendatangani lembaran surat yang di berikan oleh penghulu.


******


"Maksud mbak, yang menikahi Cia bukan Albian tapi Alvian? " tanya Nevia yang terlihat syok mendengar pernyataan itu dari Devia.


Dirga hanya bisa terdiam mematung mendengar itu "Kalau Albian tidak mau menikah dengan Cia kenapa dia harus menerima lamaran waktu itu. Bagaimana kalau Cia tau kalau bukan Albian yang menikahinya? " ujar Dirga dengan suara yang bergetar.


"Tapi kita juga tidak mungkin membatalkan pernikahan ini, karna akan membuat malu pada keluarga kita dan semua orang akan menghina dan mencibir Cia maupun Albian. Kalian berdua juga harus memikirkan perasaan Cia bila pernikahan ini di batalkan ,sehancur apa dia bila tau Albian tidak mau menikah dengannya .Kita rahasiakan ini sementara waktu dari Cia,bila ada waktu yang tepat kita jelaskan semuanya"tutur Devia.


" Baiklah "sahut Nevia tapi tidak untuk Dirga yang masih tidak menerima itu semua.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2